Breathless

Breathless
When We Believe




10 tahun kemudian


"Hiiro-san! Haruka-chan!"


"Makanan sudah siap! Ayo, makan dulu sebelum makanannya dingin!" seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam legam berteriak memanggil seorang pria berambut cokelat dan seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun.


Keduanya orang yang tengah bercengkrama di taman belakang hunian itu serempak menoleh ketika mendengar nama keduanya dipanggil. Senyum cerah terpasang di wajah keduanya, mereka berteriak serempak mengucapkan kata 'ya' dan kemudian bergandengan menuju arah sang wanita yang tetawa cekikikan melihat interaksi keduanya.


Ketiganya kemudian berjalan beriringan menuju ruang makan yang sengaja di design dekat dengan taman bunga yang dirawat dengan telaten oleh pemilik rumah. Sang gadis cilik mengendus antusias ketika hidungnya mulai dimanjakan oleh aroma masakan yang kini memenuhi udara di seluruh ruang makan itu.


Begitu melihat menu makanan yang disajikan, mata bulat itu berbinar kekanakan. Salmon panggang dengan cepat menarik perhatiannya.


"Mama, Haruka lapar!" gadis cilik itu menoleh kearah sang ibu seraya membuat gerakan memutar tangannya di perutnya menandakan jika dia memang sedang kelaparan.


"Lihatlah Mam! Haruka-chan sepertinya sudah tidak sabar ingin melahap semua makan yang tersedia karena kelaparan!" Hiiro menggoda sang gadis cilik seraya menoel ujung hidung Haruka dan tertawa. Haruka mengembungkan pipinya, mulai merajuk karena ejekan dari Dokter Jenius itu membuatnya semakin menggemaskan.


Emu tertawa lagi lalu meraih tubuh mungil sang gadis cilik dan menggendongnya menuju kursi makan khusus miliknya yang lebih tinggi dari kursi lainnya. Kursi yang membuat gadis cilik itu bisa duduk dengan nyaman dan meraih meja makan dengan seimbang.


Sejurus kemudian Emu kemudian mengambilkan makanan diatas piring keduanya. Mata bulat berbinar milik sang gadis cilik berubah menjadi tatapan horror ketika sang ibu menyendokkan porsi besar brokoli ke atas piringnya.


"Mama! No!" teriaknya seraya memukul meja dengan tangannya yang tengah menggenggam garpu.


"Brokoli tidak enak! Haruka tidak suka!" tambahnya lagi kemudian melepaskan garpunya—menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu memasang ekspresi jijik—tidak suka.


Hiiro dan Emu yang melihat ekspresi Haruka tidak bisa menahan tawa geli mereka. Emu menusuk-nusuk pipi gembil sang anak dengan ujung telunjuknya—gemas.


"Haruka-chan!" tegur Emu dengan suara lembut.


"Brokoli itu makanan yang baik dan enak loh" imbuh Emu kemudian mengambil satu potong brokoli dengan garpunya, menunjukkan kepada Haruka dan memakannya dalam satu suapan seraya membuat wajah menikmati rasa dari makanan yang baru saja dimakannya. Sedang Haruka mengernyitkan dahi seraya menjulurkan lidahnya dengan ekspresi jijik—membayangkan jika betapa tidak nikmatnya brokoli yang baru saja masuk ke dalam mulut ibunya.


"Haruka-chan ingat kartun yang ditonton bersama Mama kemarin?" tambahnya diiringin tatapan penuh tanda tanya sang gadis cilik.


"Tweety?" ucap Haruka seraya memiringkan kepalanya dengan wajah innocent penuh tanya. 


Tweety salah satu tokoh kartun favoritenya yang selalu menemani disetiap sore. Tokoh kartun yang berbentuk burung kenari kecil berwarna kuning itu sukses menarik hati sang putri kecil hingga membuatnya memiliki boneka burung kecil itu dengan berbagai ukuran.


"Iya!" Emu menjeda sedikit kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang putri lalu melanjutkan kalimatnya, "ingat apa yang dikatakan oleh Tweety kemarin?"


"Tweety tidak suka jika ada anak yang tidak mau makan sayuran. Tweety tidak mau berteman dengannya. Haruka tidak ingin dibenci oleh Tweety kan?" tutur Emu mengingatkan salah satu episode yang ditonton oleh mereka diikuti tatapan serius dari Haruka yang juga sedang berusaha mengingat setiap scene percakapan yang dilakukan Tweety ketika dia menontonnya.


"Kalau Haruka mau makan sayur, Haruka bisa berteman sama Tweety ya, Ma?" tanya Haruka dengan mata membulat namun alis bertautan membentuk wajah serius namun sangat menggemaskan.


"Tentu saja!" ucap Emu menganggukkan kepala dengan senyum lebar lalu menyikut lembut Hiiro yang terkekeh melihat ekspresi Haruka, "Iya kan?"


"Mama berkata benar Haruka-chan! Tweety pasti mau berteman dengan Haruka-chan!" ucap Hiiro ikut meyakinkan sang gadis cilik yang mulai terlihat berpikir dengan wajah merengut.


"Lagipula, bukankah Haruka-chan ingin menjadi dokter seperti Papa dan Mama kan?" tambah Hiiro lagi kemudian mengelus pucuk kepala Haruka,


"Jika Haruka tidak mau makan sayur, Haruka tidak akan cukup sehat untuk menjadi Dokter!" ucap Hiiro kemudian memasang wajah sok serius kepada Haruka.


"Benarkah?" tanya Haruka dengan mata bulat berbinar menatap Hiiro dan Emu secara bergantian. Hiiro dan Emu saling melepar pandangan. Sedetik kemudian mereka berdua mengangguk mantap tanpa keraguan di hadapan si gadis cilik.


"Okay! Haruka mau makan brokolinya!" ucapnya mantap diikuti sorakan gembira dari Emu dan Hiiro.


.


.


.


.


.


Setelah selesai menyantap makan malamnya, ketiganya menuju ruang keluarga menemani Haruka yang tengah menggambar seraya beberapa kali menanggapi pertanyaan atau celotehan si gadis cilik itu. 


Hiiro sesekali mencoba menggoda si gadis cilik ketika wajahnya terlihat fokus dengan kegiatan yang dilakukannya. Membuat si gadis cilik kesal lalu merajuk— mengadu kepada sang ibu.


Pintu utama berderit—Suara langkah berderap. Sosok pria tegap yang memakai setelan jas dengan menenteng tas kerja hitam muncul dibalik pintu ruang keluarga. Ketiganya menoleh dan tersenyum secara bersamaan.


"Aku pulang!" ucap pria itu membalas senyum ketiganya dengan lebar.


Gadis cilik dengan mata berbinar kekanakan menyunggingkan senyum lebar. Dia bangkit dari tempat dia terduduk lalu berlari ke arah pria tegap yang telah merentangkan kedua tangannya menanti disambut oleh sang gadis cilik.


"Papa!!" seru Haruka lalu melompat kedalam pelukkan sang ayah dengan manja.


Pria itu terkekeh lalu mengecup pipi gembil sang putri—gemas. Emu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pria tegap yang baru saja datang. Tetap menggendong Haruka dengan tangan kanannya, pria itu meraih pinggang Emu dengan tangan kirinya lalu mengecup keningnya. Emu tersipu malu lalu meraih tas yang dipengang oleh sang pria.


"Selamat datang, sayang!" ucap Emu tersenyum lagi.


Hiiro yang memandang keluarga kecil itu hanya bisa tersenyum penuh arti. Sedikit canggung harus melihat kemesraan mereka, namun ada rasa senang melihat interaksi yang mereka tunjukkan.


Mereka sungguh keluarga kecil yang sangat hangat dan manis. 


Sejurus kemudian Pria itu menurunkan sang putri lalu menghampiri Hiiro yang duduk memperhatikan interaksi keluarga kecil seraya meminum teh yang disuguhkan oleh Emu. Tersenyum—sang pria kemudian menjulurkan tangan kerah Hiiro.


"Direktur Kagami"


"Direktur Date"


Hening sesaat kemudian mereka saling berjabat tangan dengan tatapan serius. Namun sedetik kemudian mereka berdua tergelak tertawa dan mulai berpelukkan seraya menepuk pundak satu sama lain —akrab. Emu menggeleng heran kemudian tersenyum menyaksikan interaksi kedua Dokter Bedah yang kini telah menjadi Direktur Rumah Sakit juga.


Keduanya kini memang telah menjabat sebagai Direktur di Rumah Sakit yang mereka tempati. Hiiro menjadi Direktur di Rumah Sakit Seito menggantikan ayahnya yang kini telah pensiun dan menikmati masa tuanya. Sedangkan Date menjadi Direktur di Rumah Sakit Hagino, salah satu Rumah Sakit Swasta di New York yang dibangun oleh sang ayah Takashi Hagino. 


"Sudah menunggu lama, Hiiro?" tanya Date kemudian duduk bersebelahan dengan Hiiro dan memulai obrolan mereka.


"Ah, tidak juga! Lagipula menunggu lamapun aku tidak mempermasalahankannya!" jawab Hiiro tersenyum lagi.


Date menghembuskan nafas lega, ada perasaan tidak enak karena meninggalkan tamu jauh yang datang mengunjunginya. Rapat dadakan dewan Rumah Sakit membuatnya terpaksa harus pergi di hari offnya dan membatalkan acara jalan-jalan yang dia dan keluarganya rencanakan untuk menyambut kunjungan Hiiro di New York.


New york?


Ya, setelah bebas dari penjara dan kemudian menikahi Emu. Keduanya sepakat untuk menetap di New York untuk membuka lembaran baru. Selain itu mereka juga bertujuan untuk melanjutkan terapi yang dilakukan oleh Dokter pribadi Date. Awalnya keputusan Emu sempat ditentang oleh kawan-kawannya. Mereka tidak rela jika harus berjauhan dengan Emu. 10.844 km bukanlah jarak yang pendek untuk ditempuh oleh mereka. Bahkan Kyotaru Hinata juga keberatan dengan keputusan yang diambil oleh Emu.


Setelah perdebatan yang alot. Terpaksa— mereka akhirnya  menerima keputusan Emu. Sifat keras kepala Emu membuat mereka tidak berkutik. Pasrah, mereka hanya bisa berharap yang terbaik untuk kehidupan Emu selanjutnya.


"Papa~~"


Sejurus kemudian Haruka merengek meminta duduk dipangkuan sang ayah. Date mengangkat tubuh mungil putrinya dan memangkunya. Selanjutnya ketiga orang dewasa di ruangan itu mulai asyik mendengarkan celotehan dari sang gadis cilik. Tertawa—mereka begitu menikmati moment yang terjadi secara alami saat itu.


Sesaat kemudian Emu membujuk sang putri yang terlihat sudah mengantuk untuk segera tidur. Tapi sepertinya sang putri mewarisi sifat keras kepala Emu, dengan mengembungkan pipinya dan mengoceh cepat gadis cilik itu tidak menuruti permintaan sang ibu. Tetap menempel  erat dengan sang ayah, Haruka bersikeras tetap bersama sang ayah dan menolak rayuan sang ibu untuk segera tidur walaupun matanya telah sayu.


Cekikikan—Date dan Hiiro tergelak melihat Emu berusah payah membujuk sang gadis kecil. Emu kemudian menatap tajam kedua pria yang kemudian menelan ludah melihat kekesalan Emu. Sejurus kemudian, Date ikut merayu sang putri agar segera menuruti sang ibu untuk segera tidur dengan iming-iming boneka yang dia inginkan. Haruka melirik sekilas kepada sang ayah dengan mengerucutkan bibirnya, mendengar penawaran sang ayah. Dia mulai tertarik tapi masih belum bergeming.


Date dan Emu menoleh ke arah Hiiro, memberi isyarat untuk membantu mereka. Hiiro akhirnya ikut  melakukan penawaran kepada sang gadis cilik. Hiiro menjanjikannya akan membelikan boneka lainnya dan tentu saja seporsi besar ice cream yang boleh dimakan Haruka sendirian. 


Tersenyum lebar penuh kemenangan, Haruka mengangguk dengan cepat kemudian mengulurkan kedua tangannya kepada sang ibu agar Emu meraihnya dan menggendongnya. Emu kemudian mengambil Haruka dari pangkuan Date dan menggendongnya. Gregetan—Emu mulai mencubiti lembut pipi sang putri diikuti cekikikan dari sang putri. Date dan Hiiro saling melempar pandangan, mereka menyungingkan senyum kecil. Seperti nya mereka memiliki pemikiran yang sama. Sifat Emu dan Haruka ketika merajuk hampir  tidak ada bedanya. 


Setelah mendapat kecupan selamat malam dari Date dan Hiiro, Harukapun dibawa oleh Emu menuju kamarnya. Kedua pria itu kemudian memperhatikan Emu yang berjalan keluar ruangan hingga menghilang dari pandangan mereka, meninggalkan keduanya saja.


"Menikmati New York, Hiiro?" Date membuka pembicaraan seraya menyeruput teh yang telah disediakan oleh Emu untuknya.


"Ah, maafkan aku membuat jadwal yang terlalu padat untukmu!" Date menyatukan kedua tangannya dan membuat gerakan meminta maaf dengan wajah yang sungkan.


"Tidak perlu sungkan, aku juga menyetujuinya bukan? Jadi jangan dipikirkan!" sanggah Hiiro lalu membuat isyarat dengan gerakan tangannya juga.


Hiiro datang ke New York pada dasarnya tidak hanya untuk mengunjungi Emu dan Date. Ini merupakan permintaan Date secara pribadi dan secara profesional sebagai Direktur di Rumah Sakit yang di pimpinnya. Date meminta Hiiro untuk menjadi pembicara di konfrensi Dokter Bedah yang Date adakan dan Hiiro dengan cepat langsung menyetujuinya. 


"Lagipula, ini kesempatanku juga untuk bertemu dengan kalian dan tentu saja Haruka-chan!" imbuhnya lagi menyeringai ke arah Date.


Hiiro juga memang terlihat antusias untuk menemui Haruka. Apalagi terakhir dia bertemu sang gadis cilik ketika Haruka masih berusia 1 tahun. Kesibukkannya dan jarak yang cukup jauh membuatnya tidak bisa sering mengunjungi keluarga kecil itu. Entah mengapa Hiiro sudah terlanjur sayang dengan putri cilik dari Emu dan Date.


Setelah itu Hiiro mulai bertanya tentang keadaan dan kabar dari orang tua Date. Reiko dan Takashi tentu tidak pernah absen mengunjungi ketiganya. Apalagi semenjak kehadiran Haruka yang mengubah Takashi menjadi sosok yang lebih lembut.


Reiko dan Takashi tetap menetap di Jepang dan mengurus kerajaan bisnis mereka yang enggan dikelola oleh Date. Putra mereka memilih untuk tetap menjadi Dokter yang membuat Takashi akhirnya membangun Rumah Sakit untuk Date kelola. Mereka sendiri mengunjungi Date dan keluarga kecilnya setiap akhir bulan bahkan pernah setiap akhir pekan karena mereka selalu merindukan celoteh dari cucu kecil mereka.


Date juga menceritakan jika tidak hanya kedua orang tua mereka yang sering mengunjungi mereka. Kyutaro Hinata yang kini telah pensiun dari jabatannya sebagai Menteri Kesehatan juga sering mengunjungi mereka. Kyotaru tidak bisa disangkal merupakan salah satu sosok yang telah mereka anggap sebagai bagian keluarga mereka. Bukan hanya karena Kyotaru dan Emu sangat dekat. Tapi Kyotaru juga merupakan sosok pengganti ayah bagi Emu. Terlebih lagi ketika Emu menikah, Kyotarulah yang mendampingi Emu menuju altar pernikahan.


"Lalu, apakah teman-teman lain pernah mengunjungi kalian? Aku tebak pasti Nico yang paling sering mengunjungi kalian!" tebak Hiiro seketika mengingat jika Nico memang kini juga telah menetap di Amerika.


"Oh, tentu saja! Nico-chan selalu datang hampir setiap weekend untuk bermain dengan Haruka-chan!" 


Date kemudian menceritakan jika Nico yang kini tinggal di Connecticut selalu datang membawakan banyak mainan untuk Haruka. Jarak antara New York dan Connecticut yang hanya terpaut 1 jam lebih membuat Nico tidak pernah lelah mengunjungi mereka. Terkadang Nico juga datang bersama Taiga jika Dokter Radiologi itu mengunjunginya. Keduanya biasanya akan meminta ijin Date dan Emu untuk mengajak Haruka berjalan-jalan di taman bermain atau game center terdekat.


Kuroto dan Pallad juga pernah mengunjungi mereka, namun tidak sering. Kesibukan mereka sering menghambat rencana mereka untuk mengunjungi Emu, Date dan Haruka. Mereka mengunjungi ketiganya jika kebetulan mereka mengadakan event di New York. Sedang Kiriya dan Poppy mengunjungi mereka setiap liburan Natal dan Tahun baru. 


"Bagaimana denganmu Hiiro?" 


"Aku?" Hiiro tertawa kecil ketika Date mulai beranjak ke pertanyaan yang lebih pribadi, "tidak ada yang berubah! Hanya umur saja yang semakin bertambah."


"Benarkah?" Date terlihat menelisik kearah Hiiro, Hiiro tersenyum kecut ketika menyadari arah pembicaraan mereka. 


"Maafkan aku Date, sejujur aku masih bisa belum bisa—" Hiiro mendesah berat, kedua alisnya beradu menatap Date dengan hati-hati, "hm, you know  what I mean right?!"


"I know!"  jawab Date kemudian menepuk pundak Hiiro beberapa kali.


Waktu terus bergulir dengan cepat, Hiiro masih sendiri belum menemukan tambatan hati yang tepat. Hiiro selama ini tenggelam dalam kesibukannya hingga melupakan, jika dia belum memberi kesempatan untuk dirinya membuka hati untuk orang lain. 


"Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan wanita yang tepat untukmu, Hiiro!" ucap Date dengan ekspresi serius—optimis.


"Yah, aku harap juga seperti itu!" Hiiro menimpalinya dengan penuh harap juga. 


Dia yakin setiap orang diciptakan untuk memiliki pasangan untuk mengarungi kehidupan di dunia ini. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menemukannya. 


"Kamu sungguh beruntung Date!" ungkap Hiiro kemudian, "Emu adalah wanita yang sangat hebat!"


Date menghela nafas disela senyumnya, tangannya menggaruk pelan pelipisnya beberapa kali. Bayangan ketika Emu dengan gigih mengunjungi dirinya hampir setiap hari ditahanan dan menunjukkan jika dia bersedia mendampingi Date hingga bebas membuat hati sang pria luluh. Awalnya Date menginginkan Emu melupakannya, agar dia bisa meraih kebahagiaanya dengan orang lain. Apalagi setelah tragedy itu , Date merasa dia tidak pantas untuk mendampingi Emu. Tapi setiap melihat keyakinan yang ditunjukkan oleh Emu dan rasa cinta yang masih tidak bisa dihilangkan begitu saja membuat pria itu akhirnya tidak bisa mengabaikan Emu masuk kembali kedalam kehidupannya. 


Kini dia sangat bersyukur atas kehadiran Emu yang telah melengkapi hidupnya.


Obrolan malam mereka bergulir begitu saja selanjutnya. Terdengar suara gelak tawa diantara keduanya. Suasana penuh keakraban layaknya kawan lama yang tengah melepas rindu setelah sekian lama tidak berjumpa kental terasa. Hingga dentingan jam ditengah malam berbunyi menyadarkan keduanya jika malam semakin larut.


"Sepertinya sudah terlalu larut!" ungkap Hiiro kemudian mengecheck jam tangannya, "aku sepertinya harus kembali ke hotel!"


"Lebih baik kamu menginap disini, Hiiro! Kami masih memiliki kamar ekstra untuk tamu!" Date menawarkan Hiiro untuk menginap di rumahnya, "lagipula, ini sudah larut malam dan pasti kamu juga sudah lelah!"


"Ah, terima kasih atas tawarannya, Date!" Hiiro menggelengkan kepala menolak penawaran Date, "aku sudah terlalu merepotkan kalian dengan berkunjung seharian disini!" 


"Tidak perlu sungkan Hiiro, rumah kami selalu terbuka untukmu! Bukankah kita telah menjadi keluarga?" tutur Date membuat hati Hiiro semakin hangat.


Ah keluarga! Keluarga yang sangat berharga!


Hiiro kemudain bangkit dari tempat duduknya disusul oleh Date. Hiiro mengambil mantelnya dan berjalan bersama Date menuju pintu keluar. Begitu mereka  melewati tangga yang menuju lantai dua, mereka melihat Emu turun setelah selesai menidurkan sang putri kecilnya.


"Eh, Hiiro-san sudah mau kembali?" tanya Emu dengan wajah berkerut seraya berjalan mendekati Date dan Hiiro, "tidak menginap disini?"


"Terima kasih, Emu! Mungkin lain kali aku akan menginap jika waktu luangku lebih banyak!" jelas Hiiro seraya membuat janji kepada Emu.


"Baiklah kalau begitu, Hiiro-san!" Emu mengangguk pelan.


"Jaga dirimu baik-baik! Jangan lupa pakai mantelmu dengan benar, udara New York akhir-akhir ini sangat dingin di malam hari! Selain itu jangan lupa pakai syalmu dan sarung tangan agar tetap hangat!" Emu kemudian mulai berbicara cepat dengan memasang wajah penuh kekhawatiran mengundang desahan panjang dari Hiiro dan Date. 


Emu dengan mode khawatirnya selalu membuat mereka terheran hingga geregetan. Emu akan terlihat seperti ibu-ibu cerewet yang tidak bisa dibantah dan memperlakukan mereka seolah-olah mereka bukan orang dewasa.


"Iya, iya, cerewet! Hiiro pasti mengerti!" seru Date seraya menoel hidung Emu.


Emu mengerucutkan bibirnya—cemberut, "siapa yang kau panggil cerewet?"


Hiiro dan Date tergelak melihat tingkah Emu yang masih belum berubah. Date kemudian mengelus surai sang istri seraya merayunya agar tidak merajuk marah. Hiiro tersenyum ketika melihat pemandangan manis dihadapannya.


Mereka berdua memang pasangan yang manis. 


Hiiro menatap keluarga kecil itu dengan tatapan lembut penuh kebahagiaan. Tidak ada penyesalan menyergap dihatinya karena merelakan wainta yang paling dicintainya meraih kebahagian walaupun itu tidak bersamanya. Dokter Jenius yang terkenal dengan keegoisannya kini telah menanggalkan sifat arogannya dan tumbuh menjadi pria yang lebih hangat,  bijaksana dan dewasa.


Begitu juga Date, ketika dia menatap harta berharga yang dimilikinya kini. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, untuk menjadi pria yang lebih bertanggung jawab, dewasa dan tentu saja selalu berpikiran dengan kepala dingin. Tetap berpikir logis dan tenang hingga emosi dan setan yang pernah menguasai dirinya bisa ditekan dan tidak kembali lagi untuk menyakiti orang yang dia cintai. Baginya kini, melindungi senyuman mereka adalah prioritas yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Karena Emu dan Haruka telah banyak mengubah kehidupan kelam yang dimilikinya.


Emu sendiri tidak pernah berhenti bersyukur dengan segala yang telah terjadi padanya kini. Begitu banyak pembelajaran yang dia petik dari peristiwa masa lalu yang telah dia alami. Dia tidak menyesali keputusan yang diambilnya kini. Menurutnya kehidupan yang dilaluinya kini lebih dari sempurna dan tidak bisa tergantikan dengan apapun di dunia. Kini dia memiliki alasan lebih untuk tetap bertahan menjalani hidup, sekeras apapun cobaan datang menyapanya. Dia memiliki keluarga utuh yang selalu ada untuk dirinya.


Ketiganya kini saling berpandangan satu sama lain. Mungkin mereka mencoba membaca ekspresi satu sama lain dan perasaan apa yang dirasakan oleh masing-masing. Tapi satu hal yang kini mereka pikirkan adalah. Mereka bersyukur Tuhan mempertemukan mereka, walaupun itu diawali oleh tragedy yang hampir saja menyudahi kehidupan yang mereka miliki.


Muda, egois dan tidak berpengalaman dalam menghadapi masalah kehidupan adalah problematika yang dahulu mereka semua hadapi. Namun kini mereka menyadari, semua itu dalah proses seleksi alam untuk mengubah mereka menjadi sosok pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadikan mereka lebih menghargai setiap dentingan detik yang berdetak dalam jam kehidupan.


Senyum mengembang di wajah mereka. Hiiro berpamitan ketika taxi yang dipesannya telah sampai. Date dan Emu mengantar Dokter Jenius itu menuju taxi yang akan ditumpanginya. Saling berpelukan—mereka kemudian saling mengucapkan terima kasih. Hiiro memasuki taxi dan kemudian melambai kepada pasangan suami istri itu. Taxi melaju—Date dan Emu kemudian memperhatikan kendaraan itu perlahan menghilang dari pandangan mereka.p


Kemarin adalah sejarah, besok adalah sebuah misteri, hari ini adalah hadiah dari Tuhan yang sangat berarti. Untuk itulah Kejadian masa lalu mereka jadikan pembelajaran untuk meraih masa depan yang lebih baik.  Menjalani setiap hari yang diberikan Tuhan dengan sepenuh hati, itu pilihan yang harus dilalui. Ketika manusia bisa menjalani semua hal itu dengan baik, mereka yakin jika tidak impian dan harapan di dunia ini yang mustahil.


Seperti harapan mereka untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di kemudian hari. Bagaimanapun masa lalumu, kesempatan untuk memperbaiki diri pasti selalu ada jika kamu kehendaki. 


THE END


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


I still believe, I still believe,


A love so strong will carry on


You know there's so much to be seen


It's not the end let's start again


I still believe


A1 - I Still Believe


**BREATHLESS


DPRAKASANTI © 2019-2020


Please support other stories from my account! 


Thank you**!!!