
Ternyata itu adalah...
"Ada apa nih, pagi-pagi udah ribut?" Tanya Sarah yang membelakangi kedua temannya.
Mereka semua terdiam, para kaum laki laki ada yang memperhatikan, terpesona, dan ada yang tidak peduli.
"Eh, kok banyak banget coretan sih di papan tulis?" Saut temannya Sarah yang mengenakan bando berwarna merah dan rambut di kuncir kuda.
"Kenapa pada diem?, ditanyain juga" Ketus temannya yang satu lagi, ia berambut gelombang kulit putih dan rambut tergerai. Kalau Sarah, dia memang selalu berpenampilan cantik, terutama pada bagian wajah.
"Ini kak, ada yang nyoret nyoret papan tulis dan tulisannya ngejelek jelekin Alenna" Amel memilih untuk menjawab pertanyaan kakak kelasnya itu. Alenna sendiri hanya diam entah harus melakukan apa.
"kok bisa?. Emangnya siapa yang ngelakuin ini?" Jujur sebenarnya Alenna tidak suka dengan kehadiran Sarah disini, membuatnya tidak nyaman dan merasa resah.
Mereka semua menjawab dengan celengan kepala.
"Owh gue tau, mungkin lo punya banyak musuh yang gak seneng sama lo kali, len. Secara lo ini kan orangnya, yah... " Sarah tidak melanjutkan kalimatnya tersebut, Alenna semakin penasaran dengan ucapan Sarah.
"Orangnya apa?" Tanya Alenna datar.
"Udahlah gak usah dibahas, gue mau ke kelas. Gue harap lo nemuin pelakunya ya, bye" Mereka bertiga pun pergi begitu saja keluar kelas.
Sungguh Alenna dibuat kesal oleh Sarah, ia tau bahwa Sarah ingin menjelek jelekkan nya.
"Udah len. Mending kita bersihin, dari pada ketahuan guru" Saran Amel dan dituruti oleh Alenna.
Sungguh sangat susah di hilangkan karna tinta spidol nya permanen.
Tapi untuk saat ini Alenna harus menahan kesabarannya dan mencari tahu siapa pelakunya. Ia tidak mau ada hal yang nantinya diluar dugaan.
Untung saja teman temannya turut membantu memeberikan papan tulis itu, walau ada beberapa yang acuh. Namun Alenna tidak memaksa mereka untuk membantunya.
๐๐๐
Jam istirahat pun tiba, Alenna dan Amel berjalan menuju Kantin.
Keadaan di kantin sangatlah ramai, Alenna memilih untuk mencari tempat makan yang tidak terlalu berisik, yaitu di pojok.
Mereka duduk saling berhadapan.
Alenna masih hanyut dalam pemikirannya, ia masih penasaran siapa pelakunya.
"Udah gak usah dipikirin lagi, mending makan aja. Gue yakin lo laper" Ujar Amel yang menyadari kalau Alenna sedang melamun akan soal itu.
"Gue masih penasaran sama siapa yang ngelakuin itu sama gue" Resah Alenna saat sadar dari lamunannya.
"Kayaknya gue harus nyari tau, gue takut kalau nanti bakalan ada hal yang gak gue harapin selain ini" Lanjut Alenna dengan mimik wajah khawatir.
"Yaudah bagus, gue bakalan bantu sebisa gue" Amel memilih untuk membantu Alenna.
"Thanks ya lo udah mau dukung sama bantuin gue" Ujar Alenna tersenyum manis. Ia sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Amel.
"Santai aja, itukan tugas sahabat" Balas Amel santai.
"Eh, gue laper mesen makanan yuk?. Lu mau pesen apaan?" Alenna menggelengkan kepala.
"Gak, gue gak laper. Lu aja yang pesen" Tolak Alenna, memang saat ini ia tidak ingin memakan sesuatu.
"Beneran?" Tanya Amel sekali lagi.
"Iya" Jawab Alenna singkat.
"Yaudah gue ke mbak tiwi dulu ya" Amel beranjak menuju mbak Wati yang berjualan bakso dikantin.
Tidak lama kemudian segerombolan anak kelas 12 tepatnya genk Steven dan teman temannya mendatangi Kantin. Dan mereka duduk di meja makan depan Alenna.
Alenna tidak memperdulikan mereka semua, padahal sebenarnya ia merasa risih karna berisik.
"Eh cuy, ada cewek noh" Ucap Julio melirik jahil kearah Alenna yang memilih untuk bermain Handphone nya.
"Eh iya tuh, cewek!" Goda Gilang memainkan alisnya. Alenna yang mendengar itu menatap kearah Gilang dengan mengerutkan alisnya. Namun sedetik kemudian ia kembali berkutat menatap ponselnya.
"Yah gagal" Kecewa Gilang saat tidak di tanggapi oleh Alenna.
"Ya iyalah gak di tanggepin, orang udah ada yang punya" Sindir Raffi melirik Steven yang tidak peduli dengan perkataan temannya.
"Owh iya gue lupa" Ujar Gilang menggoda Alenna dan Steven.
"Stev" Panggil Julio sambil menyikut Steven yang fokus terhadap handphone nya.
"Apaan?" Tanya Steven kepada Julio. Julio sendiri memberikan kode mata kepada Steven, secara tidak sadar Steven mengikuti kemana tatapan mata Julio tertuju, dan ternyata kepada Alenna.
"Tuh Alenna lagi sendirian" Ujar Julio memberikan kode kepada Steven.
"Terus?" Tanya Steven dengan acuhnya untuk yang kesekian kali.
"Ish, pakek nanya lagi, yah lo temenin dong. Jadi cowok harus peka!" Ketus Julio gemas dengan Steven yang tidak peka dengan maksudnya.
"Kenapa harus gue?"
"Kan lu yang paling deket sama dia, buruan keburu kabur" Bujuk Julio, sedangkan yang lain hanya menyimak pembicaraan tersebut.
"Ah masa bodo, bukan urusan gue. Dia lagi sendiri apa enggak" Acuh Steven. Teman temannya tidak kehabisan akal.
"Eh gimana kalau kita hompimpa, siapa yang keluar duluan dia yang nyamperin Alenna?" Usul Raffi yang disetujui oleh yang lain kecuali Steven.
"Gak, kayak bocah aja lu pada" Tolak Steven yang enggan melakukan itu.
"Yaelah, takut loh?" Ujar Gilang meremehkan.
"Sorry gue gak takut sama lu pada" Steven tidak tahu jika ini semua hanya umpan agar Steven mau ikut dalam ide konyol tersebut.
"Nah yaudah ayo" Steven akhirnya mengalah, ia pun ikut turut serta dalam permainan tersebut.
Sebenarnya Gilang, Julio, dan Raffi telah merencanakan sesuatu. Dimana mereka akan menggunakan punggung tangan (hitam) secara bersamaan.
"HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG!!!" nyanyi mereka secara bersamaan, disaat itu Steven mengeluarkan telapak tangan (putih) dan yang lain mengeluarkan punggung tangan (hitam). Jadi sudah ketahuan siapa yang akan menemui Alenna.
"Steven!" Seru Gilang, sontak Steven kaget karna ia kalah dalam permainan ini.
"Udah lo kalah, sono temenin Alenna" Sebagai hukumannya, Steven harus menemui Alenna yang sedang sendirian menunggu Amel datang.
Sialan! Gw dikerjain.
Steven berjalan menuju meja makan dimana Alenna duduk dengan ragu.
Sedangkan teman temannya hanya menahan tawa sambil memperhatikan.
"Hei, gue boleh duduk gak?" Sapa Steven membuat Alenna mendongak kearahnya.
"Eh iya, boleh" Ujar Alenna. Steven langsung duduk disamping Alenna.
Mereka berdua hanya saling berdiam-diaman karna tidak tahu harus membicarakan apa.
"Lo gak makan?" Tanya Steven yang menyadari tidak ada makanan di atas meja.
"Enggak gue lagi gak laper, lo sendiri gak makan?" Tanya Alenna balik, Steven menggeleng.
"Kenapa, gak bawa duit?. Apa kagak ada duit" Ujar Alenna dengan santainya. Steven terkekeh mendengar itu.
"Ya kali gue gak ada duit" Ucap Steven masih dengan kekehan pelannya.
"Terus kenapa?" Tanya Alenna lagi.
Steven pun menghentikan kekehan nya dan menjawab pertanyaan Alenna.
"Karna gue lagi gak pengen makan aja" Jawab Steven yang dianggurin oleh Alenna. Tidak lama kemudian Amel datang membawa semangkuk bakso.
Ia menyadari kehadiran Steven didekat Alenna dan memilih untuk tidak duduk dulu.
"Eh ada kak Steven, sorry ganggu" Ucap Amel dengan senyum jahil sambil bergantian menatap Steven dan Alenna.
"Eh enggak kok. Sini kumpul aja" Amel mengangguk dan duduk berhadapan dengan Steven dan Alenna.
Sungguh Alenna merasa risih dengan tatapan jahil dari Amel yang tersenyum senyum tidak jelas.
"Kalau gitu gue balik ke kelas dulu ya?" Pamit Steven yang mendapat anggukan dari Alenna dan juga Amel.
Steven kembali berjalan ke kelas diikuti dengan temannya yang menyoraki tidak jelas.
"Eh tadi kak Steven ngapain kesini?" Tanya Amel lalu menyendokan bakso kedalam mulutnya.
"Gak ngapa ngapain, cuma ngobrol aja" Jawab Alenna jujur namun mendapat tatapan mencurigai dari Amel.
"Ngobrol apaan?" Tanya Amel penasaran.
"Kepo lo ah, udah makan" Ketus Alenna yang mendapat wajah cemberut dari Amel, lalu setelah itu keadaan menjadi hening karna Amel menghabiskan baksonya dan Alenna hanyut dalam handphone nya.
"Rasain tuh, gue harap lo suka sama hadiahnya. Yang jelas gak sampai situ hadiah yang gue kasih ke lo. Masih banyak lagi, cuma tinggal tunggu waktu yang tepat buat bikin lo hancur". Ujar seseorang dari kejauhan kantin sambil menampakkan senyum miring misterius, sangat mengerikan. Lalu setelah itu ia pergi entah kemana, sehingga kehadirannya tidak diketahui oleh Amel Serta Alenna.
ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ๐๐๐