Breathless

Breathless
Chapter 12: Countless Time




"Lebih baik kamu bicara sekarang! Aku tidak punya waktu untuk meladeni teka-tekimu Shotaro-san!" Ucap Shinosuke yang sedang mengendarai mobilnya dengan terburu-buru seraya berbicara kepada Shotaru melalui alat komunikasinya.


"Maafkan aku Shinosuke-kun, tapi aku juga tidak bisa berlama-lama menghubungimu! Jika mereka mengetahui aku  menyusup ke dalam team keamanan mereka, bisa hilang kepalaku!" ucap Shotaru dengan suara setengah berbisik cemas.


"Sial! Lagipula kenapa kamu tidak memberi peringatan kepadaku tentang bom dan penculikan Emu-chan?" sahut Shinosuke yang merasa jengkel ketika mendapatkan informasi yang telat.


"Gomen Shinosuke-kun! Itu diluar kendaliku! Aku tidak mendapatkan informasi mengenai rencana itu. Aku juga baru tahu jika ternyata politikus kotor itu memiliki anak laki-laki yang phsyco juga sama sepertinya dan aku baru tau ternyata dia mengincar Emu-chan." Jawab Shotaru dengan nada suara bersalah membiarkan semua ini terjadi.


"Lagipula pengeboman RS.Seito dan penculikkan Emu-chan dilakukan secara mendadak sekitar dua hari yang lalu pada saat aku sedang dalam misi pencarian bukti transaksi penyuapan oleh partai yang menaungi politisi itu dan organisasi hitam yang menyokongnya." Jelas Shotaro panjang lebar yang membuat Shinosuke semakin senewen.


"Baiklah kalau begitu! Kali ini jangan sampai lengah dan gagal! Temukan lokasi Date menyekap Emu-chan! **** itu harus segera diringkus!" ucap Shinosuke dengan suara meninggi lalu menutup telepon itu dengan kesal.


"Sial! Aku tidak menyangka Date itu  anak politisi brengsek itu!" Geram Shinosuke seraya memukul setir mobilnya mencoba melepaskan kekesalannya.


"Aku harus bertindak cepat!" Shinosuke mulai mengambil handphonenya lagi dan mulai menghubungi seseorang yang dia kira bisa membantu.


"Chase? apakah kamu bersama Gou? Aku membutuhkan bantuanmu!" Ucap Shinosuke yang seketika merubah arah laju mobilnya  yang awalnya akan menuju kantor pusat kepolisian menuju lokasi Chase dan Gou berada.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


"Daddy, Mommy! Akhirnya kalian datang!" Date berjalan menuruni tangga gudang dan menuju ke area tengah gudang yang telah dimodifikasi seperti ruang tamu dengan 3 sofa panjang dan meja persegi panjang ditengahnya. 


"Akira-kun! Harusnya kamu bilang Daddy jika ingin melakukan pengeboman rumah sakit dan menculik salah satu dokter disana!" Ucap seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal seraya menghisap cerutunya menatap Date dengan kesal namun tidak menampik ada senyum tersungging di sudut mulutnya.


"Daddy mengira kamu meminta ketiga orang terbaik Daddy untuk melakukan pembunuhan seperti biasanya, tapi ternyata hanya untuk menculik dokter yang ada disana. Memangnya siapa dia?" Pria itu bertanya dengan wajah penasaran lalu mendekati Date dan menepuk pundaknya.


Date tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap sang ayah dengan wajah memerah.


"Dia bukan dokter biasa, Daddy! Dia calon istriku eh lebih tepatnya calon menantumu!" Ucap Date malu-malu membuat Ayahnya yang kala itu sedang menghisap cerutu hampir tersedak oleh asap yang dihisapnya sendiri.


"Benarkah? Akira kecilku sudah memiliki belahan jiwa? Dimana wanita beruntung itu?" Wanita yang sedari tadi hanya diam duduk di sofa tiba-tiba bangkit dari sofa yang didudukinya dan mendekati Date dengan bersemangat.


"Iya, Mommy!" Date memeluk ibunya dengan antusias setelah melihat ibunya begitu bersemangat.


"Mommy  bisa melihatnya sekarang. Tapi Daddy harus menunggu!"


"Dan kenapa Daddy harus menunggu lama untuk melihat calon menantu Daddy??" Pria itu mengangkat alisnya tidak mengerti dengan kelakuan anak semata wayangnya itu.


"Ah, Daddy  tidak perlu tahu, tunggu saja disini!" Jawab Date acuh tak acuh


"Ayo, Mommy!"


Date menuntun ibunya menuju keruangan tempat Emu berada. Dengan sesekali bercanda terlihat sifat kekanakan Date yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapapun kecuali orang tuanya. Begitu pintu ruangan abu-abu besar itu dibuka terlihat Emu yang sedang meringkuk di balik selimut tempat dia berada. Mendengar suara pintu terbuka refleks Emu menoleh dengan cepat ke arah pintu dan memasang wajah waspada.


"Hi, sayangku! Pekenalkan ini Ibuku Hagino Reiko! Dan Mommy ini dia wanita yang paling aku cintai, Houjou Emu." Date setengah berlari kecil mendekati Emu dan lalu memperkenalkan Ibunya kepada Emu yang seketika mundur perlahan menghindari Date.


Emu hanya melirik melihat sosok ibu Date. Wanita paruh baya yang sangat cantik, dengan rambut coklet sebahu dengan potongan bob, mata bulat cokelat dengan dihiasi bulu mata yang panjang dan bibir tipis berwarna orange. Perlahan wanita itu berjalan mendekati Emu dan duduk disampingnya. Tangan putihnya dengan jemari lentik membelai rambut hitam Emu dengan lembut.


"Such gorgeous woman!" ucapnya seraya menatap lekat Emu dengan mata cokelatnya.


"Pantas saja Akira-kun rela melakukan apa saja hanya untuk membawamu kemari, kamu seperti harta yang sangat berharga untuknya!" tambah wanita itu tersenyum seraya melirik Date yang tersenyum lebar melihat reaksi ibunya.


"Tapi, sayang! Apa kamu yang melakukan semua ini padanya?" Wanita itu mendadak menatap galak kepada Date dan menunjuk luka-luka di balik perban yang Emu derita.


"Sudah berapa kali Mommy bilang, jangan kamu tiru kelakuan buruk Daddy-mu!" Wanita itu menceramahi Date dan menatapnya dengan tatapan marah.


"T-Tapi Mommy! Akira hanya ingin Emu-chan mengerti jika Akira tidak mau kehilangan dia! Bukankah Daddy bilang jika itu semua dilakukan agar bisa mendominasi dan membuat orang yang kita cintai lebih menurut kepada kita?" Date mulai merengek dan memberi alasan kepada ibunya yang membuat ibunya menggelengkan kepala dan mendesah kesal.


"Huft! Kamu ternyata masih belum dewasa dan belum belajar dari pengalaman Mommy ya?" Kali ini wanita itu memegang pundak Date dan menatap mata anaknnya itu dengan kecewa.


"Bisa kamu tinggalkan Mommy dengan Emu-chan sekarang? Mommy ingin mengobrol sebentar dengannya." Ucap Reiko lalu kembali duduk mendekati Emu yang masih terdiam menyimak pembicaraan kedua ibu anak itu.


Date hanya mengangguk dengan cepat dan segera berjalan menuju pintu keluar tanpa satu katapun. Dia meninggalkan Emu berdua saja dengan sang ibu, Reiko. Ketika Date telah menghilang dibalik pintu itu. Reiko dengan cepat berdiri dan membungkuk ke arah Emu.


"Gomenne Emu-chan! Maafkan Akira-kun yang telah memperlakukanku seperti ini!" Dengan suara terlihat frustasi dan kecewa, Reiko meminta maaf kepada Emu yang terpaku mendengar Reiko meminta maaf padanya.


"Oh Tuhan! Aku tidak menyangka dia benar-benar menerapkan ajaran Daddy-nya dalam memperlakukan wanita! Maafkan aku Emu-chan! Kamu harus melalui hal yang sangat berat seperti ini!" Reiko mendekati Emu lalu memeluk tubuh lemah dokter muda itu. 


Emu menerima pelukkan itu dengan canggung. Dia tidak tau harus bereaksi apa kepada ibunda Date. Apakah dia bisa mempercayai wanita itu. Atau ini hanya akting saja untuk mendapat kepercayaan dari Emu. Pergulatan itu terus terjadi dalam hati ini. Tapi setidaknya dia bisa mencoba meminta tolong dan bertaruh dengan nasib apa yang akan terjadi selanjutnya.


"R-reiko-san! Ma-maukah anda me-menolongku?" Tanya Emu dengan suara terbata-bata, bola matanya bergerak tidak beraturan cemas.


"Apa yang aku bisa bantu Emu-chan?" tanya Reiko dengn suara yang mencoba menenangkan Emu.


"Ban-bantu aku ke-keluar dari-ri sini, kumohon?!" pinta Emu dengan wajah memelas diiringi air mata.


Reiko hanya bisa menatap wajah Emu dengan perasaan bersalah. Perasaanya bercampur aduk menjadi satu, melihat kondisi Emu tentu saja dia ingin membantunya. Namun ini berkaitan juga dengan anak kesayangannya dan cinta yang dimiliki Date untuk Emu. Dia tidak ingin menghancurkan impian anaknya tapi dia juga tidak ingin Emu menjadi korban lebih dari ini.


"Emu-chan! Kamu tahu, kamu meminta hal yang tidak mungkin padaku!" Ucap Reiko seraya meremas pundak Emu.


"Terakhir kali aku membantu orang untuk lepas dari hal yang sama, aku malah membawanya pada kematian." Tambah Reiko dengan wajah suram mengingat kejadian lama yang ingin dia kubur selamnya dari ingatannya.


"A-aku lebih mati, Reiko-san! Aku sudah tidak sanggup menerima perlakuan Date-san padaku! Setidaknya kematian bisa membebaskanku darinya selamanya. Maafkan aku mengatakan hal ini." Ucap Emu lirih seraya meresmas kedua tangannya bergetar.


"Kumohon jangan berkata seperti itu, Emu-chan! Hidupmu terlalu berharga untuk kamu korbankan."


"Oh, Tuhan! Kamu benar-benar mengingatkanku padanya!" Ucap Reiko terlihat sangat gusar.


 "Padanya? siapa?" Tanya Emu  mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Reiko.


"Date, Date Haruka. Ibu kandung Akira-kun." Ucap Reiko yang membuat Emu alis matanya terangkat, terkejut tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Maksudnya? Ibu kandung?" Emu bertanya menekan suaranya meminta penjelasan logis kepada Reiko.


"Aku bukanlah ibu kandung dari Akira-kun. Aku hanya ibu tirinya. Namun aku menyayangi Akira-kun sepenuh hati." Ucap Reiko mendesah lalu memperbaiki arah duduknya berhadapan dengan Emu.


"Aku adalah istri pertama dari ayah Akira-kun, Hagino Takashi. Kami sudah menikah bertahun-tahun namun tidak memiliki anak. Akhirnya aku mengijinkan ayahnya untuk menikah lagi untuk kedua kalinya dengan orang lain. Namun pernikahan itu menjadi bencana untuk Haruka, ibu dari Akira-kun. Ayah Akira memiliki kebiasaan buruk, dia suka melakukan hubungan **** dengan kekerasan. Aku pernah mengalaminya juga Emu tapi setelah dia menikah lagi dia mulai bereksperimen dengan Haruka. Namun sayangnya kebiasaan itu berlanjut dalam kehidupan sehar-hari tidak hanya dalam hubungan seksual saja." Jelas Reiko dengan sesekali mendesahkan nafas berat.


"Bahkan ketika Haruka hamil, Takashi-san tidak pernah memberinya toleransi. Dia kerap menyiksa Haruka dan bodohnya aku hanya diam saja. Begitu Akira-kun lahir, Haruka memintaku menolongnya untuk keluar dari kehidupan Takeshi-san. Entah mengapa tanpa pertimbangan matang aku menyetujuinya dan membawa kabur mereka berdua ke kota lain. Haruka membuatkan akta kelahiran Akira-kun tanpa mencantumkan nama ayah kandungnya dan memberika nama keluarganya untuk Akira-kun." Mata Reiko mulai menerawang berusaha mengingat masa lalu yang ingin dia lupakan.


"Untuk menghindari Takeshi-san, kami bertiga sering berpindah ke berbagai kota. Namun setelah lima tahun kami meninggalkan Takeshi-san. Dia berhasil menemukan kami dan menyeret kami pulang dengan paksa. Kamu pasti bisa membayangkan bagaimana murkanya Takeshi-san kepada kami berdua. Dia menyiksa kami tanpa ampun dan belas kasihan dan parahnya dia melakukannya di depan mata Akira-kun. Dia mendoktrin Akira-kundengan racun yang kuat. Mengatakan jika orang yang mencintaimu mengkhianati kepercayaanmu pilihan terbaik adalah melakukan tindakan yang tegas kepadanya. Jangan diberi tolerasni agar mereka tahu siapa yang berkuasa. Luka-luka itu adalah tanda cinta yang ditinggalkan untuk mengingat jika dia adalah milikmu." Reiko kemudian membuka bagian depan blousenya dan memperlihatkan bekas luka panjang melintang di atas perutnya yang merupakan hasil dari kekerasan yang dilakukan oleh Takeshi. Emu menatap luka itu dengan prihatin. Dia yang mendapatkan perlakuan selama beberapa bulan saja sudah menyerah apalagi Reiko yang bertahun-tahun lamanya.


Reiko menutup blousenya dan melanjutkan ceritanya "Haruka sendiri akhirnya meninggal dua hari setelah kami diseret kembali pulang. Tubuhnya sudah mnyerah dan tidak sanggup lagi dengan perlakuan Takeshi-san. Aku sungguh menyesali karena membantunya kabur dari sisi Takeshi-san. Jika saja kami tidak kabur seperti itu, mungkin dia tidak akan mati dalam penyiksaan." Sesal Reiko.


"Mengapa Reiko-san masih bertahan?" Tanya Emu dengan nada prihatin.


"Karena aku berjanji kepada Haruka untuk menjaga dan menyayangi Akira-kun dengan sepenuh hati."


"Tapi sayangnya Akira-kun malah melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya." Ada nada penyesalan yang teramat sangat ketika Reiko menyelesaikan kalimatnya. Dia menghela nafas berat dan disudut matanya terlihat buliran air mata menetes dengan perlahan.


Emu tidak tau harus bagaimana menanggapi kisah mengenai Date yang diceritakan oleh Reiko. Dia tidak menyangka jika ayah Datelah penyebab segala sikap kasar dan tidak masuk akal yang dimiliki oleh orang yang pernah mengisi hatinya itu.


"Dengarkan aku Emu-chan, aku berjanji akan melindungimu. Aku akan mengajak Akira-kun berbicara terlebih dahulu, agar dia berhenti berlaku kasar padamu. Aku mohon menikahlah dengannya. Ubahlah dia secara perlahan. Dia bukan orang jahat sebenarnya, dia hanya haus akan kasih sayang. Dan kamu adalah wanita pertama yang membuatnya bahagia. Aku mohon Emu-chan." Reiko mengenggam erat tangan Emu membuatnya tidak nyaman


"Reiko-san, anda meminta hal yang sangat tidak masuk akal? Jika anda tidak ingin membantuku tidak apa-apa, aku akan mencari cara lain untuk keluar darisini! Ingat teman-temanku tidak mungkin tinggal diam, aku yakin mereka akan menyelamatku segera." Ucap Emu seraya melepaskan genggaman tangan Reiko dan membuang wajahnya


"Kumohon jangan keras kepala Emu-chan! Kita tidak ingin ada korban tidak bersalah berjatuhan lagi, seperti peristiwa pengeboman kemarin!" 


"Bom? Bom apa?" Ucap Emu bingung.


"Tidakkah kamu tau? Jika untuk membawamu kemari, Akira beserta anak buah ayahnya melakukan pengeboman di Rumah Sakit Seito yang memakan beberapa korban jiwa?" Jelas Reiko kepada Emu dengan wajah tidak bisa ditebak, antara sedih, cemas dan gelisah.


"OH TUHAN! Oh Tuhan! BOM! DI RUMAH SAKIT! APA DIA SUDAH GILA!" Jerit Emu histeris hingga menggema diseluruh ruangan. 


Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah luar dan terlihat Date diikuti oleh ayahnya membuka pintu dengan kasar lalu berlari ke arah Emu dan ibunya.


"Ada apa Mommy? Mengapa Emu berteriak?" Ucap Date terlihat khawatir lalu berusaha menyentuh Emu yang terlihat begitu Emosi.


"Apa ini calon menantuku? Pilihan yang cukup menarik Akira-kun." Sahut Takeshi tiba-tiba dengan wajah yang dihiasi senyuman menyeringai kecil.


Emu menatap tajam Takeshi dan merasa jijik pada pria yang telah memanipulasi orang banyak dengan kekuasaanya dan membuat orang hidup dalam mimpi buruk . 


"Date-san! Apa benar kamu melakukan pengeboman di rumah sakit?" Pandangan Emu beralih kepada Date yang terdiam sejak tadi.


Date hanya memberikan tatapan tajam kepadanya seolah tidak ingin menjawab pertanyaan Emu.


"JAWAB AKU BRENGSEK!" Jerit Emu dengan nafas terengah karean telah menggunakan banyak tenaga hanya untuk berteriak.


"Oh Tuhan, Emu! Mengapa kamu jadi kasar seperti ini? Sudahlah itu tidak penting! Aku tidak ingin menjawabnya!" Ucap Date frustasi mendengar Emu berkata kasar padanya.


"TIDAK PENTING KATAMU! Kamu kira nyawa orang yang menjadi korban tidak penting? Manusia macam apa kamu sebenarnya?" Sahut Emu semakin tersulut Emosi. 


"Sekarang keluarkan aku dari sini!"


"Tidak akan!"


"KELUARKAN AKU DARI SINI!!!"


"BIG NO!"


"AKU BILANG KELUARKAN AKU DARI SINI!"


"AKU BILANG TIDAK YA TIDAK!" Dengan mata berkilat marah Date mencoba meraih Emu dan memukulnya namun gerakannya berhenti ketika Reiko menghalanginya.


"Akira-kun, IT'S ENOUGH! Mommy tidak akan membiarkanmu menyakiti Emu-chan lagi!" Reiko menatap Date dengan tatapan galak dan kemudian memeluk Emu yang terengah dengan nafas berat.


"MOM!" Date mengeluh dan kemudian merajuk ke ayahnya.


"Daddy, lihat apa yang dilakukan Mommy! Dia tidak membiarkanku memberi pelajaran kepada Emu-chan!" Suara Date meninggi lalu menunjuk ke arah ibunya yang dengan perlahan membawa Emu kembali ke ranjangnya.


"Sorry Akira-kun! Daddy tidak ingin berdebat dengan Mommy-mu, lebih baik sekarang Daddy membereskan masalah bom kemarin agar tidak ada orang yang bisa menyalahkanmu. Selain itu lebih baik kamu mempersiapkan pernikahanmu segera. Jika kalian menikah dan terikat, tidak ada yang bisa menuduhmu melakukan penculikkan kepada Emu-chan." Jelas ayahnya seraya menepuk pundak Date dengan tegas. 


Date hanya terdiam. Dia tidak pernah membantah perkataan ayahnya sama sekali. Ayahnya selalu memberikan apa yang dia mau dan selalu mengurus segala kesalahan yang dia perbuat. Sedetik kemudian Date dan ayahnya keluar dari ruangan itu meninggalkan Reiko bersama Emu yang semakin tertekan ketika Takeshi meminta Date untuk segera mempersiapkan pernikahannya. 


"Aku tidak ingin menikah dengan Date-san! Kumohon keluarkan aku dari sini Reiko-san!" Emu memohon dengan nelangsa kepada Reiko. Wanita itu hanya terdiam tidak begeming mendengar permintaan putus asa dari Emu. 


"Maafkan aku Emu-chan. Tapi aku sudah berjanji pada Haruka untuk membahagiakan Akira-kun. Aku mohon maafkan aku!" Ucap Reiko kemudian mengeluarkan jarum suntik dengan cepat dan menyuntikkan cairan yang ada didalamnya pada lengan Emu.


"Re-reiko-san, Me-mengapa?" Emu menatap Reiko dengan perasaan kecewa dan sedetik kemudian Emu tak sadarkan diri dan tertidur dengan wajah yang masih terlihat cemas.


"Maafkan aku Emu-chan! Sekarang istirahatlah. Aku akan mengurusmu dengan baik."


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Kiriya memecahkan keheningan yang terjadi setelah beberapa lama mereka semua hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing begitu memasuki ruangan CR.


"Kita harus memastikan lokasi Emu terlebih dahulu. Jika kita tidak mengetahui lokasinya, kita tidak mungkin bisa berbuat apa-apa." Sahut Kuroto seraya berkutat dengan handphone, entah apa yang dia lakukan.


"Apakah kita akan melawan Date dengan tangan kosong?! Bukankah itu termasuk usaha bunuh diri? Apalagi kita tahu Date pasti memiliki senjata api." Ungkap Hiiro serius seraya menatap rekan-rekannya yang duduk mengelilingi meja tertegun.


"Untuk senjata aku sebenarnya sedang mengusahakannya. Namun ternyata tidak mudah mendapatkan yang aku inginkan." Keluh Kuroto mengehela nafas berat.


Bruk!


Taiga datang dengan membawa sebuah kotak besi persegi panjang berwarna hijau lumut dan meletakkanya di atas meja yang membuat suara cukup keras ketika kedua benda padat itu bersentuhan.


"Aku hanya memilki satu handgun, ini mungkin bisa membantu. Setidaknya ketujuh peluru yang ada didalamnya dengan senang hati menerjang tubuh **** itu!" Seru Taiga kemudian duduk bergabung dengan rekannya yang lain.


"Colt 1911!" Kuroto terlihat sangat antusias ketika melihat handgun yang dimilki oleh Taiga.


"Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Kuroto menatap Taiga dengan mata menyelidik.


"Kamu tidak perlu tau Gemn!" Ucap Taiga dengan tatapan acuh tak acuh membuat Kuroto jengkel.


"Kita harus menuju dermaga segera! Kita tidak memiliki waktu yang banyak! Emu tidak bisa menunggu lebih lama lagi kan?" Ucap Pallad yang tidak bisa menghentikan jari tangannya yang bergerak tidak tenang diatas meja gelisah.


"Kita akan segera berangkat! Tapi bagaimana dengan Shinosuke? Bukankah dia sudah memperingati kita agar tidak bertindak sembarangan sebelum dia datang?" Ucap Kiriya mengingat Shinosuke yang sebelum pergi telah memberikan peringatan kepada semua anggota CR.


"Sebaiknya kita tidak melibatkan Shinosuke! Dia mungkin akan menghentikan kita jika dia mengetahui kita berniat membereskan **** itu!" Hiiro dengan suara gelap dan datar mengungkapkan pendapatnya yang membuat seisi ruangan itu tertegun. Hiiro benar-benar tidak memiliki toleransi lagi.


"Baiklah Tuan muda! Aku mendukungmu 100%!" Kuroto menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis ke arah Hiiro.


"Kita akan berangkat sekarang dengan menggunakan 2 mobil, setelah sampai dermaga kita akan berpencar untuk mencari lokasi Emu. Ingat jangan lupakan Handphone kalian, pastikan dalam keadaan hidup agar kita bisa berkomunikasi dengan baik. Selain itu jika salah satu dari kalian menemukannya, jangan bertindak sendirian. Tunggu semua datang dan berkumpul lalu kita akan menyerangnya secara bersamaan!" Taiga membeberkan rencananya kepada semua rekannya. 


Hiiro, Pallad, Kiriya dan Taiga mengangguk tanda mengerti dan mengechek handphone mereka memastikan memilki daya yang cukup, selain itu mereka juga sudah menyiapkan walkie talkie sebagai pilihan lain untuk berkomunikasi.


"Tapi, tunggu dulu! Jika Shinosuke bertanya kepada kita, apa jawaban yang kita akan berikan?" Tanya Pallad khawatir. Dia tidak khawatir dengan dirinya ataupun Kuroto jika melakukan hal yang melanggar hukum, dia hanya khawatir dengan ketiga rekan lainnya yang notabane seorang dokter yang tidak mungkin melakukan hal yang menentang hukum.


Hiiro berpikir sejenak lalu berkata "Kita akan pikirkan nanti! Untuk sekarang yang paling penting adalah segera menyelamatkan Emu! Shinosuke adalah masalah yang akan kita atasi belakangan! Setidaknya sekarang dia tidak perlu tahu apa yang kita lakukan"


"Melakukan apa?!" Mendadak Shinosuke datang bersama kedua orang pria yang membawa sebuah kotak persegi panjang besar seperti sebuah peti dan segera meletakkannya di atas meja dengan kasar.


Shinosuke lalu menatap semua anggota CRyang terlihat sangat gelisah ketika dia datang.


"Untuk kali ini aku akan menutup mata dengan apa yang akan kita lakukan! Aku sendiri akan mendukung kalian melakukan apa saja terhadap **** satu itu!" Ucap Shinosuke dengan tatapan berkilat penuh keyakinan.


"Perkenalkan ini Chase dan Gou, mereka akan membantu kita untuk menjalankan misi penyelamatan Emu-chan!" Shinosuke memperkenalkan kedua pria yang ikut datang bersamanya.


Sedetik kemudian Shinosuke membuka peti besar yang mereka bawa yang membuat semua anggota CR terbelalak kaget dan takjub. Dalam peti besar itu terdapat beberapa handgun, shotgun dan senjata laras panjang. Selain itu juga terdapat beberapa belati dan rompi anti peluru didalamnya.


"Aku harap kalian terbiasa dengan ini semua. Kalian bisa memilih senjata yang akan kaliann pakai. Tapi jangan lupa kalian juga harus menggunakan rompi anti peluru ini untuk mencegah sesuatu hal yang buruk. Aku membawa mereka berdua dalam misi ini, karena aku tahu polisi tidak bisa membantu banyak untuk kali ini." Jelas Shinosuke panjang lebar kepada anggota CR yang begitu antusias memegang senjata-senjata yag Shinosuke bawakan di hadapan mereka.


"Jadi? Apakah kita benar-benar mendapat ijin untuk menghancurkannya?" Kuroto bertanya dengan menekan suaranya memastikan jika Shinosuke yakin melakukan tindakan yang tidak diketahui atasannya.


"Ya, aku yakin!"


"Aku sudah tidak bisa mundur lagi setelah mengambil keputusan ini! Kita semua sudah tau konsekuesinya. Jadi tidak ada jalan untuk berbalik lagi!" Tegas Shinosuke tanpa ada keraguan.


DRTT


Shinosuke mengambil handphone yang kala itu bergetar tiba-tiba. Terlihat dia mendapatkan pesan penting yang membuatnya sangat antusias. Mulutnya menampilkan sekilas gigi berbentuk segitiga merupakan isyarat rasa senang yang kuat.


"Well, kita beruntung. Salah satu informan telah mendapatkan lokasi Emu-chan berada! Dia telah mengirimkan lokasinya kepadaku." Shinosuke membagikan informasi kepada rekan-rekannya yang lain secara antusias.


"Jadi! Tunggu apa lagi! Misi penyelamatan dimulai dari sekarang!" 


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


*I wanna stay with you tonight


I don't wanna leave, cause I feel the time is right


Don't wanna go before I say, what I have to say don't ask me to walk away


I wanna stay tonight, wanna stay the night


- 98 Degrees - Stay The Night* - 


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


***Note


Colt 1911 \= Senjata ini dibuat oleh pengrajin pistol kenamaan bernama John Browning. Soal rumor, Colt 1911 sudah menjadi semacam legenda yang lekat dengan militer Amerika. Ya, pistol ini mungkin terkesan tua modelnya, tapi sudah dipakai lebih dari 70 tahun. Bukan tanpa alasan kenapa sebuah pistol sampai digunakan selama 7 dekade. Colt 1911 berisi 7 buah peluru dan setiap satu butirnya bisa dimuntahkan dengan kecepatan 1.225 kaki per detik***.