
"SEBAIKNYA KAMU SEGERA MEMBERSIHKAN KEKACAUAN INI, BITCH!!!!" Terdengar suara barithone seorang pria yang tengah sibuk membersihkan tangannya dari darah yang menempel menggema di apartemen kecil itu.
Di depannya meringkuk seorang wanita muda yang bersender di sudut ranjang hanya memakai pakaian seadanya yang basah dengan darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibir penuhnya yang telah berubah menjadi warna biru pucat. Tubuh rampingnya bergetar hebat menahan rasa nelangsa dan lara yang menggerayanginya sejak tadi. Dia menggigit bibir bawah dengan kuat agar bibirnya tidak mengeluarkan suara yang tidak diinginkan oleh pria tegap itu. Tangannya hanya membantu untuk menutupi kelopak matanya yang kini digenangi oleh air mata yang sepertinya ingin menyemburkan layaknya air bah yang deras.
Pria itu kemudian mendekatinya lagi meraih tubuh rentannya yang tidak berdaya kehabisan tenaga. Pria itu dengan kasar melemparkan wanita itu kembali ke ranjang yang berantakkan. Wanita itu berusaha memberontak dengan sisa-sisa tenaganya, tapi dia hanya mampu memberikan pukulan lemah tanpa tenaga pada dada bidang pria itu. Dengan mata berkilat gelap pria itu menarik wajah wanita itu dan mulai menciumnya dengan sangat kasar, tangannya dengan agresif menjamah bagian intim wanita itu tanpa ampun. Wanita itu hanya terisak membiarkan pria itu melakukan apapun kepadanya. Tubuhnya sudah menyerah, jiwanya telah lelah dengan segala permainan yang dilakukan takdir kepadanya. Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya. Pria itu merengkuh tubuh wanita itu dan mendekapnya erat dalam pelukkannya.
"Aku mencintaimu, Emu!" bisiknya kepada wanita muda itu yang tidak bereaksi hanya bergetar mendengar kata-kata yang diucapkan pria yang tidak tahu malu itu.
Cinta? Cinta KATANYA setelah semua kekejaman yang dia lakukannya padanya? Setelah semua umpatan yang ditujukan padanya tanpa perasaan? Pekik Emu dalam hatinya. Bahkan kini untuk mengeluarkan suara saja dia sudah tidak berdaya. Dia hanya menatap pria tegap itu dengan tatapan nanar.
"Da-date-san! Benarkah kau mencintaiku?!" ucapnya lirih hampir tak terdengar.
"Tentu saja! Jangan ragukan cintaku padamu, Emu-chan! Jika kau meragukanku atau meninggalkanku. Aku tidak senggan untuk membunuhmu! Camkan itu!" ujar Date seraya menarik rambut Emu dan menciumnya sekali lagi lalu menghapus jejak saliva mereka yang bertautan.
Date kemudian bangkit dan membiarkan tubuh Emu yang lemah tergeletak di ranjang begitu saja. Date mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dan segera memakainya. Sedetik kemudian pria itu berjalan menuju pintu kamar,
"Jangan berangkat ke rumah sakit besok. Aku tidak ingin ada orang yang melihatmu dengan wajah seperti itu!" Ucap Date menoleh ke arah Emu dan menunjuk luka lebam yang menghiasi wajah putihnya.
"Aku juga tidak ingin teman-temanmu ikut campur dengan urusan kita! Jangan biarkan orang lain memasuki apartement ini! Ingat itu! Kamu milikku tidak ada yang boleh memilikimu! Ucapnya lagi lagi seraya keluar dari kamar.
Klik!
Date keluar dari apatemen mungil Emu dan menguncinya dari luar. Dia tidak ingin ada orang yang melihat keadaan Emu dan membawanya pergi. Lagipula mereka berdua adalah dokter. Jadi mereka bisa mengurus keadaan mereka sendiri.
Mendengar pintu apartemenya terkunci, Emu menarik selimut yang telah ternoda oleh darahnya mendekat ke tubuhnya. Tubuhnya meringkuk lemah. Jiwanya sakit, hatinya terluka. Apakah jalan cinta untuknya selalu berakhir dengan kepiluan dan penderitaan. Terlarangkah baginya untuk meraih kebahagiaan? Nafasnya menjadi sangat berat, dadanya serasa ditekan oleh batu yang sangat besar yang membuatnya terhimpit tidak bisa bernafas.
Dengan penuh kengiluan diseluruh tubuhnya, dia berusaha bangkit dari ranjangnya. Kakinya bergetar hebat seakan tidak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Dengan langkah tertatih dia berusaha menjangkau handphone yang berada diatas meja kamarnya kemudian dia merosot jatuh kelantai dan bersender di dinding seraya menggenggam handphone yang diambilnya.
Tangannya bergetar, bimbang dengan apa yang harus dilakukannya. Emu takut jika dia menghubungi teman-temannya, Date akan berbuat hal yang nekat. Bukan karena takut Date akan menyakitinya atau membunuhnya malah terkadang Emu berharap agar Date menghabisinya nyawanya saja daripada harus tinggal dalam mimpi buruk setiap hari. Emu hanya takut jika Date menyakiti teman-temannya.
Emu melihat nama Hiiro dalam kontak handphonenya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya kini. Hingga saat ini cintanya pada Hiiro masih terpelihara dengan baik dihatinya, namun keadaan tidak memihak padanya. Hiiro tidak pernah membalas cinta yang Emu rasakan padanya. Entah kenapa tanpa sadar Emu mengirimkan pesan kepada Hiiro dan mengatakan hal yang sama seperti 1 tahun yang lalu. Emu menatap layar handphone berharap Hiiro bisa membalas pesannya dan memberikannya sedikit kekuatan untuk bertahan atau setidaknya Hiiro masih bisa menganggapnya sebagai teman.
5 Menit
15 menit
20 menit
25 menit
30 menit
Pesan yang Emu kirimkan hanya dibaca tanpa dibalas. Tangis Emu semakin pilu. Tangannya memukul-mukul kepalanya sendiri dengan liar. Betapa bodohnya dia masih berharap kepada Hiiro sama seperti setahun sebelumnya.
Kini Emu menatap nama Kiriya pada handphone. Apakah Kiriya bisa membantunya? pikir Emu kalut. Dia benar-benar sudah muak dengan semua ini. Dia ingin keluar dari neraka yang diciptakan Date untuknya. Dia merindukan teman-temannya. Sudah cukup selama 5 bulan ini dia hidup penuh dengan kesengsaraan. Tuhan, aku mohon! Berikanlah aku kesempatan kembali seperti dulu lagi bersama teman-teman. Dengan tekad bulat Emu segera menekan nomor Kiriya dan menelponnya.
"Kujo Kiriya disini! Jika kamu mendengar pesan ini silahkan tinggal pesan setelah nada beep"
Emu berkali-kali mencoba menghubungi nomor Kiriya, namun nomor yang dituju tidak menjawabnya. Emosinya semakin tidak terkendali, dia menangis meraung tanpa arah. Emu mulai membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Sudah berakhir, sudah tidak ada yang peduli kepadanya. Dunia sudah tidak bersahabat dengannya. Sudah tidak ada tempat baginya kini.
"EMU BODOH!!! EMU BODOH!!!" pekiknya seraya tidak henti-hentinya membenturkan kepalanya ditembok. Sedetik kemudian tiba-tiba Emu menyeringai dan tertawa. Menertawakan nasib yang tengah dia alaminya. Menertawakan kebodohan yang telah dia lakukan. Hidupnya benar-benar hanya permainan bagi orang yang pernah dia cintai dan kini permainan itu telah membuatnya Game Over tidak akan terselamatkan. Ya benar! Permainannya telah Game Over tanpa bisa Continue. Emu mengehela nafas berat. Matanya kini meredup kehilangan harapan. Jiwanya kosong tanpa tujuan. Dia menoleh lagi ke handphonenya lalu mengetik pesan singkat untuk semua temannya dan mengirimkannya masal.
"SAYONARA MINNA!"
PRANK!!!
Lalu melemparkan handphonenya ke arah jendela apartemennya.
**************************
Blue moon, You saw me standing alone
Without a dream in my heart, without the love of my won
Elvis Presley - Blue Moon