Breathless

Breathless
Chapter 5: Broken Wings



"Houjou-sensei!" Emu menoleh ketika seseorang memanggilnya ketika dia hendak kembali ke ruangannya setelah mengechek beberapa pasien kecilnya.


"Ah, Airi-san! Ada apa?" tanya Emu tersenyum melihat Airi berlari memanggil hingga terengah.


"Ini! Ada kiriman untukmu!" Airi memberikan buket bunga Lily favorite Emu dan sebuah surat berpita putih kepadanya.


"Dari siapa?" Emu bertanya lagi kepada Airi.


"Haduh masa masih bertanya pengirimnya sih? Tentu saja Pangeran hatimu!" Goda Airi seraya mengedipkan mata kepada Emu membuat Emu merasakan panas di wajahnya.


"Ah, Airi-san~~! jangan menggodaku seperti itu!" Emu mengerucutkan bibirnya kepada Airi karena menggodanya terus disambut dengan tawa kecil dari Airi.


"Baiklah, Arigatou sudah repot-repot membawakannya ya! Sampai jumpa nanti!" Akhirnya Emupun pamit dan pergi meninggalkan Airi menuju ruangannya.


Emu tersenyum melihat buket bunga Lily yang dikirimkan oleh Date kepadanya. Emu berjalan seraya membaca pesan yang Date buat untuknya.


***Tidak terasa sudah 4 bulan hubungan ini kita jalani dengan penuh sukacita. Tidak pernah ada hari yang melelahkan untuk sekedar mengucapkan aku sangat mencintaimu dan merindukanmu. Untukmu bunga terindah yang pernah aku miliki, aku akan terus menjagamu dan membuatmu selalu bahagia disampingku. I LOVE YOU                  


From:


-Date pria yang beruntung memilikimu***-


Emu tertawa kecil membaca pesan yang Date buat untuknya. Entah mengapa selama 4 bulan ini waktu berjalan begitu cepat. Date selalu bisa membuatnya tersenyum dengan sikap romantisnya. Selalu mendukungnya ketika dia lelah dan membutuhkan pundak untuk bersandar. Memberikan perhatian untuk hal-hal kecil dan masih banyak lagi. Emu merasakan jiwanya telah terisi kembali, lukanya perlahan tapi pasti mulai sembuh. Seakan kini dia menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. 


Emu membuka pintu ruangannya  dan mendadak ada tangan yang menariknya ke tembok lalu mengunci ruangannya itu.


"Date-san! Kamu mengagetkanku saja!" Tegur Emu seraya mencubit pipi sang kekasih hati.


Date tertawa geli ketika Emu mencubit sayang pipinya. Dia membalasnya dengan mencubit hidung Emu lembut lalu mengalihkan pandangannya ke arah buket bunga yang dipegang oleh Emu.


"Sudah menerimanya ya? Bagaimana? Apakah nona manis menyukainya?" Tanya Date seraya mengambil buket bunga yang dipegang Emu lalu melemparnya ke atas meja Emu.


"Date-san~~! Kenapa bunganya malah dilempar?! Kalau rusak bagaimana?!" Emu mengerucutkan bibirnya kesal.


Date tertawa kecil lalu dia meraih pinggang Emu dan memeluknya.


"Kalau bunganya tidak kulempar ke meja nanti malah rusak ketika nona manis pegang!?" jawab Date seraya menatap wajah imut Emu yang merajuk. 


"Memangnya kena-mpphmmm" belum selesai Emu menyelesaikan kalimatnya bibir Date sudah dengan bebas melumat bibir pink Emu.  Date mendorong Emu hingga terdesak ditembok dan semakin mengeksplorasi bibir Emu yang penuh dan ranum. Emu melingkarkan tangannya ke leher Date dan membalas ciuman Date bergairah. 


"Mpphm Da-date-san! Nan-nanti a-ada ya-yang me-lihat" ucap Emu terbata-bata karena Date tidak mau melepaskan ciumannya.


Date menghentikan ciumannya dan menatap Emu dengan antusias.


"Tenang saja! Aku sudah mengunci pintunya!" Date kembali melanjutkan sesi ciuman yang terhenti. Date mulai menciumi leher Emu dengan agresif, apalagi Emu mengeluarkan suara erangan kecil yang menurutnya sangat imut tapi juga sexy untuk didengar. 


Wajah Emu yang memerah karena panas yang tercipta membuat Date semakin kehilangan kendali atas dirinya. Date menarik jubah dokter yang dipakai Emu dan melemparkannya dengan kasar. Tangannya menarik pinggul Emu dan menggendongnya ke arah meja kerja dan mendudukkan Emu diatasnya. Nafas Emu semakin terengah, namun dia perlahan-lahan berusaha mengendalikan dirinya.


"Mpph, Date-san! Shiftku belum selesai. Jika nanti ada yang mencari bagaimana?" Ucap Emu berusaha menahan keinginan Date untuk melakukan lebih malam itu.


Date masih menciumi leher dan pundak Emu tidak menghentikan dan berpura-pura tidak mendengarkan Emu  berbicara. 


Emu mencoba tetap sadar dan tidak hilang kendali walaupun Date semakin agresif mengeksplor tubuh ramping Emu. Begitu Date mencoba melucuti pakaian yang Emu kenakan, Emu menahan tangan Date dan menggelengkan kepalanya.


"Aku mohon Date-san. Aku belum siap!" Ucap Emu dengan wajah menyesal memohon kepada Date.


"Oh, Ayolah Emu-chan!" Erang Date yang terlihat kecewa. Selama ini Emu memang tidak pernah mau melakukan hubungan fisik selain berciuman saja. Emu merasa dia masih belum siap untuk ketahap itu dan sudah sering menolak jika Date menginginkan lebih. 


"Gommenne, Date-san! Aku benar-benar belum siap!" Emu meminta maaf kembali kepada Date yang terlihat kesal kepadanya. 


Date menghela nafas panjang dan berat. Tiba-tiba saja dia pergi dari ruangan Emu tanpa mengucapkan satu patah katapun. Perasaan kecewa terlihat jelas di wajahnya. Emu yang melihat Date pergi meninggalkannya begitu saja, merasa tersakiti. Selama 4 bulan menjalin kasih, setiap Emu menolak melakukan lebih Date selalu mengerti. Tapi mengapa sekarang dia terlihat marah sekali?


Emu segera merapikan pakaiannya dan membereskan mejanya. Ketika melihat buket bunga dan surat yang diberikan Date ada perasaan sakit kali ini. Kecewa dengan sikap Date yang tidak mau mengerti dirinya dan kecewa karena Date ternyata tidak sedewasa seperti pikirannya.


Setelah selesai membereskan ruangannya. Emu mengambil handphone dan mengirimkan pesan kepada Date.


***Gommenne sudah merusak suasana hatimu tadi. Aku mohon mengertilah.


-Emu***-


Beberapa menit tidak mendapatkan jawaban dari Date, Emu memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu berlebihan. Biarkan saja dia tenang dulu setelah itu dia akan mengajak Date bicara dari hati ke hati. Emu mengambil I-Pad-nya dan melihat daftar pasien yang harus dia check malam ini dan memulai tugasnya kembali.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


Pukul 03:00 pagi Shift  Emu telah berakhir. Emu berjalan menuju parkiran tempat biasa Date mengantar dan menjemputnya. Parkiran terlihat sepi dan Date tidak terlihat menjemputnya. Emu menghela nafas panjang, sepertinya Date kali ini benar-benar marah kepadanya dan mulai mengacuhkannya. 


"Emu?" terdengar seseorang memanggilnya yang membuat Emu tersentak kaget. Bukan karena Emu takut akan hantu atau benda gaib lainnya. Hanya saja suara itu adalah suara orang yang hampir tidak pernah dia dengar lagi selama hampir 7 bulan. Emu menoleh dan benar saja pemilik suara itu ternyata-


"Hiiro-san?" Emu terlihat gugup ketika melihat Hiiro muncul dan menyapanya.


"Mau pulang?" tanya Hiiro seraya mendekati Emu yang mematung tidak bisa bergerak.


"Ehm, Iya. Aku baru mau pulang!"


"Bolehkah aku mengantarmu? Tidak baik wanita pulang sendirian!" Ucap Hiiro lagi yang membuat Emu semakin gusar.


"Arigatou Hiiro-san! Tapi aku bisa pulang sendiri. Tidak apa-apa!" Emu menarik nafas dan berbalik arah hendak pergi meninggalkan Hiiro.


"Tunggu! Aku mohon, ijinkan aku mengantarmu pulang!" Emu menoleh ketika tangan Hiiro menahannya untuk pergi. Matanya terbelalak, terkejut dengan sikap Hiiro kepadanya. 


Apa maksudnya?


"Sungguh Hiiro-san! Aku bisa pulang sendiri. Jangan khawatirkan aku!" jawab Emu seraya mencoba melepaskan tangannya dari Hiiro. Namun bukannya dilepaskan pegangan Hiiro semakin kuat dan akhirnya Hiiro menarik Emu dalam pelukkannya.


"Apa maksudmu Hiiro-san! Aku mohon lepaskan aku!" Emu meronta dan berusaha melepaskan pelukkan Hiiro tapi Hiiro tidak mau melepaskannya. Emu terisak merasa tersakiti. 


Setelah sekian lama dia berjuang melupakan Hiiro. Kenapa dia datang lagi dan menghancurkan semua pertahanannya.


"Gommenne Emu! Aku sudah menyakitimu!" Ucap Hiiro tetap memeluk Emu dengan erat.


"Untuk apa semua ini Hiiro-san? Apa kamu  mencoba mempermainkan hatiku? Kamu pergi dan datang begitu saja dan tidak sadar jejak luka yang kamu torehkan kepadaku? Sadarkah kamu?" Isak Emu mencoba mendorong Hiiro agar berhenti memeluknya.


"Kamu jahat Hiiro-san! Sekarang lepaskan aku!" Emosi Emu semakin memuncak. Dia merasakan Hiiro hanya berusaha mempermainkan perasaanya saja.


"Tidak! Aku tidak ingin melepaskanmu kali ini!" ungkap Hiiro dengan mata berkilat. Hiiro mencium bibir Emu dengan cepat tanpa bisa ditolak oleh Emu. Emu tersentak dan mendorong Hiiro dengan sekuat tenaga membuat mereka terjatuh ke tanah.


Hiiro menatap Emu dengan wajah gusar. Dia sendiri tidak percaya dengan apa yang dia lakukan pada Emu saat ini. 


"Gommenne Emu! Melihatmu bersama dengan laki-laki lain ternyata menyakiti perasaanku! Aku juga tidak tahu mengapa! Aku hanya merasa bodoh karena perasaanku padamu ternyata lebih dari sekedar teman biasa. Katakanlah aku pria paling bodoh didunia karena terlambat menyadari jika kamu adalah wanita yang teramat berharga bagiku!" ucap Hiiro meninggikan suara karena frustasi harus mengakui semuanya kepada Emu.


Emu terdiam dan menundukkan kepala. Hiiro memang jahat kepadanya. Mengapa dia mengakui perasaannya ketika Emu sudah hampir melupakannya. Mengapa dengan mudahnya dia datang dan membuka pintu cinta Emu yang telah dikunci rapat untuknya. Mengapa?


"Jangan kau ganggu kekasihku DOKTER BRENGSEK!!!!" Date datang menghampiri Hiiro dan mencoba memukulnya, Emu berlari kencang dan berusaha menahan Date dengan memeluknya.


"Kumohon Date-san! Jangan sakiti Hiiro-san!" Pinta Emu seraya menangis sesunggukkan. Date menghentikan pukulannya terhadap Hiiro.


"Sekali lagi aku melihatmu mendekati Emu, Aku akan membunuhmu! Camkan Itu!" 


"Dan kamu! Sudah kubilang kamu milikku! Takkan kubiarkan ada pria lain menyentuhmu!" Mata date berkilat dengan liar. Dia mengancam Hiiro dan mulai bertindak kasar kepada Emu. Dia menarik Emu menjauh dari Hiiro yang terlihat marah melihat Date memperlakukan Emu dengan kasar.


"Date-san! Sakit! Lepaskan tanganku! Aku bisa berjalan sendiri!" Keluh Emu kepada Date yang menarik tangannya dengan kasar.


 Emu bisa merasakan pergelangan tangannya seperti terjepit karena Date terlalu kuat menggenggamnya. Date tidak mengacuhkannya malah semakin kuat menggenggam tangan Emu yang kecil itu. Sesampainya di mobil, Date memasukkan Emu ke dalam mobil dengan kasar dan menutup pintu mobilnya dengan kencang membuat Emu terkejut dan ketakutan.


Emu meringis memegang pergelangan tangannya . Genggaman tangan Date benar-benar melukai pergelangan Emu. Date tidak memperdulikannya, bahkan Date semakin marah ketika Emu mengeluh kesakitan.


"Kamu! Aku akan menghukummu karena kamu sudah mencoba mengkhianati aku!" bentak Date kepada Emu.


Emu tidak percaya dengan apa yang dia lihat! Kemana Date yang dulu romantis dan lemah lembut? Kemana Date yang selalu tersenyum dan memberikannya kehangatan setiap mengalami kesulitan? Kemana Date yang selalu melindunginya setiap dia merasa lemah. Emu menatap Date seperti tidak mengenal lagi sosok kekasihnya.


Date memacu mobilnya dengan kencang, membuat Emu ketakutan setangah mati. Emu memohon kepada Date untuk memperlambat laju mobilnya namun semakin Emu memohon, semakin kencang Date memacu kendaraannya. Emu akhirnya menyerah dan hanya menutup matanya dengan kedua tangannya dan menahan nafas ketika Date memacu kendaraanya dengan kasar.


Date membawa Emu menuju ke Apartemennya. Dengan kasar Date menarik tangannya dan melemparkannya ke ranjang kamar Date. 


"Teriak sekencang apapun, tidak akan ada orang yang mendengarmu wanita jalang!!!" Emu tersentak ketika Date memanggilnya wanita jalang.


Seumur hidup Emu, tidak pernah ada seorangpun memanggilnya dengan kata-kata kasar seperti itu. Bahkan orang tuanya yang mencampakkannya saja tidak pernah berbicara seperti itu.


"Wanita jalang? Semudah itukah kamu mengatakan aku seperti itu Date-san?! Kamu pikir aku wanita murahan?!" Emosi Emu tersulut karena perkataan Date. Dia tidak terima jika Date menyebutnya sebagai wanita Jalang.


"Aku tidak suka kamu mengatai aku sebagai wanita jalang! Aku mau pulang sekarang!" Emu berjalan menuju pintu kamar namun Date menghadangnya.


"Malam ini kamu tidak akan kemana-mana! Aku bilang kamu adalah milikku! Jadi aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya!" Suara Date terdengar semakin berat dan gelap. 


Date mendorong Emu hingga terjatuh ke lantai. Lalu dengan kasar mengikat tangan dan kaki Emu dengan tali yang sudah dia siapkan. 


"Da-date-san, Aku mohon! Lepaskan aku!" Emu terisak dan ketakutan. Apa yang ingin Date lakukan kepadanya.


"Teruslah memohon! Tapi aku tidak akan memberimu ampun malam ini!" Date menatap tajam ke arah Emu lalu menggendongnya menuju ranjang.


Tubuh Emu bergetar ketakutan. Dia menangis sejadi-jadinya dan memohon Date untuk melepasnya. Namun Date tidak mau mendengarnya. Tiba-tiba saja Date menampar Emu keras membuat sudut bibir Emu terluka. Tidak berhenti disitu Date mulai melucuti semua pakaian yang Emu kenakan hingga mengekspos seluruh tubuh Emu yang putih dan ramping.


Dengan mata liar Date menciumi seluruh bagian tubuh Emu dengan kasar. Emu hanya bisa merintih kesakitan karena selama Date menciuminya dia juga menjambak rambut Emu dan tidak senggan memukul bagian tubuh Emu. Emu hanya bisa menangis dan berteriak memohon  agar Date menghentikan perlakuan tidak manusiawinya. Tapi nihil, Date semakin memperlakukan Emu seperti sebuah boneka pemuas nafsu saja. Pagi ini kamar Date menjadi saksi bagaimana kejamnya Date merenggut kehormatan Emu sebagai seorang gadis dan menjadi saksi bagaimana terlambatnya Emu mengetahui sifat Date yang sebenarnya. 


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


Siangnya Emu terbangun dengan penuh kekacauan. Kejadian fajar tadi memberikan trauma yang mendalam pada dirinya. Dia menyelimuti badannya dengan selimut yang ternoda oleh darahnya. Emu  meringkuk ketakutan. Dia hanya ingin pulang sekarang. Dia tidak ingin berada di tempat ini. Dia tidak ingin bertemu dengan Date lagi. 


Pintu kamar terbuka membuat Emu terkejut dan bersembunyi dibalik selimut. Date datang membawa nampan berisi makanan dan kotak P3k. Dia membuka selimut yang dipakai Emu menyelimuti tubuhnya dan menemukan Emu yang gemetar menahan tangis. Ketika Date mendekatinya Emu dengan susah payah menepis tangannya dan mengigit bantal ketakutan. Date menghela nafas berat lalu meraih Emu kedalam pelukkannya. Emu meronta tapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Selain itu pelukkan kali ini berbeda dengan pelukkan fajar tadi. Pelukkan Date kali ini seperti pelukkan yang Emu kenal. Hangat dan menenangkan.


"Maafkan sikapku, Emu-chan! Aku sungguh menyesalinya! Tidak seharusnya aku lepas kendali seperti tadi! Aku hanya takut kamu meninggalkanku Emu-chan! Aku tidak sanggup!" Ucap Date meminta maaf kepada Emu.


Emu tidak bisa berbicara apa-apa. Dia hanya terisak dalam dekapan Date. Dia sudah terlalu lelah untuk berdebat dan berbicara. Suaranya sakit karena berteriak terus menerus. Dia hanya ingin pulang dan tidur di kamarnya sendiri bukan di kamar yang membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat.


"A-a-ku mau pu-pulang!" cicit Emu hampir tidak terdengar.


"Aku akan mengantarmu pulang, sayang! Tapi sebelum itu mari kita bersihkan dirimu dulu dan mengobatimu!" Ucap Date lalu menggendong Emu ke kamar mandi dan membantunya membersihkan diri. 


Setelah membersihkan diri Emu terlihat seperti manusia tanpa jiwa. Dia hanya terdiam dan membiarkan Date mengobati luka-luka yang dideritanya. Walaupun sesekali terlihat butiran halus air mata menetes dari sudut matanya.


"Lebih baik kita tidak bertemu lagi sementara waktu, Date-san!" ucap Emu tanpa ekspresi.


Date memeluk tubuh Emu dan menangis, Emu tidak memperlihatkan emosi apapun di wajahnya. Hanya air mata yang mengalir tanpa henti menghiasi pipinya.


"Aku mohon Emu-chan! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Aku benar-benar mencintaimu dan takut kehilanganmu! Aku mohon berikan aku kesempatan." Isak Date seraya memeluk emu dengan erat.


"Benarkah kamu mencintaiku, Date-san? Atau aku hanya boneka bagimu yang bisa kamu perlakukan seenaknya ?" ucap Emu lirih.


"Sungguh aku mencintaimu Emu-chan! Tidak ada wanita yang bisa menggetarkan hatiku hanya kamu seorang!" 


"Jika kamu ingin meninggalkanku aku akan membunuh diriku sendiri!" Ucap Date seraya mengambil sebuah kotak di lemarinya yang ternyata berisi sebuah revolver yang membuat Emu menjadi panik.


Date menodongkan pistol itu ke arah pelipisnya di depan Emu.


"Aku tidak main-main Emu-chan! Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu! Jika kamu meninggalkan aku mungkin lebih baik aku bunuh diri!" Date menatap tajam Emu yang ketakutan meilhat Date memiliki senjata api. 


"Baiklah! Aku tidak akan meninggalkanmu! tapi dengan syarat!" Ucap Emu putus asa.


"Apa syaratnya?" Ucap Date bersemangat.


"Jangan pernah kamu mengulangi perbuatanmu yang tadi kepadaku dan jauhkan pistol itu darimu!" Akhirnya Emu mengajukan syarat yang dibalas anggukan oleh Date.


Date memeluk Emu lagi dan mengucapkan kata cinta untuknya. Untuk saat ini Emu hanya bisa berharap Date bisa berubah dan kembali menjadi Date yang dia kenal sebelumnya. Namun Emu tidak mengetahui bahwa ini baru saja menjadi awal tragedy dalam hidupnya.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


You can't play on broken strings


You can't feel anything that your heart don't want to feel


I can't tell you something that ain't real


Oh the truth hurts and lies worse


How can I give anymore


When I love you a little less than before


-James Morrison ft Nelly Furtado - Broken Strings -