Breathless

Breathless
Chapter 20: Always Somewhere




Langit pagi ini terlihat sangat teduh dan lembut. Bunyi tetesan hujan yang telah menyelesaikan tugasnya menyirami bumi memberi ketenangan bagi para pengejar mimpi yang telah bangkit dari pulau kapuk yang terlihat selalu nyaman ketika pagi menjelang. Pagi itu seperti biasa, Hiiro melangkahkan kakinya menuju sebuah toko bunga langganannya yang tepat berada di dekat rumah sakit untuk membeli buket bunga lily cantik favorite Emu. 


"Seperti biasa kah Kagami-sensei?" sapa wanita paruh baya menyapa sang dokter jenius muda dengan senyum ramahnya.


Hiiro menganggukkan kepalanya dan membalas senyum wanita pemilik toko bunga itu yang kemudian dengan cekatan merangkai buket bunga lily yang selalu dipesan setiap pagi oleh sang dokter jenius. Hanya rangkaian tanpa ada kartu ucapan yang biasa dilakukan oleh seorang pria kepada gadis pujaannya. Lagipula jikalaupun dia menyelipkan sebuah kartu ucapan, sang dokter pediatric manis itu tidak mungkin akan membacanya.


Ya, sang dokter manis kini masih berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah hampir dua minggu pasca kejadian yang tidak terlupakan itu, sang gadis masih belum membuka matanya seakan enggan untuk menghadapi kenyataan yang tengah terjadi. Hiiro setiap hari tidak pernah absen mengunjungi dan menemani sang dokter pediatric itu dengan sesekali berbicara sendiri, berusaha mengajak berinteraksi dengan harapan Emu akan segera membuka kedua bola matanya.


"Silahkan Kagami-sensei!" Wanita itu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan segera menyerahkan bunga pesanan Hiiro.


"Terima kasih, Megumi-san!" ucap Hiiro tulus lalu membayarkan sejumlah uang kepada wanita paruh baya itu.


"Sama-sama Kagami-sensei! Semoga Houjou-sensei segera sembuh!" tutur Megumi dengan mata berkaca yang terlihat sangat tulus, membuat Hiiro terharu dan membungkuk dengan sopan sembari mengucapkan terima kasih sekali lagi.


Hiiro berjalan dengan ringan menuju rumah sakit. Dengan memakai sweater rajut biru muda yang menutupi kemeja putih di dalamnya serta celana kain hitam, Hiiro terlihat berpenampilan sangat santai tidak seperti ketika dia tengah berdinas. Tapi memang pada dasarnya dia kini sedang tidak berdinas.


Pasca kejadian yang cukup membuat heboh pemerintahan. Menteri Kyotarou Hinata marah besar kepada para dokter yang terlibat dalam insiden yang membuat Emu tertembak dan harus dirawat insentif dirumah sakit. Sehari setelah Date dengan sukarela menyerahkan diri, Kyotarou menyidang atau lebih tepatnya melancarkan aksi hukuman kepada Hiiro dan kawan-kawannya.


Hiiro, Taiga, Kiriya mendapatkan sanksi yang cukup berat. Mereka bertiga diskors selama dua bulan dari segala kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan mereka sebagai dokter. Beruntung ijin praktek mereka tidak dibekukan. Menteri Kyotarou mengatakan jika ini permintaan dari  Date yang disampaikan oleh ayahnya. Ini juga merupakan bentuk kompensasi karena Date dengan sukarela menyerahkan diri dan meminta persidangan digelar dengan segera. Date meminta semua tanggung jawab kejadian itu dibebankan kepadanya tidak kepada orang lain. Bahkan dengan rela Date mempersilahkan Kyotarou membekukan ijin prakteknya sebagai seorang dokter. Hiiro, Taiga dan Kiriya menanggapinya dengan perasaan yang gundah. Mereka tidak tahu harus senang atau tidak dengan sikap Date kepada mereka.


Sedangkan Kuroto dan Pallad mendapatkan sanksi yang berbeda. Karena pada dasarnya mereka bukanlah dokter dan memang hanya diperbantukan dalam team cyber rumah sakit, Kyotarou hanya memberikan mereka hukuman pelayanan masyarakat. Kini mereka berdua dibantu oleh Poppy dan Nico menjadi petugas dibagian pelayanan masyarakat dan membantu segala keluhan masyarakat via telepon maupun langsung berhadapan. Hiiro terkadang merasa kasihan kepada Kuroto dan Pallad yang harus belajar duduk diam dan menjadi sosok yang sabar dalam mendengarkan berbagai macam keluhan masyarakat.


"Tugas ini lebih cocok untuk Emu! Dia pasti bisa melakukannya dengan baik!" keluhan itu yang terakhir kali didengar oleh Hiiro dari mulut Pallad ketika tidak sengaja mengunjungi kedua pria itu dijam istirahat mereka.  


Tapi bagaimanapun panjangnya keluhan mereka akan tugas yag diberikan oleh Kyotarou, Pallad dan Kuroto tetap melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab. Paling tidak mereka tidak perlu dipenjara atas perbuatan yang telah mereka lakukan. 


Bagaimana dengan rekan mereka yang lain? Tentu saja mereka tidak luput dari sanksi. Gou yang telah pulih, tidak mendapat sanksi karena dianggap sebagai korban dan kini tengah menjalani rawat jalan atas luka yang dideritanya. Sedangkan Shotaru, Shinosuke dan Chase telah menghadapi hukuman berbeda. Shotaru dan Shinosuke dibebas tugaskan dari tugas utama mereka sebagai detektif dan agent. Mereka kini bersama dengan Chase dimutasi ke departemen yang berfokus pada kegiatan lalu lintas atau lebih tepatnya mereka kini ditugaskan sebagai polisi lalu lintas. Tidak menantang memang, tapi setidaknya kepolisian tidak memecat mereka dan memberikan mereka sanksi lebih berat.


Well, setidaknya kini mereka telah menjalani konsekuensi akibat tindakan yang telah mereka lakukan. Ada sedikit penyesalan dalam diri mereka masing-masing kenapa mereka melakukan semua itu tanpa berpikir panjang. Namun tidak bisa dipungkiri tragedy yang telah berlalu telah membuat hidup mereka semua berubah dengan drastis.


"Ohayou, Kagami-sensei!" sapaan ramah para staff, dokter dan perawat dirumah sakit ditanggapi dengan baik oleh Hiiro. 


Dokter pria itu dengan wajah khasnya memberikan senyum dinginnya walaupun menurut para dokter, perawat dan staff, Hiiro kini bisa lebih tersenyum dalam menanggapi sapaan mereka. Tidak seangkuh dan sedingin dulu. Sambil tetap menanggapi setiap sapaan sepanjang lorong rumah sakit, Hiiro seraya memegang buket bunga ditangannya berjalan dengan konsisten menuju ruang tempat Emu kini dirawat.


"Pagi, Reiko-san!" Hiiro menyapa sosok wanita paruh baya yang tengah duduk disamping ranjang tempat Emu berbaring. 


"Pagi, Hiiro-kun!" Reiko dengan senyum hangatnya menoleh kearah Hiiro yang kemudian dengan sigap mengganti bunga yang ada di samping ranjang Emu.


Reiko merupakan pengunjung tetap yang selalu dengan setia bersama Hiiro menunggu dan menemani Emu secara bergantian. Reiko yang telah menganggap Emu sebagai putrinya sendiri terlihat sangat bersemangat setiap kali berkunjung. Dia selalu membawa buku bacaan ringan, dan membacanya disamping Emu. Membuat dia dan Emu tetap berinteraksi, sama dengan pemikiran yang Hiiro miliki. Berharap dengan interaksi kecil yang mereka bangun dapat membuat Emu bisa segera pulih dan sadar.


"Apakah Reiko-san sudah lama disini?" tanya Hiiro kemudian duduk disisi lain tempat tidur Emu.


"Iie! Aku juga baru saja sampai, Taiga-kun dan Kiriya-kun tadi yang menemani Emu-chan sebelum aku datang!" ucap Reiko kepada Hiiro.


"Ada dimana mereka sekarang?" Kepala Hiiro celingukan karena tidak mendapati kedua rekannya itu ketika dia datang.


"Mereka berkata akan membeli sarapan dan kopi!" jawab Reiko diikuti dengan anggukan dari Hiiro.


Hening untuk sementara menyapa mereka. Hiiro terlalu canggung jika dalam keadaan hanya berdua dengan Reiko. Biasanya Taiga dan Kiriya yang secara bergantian ikut menjaga Emu  dapat mencairkan suasana dengan obrolan ringan yang mereka mulai. Namun Hiiro bukanlah tipe orang yang dengan gampang membuka sebuah obrolan. 


"Bagaimana kondisi Date, Reiko-san?" pertanyaan itu terlintas begitu saja di pikiran Hiiro. Raut wajah Reiko terlihat berubah menjadi sendu tak ayal membuat Hiiro hanya bisa merutuki kebodohannya. Pertanyaan macam apa yang dia pikirkan sebenarnya. Tentu saja dia tahu jika Date tidak sepenuhnya dalam keadaan baik. 


Maksudnya, dia masih dalam tahanan dan tidak mungkin di baik-baik saja bukan?


"Akira-kun?" Reiko terlihat heran ketika Hiiro menanyakan pertanyaan itu kepadanya. Reiko tidak menyangka jika Hiiro akan menanyakan keadaan Date.


"Ah, ya! Akira-kun baik-baik saja. Aku berencana menjenguknya siang ini! Apa kamu tertarik untuk ikut?" entah mengapa tiba-tiba Reiko menawarkan kepada Hiiro untuk ikut menjenguk keadaan Date di penjara. 


"Apakah tidak apa-apa?" taya Hiiro setengah tidak percaya jika Reiko mengajaknya untuk mengunjungi mantan rivalnya itu.


"Tentu saja! Aku tidak keberatan! Mungkin saja dia akan senang mendapat kunjungan selain dari aku dan Takashi-san!" ucap Reiko dengan tersenyum berharap. Hiiro membalasnya dengan tersenyum juga kepada Reiko. Tidak ada salahnya mengunjungi Date bukan? Lagipula terakhir mereka bertemu adalah ketika dia dan kawan-kawannya yang lain di mintai keterangan oleh pihak kepolisian mengenai masalah pemboman rumah sakit seminggu pasca penyerahan diri Date. Ada rasa penasaran menghinggapi Hiiro tentang nasib yang akan diterima Date. Hiiro hanya berharap, Date bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.


.


.


.


.


.


Siangnya Kiriya datang mengunjungi mereka, setelah paginya  hanya mampir membawakan mereka sarapan dan kopi. Reiko menyambut Kiriya dengan hangat dan dibalas dengan baik oleh Kiriya. Sang coroner kemudian duduk disofa yang tidak jauh dari tempat ranjang Emu berbaring. Hiiro mendekati Kiriya dan kemudian memposisikan dirinya duduk disamping sang dokter eksentrik itu.


"Aku akan mengunjungi Date dengan Reiko-san sebentar lagi!" ucap Hiiro pelan membuat Kiriya terbelalak terkejut.


"Kamu akan mengunjungi Date?!" Kiriya mengulangi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Hiiro dengan setengah tidak percaya.


"Tentu saja! memangnya kenapa?" sahut Hiiro dengan wajah berkerut, ekspresi yang ditunjukkan oleh sang dokter eksentrik menurutnya terlalu berlebihan. 


"Tidak ada! Hanya heran saja!" sahut Kiriya seadanya seraya meneguk air mineral kemasan yang dia bawa bersama beberapa snack untuk menemani mereka ketika menjaga sang pediatric.


"Paling tidak aku ingin berterima kasih kepadanya! Selain itu, aku hanya ingin berbincang tentang kondisi Emu kepadanya. Aku yakin dia sangat mengkhawatirkan Emu!" ucap Hiiro semakin membuat Kiriya menggelengkan kepalanya heran.


"Apakah kau benar Hiiro? Aku tidak percaya kamu bisa sebijaksana ini sekarang!" seru Kiriya  dengan nada setengah mengejek kearah Hiiro dan tertawa pelan.


"SIAL kau Coroner! Kamu pikir aku pria seperti apa?" timpal Hiiro dengan nada yang terdengar kesal menanggapi penyataan dari Kiriya.


"Egois tentu saja!" sahut Kiriya tanpa berpikir panjang yang dihadiahi tatapan tajam dari sang dokter jenius.


"Jangan marah tuan muda! Aku hanya bercanda!" sahut Kiriya lagi yang terlihat ngeri dengan ekspresi intimidasi  yang ditunjukkan oleh Hiiro.


Hiiro menghela nafas pendek dengan wajah tanpa gairah. Pernyataan Kiriya pada dasarnya tidak ada yang salah. Dia dulu memang pernah menjadi seorang pria dingin dan egois yang tidak pernah mau mengalah ataupun disalahkan. Namun dengan seiringnya waktu sifat itu mulai terkikis. 


Tidak mungkin dia menjadi pria yang egois terus menerus bukan?


"Selama aku pergi, aku titip Emu ya!" pinta Hiiro kepada Kiriya diikuti dengan seringai dari sang coroner itu.


"Tidak perlu diminta juga, aku akan selalu menjaganya!!" ucap Kiriya tulus membuahkan senyum hangat dari sang dokter jenius. Ya, dia tidak perlu khawatir. Tentu saja banyak orang yang akan menjaga Emu ketika dia tidak berada disampingnya. 


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


Reiko terlihat meremas tangannya dengan gelisah. Hampir setiap hari dia mengunjungi Date setelah menemani Emu, tetap saja dia merasakan kegelisahan dalam hatinya. Melihat sang putra yang sendirian dalam sebuah bilik kecil tentu saja membuat hatinya tidak tenang. Ibu mana yang tega melihat putranya mendekam dalam penjara dingin sendirian. 


"Akira-kun!" Reiko dengan perasaan campur aduk meletakkan tangannya di sebuah kaca yang memisahkan fisiknya dan sang putra. Berharap dia dapat menyalurkan kasih sayangnya walapun ada pembatas yang memisahkan mereka


"Mommy!" ucap Date terlihat bersemangat ketika melihat sang ibu datang mengunjunginya lagi secara rutin. Namun perlahan  tatapannya terkejut ketika mendapati ada orang lain yang ikut menjenguknya selain sang ibu, "Hiiro??" 


"Hi Date!" sapa Hiiro terlihat canggung.


"Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat lebih kurus!" tambah Hiiro dengan seraya melihat wajah Date yang telihat lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Makanan di penjara tentu saja tidak seenak makanan rumahan,  Hiiro!" timpal  Date tergelak, setengah bercanda setelah melihat wajah Reiko yang terlihat semakin khawatir setelah mendengar ucapan Hiiro kepada Date.


Suasana canggung terasa kemudian, Reiko melihat sang putra yang menjadi terdiam ketika melihat kedatangan Hiiro, akhirnya berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua agar lebih leluasa berbicara.


"Sebaiknya kalian berdua bicara! Aku akan menunggu diluar!" timpal Reiko kemudian beranjak dari tempat yang dia duduki.


"Tapi—" Hiiro berusaha mencegah Reiko, namun Reiko menepuk pundaknya pelan.


"Tidak apa-apa! Aku bisa mengunjungi my baby boy kapan saja, right?" ucap Reiko kemudian melemparkan senyum kepada Hiiro dan Date. Sang putra hanya mengangguk pelan dan membalas senyum sang ibu.


Hiiro melihat Reiko keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. 


Dari mana dia harus memulai obrolan mereka?


"Jadi, bagaimana perasaaanmu?" akhirnya hanya pertanyaan itu yang muncul dari otak jeniusnya. 


Seringai tipis muncul diwajah tirus Date, dia tertawa kecil  seakan bingung ingin menanggapi bagaimana pertanyaan dari Hiiro, "Jujur aku tidak tahu harus merespon seperti apa pertanyaanmu. Tapi perasaanku tentu saja tidak baik-baik saja! Apalagi hanya berdiam diri di sebuah ruangan kecil dibalik terali besi."


Bagaimanapun juga mereka pernah terlibat perselisihan yang cukup sengit. Bahkan tidak dipungkiri mereka pernah berniat untuk saling menghabisi nyawa satu sama lain. Lucunya saat ini mereka dihadapkan dalam situasi yang sangat berbeda. Situasi canggung yang tidak berujung.


"Bagaimana keadaan Emu-chan?" sedetik kemudian Date bertanya tentang kondisi Emu kepada Hiiro agar suasana yang canggung diantara mereka berdua tidak berlanjut dan menyianyiakan waktu berkunjung yang diberikan oleh pihak penjara.


"Sayangnya Emu masih belum sadarkan diri hingga saat ini! Dokter yang merawatnya hanya bilang jika kondisinya sendiri telah stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kini hanya tinggal menunggu kesadarannya kembali saja." ungkap Hiiro membuat raut wajah Date berubah seketika. 


"Apa kamu merindukannya Date?" Hiiro menelisik kearah Date yang terlihat sendu ketika mereka mulai membahas tentang Emu.


"Apa terlalu jelas terlihat?" tanya Date kemudian menatap Hiiro dengan tatapan sayu. 


Hiiro mengangguk, mengiyakan pernyataan Date. Tidak dipungkiri Hiiro bisa melihat raut wajah penuh kerinduan di wajah Date. Dia mungkin bukan ahli pembaca raut wajah, tapi sepertinya Date tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merindukan Emu sehingga dia bisa menebak dengan akurat.


"Tidak munafik, aku sangat merindukannya. Tapi apa aku pantas merindukannya?" ucap Date seraya menarik nafas berat, raut wajahnya semakin menerawang jauh. Pikirannya seperti melayang entah kemana.


"Maafkan aku Hiiro!" ucapan berikutnya membuat Hiiro semakin terkejut. Dia benar-benar tidak mengenal pria yang kini dihadapannya. Pria yang terlihat lebih dewasa dan berbeda.


"Maaf, untuk apa?" tanya Hiiro menatap Date dengan ekspresi berkerut, walaupun Hiiro mengerti arah pembicaraan mereka akan kemana. 


"Maafkan aku telah memberikan masalah besar untuk kalian semua!" tambah Date lagi seraya memberikan senyum tipis kepada Hiiro. 


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, Date! Yang membedakan mereka hanya sikap yang mereka tunjukan setelah melakukan kesalahan. Menyesal atau tidak! Jika penyesalan adalah jawaban yang muncul ketika kamu menyadari kesalahanmu, kesempatan kedua selalu pantas diberikan!" Hiiro tidak bisa menyangkal jika Date memang telah melakukan banyak hal merugikan banyak orang, tapi penyesalan yang dia tunjukkan cukup membuat Hiiro terkesan. Apalagi dengan penuh kesadaran Date mengakui kesalahannya tanpa melakukan pembelaan. Tindakan yang telah membuktikan jika dia memang telah berubah dan menyesali segala perbuatannya.


"Seandainya kita bertemu dalam keadaan yang berbeda! Mungkin kamu bisa menjadi teman yang dapat aku percaya!" ucap Date seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa terlambat untuk menjalin pertemanan?" tambah Date yang lalu disambut dengan baik oleh Hiiro.


"Tentu saja tidak!" jawab Hiiro tegas yang mengembangkan senyum di wajah Date.


"Teman?" tanya Date meyakinkan jika dia tidak salah menawarkan pertemanan kepada Hiiro.


"Teman!" balas Hiiro dengan tatapan tegas kepada sang mantan rival, Date.


.


.


.


.


"Teima kasih Hiiro-kun!" Reiko mengucapkan terima kasih dengan tulus ketika mereka tengah dalam perjalanan kembali menuju ke rumah sakit.


"Terima kasih untuk apa Reiko-san?" Hiiro yang terlihat bingung menanggapi ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh Reiko.


"Terima kasih telah bersedia menjadi teman bagi Akira-kun!" ucap Reiko dengan tulus, ada air mata yang muncul disudut matanya.


"Oh, itu tidak masalah Reiko-san! Aku senang melakukannya!" timpal Hiiro berusaha membuat Reiko nyaman dengan senyumannya. Setidaknya kali ini dia tidak ingin terlihat seperti pria yang dingin dan tidak berperasaan.


"Akira-kun  tidak pernah memiliki seseorang yang dianggap teman olehnya! Jadi, aku cukup terkejut ketika dia menawarkan pertemanan denganmu!" ungkap Reiko yang teringat jika Date memang sangat tidak beruntung dalam pertemanan, hingga akhirnya dia tidak pernah menjalain hubungan perteman yang sesungguhnya dengan orang lain.


Hiiro bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Reiko. Hiiro sendiri bukan tipe orang yang gampang bergaul dengan orang lain. Jadi baginya dia dan Date sebenarnya tidak beda jauh. Hubungan pertemanan bukanlah keahlian mereka.


"Aku harap kalian bisa menjalin perteman yang baik, walaupun kini Akira-kun berada dipenjara!" tambah Reiko diikuti anggukan lembut dari Hiiro. 


"Sekali lagi terima kasih!" Reiko tidak hentinya mengucapkan terima kasih kepada Hiiro, dia yakin mereka bisa menjalin pertemanan yang sehat dan bisa saling mensupport satu sama lain. Setidaknya itu yang diharapkan oleh Reiko saat ini.


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


Setelah perdebatan panjang, malamnya Reiko akhirnya menyerah dan menuruti kata-kata para dokter lelaki yang kini tengah menjaga Emu di ruang perawatannya. Mereka bertiga dengan kompak meminta Reiko untuk pulang dan beristirahat dirumah. Takashi menjemput Reiko dengan penuh kecanggungan. Tidak seperti Reiko yang dengan mudah berbaur dengan teman-teman Emu, Takashi masih menunjukkan sikap kakunya kepada mereka. Apalagi setelah masalah  yang pernah terjadi dengan mereka. Bahkan Fujita, Kusaka dan Mihara masih terlihat tegang setiap bertemu dengan para dokter, Kuroto dan Pallad, mengingat mereka pernah dalam situasi ingin 'saling membunuh'.


Ruang perawatan tempat Emu berada kini, diisi oleh  Hiiro, Kiriya dan Kuroto. Poppy, Pallad, Taiga, dan Nico memutuskan untuk menuju apartemen Emu, selain mereka berencana membawa beberapa perlengkapan untuk Emu, mereka juga berniat untuk membeli makan malam dan snack lain untuk menemani mereka jaga malam. 


Hiiro, Kiriya dan Kuroto kini  tengah asyik mengobrol. Hiiro dan Kiriya terlihat antusias mendengar cerita bagaimana repotnya Kuroto dan Pallad yang menghandel keluhan beberapa lansia yang mengalami masalah dengan pendengaran mereka. Kiriya sempat melupakan dia tengah berada diruang perawatan dan tertawa lepas ketika mendengar salah satu lansia kehilangan gigi palsunya dan meminta Kuroto dan Pallad mencarikannya hingga gigi palsu itu ditemukan. Butuh hampir setengah hari mencari gigi palsu itu yang akhirnya ditemukan di saku jubah rumah sakit yang lansia itu gunakan. Hiiro yang awalnya memasang wajah biasa saja, pada akhirnya tidak bisa menahan tawanya bersama dengan Kiriya yang sudah tertawa seperti orang tidak waras. Seandainya mereka disana mungkin mereka tidak akan melepas kesempatan untuk merekam kegiatan Kuroto dan Pallad kala itu.


"Mphmm!" gelak tawa mereka terhenti ketika mereka mendengar suara erangan kecil dari tempat Emu berbaring.


Mereka bertiga bangkit dengan tergesa dan mendekati ranjang tempat Emu berada. Hiiro memperhatikan monitor yang memantau kondisi Emu. Terlihat detak jantung Emu sedkit meningkat. Walaupun pelan, Hiiro juga merasakan gerakan lemah dari Emu. Hiiro menggenggam tangan Emu dengan erat, agar sang gadis bisa merasakan kehangatannya. Perlahan Emu membuka matanya dan mengerang pelan karena pupilnya masih belum siap menerima cahaya masuk.


"Emu! Kamu sudah sadar sayang!" ucap Hiiro menggebu ketika melihat sang pujaan hati akhirnya membuka matanya.


"Dimana aku?" Emu yang masih mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya bertautan mulai mengeluarkan suara pelan bertanya tentang keberadaannya yang terasa sangat asing baginya.


"Dirumah sakit  sayang! Bagaimana perasaanmu?" sahut Hiiro semakin menggenggam tangan Emu dengan erat seakan takut untuk kehilangannya untuk kesekian kalinya.


"Ehmp, entahlah! Sedikit pusing!" ucap Emu perlahan seraya berusaha mengatur nafasnya yang tedengar cukup berat kala itu.


"Jangan banyak bergerak dulu!" ucap Kiriya kemudian memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat yang berjaga diikuti anggukan lemah dari Emu.


Tentu saja para dokter dan perawat yang merawat Emu harus mengetahui perkembangan kondisi Emu. Apalagi saat ini Emu baru saja siuman dari tidur yang cukup panjang. 


Berapa saat kemudian seorang dokter dan perawat datang menghampiri ruangan Emu berada. Hiiro, Kiriya dan Kuroto memberikan ruang kepada sang dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Emu. Setelah pemeriksaan selesai, dokter dan perawat itu melaporkan kondisi terakhir sang pediatric kepada ketiga pria yang tengah menunggunya. Ketiganya terlihat sangat lega karena mengetahui kondisi Emu cukup stabil.


Hiiro, Kuroto dan Kiriya mendekati Emu yang masih terlihat pucat dengan bersemangat. Setelah sekian lama mereka akhirnya mereka bisa bernafas lega. Emu telah siuman dan dalam kondisi baik, apalagi yang bisa membuat mereka merasakan kelegaan yang luar biasa.


"Da-date-san? Dimana Date-san?" namun pertanyaan yang kemudian keluar dari bibir mungil Emu membuat ketiganya tersentak. 


Mereka bertiga saling menoleh satu sama lain. Terlihat kebingungan menghiasi wajah mereka. Apa yang harus mereka katakan kepada Emu tentang kondisi Date saat ini? Tidak mungkin mereka memberitahu kenyataan sebenarnya kepada Emu ditengah kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.


"Date baik-baik saja! Dia sedang mengurus beberapa hal penting!" ucap Hiiro dengan cepat diikuti pandangan terkejut dari Kiriya dan Kuroto. Sejak kapan Hiiro menolerin kebohongan?


"Apakah aku baru saja mendengarmu berbohong Hiiro-san!?" ucap Emu dengan lemah. Hiiro bukanlah tipe orang yang pandai menutupi kebohongan, Emu sangat hapal wajah Hiiro ketika menutupi sesuatu. Hiiro menelan ludahnya dengan gugup, dia memang tidak pandai berbohong.


"Untuk sementara, aku mohon kamu pikirkan kesehatanmu terlebih dahulu, Emu! Setelah pulih, Emu bisa menanyakan hal apa saja kepadaku! Aku janji!" ucap Hiiro kemudian menggenggam tangan Emu dengan sedikit bergetar.


Ada rasa perih menjalar dihatinya, ketika hal yang pertama yang ditanyakan oleh Emu adalah kondisi pria lain bukan dirinya. Hiiro tidak memungkiri jika selama ini, dia belum pernah sama sekali memberikan kebahagiaan yang pantas kepada Emu. Bahkan dia terlalu sering menyakitinya karena perasaan masa lalu yang mengungkungnya begitu lama. 


Tapi, Apakah sudah tidak ada rasa cinta yang tersisa di hati Emu untuknya?


"Maafkan aku Hiiro-san!" entah mengapa Emu merasakan rasa bersalah membucah dihatinya, ketika melihat raut wajah Hiiro yang menjadi sendu. Emu membalas genggaman Hiiro perlahan dan menatapnya dengan perasaan bersalah. 


"Untuk apa? Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu Emu! Terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat hingga membuatmu seperti ini!" ucap Hiiro mulai terdengar sedikit emosi. Perasaan bersalah kembali menyergap dihatinya. Tidak seharusnya Emu yang menanggung semua ini.


"Hiiro-san—" Emu hendak mengatakan hal lain namun dicegah dengan cepat oleh Hiiro. Bagi dokter jenius itu tidak penting lagi perasaan yang dia rasakan. yang dia inginkan sekarang adalah mengembalikan senyuman Emu seperti janjinya kepada Date dan tentu saja janjinya kepada dirinya sendiri.


"Sudahlah, sekarang kamu harus fokus dengan kondisimu terlebih dahulu! Jangan memikirkan hal lain! Aku mohon!" ucap Hiiro tersenyum lirih kepada sang gadis manis. Emu mengangguk perlahan dan membiarkan Hiiro mengelus rambutnya dengan sayang.


Kuroto dan Kiriya yang melihat sikap Hiiro yang berbeda hanya bisa saling menoleh dengan canggung. Tidak hanya Date, Hiiro juga telah menjadi pribadi yang berbeda setelah kejadian ini. Kini mereka hanya bisa berharap, siapapun yang akan dipilih Emu, pria itu dapat memberikan kebahagian kepadanya. Cukup sudah penderitaan yag dia lalui selama ini. Mereka hanya ingin melihat Emu mendapatkan kebahagiaannya, baik itu dengan Hiiro ataupun dengan Date.


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


*We've seen our share of ups and downs


Oh how quickly life can turn around


In an instant, It feels so good to reunite


Within yourself and within your mind


Let's find peace there


When you are with me, I'm free, I'm careless, I believe


Above all the others we'll fly, This brings tears to my eyes


My sacrifice


Creed - My sacrifice*