Breathless

Breathless
Chapter 8: Unforgiven




Suara sirine ambulance meraung dengan kencang memecahkan keheningan malam itu. Seperti debaran jantung Kiriya dan Pallad yang berdetak diatas batas normal ketika  melihat kondisi Emu yang mengenaskan. Sepanjang jalan menuju rumah sakit mereka terus berdoa dan berharap agar Emu bisa selamat melalui malam ini dan segera kembali bersama mereka lagi.


Kepanikkan terjadi ketika petugas ambulance bersama Kiriya dan Pallad sampai di ER. Semua dokter dan perawat yang bertugas di ER terkejut ketika petugas ambulance  membawa tubuh Emu, dokter muda yang sangat mereka kenal.


"Emu?!! EMU!!" Poppy berteriak histeris ketika melihat Emu dengan kondisi mengenaskan dibawa masuk ke ruang ER.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Poppy panik berusaha mendekat dan akhirnya dicegah oleh petugas ER.


"Kalian semua sebaiknya menunggu diluar! Kami akan melakukan yang terbaik untuk Houjou-sensei!" Ucap satu dokter yang bertugas di ER itu dengan wajah yang terlihat khawatir melihat kondisi Emu.


"Emu berada di tangan yang tepat. Mereka pasti bisa menyelamatkannya! Kita harus percaya!" Ucap Kiriya dengan nada getir masih terdengar di suaranya.


Kiriya mengajak Pallad dan Poppy untuk menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan. Mereka bertiga duduk dengan penuh kegelisahan. Kiriya tidak berhenti menggerak-gerakkan kakinya karena tidak tenang. Masih jelas dalam ingatannya kejadian ketika dia menemukan Emu tidak bernafas dalam bathup. Hatinya benar-benar sakit. Kiriya ketakutan, dia ketakutan kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu. Pallad dan Poppy berpegangan tangan saling menguatkan dan berdoa agar malam ini menjadi malam terakhir untuk mimpi buruk Emu.


KRET! BRAK!


Pintu ruang tunggu itu  digeser secara kasar dan tergesa-gesa. Hiiro masuk dengan wajah yang sangat gusar diikuti oleh Taiga, Kuroto dan Nico yang tak kalah paniknya. 


Kiriya menatap Hiiro penuh dengan kebencian. Dia menghampiri Hiiro dan melayangkan bogem mentah ke arah Hiiro tanpa pikir panjang. Hiiro yang tidak siap dengan tindakan Kiriya terjatuh ke lantai dan terkejut memegang wajahnya yang terasa sangat panas karena pukulan yang dilayangkan oleh Kiriya. Hiiro tersulut emosi dan berlari ke arah Kiriya membalas pukulannya dengan tinju yang sangat keras.


"WOY! BERHENTI KALIAN BERDUA!" Taiga berteriak dan melerai mereka berdua. Bukannya menghentikan perkelahian, mereka berdua semakin emosi dan tetap berusaha memukul satu sama lain. Bahkan Taiga hampir terkena pukulan Kiriya yang ditujukan untuk Hiiro. Kuroto segera menahan Kiriya dan menariknya menjauh dari Hiiro, sedang Pallad menarik tubuh Hiiro dan berusaha menenangkan HIiro. Walaupun begitu mereka berdua masih saja mencoba menyerang tidak mau mendengarkan yang lain. Keributan yang terjadi di ruang tunggu mau tidak mau menarik perhatian penghuni rumah sakit yang lain.


"CUKUP KALIAN BERDUA! HENTIKAN SEKARANG JUGA!" Mendadak Haima datang lalu membentak mereka berdua. Semua orang terdiam menatap Haima yang terlihat sangat marah dan tidak percaya dengan ketidak profesional yang mereka tunjukkan.


"Jika kalian ingin berkelahi, silahkan lanjutkan diluar!" Tegas Haima lagi mempersilahkan mereka berdua seraya menunjukkan pintu keluar.


Kiriya dan Hiiro memutar mata mereka dongkol. Mereka melepaskan diri dan pegangan teman-teman mereka secara kasar dan merapikan pakaian mereka. Poppy dan Nico yang melihat kejadian itu hanya bisa menangis seraya berpelukkan satu sama lain.


"Dengan bertengkar seperti ini , kalian tidak akan bisa mengembalikan Houjou-chan seperti sedia kala! Aku mohon kalian bertidak lebih dewasa lagi!" ucap Haima kali ini dengan nada memohon kepada Hiiro dan Kiriya.


Hiiro menundukkan kepalanya. Matanya terasa sangat panas. Dia mendekat ke tembok disudut ruangan dan menjatuhkan diri dilantai, duduk meringkuk. Tangannya mengepal menahan emosi. Ya Tuhan! Apa yang sudah kulakukan!


Kiriya duduk di sofa dengan kesal. Wajahnya masih menunjukkan kebencian terhadap Hiiro.


"Ini semua salahmu, BRENGSEK!" ucap Kiriya Emosi seraya menuding wajah Hiiro.


"Jika saja kau tidak menolaknya! Jika saja kau tidak menghancurkan hatinya! Emu tidak akan memilih cinta yang salah dan berakhir seperti ini!" cecar Kiriya dengan suara tinggi dan memukul tembok disampingnya.


Telinga Hiiro terasa memanas ketika mendengar perkataan yang Kiriya lontarkan. Dia tidak bisa menyangkalnya. Faktanya memang dialah penyebab awal dari semua tragedy ini. Jika saja dia memberikan Emu kesempatan. Jika saja dia tidak melepaskan Emu begitu saja. Jika saja dia tidak terjebak dengan masa lalu. Mungkin Emu tidak akan menanggung penderitaan ini. Mungkin saja dia bisa membahagiakan Emu sepenuh hati. 


Oh Tuhan! Betapa bodohnya aku! Seketika Hiiro mulai menyalahkan dirinya sendiri lalu muncul perasaan ketakutan. Dia takut kehilangan Emu. Dia tidak bisa menyangkal jika sebenarnya dia sangat mencintai Emu. Namun Saki selalu menjadi bayangan yang menghambatnya untuk meraih cinta Emu. Dia terlambat menyadari jika cinta yang dicarinya ada di hadapannya selama ini. Penuh penyesalan Hiiro membenamkan wajahnya pada kedua kakinya. Hiiro terisak sudah tidak bisa menahan air matanya untuk keluar lagi.


Kiriya melirik ke arah Hiiro lalu mengalihkan wajahnya menatap langit-langit ruang tunggu dan menghela nafas panjang. Tak disangka pertahanan Hiiro akhirnya hancur juga. Perlahan Kiriya mengatur nafasnya dan berusaha meredakan emosi yang menguasai dirinya. Dia tidak bisa menyalahkan Hiiro atas semua yang terjadi.


Taiga mendekati Hiiro dan menepuk pundaknya dengan lembut. Hiiro mengangkat wajahnya kembali lalu menatap nanar Taiga.


"Ini memang salahku!" ucap Hiiro pelan dan sendu.


"Jika saja-" Taiga menutup mulut Hiiro dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan! Ini bukan salah kamu, Dia atau kita!" Sanggah Taiga.


"Ini semua adalah salah **** bernama DATE!" jawab Taiga sambil mengepal tangannya dengan kuat menahan emosi.


"Akan KUBUNUH Pria BRENGSEK itu!" ucap Pallad geram. Poppy dan Nico mendekati Pallad dan berusaha menenangkannya.


"Sudah Pallad! Aku mohon tenang dulu! Bisakah kita fokus dengan keadaan Emu sekarang! aku mohon!" Ucap Poppy terisak.


"Tapi lihat apa yang **** itu lakukan kepada Emu, POPPY!" Terlihat bibir Pallad bergetar dan air mata keluar dari sudut matanya.


"Bisakah kalian bayangkan penderitaan apa yang dirasakan Emu!" Ucap Pallad lagi seraya memegang kedua bahu Poppy.


Semua hanya bisa terdiam kini. Mereka semua merasa sangat bodoh tidak bisa melihat siapa sebenarnya pria yang selama ini bersama Emu. Mereka kira, Emu telah menemukan pria yang bisa membahagiakan dirinya. Mereka kira, Emu tidak akan menderita lagi karena patah hati. Tapi kenyataannya sebaliknya mereka sudah menggali kuburan untuk orang yang mereka sayangi itu. Mereka tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri kini.


"Lalu bagaimana keadaan Emu sekarang?" Pertanyaan Nico membuyarkan lamunan mereka.


"Belum ada laporan. Dokter dan petugas ER masih menanganinya. Kita tunggu saja sebentar lagi" jawab Haima


"Tapi benarkah kalian tadi menemukannya tenggelam di dalam bathup? Petugas ambulance tadi mengatakan jika itu adalah tindakan percobaan bunuh diri!" tanya Haima kepada Kiriya dan Pallad. 


Hiiro tersentak tidak percaya.


"Bunuh diri?" Suara Hiiro begetar tidak percaya


Kiriya mengeluarkan nafas berat.


"Tidakkah kalian membaca pesan terakhir yang Emu kirimkan pada kalian?! Itu memang membuktikkan jika Emu berniat menghabisi nyawanya sendiri. Apalagi kami memang menenmukannya tenggelam." ujar Kiriya dengan mata merah.


Poppy dan Nico tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, penderitaan seperti apa yang Emu tanggung sehingga Emu yang selalu ceria dan optimis bisa memutuskan sesuatu yang ekstrim seperti ini.


"Direktur Haima!" Terlihat seorang dokter masuk kedalam ruang tunggu dan memanggil Haima.


"Ah, Shouma-sensei! Bagaimana?" Haima menoleh ke arah dokter yang menangani Emu saat ini.


"Saya akan melaporkan hasil pemeriksaan sementara atas Houjou-sensei. Sebenarnya saya tidak tega membacakannya. Tapi kalian pasti ingin tahu bagaimana seseungguhnya keadaaan Houjou-sensei." ucap Shouma dengan wajah prihatin sekaligus sedih.


"Houjou-sensei dibawa dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Dia mengalami hipotermia karena suhu tubuhnya menurun drastis karena tenggelam cukup lama. Sekarang kami masih melakukan pemerikasaan laboraturium untuk memastikan tidak ada diagnosa yang terlewat. Selain itu ditubuhnya terdapat banyak luka akibat benda tumpul, tepatnya hampir seluruh tubuhnya. Di bagian perutnya selain luka lebam, kami menemukan beberapa bekas sundutan rokok. Dipunggungnya juga terdapat luka akibat cambukkan yang masih baru. Wajahnya juga terdapat bekas pukulan dan tamparan keras. Pada kepalanya juga terdapat bekas benturan. Yang kami khawatirkan dia akan menderita gegar otak. Tapi kami masih melakukan rontgen , takutnya ada keretakan pada tempurung kepalanya" Shouma menghela nafas sejenak dan melanjutkan kalimatnya. 


"Selain itu dilihat dari luka yang dideritanya, bisa dikatakan luka-luka itu memilki interval waktu yang berbeda. Artinya Houjou-sensei sudah lama mengalami ini semua." Ucap Shouma terlihat tidak kuasa meneruskan kalimatnya.


"Ada lagi, yang paling memprihatinkan. Houjou-sensei juga mengalami kekerasan seksual yang mungkin tidak bisa saya jelaskan. Saya harap Direktur dan kalian semua mengerti. Saya yakin, jika Houjou-sensei keluar dari masa kritis ini, dia akan mengalami trauma yang sangat hebat." tambah Shouma.


"Oh Tuhan! Jujur saya tidak mengerti siapa yang tega melakukan ini kepada Houjou-sensei! Sungguh brengsek orang itu! Eh, maaf direktur saya terbawa emosi." Ucap Shouma yang terlihat berusaha menahan Emosinya sendiri.


Haima menepuk pundak Shouma dan tidak menyalahkannya jika hingga terbawa emosi. Siapa saja yang melihat kondisi Emu pasti akan merasakan yang dirasakan oleh Shouma-sensei. Terlebih lagi mereka semua mengenal baik keseharian Emu yang selalu baik kepada semua orang.


"Baiklah direktur, saya mohon diri dulu. Jika ada perkembangan baru akan segara saya informasikan." Shouma memohon diri dan pergi meninggalkan semua orang di ruang tunggu dalam keheningan.


Semua yang ada diruangan mendadak menjadi hening, mereka tidak bisa membayangkan apa yang Emu rasakan selama ini. Bagaimana dia bisa bertahan dengan semua kekejaman Date Perasaan mereka kini campur aduk. Rasa bersalah menyelimuti mereka dan kemarahan mereka kepada Date tidak terbendung lagi.


"**** itu! Dia harus membayar semua ini!" Ucap Kuroto dengan gusar.


"Apakah kalian sudah menghubungi polisi?" Tanya Nico kemudian menoleh kepada semua orang.


"Tentu saja sudah! Aku segera menghubunginya ketika menerima kabar jika Emu ditemukan!" ucap Kuroto lagi.


"Apakah kita akan menyerahkan kasus ini kepada Polisi?" ucap Hiiro tiba-tiba.


Semua menoleh kepadanya dengan wajah bingung.


"Maksudku, **** itu telah melakukan sesuatu yang sangat buruk kepada Emu. Apakah kita membiarkan dia hanya dipenjara begitu saja?" tanya Hiiro dengan suara berat dan tatapan tajam.


"Aku mengerti maksudmu tuan muda!" Ucap Kuroto meyeringai.


"Tidak ada salahnya kita mematahkan jari, atau tangannya yang telah melakukan hal kejam kepada Emuku, ya kan?"Senyum jahat terlihat di wajah Kuroto, sepertinya dia merencanakan seseuatu untuk membalas perlakuan Date kepada Emu.


"Dengan senang hati aku mengulitinya hidup-hidup agar dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Emu!" Aura Pallad menggelap, dia sepertinya sudah berniat membunuh Date demi Emu.


"Bisakah kita memberikannya kesenangan yang dia lakukan kepada Emu sebelum dia mendekam di penjara?" Ucap Kiriya tak kalah tajam.


"Jangan kalian melakukan hal yang berbahaya! Ingat Date itu orang yang cukup berbahaya apalagi dia memilki skill pertarungan. Aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang kalian lakukan jika kalian melakukan hal yang bodoh!" tegas Haima memperingati para anggota CR .


Mereka hanya terdiam dan saling pandang satu sama lain. Sepertinya mereka kali ini akan mengacuhkan apa yang Haima perintahkan. Setidaknya mereka ingin Date merasakan penderitaan yang Date berikan kepada Emu selama ini. Bagi mereka jika Date hanya ditangkap dan di penjara, tidak bisa membayar apa yang telah dia lakukan kepada Emu dan jika dia dibebaskan tidak bisa disangkal dia akan mengejar Emu lagi dan membuat mimpi buruk baru untuk Emu.


"Tidak bisakah kita mengajukan tuntutan hukuman mati buat Manusia BRENGSEK Itu, direktur? Minimal dengan menggunakan kursi listrik biar dia bisa merasakan setiap sengatan listrik yang menyengat tubuhnya?" Tanya Taiga dengan senyum menakutkan.


Haima hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka semua. Sepertinya Date telah membangunkan monster dari dalam diri para anggota CR. Haima mengerti jika mereka sangat menyayangi Emu, begitu pula Haima. Dia juga menyayangi Emu seperti putri yang tidak dia miliki. Melihat kondisi Emu ketika datang saja membuat darahnya mendidih karena marah. Date memang tidak bisa dimaafkan. Tapi apa dia kan menutup mata dengan rencana yang akan dijalankan oleh para anggota CR ini?


"Pastikan kalian melakukannya dengan mulus. Aku tidak bertanggung jawab jika kalian melakukan tindakan bodoh dan diketahui orang lain! Camkan itu!" ucap Haima memberi kode kepada anggota CR yang lain lalu pergi meninggalkan ruangan. 


Mereka yang ada didalam ruangan hanya saling berpandangan. Yakinkah mereka akan melakukan hal mengerikan kepada Date karena telah melakukan hal yang tidak termaafkan? 


"Kurasa yang paling bisa mengerjakan pekerjaan 'kotor' ini hanya aku dan Pallad!" ucap Kuroto mnyeringai dengan wajah jahatnya.


"Kalian semua dokter, resikonya terlalu tinggi jika kalian menentang hukum!" ucap Kuroto lagi seraya menunjuk ke arah Kiriya, Taiga dan Hiiro


."Anggap saja nanti kami berada di waktu dan tempat yang salah  ketika pekerjaan 'kotor' itu dimulai!" ucap Hiiro dengan wajah penuh tekad dan mata berkilat marah.


"Jadi Operasi pemusnahan Date dimulai?!" tambah Hiiro dengan gaya khasnya ketika memulai suatu operasi.


Kiriya, Taiga, Pallad dan Kuroto saling berpandangan dan tersenyum sinis. Mereka akan melakukan operasi yang berbeda dari biasanya dan kali ini mereka mempertaruhkan tidak hanya hidup mereka tapi reputasi mereka. Bisakah mereka melakukan operasi ini tanpa kesalahan? Well, kita lihat saja nanti.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


***Bring me home in a blinding dream


Through the secrets that I have seen


Wash the sorrow from off my skin


And show me how to be whole again


- Linkin Park -  Castle of Glass***-