
"SAYONARA MINNA!"
PRANK!!!
Emu melemparkan handphonenya ke arah jendela apartemennya hingga memecahkan kaca jendelanya. Dia sudah tidak peduli dengan dunia yang berputar sekarang ini. Dunia berputar meninggalkannya terpuruk ke dalam kehampaan. Membiarkannya terkurung dalam lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Kini yang dirasakannya hanya mati rasa. Cinta baginya kini hanya kebohongan besar dalam hidupnya.
Dengan langkah terseok-seok , Emu berjalan menuju kamar mandi yang entah mengapa butuh waktu selamanya untuk sampai kesana. Dia menatap dirinya yang terlihat menyedihkan pada cermin besar yang ada di dalam kamar mandinya. Tangannya perlahan menyentuh wajahnya putihnya yang dihiasi oleh beberapa luka lebam. Disudut bibirnya terdapat darah yang baru saja mengering, entah berapa kali sudut itu terluka di tempat yang sama dan rasa sakitnya semakin tidak tertahankan.
Kemudian matanya beralih menelusuri tubuhnya. Tubuh putih kurusnya kini juga dihiasi oleh berbagai macam luka yang melekat seperti tato. Tidak akan bisa menghilang dengan mudah. Seluruh tubuhnya kini seperti sebuah kanvas lukisan seniman gila yang membuat karya dengan cara brutal. Emu hanya menatap datar pantulan dirinya yang sangat kacau pada cermin besar itu.
"Mirror Mirror on the wall! Siapa kah wanita tercantik di dunia ini?" rintih Emu mengingat cerita dongeng favoritnya sewaktu kecil
Dongeng yang selalu membuatnya mengkhayal tentang Pangeran dengan kuda putih datang menyelamatkan putri yang tertidur dengan ciuman penuh cinta. Namun dongeng hanyalah dongeng, tidak ada pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya. Pangeran yang diharapkannya ternyata menjadi seorang algojo untuk kematiannya.
Emu berjalan lamban menuju bathup lantas menyalakan kran air dan shower secara bersamaan. Dia kemudian meringkuk dalam guyuran air yang mengalir terlampau deras. Dia ingin menangis sekencang-kencangnya namun air matanya telah kering dan tidak tersisa, telah surut bersama dengan matinya rasa di hatinya. Emu menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangannya menutupi wajahnya? Sudah tidak ada gunanya lagi menangis. Tidak ada orang yang mendengarnya. Tidak ada orang yang peduli padanya. Jiwanya seakan-akan menyalahkan semua orang orang atas nasib yang dialaminya. Bisakah dia memaafkan mereka? Bisakah dia memaafkan dirinya sendiri?
Air mengalir deras dari kran dan shower dan semakin tinggi mengisi bathup. Emu hanya terdiam, matanya meredup pandangannya kosong. Dia tidak berniat sama sekali untuk mematikan kran yang sudah memuntahkan air begitu banyak. Perlahan Emu mulai menenggelamkan dirinya ke dalam air. Ya! Tubuhnya telah benar-benar menyerah. Jiwanya telah memohon untuk dilepaskan ke dalam hitamnya pusaran kehidupannya. Ya, mungkin inilah akhirnya. Akhir dari hari penuh perjuangan. Selamat tinggal dunia! Selamat tinggal penderitaan!
❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️
"Kagami-sensei 5 menit lagi operasi dimulai!" salah satu perawat mengingatkannya dan dibalas dengan anggukan tanda mengerti dari Hiiro. Namun tiba-tiba dia melihat handphonenya dan terdapat pesan dari Emu. Dengan terburu-buru Hiiro segera membukanya dan membacanya.
Hiiro-san, maafkan aku jika hingga detik ini aku masih memiliki perasaan kepadamu. Aku kira aku bisa melupakanmu. Tapi ternyata perasaan itu tumbuh lagi dan semakin besar. Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku kepadamu. Aku menyukaimu Hiiro-san, sangat menyukaimu.
-Emu-
"Oh, Emu! andai kau tahu aku juga mencintaimu! Aku berjanji aku akan membebaskanmu dari **** itu!" guman Hiiro dengan perasaan marah mengingat sikap kasar Date kepadanya Emu dan mereka semua.
Baru saja Hiiro ingin membalas pesan Emu, salah satu perawat datang.
"Kagami-sensei, operasi segera dimulai!" ucap perawat.
"Ah, ya sebentar lagi!" Ucap Hiiro seraya tetap memegang handphonenya berniat membalas pesan Emu yang dikirim tadi.
"Sudah tidak ada waktu lagi, SENSEI!" Suara perawat itu sedikit menekan kepada Hiiro membuat Hiiro mendengus kesal dan akhirnya meletakkan handphone dan segera menuju ruang operasi. Hiiro memutuskan akan membalasanya setelah menyelesaikan operasi, lagipula ini hanya operasi kecil yang tidak akan memakan waktu lama.
Disisi lain Kiriya dan Pallad pergi menuju apartemen Emu setelah tidak menemukan apa-apa di apartemen milik Date. Apartemen dokter muda itu tidak begitu jauh dari apartemen Date, hanya sekitar 20 menit menggunakan mobil. Setelah menempuh setengah perjalanan sialnya mobil yang mereka kendarai tiba-tiba mengalami bocor ban.
"OH SIAL!" umpat Kiriya yang melihat ban mobil yang dikendarainya bocor.
"Oi Pallad tolong ambilkan ban serepnya di bagasi ya!" ujar Kiriya seraya mencari senter untuk membantunya melihat lebih jelas.
Pallad mengambil ban serep dan membantu Kiriya mengganti ban mobil yang bocor.
Setelah selesai mengganti ban Kiriya dan Pallad segera melanjutkan perjalanan mereka. Kiriya mengecheck handphone dan ternyata ada beberapa misscall dari Emu.
"Eh, Pallad! Emu menelpon tadi!" Kiriya hendak menelpon kembali namun ternyata handphonenya mati kehabisan daya.
"Sial!" Umpat Kiriya yang kesal kenapa handphonenya mati disaat yang tidak tepat.
"Oi, Pallad! Coba hubungi Emu!" pinta Kiriya seraya kembali fokus melihat jalan.
Pallad mengambil handphone di saku jaketnya dan tersenyum melihat ada pesan dari Emu namun sedetik kemudian ekspresinya berubah horror.
"KIRIYA! Sebaiknya kamu memacu mobilmu LEBIH CEPAT!" Pallad terlihat panik ketika membuka handphonenya dan kemudian memperlihatkan pesan terakhir yang dikirim Emu.
***SAYONARA MINNA
-Emu***-
Kiriya lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal dengan wajah gelisah.
Apa maksudnya ini? Kumohon bertahanlah Emu! Sebentar lagi kami datang! Kumohon! Kumohon!
❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️
BRAK!! BRAK!! BRAK!!!
Kiriya dan Pallad mendobrak pintu apartemen milik Emu. Ketika mereka datang pintu apatement itu terkunci rapat dan pengurus apartement yang membawa kunci cadangan sedang keluar. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat pemandangan mengerikan di apartemen kecil itu. Apartemen yang bisanya rapi terlihat sangat berantakkan. Barang-barang berserakan di lantai dan terdapat bekas gelas pecah dibiarkan begitu saja.
Pallad dan Kiriya kemudian segera berlari menuju kamar Emu. Mereka lebih terkejut lagi, kamar Emu lebih kacau daripada ruang utama apartemen. Tali putih berubah warna karena berlumuran darah tergeletak di kursi yang terjatuh di lantai. Ranjang yang berantakan memiliki jejak darah menetes di atasnya, sprei yang sudah tidak ada pada ranjang tergeletak di sudut ranjang berlumuran darah. Terdapat pecahan kaca jendela yang berserakan akibat terkena lemparan entah benda apa.
"EMU!!" Teriak Pallad putus asa ketika tidak mendapati Emu di dalam ruangan horror itu.
"Sial! Dimana Emu!" umpat Kiriya kesal dan merasa sakit ketika melihat kengerian yang disuguhkan oleh kamar dokter muda itu.
Sedetik kemudian mereka mendengar suara air yang mengucur deras dari arah kamar mandi. Mereka berlari cepat menuju arah suara air tersebut. Begitu sampai mata mereka tertuju pada air yang merembes dari celah pintu kamar mandi. Mereka mencoba membuka pintu sayangnya pintu itu juga terkunci. Dengan sekuat tenaga mereka mendobrak pintu yang terkunci itu.
BRAK!! BRAK!! BRAK!!!
Pintu terbuka dengan kasar dan mata mereka terbelalak tidak percaya dengan pemandangan mencekam yang mereka lihat!
"OH TUHAN! EMU!!" Kiriya menjerit histeris menghampiri Emu. Pallad terjatuh ke lantai dan mematung syok.
Tubuh Emu tenggelam di dalam bathup tidak bergerak. Kiriya segera menariknya keluar dari bathup dan membopongnya menuju kamar.
"OI PALLAD!! Bukan saatnya diam, brengsek!" Umpat Kiriya kesal melihat Pallad yang terlihat syok berat melihat Emu tenggelam.
Pallad memukul wajahnya sendiri dan berusaha menyadarkan diri kemudian berlari mengikuti Kiriya.
Kiriya membaringkan Emu di lantai dan menutupi tubuh Emu yang terekspos tanpa busana dengan selimut yang dia temukan disamping lantai.
"Ya Tuhan! Ya tuhan! DIA TIDAK BERNAFAS!" jerit Kiriya panik sambil melakukan pertolongan pertama kepada Emu.
"AYOLAH EMU!! AKU MOHON BERTAHANLAH!!!" Pekik Kiriya seraya menekan dada Emu lalu memberikan nafas buatan.
"AYOLAH! AYOLAH! AYOLAH!" Tak terasa airmata mengalir dari sudut mata Kiriya.
"OI PALLAD CEPAT TELPON AMBULANCE!" Teriak Kiriya frutasi, sedetik kemudian Pallad menelpon ambulance dengan suara bergetar.
Pallad yang melihat Emu terbaring tidak bernafas, menjadi sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar dan kemudian terisak. Tangannya bertautan satu sama lain memulai berdoa.
"Oh Tuhan! Selamatkan Emu! Aku mohon! Aku mohon! Aku belum siap kehilangan dia Tuhan!" pintanya seraya menangis seseunggukan.
"SIAL!! AYOLAH EMU!! KEMBALI PADAKU!! BANGUN EMU!!" Suara Kiriya terlihat sangat frustasi dan ketakutan.
Kiriya terus melakukan CPR agar bisa mengembalikan Emu lagi. Menyesal! Hanya itu yang dia rasakan sekarang karena tidak bisa melindungi Emu dengan baik. Mengapa dia begitu bodoh membiarkan ini semua terjadi. Mengapa dia tidak datang lebih awal sebelum semua ini terjadi. Dasar Kiriya BODOH! Kiriya kini tenggelam dalm penyesalan.
"Uhuk! uhuk! Uhuk" Emu terbatuk-batuk. Air keluar dari mulut dan hidungnya membuatnya tersedak. Dia memegang dadanya menahan sakit. Nafasnya sangat berat dan terlihat tidak sanggup untuk sekedar mengedipkan matanya.
"Oh Tuhan! Emu! Syukurlah! Syukurlah!" Kiriya meraih Emu ke dalam pelukkannya. Kiriya bisa merasakan tubuh Emu yang berguncang hebat menahan rasa lara. Kiriya menatap Emu dalam dan melihat wajahnya yang pucat memiliki luka lebam lebih banyak dari sebelumnya.
"Ya Tuhan! Manusia BRENGSEK seperti apa yang tega melakukan ini semua, Emu!" isak Kiriya semakin mempererat pelukkannya.
Pallad yang melihat Emu yang tidak berdaya dalam pelukkan Kiriya merasakan hal yang sama dirasakan oleh Kiriya. Pallad merasa menjadi manusia paling bodoh dan dungu karena tidak bisa menjaga Emu dari manusia kejam seperti Date. Seharusnya mereka bisa mencegah ini semua. Seharusnya mereka lebih peduli dengan perasaan Emu dan mendampinginya ketika dia membutuhkan mereka.
"Oh, Emu! Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika kamu mengalami ini semua! Maafkan aku! Maafkan aku!" isak Pallad menatap Emu dengan mata yang penuh dengan air mata.
Emu yang masih belum sepenuhnya sadar mendadak merasakan ketenangan yang nyaman. Dia seperti ditarik oleh sebuah tangan yang melepaskannya dari kegelapan yang berusaha membunuhnya perlahan. Sayup-sayup terdengar suara-suara yang memberikannya kekuatan untuk percaya jika Tuhan masih sayang padanya. Dia ingin membuka matanya namun tubuhnya masih terlalu lelah untuk memaksa kelopak matanya terbuka. Ya! Mungkin sekarang lebih baik dia beristirahat. Dia hanya ingin beristirahat sebentar. Melupakan kejamnya dunia yang mempermainkannya begitu lama. Tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Ya, saatnya tidur sebentar.
"Tuhan! Apakah Tuhan masih sayang aku? Apakah penderitaanku sekarang berakhir? Bolehkan aku tidur tenang sekarang?" rintih Emu dalam hati lalu tak sadarkan diri diiringi suara Ambulance yang datang membawanya pergi.
❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️
**You showed him all the best of you
But I'm afraid your best wasn't good enough.
And know he never wanted you at least not the way
You wanted yourself to be loved
And you feel like you were a mistake
He's not worth all those tears that won't go away
-Boyce Avenue- Broken Angel**-