
1 tahun yang lalu
"Hiiro-san, Ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kau menemuiku dia atap rumah sakit sekarang?!" Terdengar suara Emu yang menghubungi Hiiro melalui handphonenya tepat setelah Hiiro memasuki CR.
"Ada apa magang? To the point saja sekarang!" Jawab Hiiro yang terlihat lelah. Bagaimana tidak lelah, dia baru saja menyelesaikan operasi yang memakan waktu cukup lama dan sekarang hanya ingin duduk dan memakan sesuatu yang manis untuk menghilangkan penatnya.
"Aku mohon, Hiiro-san! Ini tidak akan memakan waktu lama! Aku janji!" rengek Emu kepada Hiiro yang membuat Hiiro menyerah.
"Baiklah! Baiklah! Tunggu aku disana!" Jawab Hiiro lalu menutup telponnya dan segera menuju ke atap rumah sakit.
***************************
Emu duduk menyender di sudut pinggiran gedung. Wajahnya terlihat gelisah. Jantungnya berdebar begiru kencang hingga rasanya susah untuk mengendalikannya. Emu memegang dadanya lalu berusaha mengatur nafasnya agar debaran jantungnya lebih teratur. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin melarikan diri dari tempat itu. Tapi kakinya terlalu lemas untuk melakukan hal itu. Apa dia bersembunyi saja dan membatalkan niatnya berbicara dengan Hiiro. Ya, sepertinya dia lebih baik segera bersembunyi sebelum Hiiro datang!
"Oi, Magang!" panggil Hiiro menghentikan langkah Emu yang berencana melarikan diri.
"Sial!" umpat Emu dalam hati ternyata langkah yang diambilnya terlambat. Emu menoleh ke arah Hiiro dan menyunggingkan senyum kaku terpaksa.
"Hi-hiiro-san! cepat sekali sampai disini!" tanya Emu gugup ketika melihat Hiiro datang dan mulai mendekatinya.
"Kebetulan aku berada di CR ketika kamu menelponku. Jadi tidak memakan waktu yang lama untuk kesini." Jelas Hiiro yang telah berada tepat di depan Emu.
"Jadi! Apa yang kamu mau bicarakan magang!?" tanya Hiiro tanpa basa-basi yang membuat Emu semakin salah tingkah. Wajahnya bersemu merah dan nafasnya tersengal.
"Eh Hi-hiiro-san? Se-sebenarnya aku ingin me-mengatakan kalau a-aku..a-ku.." suara Emu terdengar mencicit hampir tidak terdengar, wajahnya memerah apalagi Hiiro kini berada tepat dihadapannya.
Hiiro yang melihat wajah Emu yang mulai memerah lantas memegang dahi dokter muda itu dan mengechek keadaannya.
"Magang? Kamu sakit? Wajahmu memerah?" tanya Hiiro yang membuat Emu semakin memanas.
Chu~
Tanpa sadar Emu mengecup bibir Hiiro dengan lembut, lalu menatap Hiiro yang terkejut dengan sikap Emu yang tidak biasanya.
"Aku menyukaimu , Hiiro-san"
Hiiro hanya menatap Emu dan terdiam tidak bisa berbicara. Wajah Hiiro berubah menjadi gusar dan kalut. Dia tidak menyangka Emu akan melakukan hal sejauh ini. Dia tidak nyaman dengan ini semua. Hiiro masih belum bisa membuka hati untuk orang lain selain Saki, bahkan untuk Emu yang telah mejadi teman dekatnya selama ini.
Melihat mimik wajah Hiiro yang begitu gusar dan kalut, Emu mulai paham jika dia telah melakukan kesalahan fatal. Dengan wajah tertunduk dia mundur secara perlahan lalu berbalik arah membelakangi Hiiro.
Ah, kamu begitu bodoh dan naif Emu! Mana mungkin Hiiro sang dokter tampan paling populer di rumah sakit ini memiliki perasaan yang sama kepadanya. Tubuh Emu bergetar menahan air mata yang menggenang di matanya.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Udara disekitar berubah menjadi canggung dan suram. Sampai akhirnya Hiiro yang merasa bersalah karena membuat keadaan menjadi tidak nyaman bersuara.
"Gommenne!" ucap Hiiro tulus kepada Emu. Seketika Emu mengerti kemana arah perkataan Hiiro. Sepertinya Hiiro menolak perasaannya.
"Ne, Hiiro-san. Tidak apa-apa! Aku mengerti." ucap Emu lirih.
"Tidak apa-apa Hiiro-san. Aku tidak apa-apa!" ucap Emu membalikkan badannya kembali berhadapan dengan Hiiro.
Senyum tersungging di bibir pink milik Emu. Senyum yang dia paksakan ditengah hatinya yang hancur melebur menjadi butiran debu yang disapu angin.
Tes..
Air mata mulai meleleh dari sudut mata Emu. Hiiro yang melihat hal itu meraih tangan Emu dengan wajah yang gelisah. Perasaannya sakit ketika melihat Emu meneteskan air mata. Tapi Hiiro tidak bisa menjelaskan mengapa dia belum bisa menerima perasaan Emu kepadanya.
"Emu, aku, aku.."
Dengan lembut Emu melepaskan tangannya dari Hiiro dan menyeka air matanya sendiri dan tersenyum ke arah Hiiro.
"Tidak apa-apa Hiiro-san! Aku mengerti. Aku sudah menduga Hiiro-san akan menolakku. Bodohnya, aku masih saja mencoba mengungkapkan perasaanku kepadamu Hiiro-san." Ucap Emu seraya menyeka air matanya lagi yang tidak berhenti keluar dari mata bulatnya yang indah itu.
"Aku tahu Hiiro-san masih sangat mencintai Saki-san. Aku harusnya menyadari itu semua. Tapi bukannya aku menanggalkan perasaanku padamu, aku malah memeliharanya hingga tumbuh tak terkendali. Hingga aku tidak bisa lagi mengendalikan perasaan yang kini sudah menguasai seluruh jiwaku." Emu terlihat mencoba untuk tegar namun tidak disangkal jika suara Emu terdengar begitu nelangsa.
"Oleh karena itu biarlah aku yang menanggung ini semua Hiiro-san" tambah Emu yang tatkala itu mulai terisak.
Air mata tidak berhentinya menetes dari mata Emu. Hiiro tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Memahami perasaan wanita itu diluar kemampuan sang dokter jenius itu. Tidak ada teori ilmiah yang bisa menyampaikan dengan jelas bagaimana cara memahami makhluk ciptaan Tuhan yang bernama WANITA.
"Hiiro-san, bisa tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin Hiiro-san melihatku kacau seperti ini!" Ucap Emu pelan seraya menundukkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengan Hiiro.
Hiiro semakin bingung dan tidak tau harus berbuat seperti apa. Apa aku harus menghiburnya atau aku harus menjelaskan kenapa aku tidak bisa membalas perasaanya. Hiiro mendengus dan mengacak -acak rambutnya kebingungan.
"Kumohon!" pinta Emu memohon kepada Hiiro. Dengan nafas berat Hiiro mengangguk dan meninggalkan Emu sendirian di atas atap rumah sakit. Mungkin lebih baik begini. Emu adalah wanita kuat, patah hati tidak mungkin melukainya pikir Hiiro seraya berjalan menjauh dari tempat Emu berdiri.
Setelah Hiiro pergi meninggalkannya sendiri, pertahanan Emu semakin melemah lalu runtuh dengan cepat. Kakinya lemah seketika. Dia mencoba berdiri dengan bertopang pada dinding disana, tapi kemudian tubuh rampingnya merosot jatuh . Tangisnya pecah saat itu juga. Dia tidak menyangka sakit yang dia rasakan saat ini benar-benar tidak bisa dia tahan. Padahal dia sudah berlatih untuk mengendalikan perasaan jika nanti Hiiro menolaknya. Namun Teori tidaklah sama seperti prakteknya. Rasa sakit itu membuat jiwanya berteriak kencang. Apakah ini yang namanya patah hati? Bukankah seharusnya dia terbiasa. Toh, Sejak dulu ayah dan ibunya telah memberikan rasa sakit yang sama seperti ini ketika mengabaikannya. Tapi mengapa hatinya tidak ingin bersahabat dengan rasa sakit itu?
"Oh Tuhan! Apakah tidak ada cinta sejati yang tersisa untukku? Izinkan aku membasuh luka hatiku dengan orang yang memang menginginkan aku, Tuhan!" rintih Emu dalam doanya.
Butuh beberapa saat hingga air mata Emu surut dan mengering. Kini dia hanya tertunduk mengehela nafas dengan panjang. Apa yang harus dilakukannya sekarang adalah mengumpulkan pecahan-pecahan hatinya yang berserakan kala itu. Mencoba menyatukannya kembali pada bagian jiwanya yang menghilang. Entah harus berapa lama, tapi setidaknya dia harus mencoba.
"Emu? Daijoubou?" tiba-tiba terdengar suara Poppy ada didekatnya. Emu menoleh dan melihat Poppy sudah duduk disampingnya. Dengan wajah yang menenangkan Poppy memeluk Emu dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Tenang Emu! Semua akan baik-baik saja. Aku masih ada disini untukmu." Sekali lagi tangis Emu pecah dan membasahi baju Poppy. Poppy memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar hebat dengan Erat. Poppy tidak sanggup melihat Emu begitu hancur karena perasaannya. Poppy tau jika Emu memilki perasaan yang sensitive, tapi Poppy tidak tau itu bisa membunuhnya secara perlahan. Dia kemudian berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan mengembalikan senyuman Emu seperti Emu yang selalu bisa mengembalikan senyum orang-orang yang dia tolong.
Aku berjanji Emu.
****************************
And the tears come streaming down your face when you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste, could i t be worse?
Coldplay - Fix You