Broken

Broken
Jadian 3



“Uwa senangnya. Akhirnya aku punya mawar biru. Yeeey. Maksih Nova.” Kataku sambil mencubit pipinya Nova yang tembem. Ya bisa dibilang Nova agak gendut sih. Mungkin berat badannya sekitar 70kg-75kg. Tapi keliatan gak terlalu gendut soalnya Nova juga tinggi, mungkin tingginya sekitar 165 cm. Sebelas dua belas sama aku sih tingginya.


“Ihh biasa aja dong, Key. Aku lagi nyetir nih.” Kata Nova sambil menampis tanganku.


“Iya bawel.” Kataku sewot.


“Ih kamu yang bawel.”


Semakin mendekati beskem aku mulai berpikir keras bagaimana bisa aku pulang ke kosan membawa bunga seperti ini tanpa diketahui oleh temen-temen.


“Heh ngelamun aja dari tadi. Dah mau sampai nih.” Kata Nova membuyarkan lamunanku.


“Ya justru itu, aku tuh lagi mikir gimana caranya aku pulang ke kos bawa bunga ini.”


“Halah gampang. Nanti aku berhenti tepat di belakang motormu. Terus kamu centelin deh bunganya di motor kamu.”


“Mana bisa. Kan aku ga minta kresek tadi.”


“Dasar Gomik.1 Tuh ada kresek tadi pas ambil stiker.”


“Oh iya ya.”


“Yaudah sana dah sampe nih.” Kata Nova sambil memberhrntikan mobilnya tepat dibelakang motorku.


1 Gomik: Goblok mikir. Sebenarnya dalam Bahasa Jepang berarti sampah.


“Oke.” Kataku sambil membuka pintu.


“Eh…” Kata Nova sambil menahan tanganku.


“Apaan sih.” Kataku heran sambil menampis tangannya Nova.


“Bawa sekalian stikernya. Taruh beskem. Terus nanti kamu ambil bunganya lewat pintu samping. Agak cepet lho ya. Soalnya aku khawatir anak-anak pada tahu.”


“Iya iya bawel.” Kataku sambil mengambil stiker di kursi belakang mobil.


 


Aku lega sekali karena tidak ada yang bertanya padaku. Temen\-temen lagi sibuk dengan pekerjaan mereka masing\-masing. Mungkin Nuri juga sudah pulang. Aku lalu mengambil mawar biru kesayangan aku lewat pintu samping dan alhasil aku berhasil. Namun…


 


“Cie dari siapa nih, Key.” Kata Bli Yogi padaku. Bli Yogi yang kerap aku panggil ‘mas’, adalah kakak tingkat selisih dua tahun denganku yang berasal dari Bali. Kami saling kenal karena satu UKM yang sama.


Aku tersontak kaget dan segera menutup pintu mobil. Nova pun berlalu meninggalkanku tanpa basa-basi.


“Eh, Mas Yogi ganteng. Dari temen mas hehe. Yaudah aku pulang dulu ya mas.”


Kataku sambil buru-buru pulang.


“Loh kok pulang?” Tanya Mas Yogi.


“Iya mas aku udah dari tadi di GOR sama temen-temen.”


“Oalah gitu. Yaudah hati-hati ya cantik.”


“Oke mas.”


 


Sesampainya di kos, jam menunjukkan pukul 17.56 yang tandanya azan magrib yang akan berkumandang sebentar lagi. Aku kemudian mengirim pesan kepada ibundaku, mengabarkan bahwa aku sudah sampai kos. Ya walaupun nanti bakalan pergi lagi sama Ariz untuk menyelesaikan masalah. Lebih tepatnya mengakhiri semua kegaalauanku saat ini. Aku tidak tau pasti, apakah ini pilihan yang paling tepat. Apalagi dengan keadaan hati yang sedang tidak baik\-baik saja. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlanjur sakit, jawaban Ariz nanti juga akan aku pertimbangkan bagaimana kelanjutan hubungan ini. Semoga dia menurutiku.


Setelah selesai bersih\-bersih badan dan sholat magrib aku segera menelefon Ariz.


 


“Halo. Assalamualaikum.” Aku memulai percakapan


“Waalaikumsalam.”


“Aku udah selese. Kamu dimana? Udah sholat?”


“Aku di deket Indomaret Point. Udah habis dari masjid ini.”


“Ya. Mau jam berapa?”


“Sekarang aku otw kosmu.”


“Oke. Hati-hati.” Kataku sambil mengakhiri telfon.


 


Gini banget kalau lagi marahan ya. Biasanya mau nutup telefon aja rebutan, pada gak mau semua. Sampai pada akhirnya harus ada yang ngalah. Aku benci keadaan ini . Tak lama kemusian Ariz pun sampai di kosku.


 


“Aku udah sampai.” Kata Ariz.


 


Aku tak menjawabnya dan langsung keluar menemuinya.


 


“Mau makan dimana?” Tanyaku.


“Terserah kamu, aku ngikut.” Kata Ariz.


“Sukanya gitu.”


“Yaudah yangn penting jalan dulu aja.”


“Ya, mampir ke ATM dulu, aku mau ambil uang.”


“Ya.”


 


 


Setelah menuliskan menu makanann dan minuman yang dipilih aku kemudian memberikannya ke meja pesanan. Jujur, aku orangnya tidak bisa membohongi diri sendiri, jadi kalau aku sedang sebel, marah, senang/bahagia ya kelihatan dari raut mukaku.


“Coba jelasin.” Tanyaku memulai percakapan sambil menatap Ariz dalam-dalam.


“Jadi gini, kemarin Jumat tuh aku diajak temen-temenku main, nah semua bonceng-boncengan. Terus aku disuruh boncengin Mei. Aku udah nolak tapi temen-temenku maksa dan gak ada pilihan lain. Aku juga jemput Mei di rumahnya…”


 


Aku tersontak kaget mendengarnya. Ariz juga tersontak kaget melihat ekspresiku. Lalu dia melanjutkan penjelasannya.


 


“Ya gak Cuma aku yang jemput Mei, tapi sama temen-temen. Terus kami ke Titik 0 Km nonton band-band perform. Sempet ke Benteng Vredebrug juga. Udah gitu doing gak ada yang lain, Key.”


 


‘Udah gitu doang’ katanya? Terus apa kabar dengan komitmen yang dia ucapkan? Aku gak habis pikir dengan Ariz yang main sama Mei begitu saja, tanpa memberitauku sebelumnya. Ya aku jelas cemburu lah. Karena Mei adalah seorang cewek yang pernah dicintai oleh Ariz, begitu pula sebaliknya. Tidak menutup kemungkinan mereka masih ada sedikit rasa baper.


 


“Oke. Udah penjelasannya?” Kataku cuek dan Ariz hanya menganggukkan kepalanya.


“Aku tuh gak masalah kamu boncengan sama siapa pun, asal kamu bilang sama aku.”


“Iya aku minta maaf.”


“Tapi yang aku herankan adalah aku bodoh banget ya.”


 


Ariz tersontak kaget dengan perkataanku. Pikirannya mulai menerka\-nerka apa yang akan aku ucapkan. Tatapannya tajam ke arahku.


 


“Sek bentar, biar masnya menghidangkan makanan dulu.” Kataku sambil mempersilahkan pelayan menaruh makanan di meja kami.


Seusai itu aku lalu melanjutkan perkataanku kepada Ariz.


“Iya aku bodoh banget. Aku menjaga perasaan seseorang, tapi orang itu gak menjaga perasaannya untukku. Bodoh banget kan?” Kataku sambil menahan air mata, bahkan kepala dan telingaku mulai memanas.


“Riz, sepertinya lebih baik kita sahabatan aja seperti dulu sebelum kita sama-sama tau kalau kita saling mencintai. Jujur, aku gak kuat kayak gini. Baru 10 hari setelah kita memutuskan untuk merubah status. Kamu malah kayak gini. Kayaknya sahabatan lebih baik deh, Riz. Soalnya aku juga males kalau suruh terus-terusan berperang dengan rasa cemburu seperti ini. Aku gak kuat, Riz.” Tambahku panjang lebar.


Aku sadar bahwa mataku sudah mulai berkaca-kaca, rasanya juga agak berat dan panas untuk berkedip. Aku melihat Ariz pun dengan keadaan yang sama denganku. Hening setelah pernyataan-pernyataan yang aku lontarkan barusan. Beeraapa saat kemudian Ariz pun berkata.


“Emang kamu gak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi, Key?” Tanya Ariz padaku.


 


Aku heran, mengapa Ariz malah bertanya seperti itu? Kenapa tidak menuruti kata\-kataku saja? Bukankah cowok itu bakalan nurutin kemauan cewek yang dissayanginya sekalipun itu memutuskan hubungan? Aku sangat heran, ah ribet sekali berurusan dengan hal seperti ini. Aku benci sekali rasanya.


 


Aku mmilih untuk kembali sahabatan, tapi Ariz menolak dan ingin mempertahankan hubungan yang lebih dari itu. Lalu aku harus bagaimana ini? Jujur aku masih sayang dengan Ariz. Aku juga takut kalau dua tahun terakhir ini terasa sia-sia. Hening, suasana yang sangat aku benci. Aku sangat bingung harus jawab apa.


“Riz. Walau bagaimanapun, seseorang yang pernah mencintai seseorang dan bertemu lagi, apalagi berboncengan itu munafik kalau tidak baper. Aku yakin kamu juga masih ada sedikit rasa sama Mei.”


“Engga, Key. Aku sayangnya sama kamu.”


“Bulshit.”


“Key, kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya. Kamu gak mau kan, dua tahun terakhir kemarin itu terbuang sia-sia? Rasanya kemarin aku tuh kayak dapet hadiah yang aku pengen. Padahal rasanya aku gak mungkin mendapatkanmu. Karena selama ini aku pikikr kamu sulit ditaklukkan. Aku gak mau nyia-nyiain kamu, Key. Aku bener-bener minta maaf. Aku akan perbaiki. Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku mohon sama kamu.”


 


Ariz sialan. Jujur aku orangnya tidak tegaan. Rasanya aku gak bisa berkata\-kata lagi. Bingung, ya ampun mengapa aku dihadapkan dengan situasi seperti ini? Baru kali ini aku melihat Ariz memohon\-mohon padaku seperti ini. Padahal biasanya kami bercandaan, saling mengejek satu sama lain, dan sekarang beralih topik masalah hubungan yang lebih dari teman seperti ini. Ataga, aku benar\-benar gak tega sama Ariz dan di sisi lain aku juga masih sayang padanya.


 


“Oke kalau gitu aku kasih kamu kesempatan terakhir. Kalau kamu sampai gak bilang sama aku lagi, lebih baik kita sudahi semuanya. Lagi pula, aku tuh gak pernah melarangmu bergaul atau main sama siapa pun. Mama kamu aja gak pernah melarangnya kan? Apa lagi aku. Aku gak berhak untuk itu. Aku cuma pengen kamu menjaga perasaanku, seperti aku menjaga perasaanmu. Udah itu aja.”


“Iya iya, aku bener-bener minta maaf. Oiya aku juga mau pesen sama kamu. Kalau ada masalah diselesaikan baik-baik. Jangan seenaknya off kayak kemarin itu.”


“Ya suka-suka aku dong. Aku tuh males berdebat dalam chat. Aku juga butuh waktu buat sendiri, Riz.”


“Yaudah, Key. Pokoknya kalau ada apa-apa bilang. Aku bukan peramal yang tau semua pikiran kamu dan gak ada yang melarang kalau kamu cemburu sama aku. Malah itu tandanya kamu bener-bener sayang sama aku.”


“Iya. Oiya kamu ngantuk po?”


“Kenapa emang?”


“Yee malah balik nanya.”


“Enggak ngantuk kok.”


“Lah itu kok mata kamu merah.”


“Iya po? Oh mungkin klilipan tadi pas di jalan.” Kata Ariz sambil memegang matanya dan mengaca pada layar HP-nya.


“Heem, yakin?” Kataku sambil mengedip-ngedipkan mata dan tersenyum jahil untuk menggoda Ariz.


Padahal berdasarkan jawabannya Ariz, aku tau itu sebenernya kenapa. Ya apa lagi kalau bukan nangis. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk memahami sifat dan perilaku seseorang. Hih dasar Ariz, bikin tambah sayang aja deh kalau tingkahnya seperti ini. Pipinya memerah karena malau kalau ketahuan habis nangis.


“Udah-udah makan dulu, keburu dingin.”


“Iya iya."


Setelah selesai makan kami langsung pulang karena sudah hampir jam 21.00.


~o~