
"—Menyatakan terdakwa Date Akira telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya meliputi tindakan pengrusakan fasilitas umum yang dilakukan pada area vital hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa—"
Reiko, Takashi, dan Hiiro yang berada diruang pengadilan, mendengarkan seksama putusan yang dibacakan oleh salah satu jubir dari 12 juri yang diberikan amanat untuk memutuskan nasib Date. Tidak dipungkiri keputusan yang akan dijatuhkan merupakan penentuan masa depan dari pria tegap itu. Mereka hanya bisa berharap, juri dapat melihat jika Date memiliki sikap yang baik dan sangat kooperatif dengan semua peraturan selama menjalani masa pemeriksaan hingga pembacaan vonis akhir di pengadilan. Apalagi faktanya Date menyerahkan diri dengan sukarela tanpa ada paksaan dan perlindungan dari kekuasaan sang ayah.
"—Oleh karena itu kami menyatakan jika terdakwa Date Akira bersalah." kalimat terakhir yang diucapkan oleh juri seketika membuat seluruh tubuh Reiko lemas tak berdaya.
Reiko mulai terisak dan memeluk Takashi dengan erat. Reiko sadar betul jika sang putra telah melakukan tindakan kriminal yang cukup berat, namun tetap saja jauh dalam lubuk hatinya, dia tidak bisa menerima kenyataan jika sang putra akan mendekam lama dipenjara. Takashipun tidak bisa dipungkiri diliputi oleh perasaan bersalah.
Seandainya dulu dia tidak mengajarkan prinsip yang salah terhadap sang anak. Mungkin akan berbeda ceritanya saat ini. Penyesalan selalu datang terlambat bukan?
Hiiro sendiri, menatap Date yang terlihat tetap menegakkan kepalanya dan tegar dengan perasaan salut. Date benar-benar telah menjadi pribadi yang berbeda, tidak seperti ketika mereka pertama kali berjumpa. Dia kini lebih terlihat bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Hal ini membuktikan tidak sia-sia Reiko mendatangkan psikiater pribadi Date, Dokter Nick Bourdon untuk mendampingi sang putra selama proses peradilan sekaligus melanjutkan terapi yang pernah terhenti ketika Date mulai beranjak dewasa. Hiiro menghembuskan nafas pendek sejenak—berpikir. Ah, entah mengapa Hiiro merasa Date pantas mendapatkan kesempatan yang kedua.
Kini tinggal menunggu putusan Hakim tentang masa tahanan yang akan dilalui oleh Date. Takashi berharap, jika hukuman yang akan dijatuhkan bisa lebih ringan. Apalagi dia sebagai ayah Date, telah memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Walaupun Takashie tahu itu tidak sebanding, namun dia berharap jika itu bisa membantu sedikit untuk mengurangi masa tahanan yang akan dilalui oleh Date. Tapi bukan hanya itu saja alasan Takashi memberikan kompensasai kepara para korban, ini juga adalah sebagai bentuk dari tanggung jawabnya atas tragedy yang telah terjadi. Pp
Hakim mulai membacakan putusan, membuat Reiko dan Takashi semakin tegang. Begitu juga Hiiro yang mulai sesekali bernafas berat seraya memperhatikan Hakim berbicara.
"—Memutuskan menjatuhkan hukuman tahanan selama 4 tahun 6 bulan—"
Takashi terlihat menghembuskan nafas pendek. Hukuman yang dijatuhkan terbilang masih lebih baik dari pada tuntutan jaksa penuntut yang meminta 7-10 tahun masa tahanan. Namun tetap saja bagi Reiko, itu adalah waktu yang sangat lama dan membuatnya semakin jatuh dalam kesedihan.
Hakim bertanya kepada pengacara yang mendampingi Date tentang pengajuan banding. Date menatap pengacaranya dan menggelengkan kepalanya membuat semua orang mengerti jika Date tidak akan mengajukan banding dan menerima keputusan juri dan hakim dengan sukarela.
Ketukan palu pengadilan bergema di ruangan pengadilan. Vonis dijatuhkan telah resmi dan tidak bisa diganggu gugat, tangisan mulai terdengar. Suasana ruang pengadilan berubah dengan drastis. Pada awalnya hening dengan ketegangan yang mendominasi, kini berubah menjadi riuh dengan suara panik dan isak histeris.
Reiko berhamburan memeluk putranya yang di kawal oleh petugas keamanan. Tangannya mencengkram erat tubuh sang putra seakan tidak rela untuk melepaskannya. Date dengan wajah teduh dan tenang mulai berbisik pada sang ibu. Mencoba memberikan keterangan agar kepanikan wanita paruh baya itu mereda.
Takashi mendekati sang istri mencoba memberikan pengertian agar Reiko bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Histeris—Reiko masih bersikeras untuk tetap memeluk sang putra dan tidak mengindahkan orang disekitarnya. Reiko mulai tidak terkendali dan memaksa untuk tetap bersama Date. Takashi yang kewalahan meminta bantuan Hiiro untuk memberikan pengertian kepada Reiko. Keras kepala— Reiko bersikukuh tidak melepaskan pelukkannya kepada sang putra. Alhasil terjadi sedikit keributan karena penjaga mencoba menarik Date dari Reiko sehingga memancing kemarahan Takashi.
"Mom, Please!" Date hanya bisa menatap sang Ibu dengan ekspresi memohon agar, sang ibu tidak bertindak lebih yang dapat memancing keributan tidak terkendali.
Ingin rasanya Date meraih sang ibu, namun tangannya yang terbelenggu membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Pasrah—Reiko akhirnya melepaskan pelukkannya dari sang putra dan membiarkan petugas membawanya menuju 'rumah barunya' untuk 4 tahun 6 bulan kedepan.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Seminggu setelah pemutusan vonis untuk Date, beberapa kebenaran mulai terungkap di dalam tubuh pemerintahan. Takashi Hagino mengumumkan pengunduran dirinya dari partai yang selama puluhan tahun dia naungi. Baik dari jabatan hingga sebagai penyokong dana utama. Bahkan dengan sukarela dia menyerahkan jabatannya di parlemen pemerintahan dan bersedia untuk menerima investigasi lanjutan atas segala kegiatan politik yang pernah dia lakukan.
Berita seketika menyebar dengan cepat apalagi media memberitakannya nonstop selama 24 jam. Pro-kontra pun tidak terelakkan. Ada yang menghormati keputusan yang diambil oleh politisi senior itu, namun tidak sedikit yang mencibirnya, terutama karena reputasinya yang cukup buruk dihadapan masyarakat yang tidak mengenalnya dengan dekat.
Termasuk Shotaru dan Shinosuke yang terlihat mencibir sikap Takashi, apalagi anak buah mereka sempat hampir membunuh mereka berdua. Namun ketika mereka berdua dipanggil secara pribadi oleh Heizou, persepsi mereka berubah drastis.
Pada awalnya mereka enggan untuk bertemu kembali dengan sang Jenderal. Tetapi pada akhirnya mereka memutuskan mendatangi Heizou di kantor pusat kementrian keamanan, karena alasan yang simple. Mereka ingin mengetahui alasan yang sebenarnya mengapa mereka dipanggil menghadap sang Jenderal. Hal yang mengejutkan lainnya, ternyata mereka berdua tidak hanya ditunggu oleh Heizou saja. Namun ketika mereka memasuki kantor Heizou, Takashi Hagino, Kyotaru Hinata turut hadir disana.
Shotaru memperhatikan hubungan ketiganya kini tidak bersitegang lagi seperti ketika mereka bertemu di rumah sakit sesaat setelah penembakan Emu. Heizou yang sedari awal membungkam bulutnya mengenai alasannya mendampingi Takashi yang terkenal sebagai politikus kotor akhirnya menjelaskan situasi yang sebenarnya kepada kedua mantan agen dan detektif itu. Terkejut—Tercengang—perasaan bersalah menyelimuti keduanya kini. Heizou yang selesai membeberkan kenyataan kini terlihat bernafas lega diikuti oleh senyuman hormat kedua bawahannya itu. Kesalahpahaman telah terselesaikan.
Takashi Hagino yang mereka kenal sebagai politikus kotor yang bisa melakukan apa saja untuk melancarkan segala tindakannya ternyata bukan orang yang seperti mereka bayangkan. Takashi memiliki perjanjian dengan pemerintah secara rahasia yang membuatnya menjadi pemeran antagonis dalam pemerintahan.
Pada awal karir memang Takshi selalu mempraktekkan politik sampah. Akan tetapi seiring berjalannya waktu Takashi mulai tidak nyaman karena rivalnya banyak yang mengincar nyawa istri dan putra satu-satunya. Puncaknya, ketika sang putra diculik dan hampir terbunuh ketika usia 15 tahun membuatnya semakin ketakutan. Sejak saat itu prioritas Takashi berubah, dia lebih memilih melindungi keluarganya. Oleh karena itu dia merelakan posisinya dalam dunia politik dan menyerahkan diri hingga mengakui segala tindakan kotor yang pernah dilakukannya.
Takashi pernah kehilangan istri keduanya, ibu kandung dari Date karena sifat arogannya yang tinggi dan perilakunya yang masih labil karena kekuasaan. Sifat yang hingga saat ini masih dia coba kendalikan. Rasa sakit yang dia pendam karena penyesalan, membuatnya tidak ingin kehilangan orang yang dicintai untuk kedua kalinya.
Kenyataannya ternyata kesempatan itu dimanfaat kan oleh pemerintah, mereka berjanji tidak akan menuntutnya bahkan akan melakukan apa saja untuk melindungi keluarga Takashi. Dibalik itu semua tentu saja pemerintah meminta timbal balik dari Takashi. Pertama, Takashi diminta menjadi sebagai pemasok tunggal untuk penyedia persenjataan militer dan kepolisian pemerintah. Kedua, Takashi diminta menjadi tokoh antagonis dalam pemerintahan dan masyarakat agar dia dapat menarik lebih banyak lagi pejabat dan tokoh politik 'nakal' agar terperangkap lalu pemerintah dengan mudah membersihkan mereka secara diam-diam.
Perjanjian itu hanya diketahui oleh segelintir orang yang telah disumpah tidak akan membocorkan kerahasiaan misi ini. Betul saja, selama Takashi menjalani perannya, sudah puluhan politisi dan pejabat yang diringkus dengan mudah oleh agen pemerintah. Tanpa pemberitaan—tanpa terdeteksi media.
Hinata termasuk salah satu anggota pemerintahan yang tidak mengetahui perjanjian rahasia ini. Setelah dia mengetahui kenyataan sebenarnya, dia menarik kata-kata buruknya untuk Takashi dan menaruh hormat untuk tindakan yang dilakukan oleh Takashi. Pada akhirnya Heizou dan Takashi memutuskan untuk menceritakan kepada mereka, karena Takashi lebih memilih untuk berhenti dari sandiwara yang telah lama dia mainkannya. Dia sudah terlalu lelah, apalagi semenjak sang putra berada dibalik terali besi.
Saling berjabat tangan akhirnya yang mereka lakukan. Heizou kemudian meminta Shinosuke dan Shotaru untuk bergabung di dalam agen rahasia pemerintah untuk memberantas para politikus kotor dan pejabat yang melenceng dari sistem hukum negara mereka. Keduanya kemudian saling melemparkan padangan satu sama lain, tersenyum mantap—mereka menerima tawaran itu dengan penuh bangga.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Suasana Rumah Sakit Seito masih tidak banyak berubah. Hanya saja kini sudah tidak ada suara bising alat-alat berat bekerja yang merenovasi beberapa bagian rumah sakit yang sempat terkena dampak dari ledakan yang pernah terjadi. Renovasi yang dibiayai oleh Takashi itu akhirnya selesai—rutinitas pun berlangsung lebih baik dari biasanya.
Termasuk rutinitas Emu dalam proses pemulihan kondisinya. Hari demi hari kondisi kesehatan Emu semakin membaik, Dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan dia melakukan kegiatan ringan diluar ruangan perawatannya. Hiiro, Taiga, Kiriya, dan Reiko yang selalu mendampinginya setiap saat, secara bergantian selalu membawanya berjalan menuju taman Rumah Sakit untuk sekedar mengusir kejenuhan sang gadis manis. Tidak hanya mereka berdua, Poppy, Nico, Kuroto dan Pallad juga selalu ikut menemani Emu jika mereka telah selesai melakukan tugas mereka di bagian pelayanan masyarakat.
Tidak ketinggalan Hinata, sang menteri kesehatan. Di sela-sela kesibukannya dia berusha mengunjungi Emu, untuk sekedar memastikan jika Pediatric muda itu dalam kondisi yang stabil.
"Selamat siang!" sapa seorang wanita berambut panjang lurus sepinggang dengan menggunakan pakaian kasual di depan pintu ruangan tempat Emu dirawat.
Senyum mengembang di wajah Emu dan teman-teman yang sedang berada diruangan Emu.
"Kiriko-san!" Emu memanggil nama wanita itu dengan antusias.
Wanita yang disapa membalas dengan senyum cerah sekaligus lega melihat kondisi Emu sudah lebih baik dari sebelumnya. Kiriko masuk disusul Shinosuke, Chase, Gou serta Shotaru yang mengekor dibelakangnya. Dalam sekejab, ruangan itu berubah menjadi lebih riuh karena obrolan yang dilangsungkan oleh orang-ornag yang berada dalam ruangan itu. Emu, Kiriko dan Reiko tenggelam dalam obrolan ringan seputar kondisi Emu. Sedang Shinosuke, Gou, Chase dan Shotaru tak kalah heboh mengobrol tentang berbagai macam hal dengan Hiiro, Taiga dan Kiriya. Terkadang terdengar sesekali suara tawa disela obrolan mereka.
"Eh, apa Emu-chan sudah pernah mengunjungi Date?" pertanyaan polos Kiriko menghentak Emu dalam sekejap.
Reiko menoleh kearah Kiriko dan meremas tangan dengan wajah tegang. Sedang Hiiro, Taiga dan Kiriya terlihat pucat dan menghentikan obrolan mereka dengan keempat pria lainnya ketika mendengar pertanyaan dari Kiriko.
"Mengunjungi?" suara Emu yang terdengar lirih dan penuh tanda tanya disertai tatapan panik dari Reiko.
Melihat kepanikan Reiko, mau tidak mau membuat Kiriko menyadari jika dia telah salah mengajukan pertanyaan itu kepada Emu. Lagipula dalam kondisi pemulihan tidak mungkin Emu sempat mengunjungi Date bukan? Seketika Kiriko melengos merutuki kebodohannya sendiri.
"Apa maksudmu dengan mengunjungi, Kiriko-san?" tanya Emu lagi ketika mendadak semua orang dalam ruangan itu terlihat pucat pasi dan bungkam dalam sekejab.
Kiriko yang terlihat semakin bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan itu seketika menoleh ke arah Reiko dan Shinosuke secara bergantian. Jujur dia tidak menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Pediatric muda itu.
Shinosuke berdiri secara mendadak dari sofa tempat dia duduk. Dia kemudian mendekati Kiriko yang kini terdiam membisu menghindari tatapan penuh tanda tanya dari Emu.
"Emu-chan, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kami akan mengunjungimu lagi nanti!" ucap Shinosuke cepat kemudian memegang pundak Kiriko memberikan isyarat agar Kiriko mengikutinya.
"Tapi—" Emu menjeda dengan suara bergetar, "kalian belum menjelaskan apa-apa kepadaku?"
"Hiiro-san? Reiko-san? Sebenarnya apa yang terjadi?" Emu menoleh kearah Hiiro dan Reiko secara bergantian meminta penjelasan.
Reiko dan Hiiro masih diam membisu. Ekspresi mereka tidak bisa ditebak. Kalut, gelisah, takut, panik— mereka tidak bisa menentukan perasaan mana yang paling mendominasi saat ini. Sedang Kiriko terlihat merasa bersalah karena telah melontarkan pertanyaan yang seharusnya tidak dia tanyakan.
"Mengapa aku tidak pernah melihat Date-san satu kalipun selama aku dirawat?" ucapnya lagi semakin membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu salah tingkah dan gelisah.
"Dengarkan aku, Emu-chan! Bersabarlah sedikit lagi, kami akan menjelaskan segalanya jika waktunya tepat!" ucap Reiko meraih tangan Emu dan menggenggamnya erat.
"No!" Emu melepas genggaman Reiko cepat, "bukankah kalian sudah berjanji padaku akan menceritakan segalanya jika aku sudah pulih?"
"Lihat!" sedetik kemudian Emu bangkit dari ranjangnya dan berdiri, "aku sudah lebih baik bukan?"
Reiko buru-buru membimbing Emu kembali untuk duduk begitu melihat Emu terlihat goyah ketika menapakkan kakinya agak lama. Berdiri secara mendadak sedikit membuat Emu merasakan pening di kepalanya.
"Hiiro-san! Kau sudah berjanji padaku!" Emu sejurus kemudian menatap Hiiro tajam dan terlihat menagih janji yang pernah dibuat sang dokter bedah padanya.
Hiiro yang melihat tatapan tajam Emu namun nelangsa akhirnya mendesah pasrah, "sepertinya aku tidak punya pilihan lagi!"
"Hiiro?! Jangan gegabah!" Kiriya mencengkram bahu Hiiro sedikit lebih kuat dengan alis berkerut—kalut.
"Apa aku punya pilihan lain?" Hiiro memiringkan kepalanya menoleh kearah Kiriya dengan wajah penuh tanda tanya. Matanya menyipit dengan alis bertautan—penuh keterpaksaan.
Hiiro melangkah maju mendekati Emu yang masih menatap tajam kearahnya tanpa berkedip. Hiiro mendesah, semakin dia menelisik tatapan Emu semakin dia yakin itu adalah tatapan kerinduan yang dibalut dengan kekakhawatiran. Tatapan yang sebenarnya bukan ditujukan untuk dirinya, tapi untuk Date.
Begitu mendengar permintaan Hiiro, Reiko, Taiga, Kiriya serta Shinosuke serta rombongannya mengangguk perlahan. Satu persatu mereka meninggalkan ruangan itu menyisakan Emu dan Hiiro, berdua tanpa terganggu.
.
.
.
.
.
"Kamu yakin akan membawa Emu menemui Date, Hiiro?" Pallad terdengar tidak menyukai dengan keputusan yang diambil oleh Hiiro diikuti anggukan dari Kuroto, Kiriya dan Taiga yang memiliki pemikiran yang sama dengan Pallad.
Mereka masih belum bisa sepenuhnya melupakan apa yang dilakukan oleh Date terhadap Emu di masa lalu. Hampir kehilangan Emu untuk kedua kali masih menyisakan trauma dalam hati mereka semua. Walaupun sebenarnya mereka mengakui, jika Date telah berubah secara signifikan. Namun ketakutan mereka masih belum hilang begitu saja.
Hiiro hanya mengangguk pelan seraya menghela nafas panjang dihadapan para rekannya. Dia sudah menduga jika rekan-rekannya masih belum sepenuhnya memaafkan Date. Pemikiran mereka tentu saja bersebrangan dengannya. Hiiro sebenarnya tidak begitu saja memaafkan sikap Date. Tapi banyak pertimbangan yang dia pikirkan, terutama setelah dia mengenal Date lebih banyak daripada teman-temannya, membuatnya bisa membuka hati dan memberikan kesempatan untuk memaafkan Date. Salah satunya adalah demi Emu.
"Maafkan aku teman-teman, tapi aku telah berjanji kepada Emu dan aku tidak bisa mengingkarinya!" jawab Hiiro diikuti desahan frustasi dari teman-temannya.
Kenyataannya mereka tidak hanya mengkhawatirkan Emu saja, tapi mereka juga mengkhawatirkan Hiiro. Tentu saja ini bukan hal yang mudah baginya. Mereka tahu jika sebenarnya Hiiro terluka melihat perasaan Emu kepadanya perlahan-lahan tergerus dan mulai menghilang. Tapi mereka tidak bisa menyalahkan perasaan yang berkembang di hati Emu. Pada akhirnya hanya Emulah yang berhak menentukan, untuk siapa dia menyerahkan hatinya. Hiiro atau Date.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Reiko dan Hiiro melirik tegang ke arah Emu yang terlihat menunggu dengan harap-harap cemas. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keduanya jika nanti mereka bertemu.
Pintu terbuka—Date membeku seketika. Kedua mata tajamnya menangkap sosok yang dia rindukan kini tengah menatapnya. Mata bulat cokelat indah itu, mata yang dia rindukan. Wajah ayu teduh itu, wajah yang dia impikan. Senyum manis mempesona itu, senyum yang dia inginkan.
"Emu-chan?"
"Date-san,"
Keduanya kini bertatapan dengan intens. Hiiro dan Reiko yang melihat interaksi 'samar' dari keduanya seketika merasa canggung. Reiko menepuk pundak Hiiro memberikan isyarat. Mereka berdua perlu berbicara empat mata dan kemudian Reiko dan Hiiro memutuskan meninggalkan mereka berdua saja.
"How is your feeling?" Date memulai membuka pembicaraan, memecahkan keheningan yang sempat menyergap keduanya.
"Lebih baik," ucap Emu pelan dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Jauh lebih baik setelah melihatmu kurasa!" imbuhnya lagi menunduk—tersipu.
Keduanya kembali terdiam, lidah mereka kelu—tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesekali mereka mencuri pandang, berusaha menelisik ekspresi satu sama lain. Debaran jantung keduanya seakan berkaitan satu sama lain. Keduanya berdetak kencang seirama setiap kali mata mereka beradu tanpa sengaja.
Date kemudian memperhatikan sang kekasih lebih seksama lagi. Masih terlihat jejak luka yang pernah ia torehkan kepadanya. Rekaman segala tindakan bejat yang pernah dia lakukan mendadak berputar didalam otaknya. Date mengepalkan tangannya kuat, tubuhnya bergetar. Sungguh dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri akibat dosa yang pernah dia perbuatan kepada sang kekasih. Dia tidak pantas disebut manusia.
"Maafkan aku, Emu-chan!" Emu menengok ke arah Date dengan padangan sayu.
"Maafkan tindakan biadapku kepadamu selama ini. Maafkan aku tidak bisa menjadi orang yang melindungimu. Aku hanya bisa menyakitimu dan memberikan penderitaan padamu!" imbuh Date seraya memalingkan wajahnya menghindari tatapan Emu. Sungguh dia tidak sanggup jika menatap manik cokelat itu terlalu lama. Dia takut tidak bisa mengedalikan perasaannya lagi.
"Date-san, aku—"
"Pulanglah Emu-chan!" seru Date seraya tetap memalingkan wajahnya mengejutkan Emu.
"Eh? Apa maksudmu?" Emu mengerutkan dahinya seakan tidak bisa menerima dengan baik kalimat yang baru saja Date ucapkan.
"Pulanglah, lupakan aku!" seru Date dengan suara tegas yang samar dibalut dengan getaran lara.
"Aku tidak pantas untukmu!" serunya lagi seraya menghembuskan nafas berat
"Lupakanlah aku, tidak ada yang bisa diharapkan dari orang sepertiku. Emu-chan bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku dan dapat membahagiakanmu!" Dia harus bersikap tegar dan tegas. Dia ingin Emu bisa meraih kebahagian yang tidak bisa dia berikan.
Emu memandang Date dengan mata yang berkabut. Entah mengapa hanya perih yang dia rasakan kini. Dahulu Date memang pernah melakukan hal yang sangat buruk padanya, akan tetapi ada keyakinan dalam dirinya jika Date bisa berubah dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Buktinya, hari ini Emu menyaksikan pandangan Date lebih teduh dan lebih lembut. Pandangan yang pernah membuatnya simpati dan menyembuhkannya luka hatinya ketika patah berkeping. Bukan pandangan berkilat penuh dengan kemarahan ketika setan menguasai tubuh dan pikirannya.
"Apa kamu sudah tidak menginginkanku Date-san?" pertanyaan itu menyentak Date.
Tangannya tetap mengepal keras, menahan agar dia tidak menoleh dan memperlihatkan wajah putus asanya kepada Emu. Date mengerjapkan mata beberapa kali sambil menghirup oksigen di sekitarnya—berusaha tetap fokus dan berpikiran logis. Dia harus melakukannya, dia harus merelakannya.
"Tidak!" tegas Date memicu emosi Emu tersulut.
"Bohong! Aku tidak mempercayaimu!" seru Emu dengan mata berkilat marah sekaligus tidak percaya.
Dengan sekuat tenaga dia bangkit dari tempat dia duduk lalu mendekati dinding kaca yang memisahkan mereka. Memukul dengan kedua tangannya dengan tenaga yang tidak seberapa. Date melirik tindakan yang Emu lakukan. Khawatir—Date tidak menginginkan Emu menyakiti dirinya sendiri.
"Aku sudah tidak mencintaimu, Emu-chan!" desis Date dengan perasaan tercekat. Walaupun itu hanyalah sebuah kebohongan, dia hanya berusaha mengajukan alasan agar Emu menyerah
"Lupakan aku!" imbuhnya lagi menghentikan tindakan Emu seketika.
"Tapi—" Emu hendak menyuarakan protesnya namun dengan cepat dipotong oleh Date.
"Aku mohon, jangan buat ini semakin sulit!" seru Date meninggikan suaranya berusaha menegaskan jika dia ingin mengakhiri semuanya.
Date bangkit dari tempat duduknya—berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Kedua manik milik sang gadis mengikuti tubuh Date yang kini memunggunginya dengan bergetar.
"Selamat tinggal!" ucap Date lagi semakin meremukkan hati Pediatric muda itu.
Menghilang—Date meninggalkan Emu sendiri yang membeku menatap sosok itu pergi. Lemas—Emu jatuh terduduk dilantai tidak berdaya. Kepalanya menunduk lemah, rasa sakit itu menjalar lagi memaksa hatinya untuk hancur sekali lagi.
Tersengal—Emu berusaha setengah mati untuk mengedalikan perasaannya. Dia mengigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan agar lara itu tidak keluar dan membuatnya terlihat lemah.
Terpejam sejenak—Emu mulai mengatur nafasnya agar lebih teratur. Perlahan dia membuka matanya dan menatap ruangan kosong didepannya. Menghembuskan nafas perlahan dia berusaha memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri.
"Aku akan menunggumu!" bisik nya lirih kemudian bangkit dan berlalu.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
I'm gonna take this map and tear it up
Because I've been up and down
These dead-end streets getting nowhere
I'm a little bit older, a little wiser
I've got to find my own way out of here and start over
I want to feel the sun in the morning
And make these shadows leave me alone
Boyzone - Time
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Note:
Untuk sistem peradilan yang Writer gunakan di cerita ini adalah sesuai dengan sistem peradilan Jepang yang menganut sistem peradilan dengan juri sebagai pemutus apakah terdakwa bersalah atau tidak( biasanya dengan voting yang mereka lakukan secara intern sesaat sebelum pemutusan vonis) setelah itu hukuman yang dijalani diputuskan oleh hakim pengadilan.