Breathless

Breathless
Chapter 9: Obsession



Date mengendarai mobil seraya bersiul dengan senang. Pikirannya selalu membayangkan ekspresi wajah Emu yang menggairahkan setiap dia memberikan 'tanda sayang' ditubuh sang pujaan hatinya itu. Suara 'kesakitan' yang dikeluarkan bibir peach Emu selalu menjadi lagu terindah yang Date dengar dan menjadi candu tersendiri untuknya. Baginya Emu adalah heroin yang tidak bisa dia lepas dan menjadi kebutuhan untuk dirinya. Wajahnya, suaranya, tatapan matanya dan terlebih lagi tubuhnya. Hasratnya setiap 'mencicipi' tubuh itu tidak bisa digantikan kenikmatan apapun di dunia ini. Fantasi liarnya selalu berhasil diwujudkan ketika dia bersama dengan Sang heroin. Tidak ada wanita lain yang dia inginkan selain Emu seorang. Date tidak akan membiarkan Emu lepas dari genggamannya.


"Aku akan menikahimu segera, sayangku! Setelah itu tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua selamanya. Aku akan membawamu jauh dari sini!" Guman Date seraya melihat cincin yang telah dia siapkan untuk menikahi Emu.


"Yah! Besok aku akan mengikatmu bersamaku selamanya!" Date menyeringai bahagia seraya memacu mobilnya lebih cepat.


Begitu melewati jalan utama menuju apartemen Emu, Date mendengar ada suara sirine mobil ambulance. Mobil ambulance itu menyalipnya dan berhenti di depan komplek apartement Emu. Date menghentikan mobilnya disudut jalan dan mematikan mesinnya. Date keluar dari mobil mengenakan jaket tebal, masker dan kacamata. Terlihat di depan komplek telah berkumpul banyak orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi. Betapa kagetnya Date ketika melihat petugas Ambulance membawa Emu didampingi oleh Kiriya dan Pallad.


"SHIT!! Dua orang brengsek itu!!" Date menggeram marah ketika melihat Kiriya dan Pallad yang berhasil membawa Emu pergi.


"Cih! Tidak akan kumaafkan! Tidak boleh ada yang menyentuh pengantinku!" Amarah Date meluap, dia segera pergi mengikuti ambulance yang membawa Emu pergi.


Sesampainya di rumah sakit, Date memarkir mobilnya agak jauh dari rumah sakit . Dia tidak ingin ada yang mengetahui bahwa dia mengikuti Emu sampai disini. Date menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya dan memperbaiki maskernya agar tidak ada yang mengenalinya. Dia berjalan perlahan menuju ER dan melihat semua orang terlalu sibuk untuk memperhatikan dirinya. Pandangan mereka semua tertuju kepada kondisi Emu yang sangat parah. Dia bersembunyi di balik tembok ruang ER ketika melihat Haima yang terlihat marah berbicara dengan petugas ambulance mengenai percobaan bunuh diri yang Emu lakukan.


"Bunuh diri? Wanita sialan itu ingin pergi dariku?!" Gumannya emosi. 


"Tak akan kubiarkan kamu meninggalkanku , EMU!" Ucapnya lagi dengan wajah gusar. 


Date melihat terlalu banyak orang berada di ER, apalagi semua teman Emu juga ada di sana. Date memutuskan untuk segera pergi dan menyusun rencana lain. Bagaimanapun juga, Emu harus segera dia rebut dari tangan teman-temannya. Dia tidak akan membiarkan Emu hilang dari kehidupannya. Tidak ada yang boleh memiliki sang kekasih hatinya.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


"Bagaimana keadaannya?" Kiriya bertanya dengan suara pelan kepada Hiiro yang masih setia duduk disamping ranjang tempat Emu berbaring selama dua hari  seraya memberikan segelas kopi hangat kepada Hiiro.


"Arigatou!" Hiiro mengucapkan terima kasih kepada Kiriya dan menyeruput kopinya perlahan.


"Nihil, dia masih belum sadar!" Hiiro melanjutkan kalimatnya setelah mendapatkan stimulasi ringan untuk tubuhnya dari segelas kopi hangat yang diberikan Kiriya.


"Istirahatlah sejenak Hiiro! Kamu perlu istirahat! Dua hari ini kamu hanya bolak balik  dari ruang ini ke ruang operasi saja!" Omel Kiriya yang jengkel karena Hiiro mulai mengabaikan kesehatan.


"Lihat wajahmu! Astaga! Sudah seperti mayat hidup saja!" tambah Kiriya seraya menunjuk wajah Hiiro yang pucat dan lingkaran hitam pada matanya yang semakin jelas terlihat.


Hiiro hanya mendengus saja mendengar Kiriya yang mendadak mengomel panjang lebar. Hiiro seakan tidak peduli dengan apapun. Kini hanya Emu yang ada dipikirannya. Dia hanya ingin berada di dekat Emu ketika dokter muda itu membuka mata.


Kiriya dengan jengkel akhirnya  duduk di sofa yang ada di sudut ruangan setelah Hiiro mengabaikan omelannya dan memperhatikan Hiiro yang memandangi Emu dengan sangat nelangsa. Ada rasa iba melihat dokter jenius itu terlihat frustasi dan seperti kehilangan semangat hidupnya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Emu yang terbaring tidak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh perban dan wajah yang sangat pucat dan sayu. Wajar saja Hiiro terlihat frustasi, pemandangan yang terlihat sungguh memilukan. Bahkan Kiriya yang melihat keadaan Emu hanya bisa berdoa, agar semua penderitaan Emu bisa berakhir dan wanita yang dia sayangi itu bisa menemukan kebahagian yang sebenarnya.


"Sudah ada kabar dari Kuroto dan Pallad?" Tiba-tiba pertanyaan Hiiro membuyarkan lamunan Kiriya.


"Belum!" Jawab Kiriya menggelengkan kepalanya.


"Terakhir kali mereka menghubungi, mereka belum menemukan jejak Si Brengsek itu!" tambah Kiriya seraya merebahkan diri di sofa.


"Dan Taiga?" Tanya Hiiro lagi 


"Entahlah! Mungkin bersama Poppy dan Nico!" jawab Kiriya seraya mengangkat bahunya lalu kembali memposisikan dirinya senyaman mungkin di sofa. 


 Terdengar suara pintu dibuka. Kiriya bangun dari sofa sedang Hiiro masih saja menatap dan memegang tangan Emu.


"Mencariku?" Kepala Taiga muncul dari balik pintu diikuti oleh Nico dan Poppy yang berada di belakangnya. Mereka bertiga masuk seraya membawa makanan dan beberapa botol air mineral. Poppy dan Nico segera duduk di sofa bersama Kiriya yang terlihat senang dengan makanan yang dibawakan oleh mereka. Taiga menghampiri Hiiro dan mengajaknya untuk makan.


"Ayolah, Hiiro! Makan dulu! Emu tidak akan pergi kemana-mana!" ucap Taiga membujuk dokter jenius itu yang sedari tadi mengacuhkan ajakannya untuk makan. Taiga terus mendesak Hiiro hingga akhirnya Hiiro menyerah dan mengikuti Taiga menuju sofa bergabung dengan Poppy, Nico dan Kiriya yang sedang melahap makanannya.


Selang beberapa menit kemudian Kuroto, Pallad dan Haima datang  bergabung dengan mereka. 


"Sialan! Melacak Date ternyata tidak semudah yang kubayangkan!" Kuroto mendesah kesal dan mulai memijit kepalanya yang terasa pening karena lelah.


"Apa Polisi juga tidak bisa melacak Date?" tanya Taiga yang terlihat khawatir. Emu tidak akan aman jika manusia bejat itu belum ditemukan.


"Tenang saja Polisi baru saja menemukan fakta baru tentang Date. Shinosuke-kun sedang dalam perjalanan kesini untuk memberikan informasi terbaru kepada kita." Ucap Haima seraya menikmati Tiramisu yang dibeli oleh Poppy dan Nico.


Mereka yang mendengar perkataan Haima menjadi penasaran. Fakta apa yang polisi temukan. Apakah bisa mendukung mereka untuk menemukan Date dan melancarkan rencana yang mereka buat untuk memberi pelajaran kepada Date? 


Hiiro menyelesaikan makannya dan segera kembali duduk disamping Emu diikuti tatapan prihatin oleh setiap orang yang ada diruangan itu. Mereka merasa Hiiro benar-benar diliputi rasa bersalah yang teramat sangat kepada Emu. Mereka tidak pernah melihat Hiiro sangat kacau seperti saat ini.


Hiiro memegang tangan Emu dengan erat, perlahan dia mencium tangan Emu dan berdoa agar Emu bisa segera sadar dan kembali padanya. 


"Tuhan! Jangan biarkan Emu menderita lagi, aku berjanji akan membahagiakannya setulus hati. Aku berjanji tidak kan menyakitinya lagi. Aku berjanji akan membuat dia menjadi wanita yang paling bahagia di dunia! Berikanlah aku kesempatan! Aku mohon Tuhan! Aku mohon!" pinta Hiiro dalam doanya.


"Emphm..." Tiba-tiba jemari Emu yang digenggam Hiiro bergerak dan Emu mengeluarkan suara rintihan pelan, tubuhnya menggeliat perlahan.


Mata Hiiro terbelalak melihat respon yang Emu berikan.


"Emu?" Hiiro memastikan Emu mendengarnya atau tidak.


Namun tiba-tiba Emu berteriak, mengagetkan semua orang.


"Emu???!"


Emu melepaskan tangan Hiiro dan memegang kepalanya.


"Ja-jangan sa-sakiti a-aku! Ku-kumohon!" Suara Emu terlihat nelangsa seraya memegangi kepalanya dan tidak mau melihat orang yang ada disekitarnya.


Hiiro berusaha menenangkannya dengan memegang tangannya tapi tangannya ditepis oleh Emu dengan cepat.


"Ja-jangan sen-sentuh a-aku Date-san!" Ucap Emu terbata-bata membuat semua orang semakin khawatir. Dia sepertinya masih teringat dengan kekerasan yang dilakukan Date kepadanya hingga dia tidak sadar dimana dia berada sekarang.


Taiga dan Kiriya mendekati Emu berusaha memegangnya agar tenang tapi Emu mundur dari tempat tidurnya semakin ketakutan.


"Ma-maafkan a-aku, Date-san! Hiks Ma-maafkan hiks a-aku!" Rintih Emu menutup wajahnya dan mulai menangis.


Hiiro memeluknya namun Emu memberontak sekuat tenaga,


"Emu! Sadarlah, sayang! Ini aku Hiiro! Ingat Aku!" Ucap Hiiro frustasi menahan Emu yang masih memberontak dalam pelukannya. 


"Ja-jangan pu-pukul a-aku la-lagi! A-aku jan-janji ti-dak a-kan mem-bantah lagi!" Emu meracau semakin nelangsa. Nico dan Poppy yang melihat Emu hancur tidak kuasa menahan tangis, Kuroto dan Pallad terlihat terluka melihat Emu yang penuh dengan penderitaan. Mereka semua tidak sanggup mendengar jeritan hati yang keluar dari bibir Emu.


"Emu, sayang! Ayolah! Lihat aku!" Isak Hiiro yang sangat hancur melihat Emu yang terluka secara psikis dan fisik.


Perlahan Emu memberanikan diri melihat wajah orang yang memeluknya.


"Hi-hiiro-san?" Ucapnya terbata ketika sadar jika yang memeluknya adalah Hiiro, pria yang dia cintai hingga saat ini.


Tangis Emu meledak dan memeluk Hiiro dengan erat.


"Kamu ja-jahat Hiiro-san! Ke-kenapa ka-kamu membiarkanku se-seperti i-ni!" Isak Emu seraya memukul dada Hiiro dengan lemah.


Hiiro semakin hancur mendengar Emu berkata seperti itu. Perasaan bersalah dalam dirinya semakin kuat dan amarahnya kepada Date semakin tidak bisa dikendalikan. Dia berjanji dalam hatinya akan menghancurkan Date untuk selama-lamanya.


Emosi Emu semakin tidak bisa dikendalikan. Nafasnya menderu dengan cepat membuat jantungnya berdebar tidak terkendali. Matanya memancarkan perasaan ketakutan yang dalam. Emu menjadi semakin panik dan kehilangan akal. Dengan kasar dia melepaskan pelukan Hiiro dan berusaha melepaskan infus yang ada ditangannya. Taiga menahan tangan Emu dan mencegahnya melepaskan infus itu. Emu mulai memberontak membuat Kiriya dan Hiiro ikut memegangi kaki dan tangannya yang lain.


"OI, CEPAT PANGGIL DOKTERNYA!" Teriak Kiriya dengan wajah panik mencoba menahan Kaki Emu yang mencoba menendang kesegala arah.


Haima berlari memanggil dokter yang menangani Emu dan segera menariknya dengan cepat menuju Emu. Shouma segera menyuntikkan obat penenang kepada Emu. Segera setelah obat penenang itu bereaksi, perlawanan Emu melemah. Seraya terisak Emu kembali tenang dan akhirnya tertidur dengan air mata masih tersisa di sudut matanya


Seluruh orang yang ada diruangan mulai menghela nafas lega. Hiiro, Taiga dan Kiriya menjatuhkan diri di lantai berusaha menenangkan diri setelah kejadian yang tidak disangka tadi.


Shouma memeriksa Emu dengan seksama. Kemudian dia mengehela nafas berat.


"Seperti dugaanku, Houjou-sensei akan mengalami trauma yang berat jika dia siuman!" desah Shouma terlihat sedih seraya menatap Emu yang telah tertidur tenang karena obat.


"Lebih baik kalian menyingkirkan benda tajam dan berbahaya yang ada diruangan ini! Aku takut berikutnya dia akan menyakiti dirinya sendiri!" saran Shouma seraya menunjuk barang-barang yang berpotensi dapat digunakan oleh Emu untuk menyakiti diri sendiri.


"Kalian jangan biarkan Houjou-sensei sendirian, kondisinya masih rentan dan labil. Tentu saja kita tidak mau sesuatu terjadi padanya, bukan?" tambah Shouma diikuti anggukan tanda mengerti.


"Aku akan meninggalkan beberapa obat penenang jika kejadian ini terulang. Aku percaya dengan kalian, Karena kalian dokter juga. Tapi ingat jangan sembarang memberikan obat penenang. Hanya jika Houjou-sensei benar-benar tidak terkendali, mengerti?" Ucap Shouma seraya menyerahkan obat penenang kepada Hiiro lalu segera berpamitan kembali menuju ruangannya.


"Tidak akan aku biarkan **** itu hidup!!" Teriak Kuroto seraya memukuli tembok terlihat sangat marah.


Kuroto benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Date benar-benar telah menghancurkan mental Emu dan membuatnya hidup dengan trauma berkepanjangan. Maaf bukanlah kata yang pantas untuk Date saat ini.


Semua menatap Emu dengan tatapan penuh kesedihan. Siapa yang tega melihat Emu begitu hancur seperti ini. Bayangkan saja  Emu seorang dokter anak yang selalu ceria, optimis dan baik hati dengan semua orang tanpa pandang bulu. Emu yang selalu menjadi matahari bagi semua orang yang ada didekatnya menjadi sosok yang berbeda 180°. Kini Emu terperosok kedalam kegelapan. Tidak ada lagi cahaya dalam tatapan matanya, tidak ada lagi senyum yang menghiasi wajahnya , semua hilang ditelan kegelapan.


"Direktur Kagami!" Suara seorang pria memecahkan lamunan mereka. Seorang pria dengan rambut pendek dan memakai jas hitam masuk lalu membungkuk kepada Haima dengan sopan.


"Oh, Shinosuke-kun! Kamu sudah sampai!" Ucapa Haima antusias lalu menepuk punggung pemuda itu.


"Kalian pasti sudah mengenalnya bukan?" Ucap Haima menoleh kepada anggota CR yang lain diikuti anggukan mereka. Ya, Shinosuke merupakan detektif kepolisian Tokyo yang kebetulan diperbantukan untuk membantu kepolisian Seito sekitar 11 bulan lalu. Shinosuke juga salah satu teman akrab dari Kiriya. Mereka mulai menjadi teman akrab semenjak mereka sering bekerjasama dalam beberapa kasus yang melibatkan kepolisian dan unit forensik.


"Lama tak berjuma, kawan!" Sapa Kiriya yang terlihat senang ketika Shinosuke datang. Mereka berjabat tangan dan berpelukan layaknya kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, kemudian disusul oleh anggota CR yang lain yang menyambut Shinosuke dengan hangat.


"Maaf, jika saya datang terlambat untuk menjenguk Emu-chan, Kiriko menitipkan salam karena tidak bisa ikut menjenguk. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Shinosuke seraya menyerahkan parcel buah yang dibawanya untuk Emu kepada Poppy.


"Masih belum ada perkembangan yang berarti, bahkan Emu baru saja mengamuk hingga akhirnya diberikan obat penenang." jawab Kiriya seraya menatap Emu lagi yang sedang tertidur.


Shinosuke memandang Emu dengan wajah prihatin. Senyum itu benar-benar telah hilang dari wajah manis Emu. Terakhir kali dia bertemu Emu, dia masih bisa tersenyum, bercerita tentang hal-hal lucu  dan tertawa  bersamanya dan Kiriko. Kini Emu terlihat seperti tubuh tanpa jiwa, pucat tidak berwarna.


"Ah, bagaimana perkembangan kasus Emu, apakah kepolisian telah menemukan tempat persembunyian **** itu? Eh-maaf maksud saya Date?" Haima menutup mulutnya ketika tidak sengaja menyebut Date sebagai **** dan tersenyum canggung karena semua orang terkejut dan tertawa mendengar Haima mengucapkan kata-kata ajaib itu.


"Ah, Direktur tak perlu segan mengatakan jika Date itu ****! Lagipula dia memang **** yang tidak bisa dimaafkan!" ucap Shinosuke seraya tertawa kecil.


"Obsesinya terhadap Emu sudah kelewat batas!" tambah Shinosuke dengan wajah serius.


"Padahal Date baru mengenal Emu belum ada setahun tetapi sudah terobsesi seperti itu!" ucap Poppy menghela nafas berat.


"Tidak!" ucap Shinosuke yang mengagetkan semua orang.


"Eh? Tidak? Date mulai bekerja di rumah sakit ini sekitar 10 bulan lalu. Jadi-"


"Date sudah mengenal Emu sejak dibangku kuliah!" Sanggah Shinosuke membuat semua orang diruangan itu melotot tidak percaya. Sejak di bangku kuliah? Bagaimana bisa?


.


.


.


Ditempat lain di gedung yang sama seorang pria besar memakai pakaian serba hitam menghentikan vannya di area parkir rumah sakit. Dia bersama kedua pria lain yang berpakaian senada mengambil beberapa kotak  yang memiliki banyak kabel ke dalam ransel mereka. Mereka bertiga berpencar dan menempatkan benda-benda itu di beberapa tempat di area  luar rumah sakit. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan mereka, salah satu pria besar itu berbicara dengan alat komunikasi di telinganya.


"Persiapan sudah selesai, tuan!  Menunggu perintah selanjutnya!" ucap pria besar itu seraya mendengar dengan seksama perintah dari orang yang berkomunikasi dengannya.


"Laksanakan!" Mereka bertigapun mengganti pakaian mereka dan segera memasuki lobby rumah sakit.


"Misi dimulai sekarang!"


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


*Come apart


Falling in the cracks of every broken heart


Digging through the wreckage of your disregard


Sinking down and waiting for the chance to feel alive


Now in my remains are promises that never came


Set the silence free to wash away the worst of me


- Linkin Park - In My Remains*-