Breathless

Breathless
Chapter 13: Conspired To Revolt



Date keluar dari ruangan tempat Emu berada bersama ayahnya dengan perasaan campur aduk. Melihat kondisi Emu yang tidak menyambutnya dengan baik sedikit membuatnya kecewa. Ternyata selama ini perlakuannya terhadap Emu bukannya membuat Emu semakin tunduk padanya malah setelah kejadian percobaan bunuh diri, Emu semakin jelas memperlihatkan perlawanan kepadanya. Apakah wanita yang amat dicintainya itu sudah tidak menganggapnya sebagai kekasih lagi?


Ayahnya yang menyadari ekspresi wajah anaknya yang berubah muram hanya berdecak heran.


"Akira-kun! Apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu menikah dokter muda itu?" Ayahnya kini menatap Date dengan tatapan serius. Entah mengapa Date yang awalnya bersemangat merespon dengan setengah hati.


"Kenapa? Apa kamu kini berubah pikiran?" Tanya ayahnya menyelidik ke arah anak semata wayangnya itu.


"Bukan seperti itu Daddy! Hanya saja-" Date menghentikan ucapannya dan mengigit bibir bawahnya gelisah.


"Hanya saja?"


"Hanya saja aku merasa dia sudah tidak mencintaiku lagi Daddy. Melihatnya begitu marah padaku tadi, aku merasa dia tidak pernah bahagia denganku selama ini. Apa aku salah Daddy? Aku hanya memberikannya sedikit pelajaran agar dia tunduk padaku sama seperti yang Daddy ajarkan padaku selama ini. Tapi mengapa kini dia melawan?" Ucap Date dengan wajah yang tidak tenang dan sangat gelisah.


"Jadi, kamu ingin melepaskannya?" Tanya ayahnya lagi seraya menepuk pundak Date pelan dan menatap dalam mata putranya itu.


"Hell, NO! Aku sangat mencintainya Daddy! Bagiku hanya dia wanita satu-satunya yang aku cintai! No one else! For me she is the queen of my heart! I really love her so much Daddy." Ekspresi Date kemudian berubah menjadi lebih bersemangat ketika dia meluapkan perasaanya kepada Sang ratu hatinya di depan ayahnya membuat pria paruh baya itu terkekeh dengan kelakuan putra kesayangnya itu.


"Mungkin ada yang mempengaruhinya sehingga dia berani melawanmu Akira-kun atau mungkin kamu tidak memberikan pelajaran dengan serius kepadanya, who know's?" Ucap ayahnya menaikkan kedua bahunya.


"Aku yakin teman-temannya yang membuatnya menentangku!" Date menggertakkan giginya dengan geram, mengingat kejadian ketika teman-temannya dengan lancang membawa Emu tanpa seijinnya.


"Aku tidak akan membiarkan Emu bertemu dengan teman-temannya lagi!" Ucap Date dengan wajah serius.


"Daddy, jika kami sudah resmi menikah nanti aku ingin membawanya keluar dari Jepang! Aku ingin membawanya ke rumah kita yang ada di New York" Ucap Date tegas dan mantap kepada ayahnya.


"Ide yang bagus! Jadi tidak akan ada orang yang menganggu kalian lagi! Kalian bisa hidup dengan tenang dan membangun rumah tangga dengan baik dan yang paling penting-" Ayahnya tersenyum penuh arti kepada Date dan menatapnya dengan sedikit menggoda.


"Kalian harus cepat memberikan Daddy-mu ini seorang cucu! Daddy sudah tidak sabar ingin menimang cucu, Mommy pasti menginginkan hal yang sama!" Pinta ayahnya seraya terkekeh melihat ekpresei malu-malu putranya ketika dia menekankan tentang kehadiran seorang cucu.


"Nah, Sekarang ayah akan bertemu dengan beberapa pejabat tinggi kepolisian dan pemerintahan untuk membereskan masalah yang kamu timbulkan kemarin. Ayah akan menambahkan pengamanan di tempat ini. Apakah cukup jika ayah menambah sekitar 30 orang untuk menjaga tempat ini?" Tanya ayahnya seraya mengambil handphonenya dan menelpon tambahan pengawal untuk keamanan anaknya itu.


Date menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan memeluk Ayahnya dan mengucapkan terima kasih atas segala hal yang ayahnya lakukan untuknya. Ayahnya hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Date dengan sayang.


"Siapkan saja pernikahanmu segera. Ayah kira kita akan melakukannya disini saja untuk keamanan. Ayah sudah menghubungi Pendeta yang akan memberkati pernikahan kalian. Ayah juga sudah menjelaskan situasinya dan dia setuju. Jadi tinggal tunggu persiapan lainnya." Ayah Date mulai berjalan menuju luar gudang bersama beberapa pengawalnya dan diikuti Date.


"Ah, ya karena setelah pernikahan kalian akan langsung ke New York ayah akan mengurus pasport dan visa kalian dalam sekejab. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Untuk masalah gaun pengantin, biar Mommy-mu yang mengurusnya."


"Ah Daddy! Aku sayang Daddy! Terima kasih untuk semuanya" Sekali lagi Date memeluk ayah kesayangannya itu dan tersenyum lebar mengekspresikan kebahagian yang dia rasakan.


"Untuk Akira-kun tersayang, Daddy akan lakukan apapun asal kamu bahagia!" Balas ayahnya lalu berjalan menuju mobil SUV hitam miliknya.


"Baiklah ayah pergi dulu! Berhati-hatilah disini!"


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


Emu terbangun dengan sakit kepala yang tidak bisa dia jelaskan bagaimana sakitnya. Entah sudah berapa kali dia menerima suntikan bius yang membuat tidak berdaya kehabisan tenaga. Tubuhnya merasakan tulang-tulang yang ada di dalamnya telah hilang dan membuatnya tidak bisa menopang berat tubuhnya dengan baik.


Emu memegang kepalanya dan memicingkan matanya berusaha memperbaiki penglihatannya. Lalu dia menangkap bayangan samar Date dan ibunya yang sedang berbincang dan tertawa bersama disofa. Menyadari Emu telah sadar dari tidurnya, Date segera mendekatinya dan membawa tubuh Emu dalam pelukannya dan mencium keningnya. Emu yang masih setengah sadar tidak memberikan respon apa-apa, hanya bergerak sedikit berusaha memfokuskan matanya yang masih belum bisa membuka dengan sempurna. Ibu Date yang melihat anaknya memberikan ciuman di kening Emu dengan lembut hanya bisa tersenyum. Dia yakin Date bisa berubah jika menikahi Emu dan dia akan membantu agar Emu bisa merubah Date secara perlahan.


"Emph, kepalaku sakit!" Ucap Emu lirih masih memegang kepalanya dan meremasnya.


Reiko segera memberikan air minum dan obat penghilang rasa sakit kepada Emu. Date membantu Emu meminum obatnya dan lalu menyandarkan kepala Emu di dadanya seraya membelai lembut surai hitam legam milik sang kekasih. Reiko memperhatikan dengan seksama wajah anaknya yang terlihat bahagia mau tidak mau tersenyum senang, namun ketika dia beralih memandang Emu yang terlihat sangat lemah dan payah wanita paruh baya itu merasakan rasa bersalah. Benarkah tindakannya membiarkan Emu tetap bersama Date walaupun dia tidak bahagia? Egoiskan dia yang ingin memberikan kebahagian kepada anak kesayangnya itu? Perang batin terus melanda dalam diri Reiko. Di satu sisi dia ingin membantu Emu tapi disii lain janjinya pada Haruka tidak bisa diabaikan begitu saja.


"Mommy, Emu-chan harus membersihkan diri dan mengganti perbannya dengan yang baru dan bersih. Mommy bisa membantuku?" Suara Date membuyarkan lamunan Reiko seketika.


"Tentu saja! Biar Mommy saja yang melakukannya. Apa disini kamar mandinya ada alat pemanas air?" Tanya Reiko mendekati Date.


"Tentu saja Mommy, gudang ini sudah aku modifiskasi dengan peralatan lengkap. Kamar mandi ada di sana." Date menunjuk sebuah pintu yang ada di belakang sofa berhadapan dengan pintu utama ruangan itu.


"Aku akan menyiapkan air hangatnya. Setelah itu aku akan menyerahkan semunya pada Mommy." Date menyiapkan semua perlengkapan yang dia telah siapkan untuk Emu, dari kotak obat hingga pakaian bersih untuknya.


Dengan telaten Reiko merawat Emu yang masih dalam pengaruh obat. Emu hanya bisa menurut dengan apa yang dilakukan Reiko. Toh , itu juga demi dirinya juga. Date membantu Reiko membawa Emu ke kamar mandi lalu meninggalkan mereka berdua memberikan privacy. Reiko membuka baju yang dikenakan Emu dan perban yang melekat pada tubuh ramping itu. Kini Reiko bisa melihat dengan jelas semua bekas luka yang diderita Emu. Dia terlihat terkejut hingga kedua tangannya menutup mulutnya yang ternganga. Tak terasa air mata menetes dari sudut mata cokelat Reiko. Oh Tuhan! Akira memang sudah diluar batas!


Reiko mulai membersihkan tubuh Emu dengan lembut dan berhati-hati. Dia takut jika akan membuat Emu merasa kesakitan setiap dia menyentuh bekas luka itu. Sesekali Emu meringis kecil ketika Reiko menyetuh bekas luka yang belum sembuh membuat hati Reiko tersayat perih. Setelah selesai, Reiko mulai mengolesi luka-luka Emu dengan krim dingin untuk menghilangkan rasa sakit sekaligus menghilang bekas luka. Reiko memakaikan Emu pakaian yang telah disiapkan oleh Date, sebuah Sweater oversize hangat berwarna coral dipadu dengan Deck pants berwarna tortila yang terlihat manis dikenakan oleh Emu.


"Reiko-san, Terima kasih." Ucap Emu yang sudah bisa memfokuskan pandangannya dan perlahan mulai bisa menopang dirinya sendiri. Emu dengan tulus menatap Reiko yang telah mau bersusah payah merawatnya. Emu sangat bersyukur bukan Date yang melakukan semua yang dilakukan Reiko untuknya.


"Tidak perlu mengucapkan hal itu, sayang! Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri." Reiko membelai rambut Emu dengan penuh kasih sayang membuat Emu tidak kuasa menahan air mata. Dia merasa nyaman dengan sikap Reiko kepadanya. Namun dia ingin menampik semua kebaikkan Reiko. Dia tidak ingin Reiko memanipulasi perasaannya agar bisa menerima Date lagi seperti saat pertama bertemu sebelum Date menunjukkan sifat aslinya.


"Hei, kenapa kamu menangis Emu-chan?" Ucap Reiko seraya mengusap air mata yang menetes di pipi Emu.


"Aku tidak tahu lagi hidup yang aku jalani sekarang Reiko-san? Tidak bisakah aku memilih jalanku sendiri? Tidak bisakah kalian semua memberikanku kesempatan mengungkapkan pendapatku sendiri? Bukankah aku berhak atas hidupku sendiri?" Ungkap Emu frustasi.


"Emu-chan, aku-"


"Aku hanya minta bantuan kecil darimu Reiko-san! Aku hanya ingin bebas dari sini. Aku mohon kepadamu!" Emu bersujud kepada Reiko membuatnya tersentak dan buru-buru membantu Emu berdiri.


"Kumohon jangan seperti ini Emu-chan! Aku-aku tidak tahu harus bagaimana! Jangan membuatku memutuskan sesuatu yang mustahil!" Reiko merasakan perang batin kembali melanda hatinya.


"Kamu tidak tahu bagaimana murkanya Takeshi jika aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya Emu-chan!" Ungkap Reiko yang teringat ketika dia membantu Haruka keluar dari situasi yang sama dan berakhir tragis.


"Bagaiman-" Kalimat Emu terhenti seketika ketika Date masuk ke ruangan.


"Mommy, apakah sudah selesai?" Tanya Date mendekati Emu dan Reiko yang sedang duduk di sofa panjang.


"Oh, sayang! Kau terlihat sangat manis dengan sweater itu!" Puji Date antusias lalu mendekati Emu berusaha mendaratkan ciuman di pipinya. Namun Emu memalingkan wajahnya dengan cepat menghindari gerakan Date.


"Emu-chan-" Date terpaku melihat sikap Emu yang masih dalam mode menolaknya. Tidak ada lagi sinar cinta dimatanya kini. Dia merindukan tatapan sang kekasih ketika pertama kali mereka memadu kasih.


"Baiklah kalau begitu aku akan meninggalkanmu sendiri dulu." Date mundur perlahan memberikan space untuk sang kekasih dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.


"Mommy, ayo kita pergi. Aku sudah menelpon manager toko gaun pengantin yang Mommy recomendasikan tadi. Mereka menunggu kita sekarang. Emu-chan biar istirahat saja! Lagipula aku sudah hafal semua ukurannya." Date akhirnya mendekati Ibunya dan mengajak ibunya pergi dan membiarkan Emu sendiri.


Emu hanya terdiam seakan dia sudah tidak perduli dengan apa yang Date lakukan bersama ibunya. Kini dia hanya berpikir bagaimana cara untuk keluar dan bebas dari Date. Emu masih memalingkan wajahnya ketika Reiko dan Date beranjak menuju pintu keluar. Date menoleh menatap kekasihnya sekali lagi.


Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi, Emu-chan! Lihat saja nanti!


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


Sekumpulan pria berpakaian serba hitam mengenakan rompi anti peluru dan Tactical Boots terlihat keluar dari CR dengan terburu-buru. Mereka menghampiri sebuah van HiaAce berwarna Jetblack yang terparkir di pojok gedung parkir. Ketika mereka telah sampai di mobil van itu, mereka dikejutkan oleh sosok pria dengan jubah dokter putih yang telah menunggu mereka disana.


"Direktur Kagami!" Seru sekumpulan pria itu bersamaan terkejut dengan kehadiran Haima.


Delapan pria itu menjadi gugup dan hanya bisa saling menoleh satu sama lain salah tingkah. Dua orang yang berdiri paling belakang berusaha menyembunyikan peti senjata yang mereka bawa dengan tubuh mereka, namun Haima sudah terlanjur melihatnya.


"Aku tahu apa yang kalian akan lakukan!" Ucap Haima seraya menatap mereka semua dengan tatapan tajam. Sekumpulan pria itu terlihat gelisah dan tidak tahu harus menjelaskannya kepada Haima. Apakah dia akan menghentikan langkah mereka saat ini?


"Kalian jangan kembali jika tidak bisa membawa Houjou-chan dengan selamat!" Mendadak ucapan Haima yang tegas membuat mereka terbelalak terkejut.


"Aku akan melakukan semampuku untuk melindungi kalian, tapi tolong jangan ambil tindakan yang gegabah! Dan satu lagi-" ucapnya sembari menatap wajah semua orang satu per satu.


"Jaga diri kalian baik-baik! Aku tidak ingin kehilangan team terbaik dari rumah sakit ini!" tambahnya seraya mendekati Kiriya, Taiga dan Hiiro diiringai anggukan bersemangat mereka.


"Shinosuke-kun! Aku percayakan mereka semua padamu!" Haima beranjak menuju Shinosuke dan menepuk pundaknya.


"Baik, Direktur! Aku akan berusaha semaksimal mungkin! Percayalah padaku!" Shinosuke menegaskan suaranya meyakinkan Haima membuat direktur rumah sakit itu tersenyum lega.


Kedelapan pria itu masuk kedalam Van hitam dengan penuh semangat. Haima telah memberikan lampu hijau kepada mereka membuat mereka semakin bertekad untuk kembali membawa Emu pulang dengan selamat.


.


.


.


.


.


.


Shinosuke menjadi leader untuk misi kali ini. Dengan sigap dia menyetel GPS pada mobil yang dikendarai oleh Chase menyesuaikan lokasi yang dikirimkan oleh Shotaro melalui handphonenya. Gou disisi lain bersama dengan kelima anggota CR menyetel alat komunikasi yang akan mereka gunakan untuk saling berkomunikasi. Selain itu mereka juga membagikan selosong peluru pada masing-masing orang disesuaikan dengan senjata yang akan mereka pakai.


Setiap orang wajib membawa sebuah handgun dan belati. Sedangkan untuk Shotgun dan senjata laras panjang mereka memutuskan yang paling berpengalamanlah yang akan menggunakannya. Shinosuke dan Chase memutuskan untuk memakai Shotgun sedangkan sejata laras panjang diberikan kepada Kuroto dan Taiga yang memang pernah berlatih menggunakan senjata tersebut.


Kring!!


Mereka dikejutkan dengan suara handphone Shinosuke yang berbunyi. Shinosuke melihat nama yang tertera pada layar handphone dan mengerutkan alisnya menampakkan kekhawatiran.


"Moshi-moshi!" Shinosuke segera menerima panggilan itu. Terlihat beberapa kali Shinosuke mengajukan keberatan dan seperti sedang beragument dengan seseorang yang ada di sisi lain panggilan itu dan pada akhirnya Shinosuke terlihat marah dan mematikan handphonenya dengan kasar.


"SHIT!!! BRENGSEK!!!!" Umpat Shinosuke frustasi.


"Wo..wo..wo sabar Shinosuke-kun! Apa yang terjadi?" Kiriya bersuara mencoba menenangkan dan bertanya apa yang membuat Shinosuke begitu marah.


"Polisi menghentikan penyelidikan tentang kasus bom rumah sakit dan penculikkan Emu-chan! Mereka baru saja mengadakan konferensi pers dan mengatakan jika pelaku bom sudah ditangkap dan Emu-chan sudah diselamatkan dan dalam perlindungan pihak kepolisian pusat! Kepala polisi pusat mengatakan jika aku harus berhenti menyelidikinya lagi." Ungkap Shinosuke dengan nada gelisah dan sekaligus geram tidak percaya jika kepala kepolisian pusat dengan mudahnya diperdaya oleh politisi kotor Hagino Takashi bahkan berbohong kepada masyarakat banyak untuk menutupi kelakuan Date, anak Hagino Takasihi yang gila.


"APA?!" Semua berteriak bersamaan. Ekspresi mereka berubah menjadi ekspresi kengerian.


Mereka tidak percaya pihak kepolisian bisa semudah itu dimanipulasi oleh politik kotor, uang dan kedudukan. Semurah itukah keadilan di negeri ini?


"Tidak ada cara lain! Kita memang harus bertindak sendiri!" Ucap Shinosuke dengan mata berkilat penuh keyakinan. Ya, mereka tidak bisa mundur sekarang! Apapun resikonya mereka sudah tidak memiliki kepercayaan kepada pemerintah.


Drrttt!


Shinosuke memutar matanya kesal, handphone bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Dia segera membaca dengan serius dan wajahnya berubah lebih cerah.


"Yes! Kita akan mendapatkan sedikit bantuan dari dalam. Salah satu informanku, Shotaru-san. Dia sudah menyusup sekitar 3 bulan dalam team keamanan Hagino Takashi dan kebetulan sekarang dia ditugaskan untuk mengawasi lokasi Emu berada dan-" tiba-tiba air muka Shinosuke berubah lagi terkejut.


"Date akan menikahi Emu-chan!" Jerit Shinosuke membuat para anggota CR syok setengah mati.


"Apa kamu bilang?! MENIKAH?!" Pallad dan Kuroto tanpa sadar mengucapkan kalimat yang sama.


"Oh Tidak! No! Tidak akan kubiarkan **** itu menikahi Emu! Tidak akan!" Hiiro terlihat frustasi mendengar informasi yang diberikan oleh Shinosuke.


"Sudah tidak ada waktu lagi!"


"Chase! Bisakah kamu melajukan mobil ini lebih kencang?" Tanya Shinosuke dengan nada gelisah.


"Tidak masalah! Tapi secepat-scepatnya aku melajukan mobil ini, kita akan sampai paling cepat 1 jam." info Chase kepada Shinosuke setelah menganalisis jarak yang akan mereka tempuh.


"Aku tahu! Aku tahu! Tapi setidaknya kita bisa memangkas waktu walaupun itu hanya beberapa menit!" Ucap Shinosuke berharap.


"Sebaiknya kalian memasang sabuk pengaman dengan benar! Aku tidak akan menahan diri!" Chase kemudian memacu kendaraan lebih cepat dan memaksa adrenalin ketujuh pria lainnya melompat dari zona nyaman mereka.


.


.


.


.


.


.


.


Mereka sampai beberapa menit sebelum matahari tenggelam. Chase mengendarai mobilnya dengan perlahan agar tidak menarik perhatian. Mereka mengikuti arahan dari Shotaro untuk memarkirkan kendaraan mereka di sebuah gudang rahasia milik para intel jika mengawasi beberapa transaksi ilegal yang dilakukan di dermaga itu. Jarak gudang rahasia dengan gudang milik Date hanya sekitar 50 meter saja. Sekali lagi mereka mempersiapkan segala peralatan yang mereka butuhkan dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Namun mereka mendadak dikejutkan dengan suara pintu gudang yang dibuka perlahan, mereka memasang sikap waspada dan memegang Handgun dengan protektif. Dengan serempak mereka menodongkan senjata kepada sosok yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


"SHITT!! Kalian mengangetkanku!" Shotaru muncul dengan wajah terkejut dan ketakutan melihat dia baru saja ditodong senjata oleh delapan orang pria dewasa yang sudah berpenampilan layaknya anggota SWAT yang akan melakukan penyerangan.


"Sial kau Shotaru-kun! Mengagetkan saja!" Ucap Shinosuke memasang wajah kesal sekaligus lega karena yang datang adalah teman sekaligus infromannya.


Shotaru hanya terkekeh seraya mengelus dadanya yang masih menyisakan degupan jantung yang kencang akibat todongan senjata tadi.


"Jadi apa rencananya?" tanya Hiiro tanpa basa basi seraya menatap Shotaru dengan tatapan dingin.


Shotaro berjalan menuju meja besar yang ada di dekat jendela gudang disusul oleh kedelapan orang lainnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat yang setelah dibuka ternyata adalah sebuah denah gudang milik Date.


"Gudang itu dijaga oleh 30 orang lebih." Ucap Shotaru mengawali pembeberan rencana yang akan mereka lakukan.


"Pintu depan gudang berada di sebelah utara yang dijaga oleh sekitar 10 orang bersenjata. Sedangkan bagian barat dan timur mereka hanya menempatkan masing-masing lima orang saja. Untuk bagian selatan mereka menempatkan sekitar 3 orang saja, selain karena bagian selatan mereka telah meletakkan pagar berduri, bagian selatan juga tepat menghadap laut jadi mustahil jika kita menyelinap dari sana." ucap Shotaru seraya menunjuk lokasi yang dia sebutkan


"Untuk sisanya mereka berjaga didalam gudang. Ruangan tempat Emu-chan berada di lantai dua sebelah selatan. Khusus untuk ruangan Emu-chan dijaga oleh 3 orang terbaik milik Hagani. Mereka juga yang melakukan pengeboman di rumah sakit Seito dan menculik Emu-chan! Jadi kita harus berhati-hati. Kekuatan mereka setara dengan selusin orang! Apalagi mereka mantan pasukan anggota khusus." Shotaru menjelaskan diiringin anggukan oleh kedelapan pria dewasa itu.


"Shinosuke apa kamu membawakan apa yang aku pinta?" tanya Shotaru menoleh ke arah Shinosuke.


Shinosuke mengeluarkan 4 buah granat tangan seukuran kepalan tangan lelaki dewasa dan meletakkannya di atas meja. Semua menoleh kearah arah Shotaru mempertanyakan apa yang akan dia lakukan dengan granat itu.


"Ini bisa menyita perhatian penjaga yang ada didalam gudang!" Shotaru menyunggingkan senyum tipis seraya menatap kedelapan pemuda itu penuh arti.


Shotaru dan Shinosuke kemudian menjelaskan rencana penyerangan secara bergantian. Granat tangan yang diminta Shotaro merupakan alat pengalih perhatian agar para penjaga terpecah konsentrasinya membuat mereka melonggarkan keamanan karena sibuk dengan ledakan yang akan mereka hadapi. Kuroto dan Taiga bertugas melindungi anggota lain dengan senapan laras panjang yang mereka gunakan. Shinosuke kemudian memberikan Hiiro, Pallad dan Kiriya Baton Stick untuk serangan jarak dekat. Mereka bertiga kemudian menyematkan baton stick itu di samping kiri mereka.


Setelah Shotaru dan Shinosuke selesai menjabarkan rencana yang mereka buat. Mereka kemudian segera bergerak menuju gudang milik Date melewati pintu belakang gudang mereka yang tepat menuju sisi timur gudang tersebut. Beruntung gudang itu merupakan bekas gudang beton dan besi. Berserakkanya besi dan beton besar disana dapat mereka manfaat kan untuk bersembunyi sekaligus mengawasi kegiatan sekitarnya.


Perlahan mereka mengendap-endap mendekati lokasi gudang tersebut. Kurangnya penerangan disekitar gudang menguntungkan mereka untuk bersembunyi dengan baik, selain itu kacamata night vision yamg diberikan Gou sangat berguna untuk membidik dan melihat di tempat yang gelap. Taiga dan Kuroto berpisah dan bersembunyi di dua lokasi yang berbeda. Mereka dalam posisi tengkurang membidik dengan senapan laras panjang mereka menunggu aba-aba dari Shinosuke yang bersama Gou dan Shotaru perlahan mengendap-endap ke samping dinding gudang itu.


Penjaga yang bertugas menjaga sayap timur entah berada dimana membuat mereka lebih mudah bergeser lebih maju menuju pintu utama. Hiiro, Pallad, Chase dan Kiriya berada diujung lain sisi timur mengawasi jika ada penjaga yang mucul dari sana. Shinosuke mengintip apa yang dilakukan oleh penjaga yang berada di pintu utama. Terlihat mereka sedang bersiaga dengan waspada dengan revolver berada disamping celana mereka.


"Kalian sudah siap?" tanya Shinosuke kepada anggota lain menggunakan alat komunikasi yang mereka sematkan ditelinga mereka. Para anggota lainnya memberikan isyarat jika mereka telah siap. Entah mengapa detak jantung mereka menjadi sangat cepat, nafas mereka mulai tidak beraturan. Adrenalin mereka memuncak seiring dengan intesnya kewaspadaan mereka. Well, sudah tidak ada kata mundur lagi. Resiko yang besar sudah ada di mata mereka, takut? kata itulah yang jelas harus mereka buang dari pikiran mereka kini. Mereka saling melemparkan pandangan penuh keyakinan dan saling menguatkan mental. Inilah saatnya!


.


.


Pertunjukkan dimulai!


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


***Note:


Deck pants : Celana yang modelnya sepanjang lutut yang pas di kaki.


Tactical Boots: Sepatu yang satu ini dikembangkan dan diciptakan atas kebutuhan pasukan anti teror ataupun kepolisian untuk kebutuhan penyerbuan taktis dan berkecepatan tinggi. Sehingga tactical boot didesain sangat ringan dan mudah digunakan, dan biasanya terdapat resleting pada bagian pinggir sepatu untuk memudahkan operator untuk memasangkan sepatu. Umumnya tactical boots dapat digunakan untuk kegiatan fastrope ataupun abseilling.


Baton Stick : Tongkat yang digunakan anggota polisi dalam melaksanakan tugas yang berfungsi untuk pertahanan dan menyerang pelaku tindak kriminal***


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


*And the tears fall like rain Down my face again


Oh the words you wouldn't say And the games you played


With my unfoolish heart


Oh I should have known this from the start


The winter and spring Going hand in hand


Just like my love and pain


How the thought of you cuts deep within the vein


This brand new skin stretched across scared terrain


- Dead By Sunrise - Let Down* -