
Hari-hari berlalu, dan Fian menjauhiku. Bagiku tak masalah. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kami. Ariz juga tahu akan hal ini, aku memberitahunya karena aku percaya padanya. Apapun keluhanku, Ariz selalu mendengarkannya. Aku beruntung punya sahabat sepertinya.
Aku dan Fian benar\-benar lost contact. Ya sudahlah akku terima, lagipula itu tidak berpengeruh denganku. Lebih baik aku mempersiapkan untuk masuk ke universitasku. Persiapan menjadi mahasiswa baru butuh banyak tenaga dan yang pasti menguras pikiran.
Kini, aku malah dekat dengan Faisal, temen les SMP. Wajar, karna kami satu kampus. Banyak hal yang harus diersiapan untuk menyambut tahun ajaran baru. Beli ini\-itu untuk persiapan menjadi mahasiswa baru. Aku senang melewatinya. Tak ku sangka, aku benar\-benar bisa membuktikannya bahwa aku masih layak untuk disebut sebagai anak favorit. Ya, I pass the exam and be one of the student in public school.
Aku justru sekarang semakin dekat dengan Faisal. Dia juga mengajakku untuk jalan bareng. Nonton film misalnya. Tapi saat ini masih ku tolak. Aku masih takut untuk terlalu dekat dengan lawan jenis. Ya kalau hanya dekat dalam media social sih ga masalah.
“Key, nonton yuk.”
“Aku banyak tugas e, Sal.”
“Sini ngerjain sama aku.”
“Ga, ah takut ga fokus.”
“Wkwk yauda. Semangat ya nugasnya.”
“Oke”
~o~
Yogyakarta, 8 September 2017
Suatu hari aku terkejut dengan pesan dari salah satu temanku yang bernama Sari. Dia adalah teman les sewaktu SMP, SMA dan sekarang dia satu fakultas denganku. Dia tentunya mengenal Ariz. Dia berkata:
“Key, Ariz mu kencan sama cewek lain.”
Aku sebenarnya kaget dan kecewa dalam hati. Tapi aku tidak berhak atas semua itu. Ariz hanyalah sahabatku. Dia berhak jalan dengan siapa pun dan aku tidak boleh melarangnya. Tapi kenapa hatiku sakit?
“Sar, dia bukan Ariz ku. Aku Cuma sahabatan dengannya.”
Setelah aku mengirim pesan, tak lama kemudia ada pesan masuk dari Ariz.
“Sial, malah ketemu Sari.”
“Iya aku udah dikasih tau sama Sari. Apa maksudmu sial?”
“Ya gapapa sih. Tadi dia nyebut namamu gitu. Mau bilangin ke kamu kalau aku jalan sama temenku.”
“Oalah. Temen apa temen? Temen yang bentar lagi jadi doi kan?”
“Loh kok kamu malah marah sih, Riz. Aku seneng kok kalau kamu taken lagi.”
“Gak.”
Sejak kejadian itu Ariz tidak menghubungiku dalam benerapa saat. Aku menunggunya sampai tiga hari dan ternyata dia tak kunjung menhubungiku. Tiba-tiba aku mendapat pesan dari Faisal yang mengajakku untuk jalan bareng. Berbung aku bosan karena gak ada yang ngajak main jadi aku terima tawarannya. Toh juga aku sudah janji sama dia kalau kita satu universitas akum au main sama dia.
“Dah siap Key buat jalan-jalan hari ini?” Tanya Faisal padaku
“Siap dong.” Jawabku singkat.
“Yaudah yuk kita nonton ya.”
“Okey. Mau film apa?” Tanyaku
“Action aja kali ya, kamu bukan bucin kan?” Kata Faisal sambil meledekku.
“Haha enggak lah.” Jawabku sambil tertawa.
Seusai nonton film, aku dan Faisal segera pulang karena dari tadi Ibuku menyuruhku untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, Faisal bertanya suatu hal padaku.
“Key, aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu?”
“Boleh. Ngomong aja.”
“Aku pengen kamu ngganggap aku lebih dari temen.”
“Hah? Gak salah?”
“Emang apa salahnya kalau aku suka sama kamu?”
“Tapi maaf, Sal. Aku gak bisa.”
“Kenapa?” Tanya Faisal penasaran.
“Karena aku menjaga perasaan untuk seseorang. Walaupun dia tidak menjaga perasaannya untuku.”
Faisal pun hanya diam dan segera pamit pulang. Aku tau perasaannya pasti terluka. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menerima Faisal.