Breathless

Breathless
Chapter 6: Blood, Sweat, and Tears




Poppy dan Pallad duduk di sofa ruang CR seraya menghela nafas panjang. Baru saja mereka bermain game baru buatan Kuroto namun mereka seperti kehilangan minat untuk bermain game. Mereka merindukan Emu dan moment saat mereka bersaing dalam menyelesaikan sebuah game.


"Poppy, Aku merindukan Emu sudah lama sekali dia tidak pernah mengunjungi CR dan bermain bersama kita" keluh Pallad dengan wajah sedih dan suram.


Poppy melihat Pallad yang sedih karena merindukan Emu akhirnya mengambil I-Pad dan mengechek jadwal Emu yang ada di database.


"Hari ini Emu shift pagi. Bagaimana jika kita mengunjunginya dan mengajaknya makan siang?" usul Poppy kepada Pallad yang disambut antusias oleh Pallad.


Poppy melihat jam dan ternyata waktu makan siang hampir tiba. Poppy lalu mengajak Pallad menemui Emu segera.


Mereka berjalan menyelusuri koridor departemen pediatric dengan sukacita. Mereka memang merindukan Emu dan ingin mengobrol banyak tentangnya. Mereka semakin jarang bertemu semenjak Emu menjalin hubungan dengan Date beberapa bulan yang lalu. Date selalu bersama Emu dan mereka tidak ingin mengganggu mereka.


Ketika mereka sampai di ruangan Emu, ternyata Emu tidak ada disana. Poppy mencoba menghubungi Emu melalui handphonenya , namun ternyata Handphonenya berbunyi di meja ruangan Emu.


"Tumben Emu tidak membawa Handphonenya?" ujar Poppy heran.


"Mungkin saja Emu sedang berada di toilet Poppy! Coba kamu mengecheknya!" usul Pallad kepada Poppy.


Poppypun segera mencari Emu di toilet dekat sana. Benar saja dia menemukan Emu disana sedang berdiri di depan cermin wastafel, namun pemandangan mengerikan tengah dilihat oleh Poppy. Wajah Emu terdapat beberapa luka lebam dan sudut bibirnya di plester akibat terluka. Terlihat juga Emu sedang menyingkap baju yang dikenakannya dan mengoleskan sejenis salep penghilang sakit di perutnya. Poppy bisa melihat dibalik baju itu juga terdapat banyak luka lebam yang sudah berubah warna.


"Emu? Kamu kenapa?" Suara Poppy yang tiba-tiba membuat Emu terkejut. Dengan buru-buru Emu memperbaiki baju yang dikenakannya dan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


"Poppy? Kenapa ada disini?" Tanya Emu gugup karena tidak menyangka akan bertemu Poppy disini.


Poppy tidak menjawab pertanyaannya, dia berjalan mendekati Emu dan menarik masker yang dikenakan Emu, lalu Poppy beralih menyingkap baju Emu dan melihat lebih dekat luka lebam yang ada disekujur tubuh Emu.


"Apa maksudnya ini Emu? Darimana kamu mendapat luka-luka ini? Jawab aku!!!" Poppy mendesak Emu dengan pertanyaan yang tidak ingin Emu jawab.


Emu melepaskan tangan Poppy yang memegangnya dan membuang wajahnya. Dia hanya terdiam dan menggigit bibirnya menahan tangis yang meminta untuk dilepaskan.


Poppy dengan kesal menarik tangan Emu dan mengajaknya keluar dari toilet. Pallad yang melihat Poppy keluar bersama Emu tersenyum. Namun senyumnya memudar setelah melihat wajah Emu yang penuh dengan luka.


"Emu?! Siapa yang melakukan ini?!" Pallad mendekati Emu dengan wajah bergetar. Matanya tidak henti menatap setiap sudut wajah Emu yang dihiasi oleh luka lebam. Pallad menyentuh wajah Emu tapi tangannya ditepis pelan oleh Emu.


Emu hanya terdiam dan menunduk menghindari tatapan Poppy dan Emu.


"Emu?! Aku mohon jawablah! Siapa yang melakukan ini padamu?!" Tanya Pallad semakin gusar melihat Emu hanya terdiam tidak bereaksi apa-apa.


"Aku baik-baik saja! Aku mohon jangan bertanya lagi!" Ucap Emu lirih.


"BOHONG!!! Apanya yang baik-baik saja? Lihat semua ini? Apa ini terlihat baik?!" Bentak Poppy kesal seraya menunjuk seluruh luka yang Emu derita.


Tiba-tiba Emu berjongkok seraya menutup telinganya ketika Poppy membentaknya. Dia menangis dan meracau seakan suara Poppy menyakitinya.


"Kumohon! Jangan sakiti.. hiks aku!" Ucap Emu terisak.


Pallad dan Poppy melihat tingkah Emu hanya tertegun. Siapa yang membuat Emu seperti ini. Dengan lembut Poppy memeluk Emu dan membantunya bangun.


"Sssttt.. tenang Emu! Tidak ada yang menyakitimu! Kami akan melindungimu!" Ucap Poppy lembut seraya mengusap pucuk kepala Emu.


Emu melihat Poppy dan Pallad secara bergantian dan mendadak tangisnya pecah membuat hati Poppy dan Pallad tersayat.


"Ayo kita bawa Emu ke CR!" Pallad lalu menggendong Emu dipunggungnya. Entah mengapa Pallad merasa tubuh Emu menjadi sangat ringan dan ringkih. Apa sebenarnya sudah terjadi padanya.


Poppy mengikuti Pallad yang menggendong Emu lalu berjalan menuju CR. Poppy menghubungi Haima dan meminta ijin agar Emu bisa beristirahat lebih awal dan menjelaskan keadaan Emu kepada Haima.


Sesampainya di CR, Pallad membaringkan Emu di sofa. Poppy segera mengambil bantal dan selimut dan memperbaiki posisi Emu agar lebih nyaman ketika berbaring. Pallad membuatkan Emu cokelat hangat favoritenya dan membantu Emu untuk meminumnya. Poppy duduk disamping Emu mengechek luka-luka yang Emu derita dan mengoleskan beberapa krim agar lukanya cepat menghilang.


Emu perlahan mulai menutup matanya. Entah kenapa rasa kantuk mulai menyerangnya ketika dia merasakan perasaan nyaman dan hangat. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan ini. Semenjak Date mulai kasar padanya, hari-harinya berubah menjadi neraka. Date semakin overprotective dan possesif kepadanya. Date tidak pernah meninggalkannya sendirian dan selalu mengawasi gerak geriknya. Bahkan jika Emu melakukan kesalahan kecil, Date akan memperlakukannya dengan mengerikan. Date tidak segan-segan memukulinya dan bertindak kasar padanya. Apalagi jika ada pria lain yang mengajaknya bicara walaupun pria itu adalah orang tua pasiennya atau perawat dan dokter lain, Date akan mengamuk bahkan mengancamnya dengan pistol yang dimilikinya. Emu sudah pada titik tidak ingin melawan dan membantah Date. Jiwanya kini kosong dan hanya pasrah dan membiarkan Date melakukan apa saja kepadanya. Bahkan Emu merasa hatinya telah mati rasa. Kini dia merasakan lelah dan hanya ingin tidur tenang sementara waktu. Melepaskan diri dari Date untuk sementara.


Saat Emu mulai tertidur Pallad dan Poppy mengawasinya dengan seksama. Wajah Emu terlihat sayu dan pucat. Tidak bercahaya seperti dulu. Tangannya terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Poppy terisak, sahabat macam apa dia tidak mengetahui kondisi Emu sesungguhnya dan membiarkan Emu menderita seperti ini. Pallad memeluk Poppy dan menepuk pundaknya pelan. Mereka berharap Emu bisa segera pulih dan kembali sedia kala.


Srett


Pintu CR terbuka terlihat Kiriya dan Taiga sedang mengobrol dan langsung tertegun melihat Emu tertidur di sofa.


"Ah, ada Emu!! Sudah lama sekali!" Kiriya menghampiri Emu dengan wajah senang namun sedetik kemudian dia mematung melihat kondisi Emu. Taiga yang mendekatpun melotot melihat keadaan Emu yang memprihatikan.


"Apa yang terjadi? SIAPA YANG MELAKUKAN INI KEPADA EMU?!" Jerit Kiriya marah seraya menatap tajam ke arah Poppy dan Pallad.


Mendengar Kiriya berteriak marah, Emu menggeliat di sofa tempat dia tertidur. Reflek dia menutup telinga dan mulai meracau lagi dalam tidurnya.


"Maafkan A-aku! Hiks, aku tidak akan mengulanginya! Maafkan aku.. hiks maafkan aku!" Suara Emu terdengar ketakutan. Taiga mendekatinya dan membelai rambut Emu dengan lembut.


"Sstt.. tenang Emu! Tidak ada yang menyakitimu disini! Tidurlah! Jangan takut!" Ucap Taiga lembut menenangkan Emu.


"Kumohon Kiriya! Tahan emosimu! Sepertinya Emu tidak bisa mendengar suara keras. Dia selalu menutup telingannya dan meracau ketika ada suara kencang!" Pinta Poppy setengah berbisik kepada Kiriya.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Mengapa wajah Emu sampai babak belur seperti itu?" Tanya Kiriya dengan suara pelan agar tidak membangunkan Emu.


Poppy mengajak Pallad, Taiga dan Kiriya menuju ke bawah tangga, agar mereka bisa bicara dengan bebas.


"Sesungguhnya aku belum tau apa yang terjadi. Emu tidak mau menjawab pertanyaanku. Dia seperti ketakutan setiap aku bertanya siapa yang melakukannya!" Ungkap Poppy khawatir.


"Melakukan apa?!" Tiba-tiba Hiiro muncul bersama Haima yang terlihat khawatir setelah menerima telepon Poppy mengenai keadaan Emu.


"Lebih baik kamu lihat sendiri kondisi Emu, Hiiro!" Ucap Pallad ketus.


Akhirnya mereka kembali menuju tempat Emu tertidur. Betapa terkejutnya Haima dan Hiiro mendapati kondisi Emu yang memprihatikan.


Hiiro mendekati Emu dan memegang tangannya yang terlihat kurus dan lemah. Hati Hiiro terasa tersayat melihat kondisi Emu.


"Kami juga belum tahu! Tapi entah kenapa menurutku ini perbuatan si Date!" Ungkap Kiriya.


"Siapa lagi coba yang bisa melakukan hal ini selain orang yang dekat dengannya!" Tambah Kiriya lagi dengan wajah kesal.


"Tapi kita tidak punya bukti!" Sanggah Poppy.


"Lebih baik kamu ambil foto kondisi Emu sekarang! Itu juga bisa menjadi bukti kedepannya! Sekarang tinggal kita mendapatkan pengakuan dari Emu. Jika Emu tidak mengungkap perlakuan Date, maka bukti itu juga sia-sia!" Ucap Kiriya lagi diikuti anggukan Poppy yang sejurus kemudian mulai mangambil gambar kondisi Emu.


"Akan kubunuh pria yang-" Belum lengkap kalimat yang diucapkan Taiga tiba-tiba Date datang dan berteriak ke arah mereka.


"DIMANA EMU!?" Teriak Date seperti orang kesurupan. Mereka semua berdiri dan berusaha memblok pandangan Date dari Emu.


Emu terbangun terkejut mendengar suara Date yang berteriak kencang. Mendadak dia ketakutan dan mencengkram kuat tangan Hiiro yang berada didekatnya. Hiiro yang melihat ekspresi Emu yang ketakutan melihat Date mau tidak mau mengerti ternyata memang benar Date yang melakukan semua ini.


Date menerjang Taiga dan Kiriya yang berusaha mengusirnya dari CR. Dengan mudah Date menghajar Taiga dan Kiriya. Selain badan Date yang lebih tinggi dan besar, Date juga seorang ahli Judo bersabuk hitam. Mereka semua tidak ada apa-apanya jika mengenai kekuatan fisik. Date kemudian menghajar Pallad yang berusaha melayangkan pukulan ke arah Date. Lalu mendorong Poppy dan Haima. Kemudian dengan kasar menendang dada Hiiro yang berusaha melindungi Emu.


"Sudah kubilang! Tidak boleh ada yang menyentuhmu selain aku!" Emu mengangguk ketakutan dan menurut ketika Date membopongnya dan membawa keluar dari CR.


"Jika kalian mencoba mendekati Emu lagi! Aku tidak segan-segan akan membunuh kalian!" Ancam Date seraya membawa Emu yang menangis ketakutan keluar dari CR.


Semua orang memandang Date penuh kebencian. Mereka tidak menyangka seorang dokter pediatric bisa melakukan hal mengerikan seperti ini! Siapa sebenarnya Date Akira ini.


.


.


"Hey, apa yang terjadi!?" Kuroto datang kebingungan melihat teman-temannya berada di lantai dalam kondisi babak belur.


Kuroto kemudian membantu Poppy dan Haima membawa Kiriya, Taiga, Pallad dan Hiiro menuju tempat duduk dan segera mengambil peralatan P3k untuk mengobati mereka.


"Siapa yang menghajar kalian hingga babak belur begini?!"tanya Kuroto heran, tidak mungkin orang sembarangan yang menghajar mereka semua dengan telak seperti ini.


"DATE! **** ITU YANG MELAKUKANNYA!" teriak Kiriya marah seraya meringis menahan sakit akibat pukulan telak yang mendarat di perut dan wajahnya.


"Date? Mengapa dia melakukan hal itu?" tanya Kuroto seraya memasang perban di tangan Kiriya.


"**** itu membawa Emu bersamanya. Dia menghajar kami karena menolong Emu!" sahut Taiga.


"Maksudnya?" Kuroto semakin bingung dengan apa yang Kiriya dan Taiga katakan.


"Lebih baik kamu lihat dulu foto ini, Kuroto!" Poppy menyerahkan handphonenya yang terdapat foto kondisi Emu ketika mereka merawatnya tadi.


Tangan Kuroto bergetar melihat foto yang ditunjukkan oleh Poppy, matanya mendelik. Manusia seperti apa yang tega melakukan kekejaman ini kepada Emu yang dia sudah di anggap sebagai adik olehnya.


"**** itu harus membayar semua yang dia perbuat kepada Emu!!" Kuroto menggeram marah.


"Direktur Haima! Sebaiknya anda pecat saja **** itu! Aku akan menelpon polisi dan melaporkan tindakannya!" Kuroto mengambil handphonenya hendak melaporkan Date ke polisi namun dicegah oleh Poppy.


"Jangan laporkan dulu Kuroto. Emu masih bersamanya, aku takut jika polisi menangkapnya dia malah akan melakukan hal yang nekat kepada Emu. Lebih baik kita cari dulu informasi kemana dia membawa Emu dan mengawasinya dengan jarak yang aman!" Saran Poppy diikuti anggukan dari yang lain.


"Baiklah, bagaimana kita berpencar saja untuk mencari mereka. Direktur Haima, aku minta data tentang Date lengkap. Mungkin saja dia membawa Emu ke tempatnya. Untuk sekarang kita akan membagi tim, Kiriya dengan Pallad, Taiga dengan Hiiro dan Aku bersama Poppy" Usul Kuroto dan diiyakan oleh semua.


"Baiklah sekarang aku kan menghubungi humas rumah sakit dan meminta data dari Date yang lengkap sekaligus meminta mereka membuat surat pemecatan untuk Date!" Haima beranjak dari tempat duduk dan pergi bersama Kuroto dan Poppy.


"Kalian berempat lebih baik beristirahat dulu. Setelah kami mendapatkan informasi tentang Date kita akan melanjutkan rencana selanjutnya!"


"Oh ya satu lagi! Taiga dan Hiiro masing-masing dari kalian ada jadwal operasi kecil malam ini. Jangan lupa!" Taiga dan Hiiro mengangguk mengerti.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


"A-ku mo-mohon Date-san! Ja-jangan sa-kiti a-ku! A-ku min-tta maaf!" Suara Emu terdengar lirih terbata-bata memohon kepada Date yang terlihat lebih marah dari biasanya. Date tidak menggubris perkataan Emu dan tetap mengikat Emu dengan kuat di kursi yang ada di kamar apartemen Emu.


"Diam disini kamu wanita jalang! Aku akan menghukummu nanti!" Date pergi lalu mengunci Emu yang meratap pilu.


Emu berusaha melepaskan ikatannya, namun dia terlalu lemah untuk melakukannya. Emu terjatuh bersama kursi ke lantai dengan keras. Dia hanya bisa merintih kesakitan. Hanya menangis saja yang bisa dia lakukan saat ini. Emu merasakan grafitasi menariknya sangat kuat sehingga dia tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri. Kekuatannya hanya sebatas ini saja. Dia benar-benar tidak kuat lagi.


"Tuhan! Lebih baik hari ini menjadi akhir dari hidupku! Aku sudah tidak sanggup lagi, aku sudah menyerah! Aku mohon bebaskan aku Tuhan! Aku hanya ingin tertidur dengan tenang! Aku mohon!" Isak Emu yang sudah menyerah dengan pergulatan takdir miliknya. Tidak ada lagi permainan untuknya lagi. Hanya Game over yang dia tunggu sekarang.


Emu hanya bisa menangis hingga kelelahan. Tubuhnya benar-benar sudah tidak sanggup lagi menerima kekejaman yang Date lakukan.


Date kembali dengan membawa sebuah cambuk. Emu hanya menelan ludah takut membayangkan apa yang akan terjadi. Date membuka tali yang mengikat Emu dan menariknya ke ranjang dan mulai menyiksa Emu tanpa ampun. Emu hanya bisa meringis kesakitan dan tidak sanggup melawan Date lagi.


"SEBAIKNYA KAMU SEGERA MEMBERSIHKAN KEKACAUAN INI, ***!" Date berteriak lalu membersihkan sisa darah Emu yang menempel ditangannya setelah puas menyiksa Emu yang kini lemah tidak berdaya.


Tuhan! Ambil saja nyawaku sekarang!


*********************************************


***Blurring and stirring the truth and the lies


So I don't know what's real and what's not


Always confusing the thoughts in my head


So I can't trust my self anymore


I'm dying again


-Evanescence - Going Under***-