Broken

Broken
Dilema 2



Seusai Fian pamit pulang, aku lalu membereskan minuman dan memcucinya. Aku heran, timbul pertanyaan dibenakku mengapa Ayah tidak menemui putra temannya itu. Aku sempatkan bertanya kepada Ayah seusai mencuci gelas, sebelum aku mandi.


“Ayah, kenapa ayah tidak menemui Fian?” Tanyaku kepada ayah.


“Buat apa” Jawab Ayah singkat.


“Ya cuma sekedar menemui saja, apa salahnya? Kan Fian juga putra anak temen deket Ayah.”


“Ayah hanya mau menemui seseorang yang ingin serius denganmu. Selain itu Ayah tidak akan menemuinya.”


Aku hanya terdiam mendengar perkataan Ayah dan langsung menuju ke kamar mandi. Sudahlah tak perlu aku pikirkan dalam-dalam. Aku juga tidak mempunyai perasaan dengan Fian. Lagipula mending memikirkan SBMPTN. Huh, aku sedih sekali karerna gagal SNMPTN. Bentar lagi juga sudah wisuda. Yaampun, rasanya cepat sekali. Tapi inilah waktu pembuktian yang paling tepat untuk menembus semua kegagalanku.


Oiya aku punya janji kepada Indra bahwa aku akan mengakui semuanya. Aku janji padanya bahwa aku akan mengaku kalau aku yang memberinya jaket dan buku Matematika yang tebal itu, sesuai dengan apa yang aku tulis di kartu ucapan ulang tahunnya. Aku turut senang Indra diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jogja dengan prodi Matematika Murni. Rasanya buku yang aku berikan padanya itu sangat bermanfaat. Tunggu aku menyusulmu ya, Ndra. Semoga kita satu universitas, aamiin.


Oiya sampai hampir lupa, aku kan belum membalas pesan whatsapp dari Ariz.


“Maksudnya apa, Riz?” Tanyaku.


“Halo, mati listrik nih. Enggak ada maksud apa-apa kok Cuma kebetulan aja tadi ada kata-kata seperti itu dan aku copas kirim ke kamu deh, Key. Hehe.”


“Oalah kirain ada apa. Wkwk selamat bergelap-gelapan ya. Jaga lilin baik-baik biar dapet banyak malam ini.”


“Jagain kamu aja gimana?”


“Hih apaan sih, Riz. Gak mempan tauk gombalanmu tuh kalau diaku.”


“Ya, apa salahnya sih mencoba?”


“Oh jadi cuma mau mencoba to?”


“Mencoba serius :’) ”


“Halah bercanda mulu deh dari tadi. Aku kan pengen diseriusin.”


“Sabar ya sabar belum waktunya wkwkwk.”


“Wkwkwk iya deh iya. Btw aku off dulu ya.”


“Oke dah bosku. Semangat buat hari pengakuan besok yaaa.”


~o~


Yogyakarta, Mei 2017


Hari pengakuan pun tiba. Aku sudah menyiapkan rencana matang dengan kedua sahabatku yaitu Dinu dan Monita.


“Key, jadi kan nanti kamu ngaku sama Indra?” Tanya Dinu.


“Yampun, ngagetin aja deh. Iya jadi. Aku pilih pas hari gladi bersih wisuda karena takutnya pas wisuda ga sempat.”


“Iya, oke nanti aku tunggu di XI IPS 2 ya. Seusai gladi bersih.”


“Oke nanti aku sama Monita ke sana.”


Setelah gladi bersih wisuda aku dan Monita pergi ke kelas XI IPS 2. Rasanya aku menjadi tidak yakin untuk mengakui bahwa yang memberi Indra kado ulang tahun selama dua tahun terakhir ini adalah aku. Tapi mau bagaimanapun aku sudah bilang, jadi aku harus menepati kata-kataku.


“Key, kamu yakin mau ngakuin ini semua?”


“Yam au bagaimana lagi, Mon.”


“Eh, ada whatsapp dari Dinu. Katanya mereka sebentar lagi sampe ke kelas ini. Duh kok aku jadi deg-degan ya, Mon.”


Dinu dan Indra membuka pintu kelas. Indra bertanya-tanya terus kepada Dinu tentang siapa sebenarnya yang memberinya kado ulang tahun selama ini.


“Jadi, siapa yang memberiku kado? Kamu, Key? Atau kamu, Mon?”


“Emm… jadi gini, Ndra. Jadi selama ini tuh aku.” Duh malu banget aku sumpah. Untuk mengakui ini semua, sampai semalaman aku kepikiran terus.


“Jadi kamu, Key? Maaf ya aku tidak bisa membalasmu.”


Yaampun, apa yang dimaksud Indra? Kenapa nusuk banget. Iya, ngapapa kok, Ndra. Tapi sakit tak berdarah nih. Iya, aku tahu kamu tidak mungkin membalas perasaanku. Iya, aku tahu ujungnya bakalan seperti ini. Iya, aku ikhlas penantian dalam diam selama dua tahun terakhir ini.


“Iya. Ngapapa kok, Ndra. Maksud aku mengakui ini semua tuh biar lega. Kan kita udah lulus nih dan mungkin bakalan jarang ketemu atau bahkan kita ga ketemu lagi. Biar aku lega aja gitu intinya.”


“Oalah oke. Makasih banyak ya, Key. Semoga kebaikanmu dibalas sama Yang Di atas.”


“Iya. Aamiin. Yaudah yuk pulang udah sore.”


Monita dan Dinu hanya tersenyum mendengar percakapan aku dan Indra. Mungkin mereka tahu apa yang aku rasakan dan mungkin mereka tahu bakal kejadian seperti ini. Indra memang terkenal cuek sama cewek. Tapi ya, Indra banyak sekali penggemarnya. Hmmm…manisnya biking a tahan sih. Beruntung banget cewek yang bisa ngeluluhin hatinya. Kami berempat kemudian menuju parkiran dan pulang ke rumah masing-masing.


Aku yakin, suatu saat nanti akan ada seseorang yang memperlakukanku seperti aku memperlakukan Indra. Ini hanyalah soal waktu saja.


~o~


“Hey, gimana nih cerita tentang hari pengakuan?” Aku menerima whatsapp dari Ariz.


“Ya, gitu deh.”


“Gitu gimana? Cerita dong cerita.”


“Ditolaklah.”


“Duh kasian. Emang dia bilang apa?”


“Intinya ga bisa bales gitu. Terus aku bilang kalau aku ngaku supaya biar lega aja. Ah tau ah pusing. Ini Fian malah minta kepastian sama aku. Huaaa aku harus gimana nih, Riz?”


“Siapa? Fian? Kamu belum pernah cerita teteng Fian ke aku tuh.”


“Hah? Belum pernah po?”


“Iya belum. Cerita sini.”


“Duh, ceritanya panjang. Intinya aku suka sama Indra tapi Indra ga suka sama aku. Terus ini malah ada cowok yang suka sama aku dana kunya malah ga suka sama dia.”


“Yaudah, tolak aja.”


“Semudah itu kah?”


“Cowok suka cewek tegas.”


“Emm, oke baiklah. Makasih ya, Riz.”


“Buat?”


“Ya kamu adalah sahabatku yang selalu ada buatku. Mendengarkan keluh kesahku dan menasehatiku disaat aku membutuhkannya. Sebenernya aku Cuma butuh didengerin kadang.”


“Iya, sama-sama. Aku siap jadi telinga buatmu kok, Key.”


Yaampun, kata-katanya Ariz barusan membuatku tersenyum dan so pasti aku baper dong. Yaampun baperan banget sih, Key.


~o~