Breathless

Breathless
Chapter 18: The Unforgettable Sound




Suara deruan baling-baling helikopter yang beradu dengan angin malam saat itu ─menciptakan hembusan angin kuat yang mampu menghentikan tarian kecil api yang tersisa akibat dari ledakan besar tadi. Tidak sembarang helikopter yang sedang mengunci lokasi untuk pendaratan kala itu. Sebuah helikopter type Bell 412EP  yang sering dipakai oleh pemerintah Jepang dalam misi khusus dengan gagahnya menapak di pusat area halaman gudang. Ketika pintu helikopter itu dibuka oleh seorang pria ─atau lebih tepatnya seorang pasukan khusus bersenjata, Kuroto yang pada saat itu memutuskan bersembunyi, menahan nafas dan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa orang yang berada dibalik 'capung besi' raksasa itu.


Kuroto yang kini tengah memperhatikan siapa yang mendatangi gudang milik Date hanya bisa membelalak mata terkejut ─mencoba menyangkal apa yang indera matanya tangkap. Kelompok pertama yang muncul merupakan gerombolan pria yang tengah menenteng senapan serbu dengan memakai pakaian lengkap diyakini merupakan anggota SAT milik pihak kepolisian. Dibelakang mereka, kelompok kedua muncul─yang terlihat merupakan orang-orang yang memiliki power lebih di negara ini. Mereka adalah Hagino Takashi, seorang politikus dari salah satu partai terbesar yang menguasai jepang sekaligus konglomerat pemilik industri yang memproduksi senjata api. Kuroto sering melihat wajah itu berseliweran di televisi, namun yang menarik perhatian Kuroto adalah nama itu pernah disebut oleh Shinosuke sebagai ayah kandung dari orang yang tengah mereka incar, Date. Satu lagi sosok lagi yang membuat Kuroto tidak habis pikir adalah Kamishiro Heizou, seorang Komisaris polisi─sosok central yang tidak disangka ikut dalam semua hal yang tidak masuk akal ini.


"SHIT! Pantas saja pihak kepolisian tidak memihak kami!" Kuroto dengan ekspresi skeptisnya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan terhadap hukum di negeri ini yang jatuh ketangan aktor-aktor politik penjilat supremasi .


Uang dan kekuasan bisa membutakan pandangan orang tentang keadilan sesungguhnya. Kuroto sendiri terkadang tidak bisa mengerti arti keadilan sesungguhnya jika konsep KKN tumbuh lebih subur dalam lingkungan yang katanya menjadi wadah dari keadilan. 


In the end, it's only bullshit!


Kuroto tanpa membuang waktu segera mengendap-endap menuju ke dalam gedung. Dia tidak mungkin bisa melawan sekelompok anggota SAT dengan senjata lengkap. Dia tidak berencana untuk mati dalam waktu dekat ini─yah, walaupun dia tahu resiko apa yang dia tanggung ketika mendedikasikan dirinya untuk mengikuti misi ini. Mati adalah pilihan paling akhir yang mereka miliki jika semua tidak berjalan sesuai dengan yang mereka harapkan.


Ketika Kuroto memasuki area dalam gudang susana ternyata lebih rumit dari yang dia kira. Hiiro dan Date tengah berduel dengan intensnya tanpa memperdulikan apa yang terjadi disekitar mereka. Bisa dibilang mereka bertarung karena alasan yang sama namun dengan cara pandang yang berbeda. Kuroto bisa melihat jika Date lebih unggul dari segi kekuatan, namun Hiiro dalam segi startegi dan kecepatan tidak bisa dipandang remeh. Bahkan keduanya kini tengah berada dalam posisi menghirup oksigen yang sudah tidak bersih disekitar mereka untuk sekedar bernafas mengumpulkan tenaga. Tentu saja pertarungan intens itu telah menguras tenaga mereka, apalagi mereka tidak mengenal kata menyerah dalam kondisi saat ini.


Disisi lain Shotaru, Pallad dan Kiriya melawan sosok yang dilihat oleh Kuroto ketika melakukan penyerangan pertama kali. Kuroto yakin pria tinggi besar itu merupakan salah satu orang penting yang dipercaya oleh Date. Kuroto bisa membaca dia bukanlah orang sembarangan. Kuroto yakin ketiga temannya itu telah dibuat kerepotan dalam menghadapinya dia seorang saja. Kuroto mengarahkan senjatanya kearah pria itu dengan waspada, lalu dengan langkah hati-hati mendekati Shotaru yang tengah meliriknya.


"Apa kamu baik-baik saja Shotaru?" bisik Kuroto yang telah berdiri tepat disamping Shotaru─pria itu hanya membalas dengan senyum setengah hati tanpa melepaskan pandangannya dari pria tinggi besar yang menodongkan kedua senjatanya kearah yang berbeda─ lebih tepatnya ke arah Shotaru dan kedua kawannya yang lain, Kiriya dan Pallad.


"Wah, wah! Ternyata bertambah satu tikus lagi masuk dengan sukarela ke dalam perangkap ya!" seringai mengejek tercetak jelas di wajah tegas milik Fujita.


Ekspresi Kuroto mengeras, beraninya pria itu menyebutnya sebagai seekor tikus. Emosi meluap dari dalam dirinya. Tanpa berpikir panjang dan tergesa dia menembakkan senapannya kearah Fujita, namun dengan mudah dihindari oleh pria tinggi besar itu yang langsung melompat ke arah yang berbeda dari bidikan Kuroto, menyebabkan peluru yang Kuroto muntahkan melesat bebas kearah yang tidak terduga.


Fujita menembakkan senjatanya ke arah Kuroto dan Shotaru, keduanya berguling kearah yang berbeda menghindari serangan cepat Fujita. Percikan bunga api dari kedua senjata yang dipegang oleh Fujita masih jelas tercipta, muntahan peluru melayang ke arah keduanya yang mulai berlindung pada pilar-pilar besi besar yang ada dalam gudang tersebut. Shotaru dan Kuroto berupaya menyerang balik tapi mereka sadar Kiriya dan Pallad ada di jalur tembakan mereka. Jika mereka menembak, keduanya bisa saja terkena.


"Woi! Kalian berdua! Jangan diam saja! Segera cari Emu!" Shotaru dengan suara setengah berteriak, segera memberikan perintah kepada Kiriya dan Pallad melalui alat komunikasi yang mereka gunakan.


Kiriya dan Pallad memberikan sinyal dengan anggukan cepat. Perhatian Fujita yang kini berada pada Shotaru dan Kuroto memberikan mereka celah untuk segera berlari menuju lantai dua gudang ini. Kuroto dan Shotaru yang memperhatikan Kiriya dan Pallad yang menyelinap menuju lantai dua mulai bernafas lega. Mereka telah keluar dari jalur tembak mereka, kini saatnya melakukan serangan balik.


Disisi lain Hiiro dan Date berlutut terengah. Tenaga keduanya terkuras habis akibat duel panjang yang mereka lalui. Wajah mereka kini tidak hanya dihiasi peluh keringat, jejak darah dan goresan luka terlihat jelas di keduanya. Tidak mengherankan, berduel tanpa terluka merupakan hal mustahil bagi siapapun pelakunya.


Fisik mereka telah terkena imbasnya. Namun satu hal yang tidak berubah dari mereka berdua.  Tekad mereka masih tetap menyala, bahkan semakin membara.


"Kamu tidak akan menyerah begitu saja kan, tuan muda Kagami? " ucap Date perlahan berdiri dan menatap tajam Hiiro yang masih berlutut mengumpulkan energi.


"Tidak perlu aku jawab, kamu sudah tahu jawabannya!" Hiiro menjawabnya dengan nada ketus seraya menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Mengapa kamu begitu keras kepala!? Satu-satunya orang yang akan membahagiakan Emu hanya aku! No one else!" seru Date frustasi dengan sikap keras kepala Hiiro.


Bukankah dulu Hiiro yang mencampakkan Emu? Mengapa kini dia bersikeras mendapatkannya kembali?


"Cih! Kamu hanya membawa kesengsaraan padanya! Sadarlah BRENGSEK!" balas Hiiro dengan ekspresi wajah mengeras. Ucapan Date terdengar tidak masuka akal baginya.


Bahagia? Bukankah Date yang memperlakukan Emu tidak manusiawi? Lupakah dia?


Sedetik berikutnya muntahan timah panas berdesing di area gudang. Kuroto, Shotaru dan Fujita kini beradu senjata api. Suara bisingnya mengejutkan Hiiro dan Date yang akhirnya saling menjauh dan memutuskan menghentikan duel alot mereka. Kini mereka berlari menghindari amukan peluru  dan berlindung menyelamatkan diri.


"SHIT! Fujita! Apa yang kau lakukan? Kalian mengganggu!" bentak Date seketika ketika dia berhasil berlari kearah Fujita untuk berlindung dari tembakan pihak lawan.


"Maafkan saya Date-sama! Tapi mereka menyerang terlebih dahulu!" ucap Fujita disela tembakan balasan yang dia lancarkan.


Date kemudian mulai menggerutu dan melihat senjata miliknya tergeletak di lantai gudang. Ya, dia baru sadar jika telah melepaskan semua senjata miliknya ketika memutuskan berduel dengan sang dokter bedah. Date mengumpat kesal, dia berencana berlari mengambil senjatanya namun lokasi senjata miliknya masih dalam lintasan peluru yang berlari bebas.


Sedetik kemudian tilikan Date dan Hiiro bertemu. Dari sorot mata kedua bisa dibaca, mereka mempunyai rencana yang sama—meraih senjata dan ikut dalam duel senjata. Kedua pria itu dalam waktu yang seragam, mengambil langkah seribu berupaya meraih senjata mereka. Fujita, Kuroto dan Shotaru dengan reflek mengganti jalur tembakan mereka untuk melindungi kedua pria yang tengah menggapai senjata mereka.


Ketika keduanya telah menggapai senjata mereka, suara tembakan beruntun yang dilepaskan ke udara terdengar dibelakang mereka. Suara tegas terdengar memerintahkan mereka semua mengangkat tangan dan menurunkan senjata mereka di lantai. Semua orang menoleh dan terkejut ketika selusin pasukan khusus pihak kepolisian menodongkan senjata ke arah mereka.


Kuroto menelan ludah, bagaimana mungkin dia bisa lupa memberi tahu teman-temannya jika mereka telah kedatangan tamu tidak diundang. Pada akhirnya di merutuki kebodohannya dan kini pasrah dengan nasib yang akan mereka hadapi.


Ketika senjata mereka telah direbut oleh pasukan khusus dan dengan cepat mereka diringkus oleh pihak SAT, salah satu anggota memberikan sinyal dengan tangannya dan berteriak "Semua AMAN! "


Dua orang dengan berpakaian setelan jas hitam rapi muncul memperlihatkan wajah mereka.


"Daddy!" Date berteriak senang ketika mendapati sang ayah yang datang membawa bantuan. Bukan karena dia lelah akibat duel yang alot, tapi perasaan lega karena Emu akan segera dibawa ketempat yang aman.


Fujita mendekati Date lalu memberikan hormat kepada kedua orang pria yang kini berjalan dengan tegap ke arah Date. Takeshi menepuk pundak anaknya dengan lembut, lalu mengalihkan pandangannya kepada ketiga penyusup yang kini telah diborgol dan diringkus oleh pihak SAT.


"Wah! Aku tidak menyangka kalian begitu nekat mendatangi kandang macan untuk mengantar nyawa!" ucap Takeshi dengan tatapan tajam nan angkuh kearah Hiiro, Kuroto dan Shotaru.


"Dan lihat! Siapa yang tertangkap dengan mudah! Shotaru? Aku tidak menyangka kau mengkhianatiku?!" sorotan tajam Takeshi yang mendominasi membuat Shotaru gentar untuk sementara. Tatapan intimidasi Takeshi seakan menekan Shotaru.


Namun tatapan kekecewaan terlihat jelas dimata Shotaru ketika melihat Heizou berada tepat disamping Takeshi. Heizou sang pimpinan tertinggi di kepolisian yang dia sangat hormati. Sosok petinggi yang dia anggap pahlawan karena telah meringkus lusinan penjahat kelas kakap dan selalu menekankan prinsip keadilan untuk masyarakat luas.


Apa itu hanya manipulasi yang dia buat untuk anak buahnya? Apakah dia salah satu tokoh yang turut andil dalam konspirasi kotor ini?


Kini rasa hormat Shotaru menguap begitu saja, hanya tersisa perasaan yang terkhianati—begitu membekas.


.


.


.


.


.


"LEPASKAN KAMI BRENGSEK!" teriak Hiiro dengan bibir bergetar menahan luapan emosi. Sorot mata kebencian dan amarah terlihat jelas diwajahnya.


Date dan Hagino menatap Hiiro dengan tatapan prihatin namun mengejek. Ucapannya bahkan tidak dapat memprovokasi keduanya. Apalagi posisi Hiiro yang kini terbelenggu tidak berdaya.


"Aku tidak tahu jika dokter jenius sekelas anda bisa berkata kasar seperti ini? Sepertinya Direktur Kagami tidak sempat mengajarkan sopan santun kepada putra kesayangannya ya?!" tutur Hagino  dengan seringai meremehkan yang memicu emosi Hiiro semakin meluap.


Dokter muda itu berusaha bangkit hendak menyeruduk kedua ayah anak tidak berperasaan itu namun Fujita dengan cepat menendang punggungnya membuat Hiiro tersungkur mencium lantai.


"Cepat bawa mereka semua!" perintah Heizou kemudian menatap Shotaru dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti olehnya.


"Sepertinya kita harus berbicara empat mata!" ucap Heizou setengah berbisik kepada Shotaru tanpa memandangnya yang kemudian ditanggapi dingin oleh Shotaru.


Beberapa saat kemudian ketika pasukan SAT hendak membawa pergi Hiiro, Kuroto dan Shinosuke. Perhatian mereka terpecah ketika mereka mendengar suara histeris yang menggema berasal dari lantai dua setelah bunyi tembakan beruntun terlepas.


Kepanikan tercetak diwajah mereka. Tanpa menggubris yang lain Date berlari kencang terlebih dahulu disusul oleh Fujita, Takeshi dan Heizou, sedang Hiiro, Kuroto dan Shotaru hanya bisa melihat mereka berlalu dengan gusar. Pasukan SAT  tak memberikan mereka kesempatan untuk bergerak untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.


Semoga bukan hal yang buruk!


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


Kiriya dan Pallad berlari menuju lantai dua dengan nafas memburu. Mereka berlari seraya menenteng handgun dengan sikap siaga. Kedua pria itu masih belum tahu kondisi disana. Mereka hanya waspada jika saja ada serangan mendadak kearah mereka. 


Benar saja, ketika mereka berdua muncul dari balik tangga. Dua pria yang menjaga sebuah ruangan yang Kiriya dan Pallad yakini adalah tempat Emu berada langsung menyerang mereka dengan tembakan cepat. Kiriya dan Pallad dengan gesit menghindar, namun peluru yang menuju Kiriya menyerempet pipi dokter eksentrik itu menyebabkan luka goresan panjang.


"Kiriya!" Pallad menarik Kiriya menuju sebuah lemari baja terlantar yang tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri. 


"Tenang Pallad! Hanya tergores!" ucap Kiriya cepat seraya menyeka darah yang mengalir dari goresan luka yang menghiasi pipinya kini. Pallad dengan tatapan kesal mengalihkan pandangannya kearah kedua pria yang menjadi pelaku penyerangan.


"Siapa kalian?" Teriak pria yang paling pendek sambil menodongkan senjatanya kearah Pallada dan Kiriya yang berlindung dibalik lemari baja.


"Jangan coba-coba mendekat! " ancamnya lagi kemudian mulai menjauhi pintu tempat ruangan Emu berada. 


Pallad dan Kiriya melepaskan tembakan bersamaan dari balik lemari. Salah satu tembakan mengenai salah satu pengawal yang yang berpostur tinggi tegap hingga membuatnya terjatuh kelantai. Pengawal itu meringis, merasakan rasa sakit pada dadanya. Beruntung dia mengenakan rompi anti peluru, membuat muntahan pelurus tajam itu tidak sampai menembus jantungnya. 


"Mihara-san!" pria yang lebih pendek meraih pria yang terkena tembakan lalu membawa berlindung dibalik pilar. 


Melihat kedua pria itu menjauh dari pintu ruangan akibat tembakan yang Kiriya dan Pallad lancarkan, Kiriya mengambil kesempatan untuk segera berlari kearah pintu dengan backup dari Pallad. Namun sebelum mereka sampai, entah mengapa pengawal yang bertubuh pendek itu dengan gesit menerjang Pallad yang lebih tinggi darinya hingga keduanya jatuh berguling bersama.


"Pallad!" Kiriya mencoba menolong Pallad, namun dihadang oleh Mihara yang tadi sempat terkena tembakan. Kiriya terkejut, manusia seperti apa mereka, gerakan mereka bahkan tidak terdeteksi dengan cepat oleh Kiriya dan Pallad. Bahkan Mihara dapat segera bangkit walaupun masih merasakan sakit pada dadanya akibat tembakan tadi.


Pergulatan jarak dekat akhirnya tidak terelakkan. Kiriya dan Mihara dengan tangan kosong saling melayangkan bogem mentah. Sedang Pallad dan pria dengan postur tubuh pendek yang diketahui bernama Kusaka saling berebut handgun yang kini berada di tangan Pallad. Pergumulan mereka menyebabkan tidak sadar jika pintu ruangan telah terbuka dengan tergesa.


"Hentikan!" teriak Emu membuat Kusaka terkejut, Pallad menepis senjata itu. Tapi sayang pelatuk senjata itu terlanjur ditekan sehingga memuntahkan timah panas ke arah pintu ruangan tempat Emu berdiri. Emu hendak menghindari peluru yang diterbang bebas, namun ketika mendengar suara Reiko memnaggil namanya dan mendekati pintu itu Emu mendorong Reiko menjauh dan melindungi wanita paruh baya itu dari peluru yang melesat.


"OH TIDAKK! EMU-CHAN!!" Reiko yang melihat Emu terjatuh akibat terkena tembakan dibahu kanannya menjerit histeris. 


Reiko meraih tubuh mungil Emu yang kini bersimbah darah dengan kalut. Keempat pria yang bergulat tadi secara reflek mendekati Emu yang tergeletak dipangkuan Reiko. 


"Oh, Tuhan! Sayang, bertahanlah!" Air mata Reiko mengalir deras melihat Emu yang meringis kesakitan dengan nafas tersendat.


"Mmpph..Re-reiko-san, ba-baik sa-saja kan?" suara terbata Emu yang dipaksakan membuat Reiko semakin histeris. 


"Jangan bicara dulu Emu-chan!" isak Reiko seraya mengelus rambut Emu yang bersimbah keringat dingin.


"Emu!!!" Kiriya  mendekati Emu dengan gusar. Dia segera mengechek luka tembak yang ada pada bahu kanan Emu dengan seksama. Emu hampir kehilangan kesadarannya akibat darah yang tidak berhenti  mengalir. 


"NO. ...NO! Lihat aku! Tetaplah sadar!" Kiriya menekan luka tembak yang diderita oleh Emu, berupaya mencegah darah mengalir semakin banyak. 


"Oh Tuhan! Darahnya semakin banyak!" Reiko menjerit semakin kalut, membuat Kiriya dan Pallad semakin gugup. 


"Emu-chan?! EMU-CHAN!!" Date yang muncul dari arah tangga menjadi sangat kalut melihat Emu tergeletak dengan luka tembak. Dalam sekejab  emosinya memuncak dan tidak terkendali. 


Tanpa bertanya apa-apa, Date berlari lalu menghantamkan pukulan kepada Mihara dan Kusaka yang dia percaya untuk menjaga Emu. Terlihat kekecewaan yang teramat sangat kepada kedua orang kepercayaannya itu. Mihara dan Kusaka hanya bisa diam dan menringis kesakitan setelah tangan besar Date melayang bebas di wajah mereka. Mereka tidak menghindar karena mereka sadar ini adalah kesalahan mereka. 


"MINGGIR KALIAN ! BRENGSEK!" Date mendorong Kiriya dan Pallad yang berada didekat Emu dengan tidak sabar.  Pallad dan Kiriya tidak berkutik. Mereka berdua juga merasakan rasa bersalah. Mereka merasa jika mereka juga ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. 


"Hey, sayang! Bertahanlah kumohon!" ucap Date seraya meraih tubuh Emu yang dari Reiko yang masih terisak. 


"Da-date-san..mphmmp'" Bibir peach Emu mengucapkan nama Date terbata dan lemah. 


Date membuka rompi anti pelurunya. Lalu melepaskan kemeja yang dia pakai. Dengan tergesa dia merobek kemeja itu menjadi kain panjang kemudian tanpa menolak bantuan Kiriya yang segera mendekat membantu,  mereka segera melakukan pertolongan pertama. Kiriya dan Date membebatkan kemeja milik Date pada luka Emu. Ketika Kiriya memperbaiki ikatan kemeja yang menjadi pengganti perban itu, Date menekan luka Emu agar perban darurat mereka bisa membebat dengan kencang dan menghentikan pendarahan untuk sementara.


Sementara Heizou dengan alat komunikasinya kemudian memerintahkan agar pilot helikopter menyalakan mesin untuk keadaan darurat. Takashi mendekati sang istri yang masih tidak bisa mengendalikan tangisannya dan membantunya bangkit lalu memeluknya dengan erat seraya membisikkan kata-kata menenangkan untuk Reiko.


"Ini semua SALAH KALIAN!" bukannya menjadi tenang, emosi Reiko malah semakin meningkat. Dia mendorong Takeshi yang terkejut dengan amarah sang istri.


"KEEGOISAN KALIAN TELAH MENYAKITI EMU-CHAN!"


"PUAS KALIAN!!!"


"Puas kalian!!! Tolong hentikan ini semua! Tolong! Aku mohon! Cukup! " isak Reiko membuat semua orang yang ada diruangan itu hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. 


"Reiko?!" Takeshi mendekati Reiko lalau memeluknya dengan erat.


"Tolong Takeshi-san! Aku mohon! Aku lelah dengan semua ini!" ucap Reiko terisak dalam dekapan Takeshi.


Date hanya terdiam seraya menggigit bibir bawahnya, matanya begitu nanar melihat Emu yang masih meringis kesakitan dengan nafas yang hampir terputus-putus. Bahkan untuk berbicara saja, bibir mungil itu sangat payah ketika mengeluarkan suara. Dia membopong Emu dengan segera mengikuti Heizou yang memberikan info jika helikopter telah siap lepas landas. Takeshi, Reiko dan Fujita serta Mihara dan Kusaka mengikuti dengan segera. Sedangkan Kiriya dan Pallad berusaha menghubungi Shinosuke dengan alat komunikasi mereka


"Shinosuke! Shinosuke! Jawab aku brengsek! " ucap Kiriya dengan tidak sabar karena Shinosuke tidak juga menjawabnya.


Begitu suara Shinosuke terdengar dari seberang. Kiriya tanpa basa-basi langsung memberitahukan tragedy yang baru saja terjadi.


"Emu! Emu! Dia tertembak!" ucap Kiriya dengan suara bergetar


"Aku tidak bisa menjelaskannya! Kejadiannya begitu cepat! " ucapnya lagi.


"Lebih baik kalian langsung menuju rumah sakit! Kita bertemu disana!"  ucap Kiriya lalu menutup alat komunikasi mereka dan berlari bersama Pallad menyusul Date dan lainnya.


.


.


.


.


.


.


Date muncul dari tangga lantai dua dengan membawa tubuh Emu yang kini terkulai lemas di gendongannya. Hiiro, Kuroto dan Shotaru yang meilhat keadaan Emu tidak bisa menyembunyikan kekalutannya. Hiiro memberontak meminta untuk segera dilepaskan. Namun pihak SAT tidak mengindahkannya. Date hanya melirik Hiiro cepat.


"Bebaskan mereka!" ucapnya singkat.


Heizou memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menuruti perintah Date. Sedetik kemudian mereka melepaskan belenggu yang ada ditangan Hiiro, Kuroto dan Shotaru. Date tanpa menghentikan langkahnya masih terus berlari menuju arah pintu keluar. Hiiro mengejar Date berusaha mengikuti pria itu demi melihat kondisi Emu. 


Sesampainya diluar mereka disambut dengan deruan mesin helikopter yang telah siap membawa Emu menuju rumah sakit. Salah satu awak helicopter dibantu Heizou membawakan Basket Stretcher untuk meletakkan tubuh Emu agar aman ketika dibawa. 


Date membaringkan tubuh Emu dengan hat-hati, Heizou kemudian mengikat sabuk pengaman agar tubuh Emu tidak terguncang. Heizo, Date, Hiiro dan Takeshi bekerjasama membawa tubuh Emu yang telah diletakkan ditandu darurat itu dengan hati-hati.


"Helikopter ini hanya bisa mengangkut 13 penumpang! Sisanya lebih baik menunggu sampai helikopter selanjutnya yang akan datang 10 menit lagi!" ucap Heizo dengan suara keras yang terdengar samar karena deruan baling-baling helikopter.


Pasukan SAT memutuskan menunggu helikopter kedua, untuk kloter pertama diisi oleh Date, Heizou, Takeshi, Reiko, Hiiro berserta kawan-kawan dan ketiga pengawal kepercayaan Date. Begitu pintu helikopter ditutup dan mulai mengudara, hanya deruan mesian helikopter dan tangisan Reiko yang mendominasi. Selebihnya mereka hanya terdiam dengan gelisah, melihat Emu yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya kini. 


Date dan Hiiro terlihat paling terpukul dengan kejadian ini. Tidak seharusnya seperti ini. Tidak seharusnya Emu menderita lagi. Tidak seharusnya.


Date menutupi wajahnya dengan kedua matanya. Dia begitu frustasi dengan semua ini.  Dia berusaha menyembunyikan matanya yang panas. Dia tidak ingin orang lain melihatnya menjadi sangat hancur.


Seandainya dia tidak penah menyakiti Emu, pasti saat ini Emu telah bahagia bersamanya.


Hiiro tidak jauh beda. Namun dia tidak setegar Date, air mata telah perlahan meleleh dipipinya. Penyesalan menguasai hatinya. Jiwanya seakan berteriak karena sakit yang dia rasakan sekarang. 


Seandainya dia tidak pernah mematahkan hati Emu, pasti saat ini Emu tengah tersenyum menghabiskan waktu bersamanya.


Namun satu hal yang pasti kini, hanya penyesalan yang mereka semua rasakan. Keegoisan mereka telah merenggut kebahagiaan orang yang mereka cintai. Kini mereka tidak bisa membalikkan waktu dan merubah apa yang terjadi, mereka hanya berharap kesempatan kedua agar dapat memperbaiki semuanya. Memberikan kebahagian yang pantas untuk Emu dan menghentikan penderitaan yang telah mereka berikan kepadanya.


Kumohon Tuhan! Berikan kami kesempatan kedua!


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


*I will dedicate and sacrifice my everything


For just a second's worth of how my story's ending


And I wish I could know if the directions that I take


And all the choices that I make won't end up all for nothing


Show me what it's for


Make me understand it


I've been crawling in the dark looking for the answer


Hoobastank - Crawling In The Dark*


◈◈◈◈◈◈◈◈◈◈


Note


Bell 412EP Merupakan sebuah helikopter utilitas (helikopter serbaguna yang dapat mengisi peran seperti serangan darat, serangan udara, logistik, evakuasi medis, komando dan transportasi) bermesin ganda yang diproduksi oleh Bell Helicopter. Bell 412EP sendiri merupakan versi dari Bell 412 yang telah disempurnakan dengan mesin P&WC PT6T-3DF. Mampu memuat hingga 13 penumpang dengan 2 awak.


The Special Assault Team, SAT ( 特殊急襲部隊 , Tokushu Kyushu Butai ) adalah unit taktis polisi dari kepolisian Jepang. Mereka didirikan di Departemen Kepolisian Prefektur utama yang diawasi oleh Badan Kepolisian Nasional. SAT sendiri adalah aset anti terorisme tingkat nasional.


Supremasi (sup.re.ma.si) /suprémasi/ menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah kekuasaan tertinggi (teratas).


Basket Stretcher merupakan tandu darurat yang berbentuk seperti keranjang. Terdapat strap yang berfungsi untuk menhan korban sekaligus menjadi pelindung ketika dipindahkan. Tandu ini biasanya dipakai dalam evakuasi tentara atau korban di daerah yang sulit. Tandu ini memang tandu yang paling cocok untuk kondisi darurat yang menggunakan helikopter sebagai alat pengangkutnya.