
Date menatap Hiiro seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya. Kebencian untuk dokter jenius itu telah berkembang pesat dihatinya. Setiap melihat wajah Hiiro selalu mengingatkan ketika dokter muda itu menjamah bibir peach sang kekasih hati dengan paksa mencoba merebut cinta yang dimilikinya. Sungguh itu moment yang memicu setan yang ada di dalam dirinya muncul dengan beringas. Lalu sekarang! Mereka bertemu lagi dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. Hiiro menginginkan Emu dan berusaha merebutnya dari tangan Date, bukan pilihan yang bijak bagi Hiiro. Dokter jenius itu tanpa sadar kembali memancing monster yang telah beberapa saat tidur tenang kembali ke zona perangnya.
Hiiro, tidak jauh beda dengan Date. Dia menatap dengan waspada kearah pria berpostur tinggi besar itu. Date masih saja menodongkan moncong senjata api miliknya ke arah Hiiro membuat dokter bedah jenius berpikir ulang untuk menyerang Date dengan sembarang. Tinggi badan mereka yang beda jauh membuat Hiiro tidak ingin membuat keputusan yang gegabah. Tentu saja dia tahu jika kemampuan Date jauh diatasnya, tapi dia harus membuat strategi yang tepat jika ingin mengalahkannya. Mata Hiiro menyelusuri setiap bagian tubuh Date. Apakah ada titik lemah yang bisa dia gunakan untuk menjatuhkannya? Hiiro menyadari jika mereka berdua tidak bertarung, dia tidak mungkin bisa melihat titik lemah pria besar itu.
"Aku ingin pertarungan yang fair! So we're not using any weapon!" Seru Date lalu menjatuhkan senjatanya dan magazen yang berisi cadangan peluru miliknya. Setelah melepaskan senjatanya dia mengangkat tangannya dan berputar menunjukkan tidak ada senjata melekat di tubuhnya.
"Giliranmu!" Tambah Date seraya menggulung kedua lengan kemejanya hingga sikunya lalu menyilangkan tangannya menunggu reaksi dari Hiiro.
"As you wish!" Hiiro mulai menjatuhkan senjata yang dia bawa satu per satu dengan tetap menatap Date yang memandang Hiiro tidak kalah intens. Ketiga senjata yang dibawa oleh Hiiro telah diletakkan ditanah beserta dengan peluru cadangan yang dia bawa. Hiiro berdiri tegak berhadapan dengan Date. Mereka berdua kemudian memasang kuda-kuda yang berbeda menunjukkan jika mereka berdua memiliki gaya yang berbeda dalam bertarung.
Date merendahkan tumpuan kakinya. Kaki melebar sejajar dengan bahunya dengan kaki kiri berada di depan, kedua tangannya sedikit mengepal sejajar dengan matanya. Sedangkan posisi tubuh Hiiro hampir sama dengan Date namun posisi kakinya terlihat lebih melebar dan memposisikan tubuhnya lebih rendah dari Date. Tangannya sendiri terbuka sejajar dengan dadanya. Mereka berdua bergerak perlahan waspada dengan gerakan satu sama lain.
Hiiro menyerang terlebih dahulu, tubuh Hiiro yang lebih pendek dari Date memberikan keuntungan sedikit untuk menjangkau bagian bawah tubuh Date. Dengan punggung tangannya Hiiro mencoba menyerang bagian perut Date. Tapi Date membaca dengan sangat baik gerakan Hiiro dan kemudian menurunkan tangannya dan menangkis gerakan tangan Hiiro dengan dengan tangannya. Date membalas serangan Hiiro dengan mengarahkan serangnya menuju wajah dokter jenius itu. Tidak mau kalah, Hiiropun menangkisnya dengan cepat.
Sedetik kemudian pertarungan semakin intens. Tidak hanya melibatkan gerakan tangan, namun tendanganpun beberapa kali dilayangkan oleh kedua belah pihak. Hiiro beberapa kali tersungkur ke tanah ketika terkena serangan telak oleh Date. Wajah telah dihiasi oleh bberapa luka akibat serangan yang dilakukan oleh Date. Tidak dipungkiri jika skill pertarungan yang dimiliki oleh Date lebih baik daripada Hiiro. Namun Hiiro tidak menyerah, walaupun pada kenyataannya Date lebih kuat namun gerakan Hiiro lebih gesit daripada Date. Beberapa kali Date terkena serangan tiba-tiba yag dilancarkan oleh Hiiro secara cepat, bahkan dengan ajaib, ketika Hiiro melakukan tendangan berputar dia dapat mengenai wajah Date dan membuat sudut bibir Date terluka.
"Oh! Tenyata tuan muda Kagami tidak bisa dianggap remeh juga!" Ucap Date seraya menyentuh sudut bibirnya yang terluka akibat tendangan Hiiro.
"Well, kalau begitu ku tidak akan main-main lagi! Mari kita selesaikan pertarungan ini dan membuktikan siapa yang terbaik!" Ucap Date menyeringai dengan mata berkilat menatap Hiiro.
Disisi lain Fujita yang berdiri tidak jauh dari Date menodongkan senjata api miliknya ke arah Kiriya, Pallad dan Shotaru mencegah agar mereka bertiga tidak mengintrupsi pertarungan antara Date dan Hiiro yang tengah berlangsung.
"Bergerak selangkah saja kalian mati!" Ucap Fujita mencoba mengunci pergerakkan ketiga orang yang ada dihadapannya yang baru saja selesai menghajar anak buahnya yang tersisa.
Fujita menatap Shotaru yang terlihat gelisah ketika berhadapan dengannya. Pria tinggi besar itu mengenali wajah Shotaru lalu tersenyum menyeringai sinis.
"Wah, ternyata kami memiliki seorang pengkhianat disini!"
"Atau boleh aku katakan mata-mata, apakah aku benar Shotaru-kun?" Seru Fujita dengan sinis diiringi tatapan waspada dari Shotaru, Kiriya dan Pallad.
"Coba aku pikir apa hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat?!" Ucap Fujita seraya memainkan sebilah pisau lipat ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih menodongkan senjata api miliknya ke arah ketiga pria dihadapannya.
"Ah, tentu saja! Hanya satu hukuman yang pantas untukmu!" Fujita menghentikan tangannya ynag memainkan sebilah pisau itu dan menatap kearah Shotaru dengan tajam.
"Hukuman mati!"
Shotaru menelan ludah dengan tegang. Identitasnya telah terungkap dan dia khawatir dengan konsekuensi yang akan dihadapinya. Apalagi dai tahu Fujita tidak pernah main-main dengan perkataannya.
Shit! Aku dalam masalah besar!
◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈
Shinosuke dan Chase membopong tubuh Gou dengan tergesa. Mereka berdua mengikuti perkataan Hiiro untuk menjauhkan Gou dari area pertarungan. Gou menggeram menahan sakit, kepala pening karena luka tembak yang di deritanya.
"Taiga! Kuroto!" Shinosuke memanggil Taiga dan Kuroto segera setelah keluar dari dalam area gedung.
Taiga dan Kuroto yang masih waspada dan sedang menyisir area untuk memastikan keadaan aman seketika terkejut melihat keadaan Gou yang dibopong oleh Shinosuke dan Chase. Taiga dan Kuroto berlari menuju arah mereka bertiga dengan panik.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Taiga mendekati ketiga pria itu. Matanya langsung tertuju pada lengan Gou yang terdapat jejak darah yang mengalir.
Shinosuke dan Chase mendudukkan Gou ditanah. Taiga dengan sigap merobek lengan baju Gou dan melihat luka tembak yang tidak biasa. Taiga kemudian mengambil ikat pinggangnya dan mengikat lengan Gou untuk menghentikan pendarahan yang masih terjadi.
"Luka tembak macam apa ini? Apakah dia tertembak beberapa kali?" Ucap Taiga seraya masih mengikat lengan Gou dibantu oleh Kuroto.
"Tidak! Hanya satu kali tembak! Tapi peluru yang digunakan berbeda dari yang kita miliki Taiga! Peluru ini ketika ditembakkan akan membuat proyektilnya meledak menjadi beberapa bagian" Jelas Chase yang memang paham betul jika senjata yang dimiliki oleh Date merupakan salah satu senjata api paling berbahaya terutama peluru yang digunakan.
"Kita harus mengeluarkan pelurunya! Aku takut terjadi komplikasi pada lukanya!" Taiga berkata memperingati Shinosuke.
Shinosuke dan Chase saling menoleh satu sama lain. Benar ucapan Taiga! Jika Gou dibiarkan seperti ini mereka khawatir jika keadaannya semakin memburuk.
"Shinosuke! Bagaimana keadaan Gou?!" Mendadak suara Shoutaru terdengar dari alat komunikasi milik Shinosuke.
"Dia harus dioperasi segera!" Ucap Shinosuke dengan suara bergetar karena khawatir, apa yang dia harus katakan kepada Kiriko nanti jika istrinya tahu keadaan adik bungsunya itu.
"Kita tidak mungkin memanggil ambulance! Terlalu lama! Butuh waktu 1 jam lebih dari rumah sakit terdekat untuk menuju lokasi kita sekarang!" Tambah Shinosuke semakin frustasi.
"Gunakan gudang tempat kita berkumpul tadi" Ucapan Shotaru membuat Shinosuke kebingungan.
"Di dalam gudang itu terdapat ruangan khusus untuk tindakan medis darurat. Perlengkapannya cukup lengkap, kalian bisa menggunakannya!" Wajah Shinosuke berbinar perkataan Shotaru bagaikan oase segar di tengah gurun. Memberikan secercah harapan untuk menyelamatkan Gou.
"Baiklah! Terima kasih, kami akan segera kesana! Jaga diri baik-baik! Berhati-hatilah dengan Date dan para pengawalnya yang tersisa!" Ucap Shinosuke memberi peringatan kepada Shotaru, bagaimanapun dia juga khawatir dengan rekan-rekannya yang lain yang masih dalam area pertarungan.
"Jangan khawatirkan kami! Cepat pergi!" Jawab Shotaru lalu mematikan alat komunikasinya.
"Kalian sudah mendengar Shotaru bukan?! Kita kembali ke gudang, kita akan melakukan operasi disana!" Seru Shinosuke diiringi oleh anggukan ketiga pria lainnya. Namun tiba-tiba Kuroto membuka mulutnya dan berbiacara dengan serius.
"Lebih baik kalian saja yang pergi menuju gudang. Aku akan berjaga sementara disini. Aku hanya khawatir jika tiba-tiba saja Date mendapat bala bantuan dari ayahnya. Aku yakin jika kejadian penyerangan ini telah sampai di telinga pria brengsek itu!" Tegas Kuroto untuk meyakinkan teman-temannya yang lain.
Shinosuke tersentak, benar perkataan Kuroto. Kejadian ini pastinya telah sampai kepada Takeshi, sang pimpinan sekaligus ayah Date. Bahkan mungkin saja ayah Date telah menghubungi pihak kepolisian dan meminta mereka untuk meringkus mereka. Secara Shinosuke mengetahui jika ayah Date telah menguasai pihak kepolisian Seito dengan uang dan pengaruhnya. Tidak bisa dipungkiri jika posisi mereka saat ini menjadi sangat riskan. Mereka harus segera menyelesaikan ini semua sebelum pihak lawan melakukan hal yang membahayakan mereka semua.
"Baiklah Kuroto! Kami mengandalkanmu! Jika terjadi sesuatu jangan sampai kamu menghadapinya sendiri. Mengerti?!" Ujar Shinosuke masih merasa khawatir, apalagi Kuroto sendiri berjaga diluar.
"Aku mengerti! Tenang saja! Lagipula aku tidak sebodoh itu! Jika situasi disini sudah diluar kontrol aku akan meminta bantuan!" Ujar Kuroto dengan yakin.
"Jaga dirimu! Jangan mati konyol disini! Aku tidak ingin melihat Emu menangis jika kamu mati disini" Ucap Taiga memberikan senyum tipis kepada Kuroto.
Kuroto tergelak lalu menganggukan kepalanya perlahan. Ketiga pria dewasa itupun pergi seraya memapah Gou dengan hati-hati. Beruntung jarak dari gudang milik Date dan gudang rahasia mereka tidak terlalu jauh. Setidaknya mereka bisa menangani keadaan Gou segera daripada harus menelepon ambulance dan menunggu lama.
"Bertahanlah Gou! Sedikit lagi! " Bisik Chase perlahan berusaha memberikan motivasi lebih kepada Gou yang terlihat lemah. Gou membalas dengan mengangguk perlahan.
.
.
.
.
.
.
Setelah berjalan beberapa menit mereka akhirnya tiba di gudang persembunyian mereka. Shinosuke dengan tergesa membuka pintu gudang dengan kasar. Begitu pintu terbuka Taiaga dan Chase segera membawa Gou kedalam. Mereka mendudukan Gou di sebuah kursi tempat mereka mendiskusikan rencana mereka sebelumnya.
"Dimana ruang medisnya?! " Ucap Taiga seraya memeriksa kondisi Gou kembali.
"Tunggu! Kami akan melihatnya terlebih dahulu! " Ucap Shinosuke kemudian meminta Chase membantunya mencari ruang medis yang dimaksud oleh Shotaru.
Mereka berpencar mencari ruang medis tersebut. Gudang itu tidak terlalu besar namun memang ada beberapa ruangan di dalam sana terlebih lagi gudang itu berlantai dua. Shinosuke dan Chase berpencar mencari ruang medis agar lebih cepat menemukannya. Tidak butuh waktu lama, Chase berteriak dari lantai dua dan memberitahu Taiga dan Shinosuke jika dia telah menemukan ruang medisnya.
Taiga dan Shinosuke segera membawa Gou menuju lantai dua untuk segera melakukan tindakan medis. Taiga dan Shinosuke tiba disebuah ruangan yang pintunya tertulis Emergency Room, dengan segera mereka merebahkan Gou di atas meja operasi. Taiga lega melihat ruangan itu. Benar kata Shotaru, ternyata ruangan ini memiliki peralatan medis lengkap.
"Apakah kalian pernah dibekali pengetahuan tentang medis? " Tanya Taiga kepada Shinosuke dan Chase.
Mereka berdua mengangguk, setiap detektif kepolisian dan agen selalu dibekali oleh pengetahuan tentang medis. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi setiap situasi genting termasuk situasi seperti ini. Luka tembak dan pisau serta penanganannya adalah dasar dari pengetahuan yang mereka miliki karena kejadian seperti ini pasti akan selalu terjadi jika mereka sedang melakukan sebuah misi.
"Baiklah! Tolong persiapkan infus dan obat bius. Aku akan melakukan prosedur Anestesi kepada Gou secepatnya sebelum memulai operasi! Sekalian periksa apakah ruangan ini memiliki Blood Bank Refrigerator untuk tempat menyimpan kantong darah, mungkin saja disana masih ada kantung darah yang tersisa. Kita membutuhkannya!" Jelas Taiga seraya sibuk menyiapkan peralatan untuk operasi.
"Apa kamu mengetahui golongan darah Gou, Shinosuke?" Taiga menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh kearah Shinosuke yang sedang sibuk membongkar rak penyimpanan obat.
"Baiklah! Ikuti saja instruksiku dan siapakan apa ayang aku pinta. Aku akan menyiapkan peralatan lainnya!" Ujar Taiga kemudain mulai melepaskan rompi yang digunakan oleh Gou lalu memasangkan infus yang dibawakan oleh Chase.
"Ehm, Taiga! Sepertinya kita memiliki masalah!" Beberapa saat kemudian Shinosuke dengan wajah pucat menghampiri Taiga yang telah selesai mempersiapkan peralatan untuk prosedur operasi.
"Kami menemukan persedian darahnya walaupun hanya dua kantung saja, tapi—" Ucap Shinosuke dengan gelisah seraya memijat pelipisnya frustasi.
"Kami tidak bisa menemukan obat bius di rak persedian obat!" Sahut Chase melanjutkan kalimat Shinosuke yang terhenti.
"Shit!" Umpat Taiga seraya mengepalkan tangannya dan memukul tembok disampingnya.
Taiga terlihat berpikir untuk sejenak kemudian mengalihkan pandangannya kearah meja operasi tempat Gou berbaring.
"Gou, seberapa besar tingkat toleransimu terhadap rasa sakit?" Pertanyaan Taiga membuat Gou merasakan jika akan ada hal yang buruk terjadi.
"Ehm, en-entahlah! Se-semampuku. Ke-ken-napa ka-kau ber-bertanya se-seper-ti itu?" Ucap Gou terbata, nafasnya tersengal karena berusaha mempertahankan kesadaranya sedari tadi.
"Mungkin ini akan sedikit sakit! Tapi aku akan melakukan operasi kecil tanpa melakukan anestesi!" Ucap Taiga tegas.
Ketiga pria yang ada diruangan itu seketika membulatkan matanya terkejut.
Oh, Taiga apakah kamu bercanda?
◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈
Suara ledakan yang menggelegar membuat jantung dokter muda itu memburu dengan cepat. Ketakutan tercetak jelas di wajah ayunya. Pikirannya sangat kacau, terlalu banyak hal yang membuat dia berspekulasi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ledakan itu benar akibat perbuatan teman-temannya? Emu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya memancarkan keraguan.
Tidak mungkin! Tidak mungkin jika teman-temannya yang melakukannya? Tidak mungkin mereka nekat melukai orang lain hanya untuk membawanya kembali pulang. Tidak mungkin mereka akan melakukan hal yang bertentangan dengan hukum. Tidak mungkin! Tapi benarkah?
Emu meremas tangannya mencoba berpikir dengan lebih tenang lagi. Sungguh dia meragukan jika teman-temannya akan melakukan hal yang berlebihan untuk dirinya. Lagipula dia tidak ingin teman-temannya terluka terutama Hiiro. Ah, Hiiro! Entah mengapa Emu hampir melupakan sejenak tentang Hiiro. Pria yang pernah dia cintai sekaligus yang pernah mematahkan hatinya. Emu mulai berpikir sejenak, untuk sebentar dia menyadari sesuatu. Date dan Hiiro memiliki satu persamaan. Mereka berdua merupakan pria yang pernah ada di hatinya sekaligus pria yang pernah menyakitinya. Begitu ironis.
Emu menghela nafas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang sedari tadi memikirkan berbagai hal hingga tidak memberinya waktu untuk menenangkan diri. Tapi sedetik kemudian tiba-tiba matanya membulat. Entah mengapa dia masih memikirkan penyebab terjadinya kebakaran dan satu hal lagi yang mungkin saja yang masuk akal dipikirannya.
Ah, mungkin saja itu pihak kepolisian.
Ya mungkin mereka. Emu berusaha meyakinkan hatinya. Tapi jika mereka adalah pihak kepolisian untuk apa mereka menyerang tempat ini dengan ledakan? Bukankah hanya dengan menodongkan senjata mereka sudah pasti berhasil meringkus Date? Tapi jika mereka menangkap Date bukankah Date akan dipenjara?
Emu menggigit bibir bawahnya. timbul kekhawatiran dalam hatinya. Dia sadar jika perbuatan Date yang telah membahayakan banyak orang harus dipertanggung jawabkan. Namun ada perasaan menggelitik di hatinya, seakan dia tidak rela jika Date jauh darinya.
"Oh Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi padaku!?" Seru Emu seraya memukuli kepalanya berkali-kali.
Date sudah menyakitinya secara fisik dan mental tapi kini dia malah mengkhawatirkan pria itu? Sepertinya kepalanya telah terbentur keras saat kejadian tadi hingga membuatnya mengabaikan perlakuan Date padanya. Dan lucunya lagi entah mengapa dalam sekejap perasaan yang pernah dia rasakan dulu muncul kembali.
"Emu-chan! Daijoubu?" Suara Reiko membuyarkan lamunan Emu dalam sekejap.
Reiko muncul dengan wajah kalut dari balik pintu diiringi oleh kedua pengawal yang memang selalu ditugaskan untuk menjaga ruangan tempat Emu berada, Mihara dan Kusaka.
Emu tampak lega ketika melihat Reiko datang. Tanpa canggung Emu berlari kecil kearah Reiko dan memeluknya dengan erat seperti seorang anak kecil yang merindukan ibunya. Reiko membalas pelukkan Emu dengan lembut dan menepuk punggung gadis muda itu berusaha menenangkannya. Reiko mencoba memberikanmu senyum yang menenangkan, dia tidak ingin membuat Emu semakin gelisah jika dia terlihat panik.
"Reiko-san. Apa yang sebenarnya terjadi diluar sana?" Tanya Emu seraya perlahan melepaskan pelukkannya namun kemudian menggenggam kedua tangan Reiko.
"Aku juga tidak tahu pasti, Emu-chan! Hanya saja, sepertinya ada serangan yang masih belum diketahui siapa dalangnya!" Jelas Reiko membuat Emu memucat ketakutan .
Reiko membimbing Emu kembali ke sofa. Mihara dan Kusaka kemudian berkeliling ruangan itu memastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Ketika mereka mengintip dari arah jendela, mereka bisa melihat kobaran api yang mulai menjinak dampak dari ledakan tadi. Mihara dengan tergesa lalu menutup jendela hitam itu dengan hati-hati agat tidak menarik perhatian Reiko dan Emu.
"Hagino-sama, ruangan ini masih aman. Tidak ada hal yang mencurigakan. Kami mohon ijin untuk mengawasi dari pintu ruangan ini." Ucap Kusaka memberikan laporannya kepada Reiko yang tengah duduk bersama Emu.
Reiko menganggukkan kepalanya memberikan persetujuan. Sedetik kemudian Mihara dan Kusaka membungkukkan badannya dan memohon diri. Kedua keluar dari ruangan dan menjaganya dari luar. Mata mereka memandang sekitar dengan waspada. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua wanita yang paling dicintai oleh tuan muda mereka. Lagipula mereka masih sayang dengan nyawa mereka. Tidak mungkin mereka mengambil resiko untuk menyia-nyiakannya.
Setelah kedua pengawal kepercayaan Date meninggalkan Reiko dan Emu di dalam ruangan hanya berdua. Wanita paruh baya itu memandang Emu dengan lekat. Terlihat jelas dari sikap dan ekspresi wajah yang ditunjukkannya jika dia sedang gelisah dan kalut. Emu tidak berhenti menggerakkan kaki kanannya dan menggigit kuku jempol jarinya. Matanya juga terlihat tidak fokus dan cemas.
"Emu-chan?" Reiko memanggil Emu dengan lembut namun tidak ada jawaban, seakan jiwa Emu tidak berada diruangan itu.
"Emu-chan?"
"Emu-chan!"
"Emu-chan!! Apa kamu mendengarku?!" Reiko meninggikan sedikit suaranya dan menggoyangkan bahu Pediatric muda itu untuk menarik perhatian.
"Oh, Re-reiko-san, Maafkan aku!" Emu menoleh kearah Reiko dengan wajah terkejut sekaligus linglung.
"Ada yang menganggu pikiranmu?" Tanya Reiko dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ehm.."
"Reiko-san?"
"Ehm, lupakan saja! Aku baik-baik saja" Emu terlihat ragu dan mengurungkan niatnya berbicara dengan Reiko.
"Oh, ayolah sayang! Tidak perlu sungkan. Emu-chan bisa berbicara tentang apa saja denganku" Ucap Reiko sedikit memaksa, dia hanya ingin membantu Emu agar mengurangi beban pikiran gadis manis itu.
Emu menatap mata teduh milik Reiko. Ada kerinduan akan sosok ibu dalam hati Emu. Ibu yang tidak pernah dia temui selama hidupnya. Mata cokelat milik Emu mulai berkabut. Mendadak dia kembali memeluk Reiko dengan erat kemudian mulai terisak. Reiko hanya bisa membelai surai hitam Emu dengan lembut. Dia bisa merasakan jika jiwa gadis muda itu berteriak minta pertolongan. Emu berada di zona dimana dia bisa lebih hancur lagi jika tidak ada yang memegangnya. Reiko mengerti jika rentetan kejadian yang di alami oleh gadis manis itu telah melukainya secara mental dan fisik, menyembuhkannya pasti membutuhkan waktu yang tidak singkat. Reiko sudah bertekad tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Emu bahkan Date sekalipun. Dia hanya ingin melindungi kristal rapuh itu agar tidak semakin hancur berkepin-keping.
"Reiko-san, bolehkah aku memanggilmu ibu?" Pertanyaan spontan Emu mengejutkan Reiko.
Reiko mengembangkan senyumnya. Dia mencium kening Emu dengan sayang.
"Tentu saja. Emu-chan bisa memanggilku dengan panggilan apa saja" Ucap Reiko lalu tersenyum menghangatkan hati Emu.
Namun moment itu mendadak berubah drastis. Suara tembakan yang terdengar diluar membuat kedua wanita berbeda generasi itu spontan ketakutan. Suara desingan peluru ini berbeda. Terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Reiko meletakkan kedua tangannya di daun telinga Emu meredam suara yang horor dari tembakan yang bersahutan. Emu memejamkan matanya ketakutan. Tapi entah mengapa Emu merasa dia harus melihat apa yang terjadi. Dia tidak ingin siapapun terluka lagi. Tanpa disangka Emu bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu keluar. Reiko panik berusaha mencegah namun Emu terlanjur berlari kencang.
"EMU-CHAN! TUNGGU!"
Ddorr!!
Lalu terdengar suara tembakan yang membuat semua orang berteriak histeris seketika.
◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈
Now I'm trapped in this memory
And I'm left in the wake of the mistake, slow to react
So even though you're close to me
You're still so distant and I can't bring you back
※ Linkin Park - With You ※
◈◈◈◈◈◈◈◈◈
Note
Anestesi memiliki arti pembiusan yang berasal dari bahasa Yunani aesthétos. Secara umum anestesi berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosdur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi sendiri digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Blood Bank Refrigerator merupakan kulkas atau lemari pendinginn khusus untuk menyimpan kantong darah.