
"Kalian sudah siap?" Tanya Shinosuke kepada anggota lain menggunakan alat komunikasi yang mereka sematkan di telinga mereka.
Satu per satu anggota team menjawab kesiapan mereka dan mulai siaga di tempat mereka masing-masing. Shinosuke kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Shotaru yang ada dibelakangnya bersama dengan Gou. Shinosuke menganggukkan kepala memberikan isyarat jika persiapan telah selesai dan anggota team lain telah berada di tempat semestinya.
Shotaru kemudian merogoh kantung celana cargonya dan mengambil sebuah benda yang tidak lain adalah sebuah granat. Sejurus kemudian Shotaru mencabut pin pengaman dari granat itu dan mulai melemparnya menuju pusat halaman gudang depan.
DDUARR!!
Ledakan keras memekakkan telinga ketika granat itu menyentuh tanah membuat para pengawal yang sedang berpatroli disekitar gudang terkejut setengah mati. Mereka meninggalkan pos-pos tempat mereka berjaga dan mendekati sumber ledakan. Terlihat beberapa orang saling berkomunikasi dengan alat komunikasi mereka memperingatkan tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"HOLLYSHIT! What the-" seorang pria bertubuh besar dan tegap berlari dari arah dalam dengan kesal.
"Fujita-san, terjadi ledakan tiba-tiba. Kami belum tau penyebab utamanya." Ucap salah satu pengawal yang sepertinya merupakan anak buah dari pria bernama Fujita itu.
"Cepat selidiki dan laporkan segera!" Perintah Fujita tegas diiiringi anggukan mengerti para pengawal bersenjata itu.
Fujita dengan alat komunikasinya segera memberikan informasi kepada rekannya yang berada di dalam gedung dan meminta mereka untuk waspada karena serangan mendadak yang sedang terjadi. Sedetik kemudian Fujita merogoh kantung rompinya dan mengambil sebuah alat yang ternyata adalah sebuah handphone.
"Maaf jika saya menganggu waktu anda, tapi telah terjadi serangan mendadak di gudang Tuan!" Lapor Fujita melalui handphone yang dia keluarkan.
Fujita dengan serius menjelaskan kondisi terakhir dan keamanan gudang kepada seseorang yang sedang berkomunikasi dengannya. Kemudian dia mengangguk beberapa kali seakan sedang memahami segala instruksi yang diberikan orang tersebut.
"Baik Hagino-sama! Sesuai perintah anda!" Fujita mengakhiri pembicaraannya dengan Hagino Takashi, Sang pimpinan sekaligus ayah dari Date.
Fujita mengalihkan pandangannya ke arah lokasi ledakan, baru saja dia melangkah mendekati sumber ledakan. Sebuah benda melayang diatasnya menuju mobil yang terparkir beberapa meter darinya. Begitu menyadari benda yang melayang itu adalah sebuah granat, Fujita melompat menuju beton besar yang ada disampingnya dan berlindung.
Ledakan kedua tercipta dan kali ini menjadi ledakan yang lebih besar dari sebelumnya. Deretan mobil tempat granat kedua itu meledak membuat kobaran api yang sangat besar. Fujita bisa melihat beberapa pengawal yang tidak sempat menghindar tergeletak begitu saja di dekat sumber ledakan. Fujita berteriak kepada pengawal lainnya agar menarik tubuh para pengawal yang terluka dari area ledakan. Para pengawal yang selamat segera mengikuti instruksi Fujita dan membawa rekan mereka yang terluka ketempat yang lebih aman. Beberapa pengawal lain memasang sikap siaga dan waspada. Mereka khawatir akan ada serangan selanjutnya dan beberapa lagi berusaha memadamkan api agar tidak berkobar semakin besar.
Sedetik kemudian Fujita segera berlari menuju lantai dua tempat dimana Date, Reiko serta Emu berada. Fujita melihat Reiko meringkuk ketakutan dan lalu mengalihkan pandangannya ke arah kedua rekannya yang telah siaga dengan senjata yang mereka pegang.
"Dimana Date-sama!" Tanya Fujita kepada kedua rekannya.
"Tuan muda kini berada di dalam ruangannya, sepertinya dia tengah mangambil senjatanya." Jawab salah satu penjaga yang berpostur lebih pendek darinya.
Fujita mengangguk tanda mengerti menunggu Date yang sedetik kemudian muncul dengan membawa senjatanya dan menggunakan rompi anti peluru miliknya. Setelah menanyakan kondisi Reiko yang terlihat sangat ketakutan. Date dengan wajah penuh ketegangan menatap Fujita serius.
"Jelaskan kondisi saat ini!" Perintah Date dengan tegas membuat Fujita melaporkan segalanya dengan detail.
❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Kumohon!" Emu memandang Date lekat dan berhasil membuat Date tersenyum lebar.
"Ini tidak akan lama! Aku berjanji!" Ucap Date seraya memeluk tubuh ramping gadis yang amat dia cintai.
"Tolong jaga dirimu Date-san!" Bisik Emu perlahan membuat Date semakin yakin dia bisa mengembalikan cinta dalam hati dokter muda itu.
Date mengecup kening Emu dengan lembut membuat wajah pucat Emu dihiasi oleh semburat merah muda. Tidak ada penolakan kali ini yang ada sepasang mata indah yang berkaca-kaca menampakkan sebuah kekhawatiran yang teramat sangat. Date menatap Emu dengan penuh cinta. Dalam hati ia berjanji, dia tidak akan mengulangi perbuatan bodohnya lagi kepada sang kekasih hati. Dia akan melakukan apa saja agar bisa menjadi orang yang pantas untuk mendapatkan dan mendampingi Emu di kehidupan ini.
"Aku akan kembali segera! Akan kupastikan kamu baik-baik saja!" Ucap Date seraya melepaskan pelukkannya dari tubuh Emu.
Emu hanya mengangguk dan duduk di sofa dengan gelisah. Dia menatap Date yang berlari keluar dengan tergesa. Perasaaan aneh apa ini? Entah mengapa dia sangat mengkhawatirkan Date. Dia takut sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Emu meremas sweeternya dengan risau. Tidak! Tidak! Dia harus membuang perasaan itu jauh-jauh. Dia tidak boleh melupakan apa yang telah Date lakukan untuk membawanya kesini. Mungkin jika dia yang tersakiti, dia tidak mempermasalahkan itu. Tapi jika orang lain yang telah menjadi korban, sungguh Emu tidak menyukai hal itu.
Emu menutup telinganya dan merosot dari sofa tempat dia duduk. Ledakan kedua terdengar lagi dan lebih kencang dari sebelumnya membuat Emu semakin ketakutan. Pikirannya kalut dan gusar. Apakah Date baik-baik saja? Apakah dia akan kembali dengan selamat? Bagaimana kondisi semua orang yang ada disana? Pertanyaaan itu mucul begitu saja di kepala Emu membuatnya semakin panik. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di luar sana? Namun tiba-tiba tubuhnya membeku ketika sebuah spekulasi muncul di otaknya. Apakah mungkin-
"Teman-teman, apakah itu kalian?"
.
.
.
.
.
.
Date keluar dari ruangan tempat Emu berada dengan wajah gusar. Dia menemukan Reiko meringkuk menutup telinganya di sofa dekat dengan dengan ruangan itu bersama dua dari tiga pengawal kepercayaan mereka. Terlihat kedua orang itu memasang posisi siaga seraya mendengarkan seseorang berbicara dengan mereka di alat komunikasi mereka.
"What the hell is happening?!" Tanya Date dengan gusar ke arah kedua pengawalnya.
"Ada serangan tuan muda! Tapi kami masih belum tahu detailnya seperti apa. Fujita-san sedang memeriksanya!" Ucap salah satu pengawalnya yang berpostur lebih pendek dari Date menerangkan.
"Berikan padaku!" Perintah Date seraya menunjuk alat komunikasi yang mereka gunakan.
Pengawal yang berpostur tegap dan berambut berantakkan sebahu menyerahkan alat komunikasi milik Date yang disimpannya. Date segera memakai alat komunikasi dan kemudian menghilang menuju ruangan miliknya yang berada disebelah ruangan tempat sang kekasih berada. Di dalam ruangan itu Date menuju Gun Safes miliknya dan mengeluarkan sebuah Smith & Wesson 500 Magnum , salah satu pistol favoritenya dan beberapa kotak peluru. Dia segera memakai rompi dan tas magazen yang dia lilitkan di paha untuk menaruh cadangan peluru untuk senjata api yang dia gunakan.
Date secara reflek menunduk seiring ledakan kedua terjadi. Dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan, dia melangkah keluar dengan cepat dan menemukan salah satu pengawalnya yang berpostur tinggi tegap telah kembali dan bergabung dengan kedua temannya melindungi Reiko yang terlihat sangat ketakutan.
"Mom! Are you alright?" Tanya date yang sangat khawatir melihat Reiko yang masih meringkuk ketakutan.
"Akira-kun! Le-ledakan apa itu?" Racau Reiko dengan mata melotot ketakutan.
Selama berpuluh-puluh tahun hidup dengan seorang politikus sekaligus seorang pengusaha yang memilki banyak musuh dari berbagai kalangan masih belum membuat Reiko terbiasa dengan kejadian-kejadian yang tidak bisa dihindarinya. Senjata, bom, ledakan dan pembunuhan, semua itu masih belum bisa dianggap biasa oleh Reiko. Apalagi kini dia berada ditengah-tengah peristiwa yang tidak pernah dia harapkan akan terjadi.
"Jelaskan kondisi saat ini!" Perintah Date kepada Fujita, pengawal yang paling tinggi yang baru saja bergabung dengan mereka setelah memeriksa keadaan di bawah.
"Ada serangan mendadak Tuan muda! Kedua ledakan yang terjadi berasal dari granat tangan yang dilemparkan ditengah halaman depan. Bahkan ada beberapa pengwal yang terluka karena ledakan kedua. Untuk saat ini kami belum bisa menganalisis serangan selanjutnya Date-sama." Fujita menerangkan segera kondisi terakhir setelah ledakan.
Date merasa tidak senang dengan apa yang dia dengar. Kondisi ini membuatnya semakin khawatir. Tempat ini sudah tidak aman untuk Emu dan Reiko. Date tidak ingin kedua wanita yang paling berharga untuk dirinya mengalami hal yang tidak dia inginkan.
Sedetik kemudian alat kmunikasi mereka berbunyi. Mendadak wajah mereka semua memucat ketika salah satu pengawal melaporkan jika telah terjadi penembakkan dan beberapa pengawal yang berada di garis depan telah dilumpuhkan. Date segera mendekati Reiko dan membantunya berdiri.
"Mom! Sebaiknya mommy menemani Emu di dalam!" Seru Date kepada Reiko dengan tegas.
"Ta-tapi Akira-kun! Bagaimana denganmu?" Tanya Reiko penuh kekhawatiran. Dia tidak mau sesuatu terjadi dengan putra kesayangannya.
"I'll be alright Mom! Trust me!" Ucap Date mantap.
"Mihara, Kusaka! Bawa Nyonya besar ke dalam sekarang!" Perintah Date kepada kedua pengawalnya.
"Jaga mereka dengan nyawa kalian! Jika tidak-" Tambah Date seraya memandang kedua pengawalnya denga tatapan tajam.
"Aku sendiri yang akan menghabisi nyawa kalian berdua!" Ancam Date dengan suara rendah dan berat. Tidak boleh ada yang menyakiti Emu dan Reiko. Dia tidak peduli dengan resiko yang akan dia tanggung.
"Baik Tuan muda! Sesuai perintah tuan muda!" Jawab Mihara dan Kusaka mantap membuat Date terlihat sedikit lega.
Date mengerti betul reputasi dari ketiga pengawal utamanya. Tidak ada orang yang akan mau bermain-main dengan mereka. Date kemudian beralih menuju Fujita.
"Fujita! Kamu ikut denganku!" Perintah Date seraya memegang senjatanya lalu mengisi peluru yang belum sempat dia lakukan tadi ketika ledakan kedua terjadi.
"Baik Tuan muda!" Seru Fujita seraya mengangguk cepat kepada Date.
"Akira-kun, be careful please!"
Date menoleh kearah Reiko dan mengangguk lalu memberikan senyum menenangkan kepada sang Ibu. Mihara dan Kusaka segera membimbing Reiko yang masih tidak rela melihat putra kesayangannya berlalu dan menghadapi bahaya.
Tuhan! Aku mohon lindungi putraku dan kembalikan dia dengan selamat! Doa Reiko dalam hati. Berharap semua akan baik-baik saja dan Date tidak akan terluka.
*********************
Shotaru memegang granat keduanya dan membuat ancang-ancang untuk melemparnya.
"Shotaru-kun! Arahkan saja ke deretan mobil yang terparkir disana!" Ucap Shinosuke seraya menunjuk deretan mobil sedan dan van hitam yang terpakir di area tidak jauh dari mereka.
Shinosuke memberikan sinyal dengan tangannya kepada Shotaru dan dengan sigap Shotaru menarik pin granat itu dan melempar dengan kencang.
Shinosuke, Gou dan Shotaru menetup telinganya dan berlindung dari efek ledakan. Ledakan besar terjadi. Mobil-mobil yang terpakir mulai tenggelam dalam kobaran api membuat langit malam itu yang awalnya gelap menjadi sebuah panggung tarian api yang menggeliat ganas.
"Taiga, Kuroto tunggu aba-aba dariku!" Ucap Shinosuke mempersiapkan Taiga dan Kuroto untuk menembak.
"Diterima!" Ucap Taiga dan Kuroto bersamaan.
"Hiiro, Chase, Pallad, Kiriya! Bagaimana kondisi disana!" Tanya Shinosuke kepda team lain yang mengawasi penjagaan diujung sisi yang sama dengan mereka bertiga.
"Di sini aman. Tidak ada penjagaan disisi ini. Kemungkinan mereka ditarik menuju halaman depan gudang!" Balas Hiiro dengan suara rendah.
"Ok, itu sudah kami duga. Lagipula di area sana tidak pintu rahasia yang digunakan untuk keluar masuk. Gudang ini hanya memiliki pintu yang ada di halaman depan sebagai akses keluar. Jadi ini memudahkan kita untuk menahan mereka di dalam dan membuat mereka tidak bisa kemana-mana." Ucap Shotaru menjelaskan.
"Lalu, apa yang akan kami lakukan sekarang?" Tanya Pallad. Suaranya terdengar sangat serius dari biasanya.
"Lebih baik kalian bergabung dengan kami disini! Cepat!" Ucap Gou yang disetujui oleh Shinosuke dan Shotaru.
Mereka sebentar lagi akan melancarkan serangan jarak dekat dan jauh. Alangkah bagusnya jika kedua team berkumpul bersama. Sejurus kemudian Hiiro,Chase, Pallad dan Kiriya mengendap -endap kearah mereka bertiga. Kepala mereka celingukan menscan area sekitar dan memastikan mereka masih aman.
"Okay Kuroto, Taiga! Lihat penjaga mulai menjaga pintu utama dengan ketat dan beberapa dari mereka sedang sibuk memadamkan api yang berkobar! Pertama buat mereka kocar kacir dengan menembak ke arah yang tidak beraturan. Tapi ingat hati-hati jangan sampai membidik daerah fatal mereka. Selanjutnya bidik kaki atau atau tangan mereka. Kita hanya akan melumpuhkan mereka saja! Kalian mengerti?" Shinosuke memberikan instruksi kepada kedua orang yang bertugas membackup mereka dari belakang.
"Ok! Dimengerti!" Ucap keduanya singkat dan memusatkan pandangan mereka kepada sasaran tembak mereka.
"Dalam hitungan ketiga!" Shinosuke mengangkat tangannya untuk memberi isyarat rekan-rekannya yang ada dibelakangnya.
***3
2
1***
"Tembak!" Teriak Shinosuke disusul suara tembakkan oleh Taiga dan Kuroto.
Mereka beruda memulai tembakan ke udara untuk menakuti para penjaga yang tengah sibuk memadamkan api yang berkobar. Para pengawal yang panik segera menunduk menghindari desingan peluru yang terbang ke arah mereka. Team kedua dengan dipimpin oleh Shinosuke mulai menyerang ke arah para pengawal yang panik di pintu utama.
Hiiro, Pallad, dan Kiriya menarik Baton Stick mereka dan mulai menyerang para penjaga yang juga bersenjata. Mereka memang tidak salah membawa baton stick tersebut, karena para pengawal juga dibekali sebuah tongkat dan pisau lipat untuk menyerang selain senjata api. Ketika Para penjaga mencoba mencabut senjata mereka dengan cepat mereka bertiga memukul tangan para penjaga dan menjegal mereka hingga tersungkur mencium tanah.
Shinosuke dan Chase dengan Shotgun ditangan mereka segera menembak ke arah pintu utama dan menghancurkan pintu besar gudang tersebut. Beberapa penjaga yang berda di depan pintu tersebut melompat dan melindungi diri dari serangan Shotgun yang mematikan itu. Shotaru dan Gou tanpa memberikan jeda kepada para penjaga itu lalu menerjang mereka dan menghajar mereka dengan punggung handgun mereka membuat luka robek yang sangat kentara dipelipis para penjaga itu.
Tubuh para pengawal itu tergeletak berhambuaran di depan pintu utama. Hiiro dan Kiriya mengecheck kedaan mereka dan mulai bernafas lega. Setidaknya mereka mengetahui para penjaga itu tidak mati hanya terluka parah.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Chase heran dengan sikap kedua dokter itu.
"Well, hanya kebiasaan seorang dokter! Memeriksa kondisi orang yang terluka! Hanya memastikan mereka tidak mati!" Ucap Kiriya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Chase hanya memutar matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Jika kalian yang diposisi mereka, aku bertaruh mereka tidak akan melakukan hal yang sama!" Ucap Chase ketus membuat Hiiro dan Kiriya mendegus kesal karena tersinggung.
"Bisakah kalian tenang!" Ucap Gou yang terlihat kesal dengan konflik kecil diantara mereka.
Shinosuke dan Shotaru yang melihat kejadian itu hanya menghela nafas berat. Mereka berharap konflik kecil ini tidak merembet ke arah lain yang bisa mengacaukan misi mereka saat ini. Shinosuke kemudian mengarahkan pandangan kepada Taiga dan Kuroto lalu melambaikan tangannya berharap menangkap perhatian mereka.
"Taiga, Kuroto! Awasi bagian luar ini dengan baik! Jika kalian rasa telah aman dan tidak ada pergerakan yang mencurigakan, segera susul kami ke dalam!" Ucap Shinosuke kepada kedua penembaknnya.
"Baiklah, tidak masalah!" Ucap Taiga tegas.
"Ok. Tidak usah khawatir!" Kuroto selanjutnya menjawab dengan penuh keyakinan.
Setelah mendengar jawaban mereka berdua Shinosuke memberikan isyarat dengan tangannya kepada rekan-rekannya yang lain. Mereka segera masuk ke dalam gudang dengan masing-masing mereka memegang senjata dengan waspada. Terlihat di dalam begitu hening seakan tidak ada aktivitas yang terjadi disana. Mata mereka menyelusuri sekitar dengan penuh siaga. Mereka tidak ingin lengah karena keheningan yang tercipta. Bagaimana jika ini hanya jebakan musuh saja agar mereka lengah dan dengan mudah diserang?
Benar saja begitu mereka sampai dtengah ruangan, Peluru mulai berterbangan leluasa ke arah mereka. Mereka semua dengan cepat melompat ke segala arah lalu merayap mencari perlindungan. Desingan peluru yang saling membalas sedetik kemudian terdengar diseluruh area gedung. Suara tembakan hanya berhenti ketika kedua pihak kehabisan peluru dan dalam mode mengisi kembali peluru untuk senjata mereka.
Namun di sebuah kesempatan Hiiro, Pallad, Gou, Shotaru dan Kiriya melompat dari tempat berlindung mereka dan menyerang pera pengawal yang tengah sibuk mengisi peluru senjata api mereka. Akhirnya perkelahian jarak dekat pun tidak terelakkan. Chase dan Shinosuke membackup rekan-rekannya dengan menembakkan Shotgun mereka ke arah tembok agar menganggu konsentrasi pihak lawan.
Baku hantam terus terjadi, pihak lawan mulai kewalahan. Tidak disangka jika lawan mereka juga memilki skil ilmu bela diri yang tidak bisa diremehkan. Mereka hampir menyerah dan mundur ketika sebuah peluru datang menerjang dan melukai salah satu orang dari team Shinosuke.
Team Shinosuke membeku dan terpaku ketika melihat rekannya jatuh dengan luka tembak di lengannya. Shinosuke dan Chase segara berlari ke arah rekannya itu mencoba menangkap tubuh yang mulai limbung terkena tembakan.
"Oh tidak-!"
.
.
.
"Gou!" Terlihat tubuh Gou rubuh dan ditahan oleh Hiiro yang berada dibelakangnya
Darah segar mengalir dari lengannya. Membuat nafas Gou terengah. Luka tembak itu tidak biasa. Pleuru yang digunakan melukai lengan Gou cukup parah. Hiiro dengan sigap segera menekan luka Gou agar pendarahannya terhenti. Shinosuke dan Chase yang mendekat dengan wajah yang sangat kalut. Sedang Kiriya, Pallad dan Shotaru masih berkutat dengan beberapa pengawal yang tersisa.
"Sial! Ternyata aku meleset!" Suara berat itu membuat semua orang menoleh. Date dengan mengacungkan senjata terlihat kesal karena merasa jika dia telah meleset dalam menembak sasaran.
"Kau!" Hiiro dengan mata menyala penuh amarah memandang Date dengan penuh kebencian. Apa maksudnya dengan meleset?
"Brengsek! Mau apa kalian disini?!" Umpat Date dengan kesal melihat teman-teman Emu datang mendadak ketempatnya.
"Kami tidak perlu menjawabnya! Seharusnya kamu tahu jawabannya apa, ****!" Sseru Shinosuke dengan wajah menengang.
"Tidak akan kubiarkan kalian merebut calon istriku!" Date dengan mata berkilat terlihat tidak suka dengan ucapan Shinosuke yang menjurus kepada penyelamatan Emu.
"MANUSIA BRENGSEK! Setelah apa yang kamu lakukan kamu masih menginginkan Emu menjadi istrimu? OH, PLEASE SHUT YOUR FUCKING MOUTH!" Bentak Hiiro dengan kencang menyulut amarah Date.
"HOW DARE YOU!" Date berteriak dengan wajah mengeras lalu menodongkan mocong pistolnya ke arah Hiiro.
"Lihat saja! Aku akan menutup mulut kotor kalian dan membuat kalian menyesal telah menantangku!" Tambahnya lagi dengan suara meninggi.
"Coba saja Brengsek!"Hiiro semakin menantang Date membuat Date mempercepat langkahnya dan mendekati Hiiro.
Hiiro meminta Shinosuke dan Chase membawa Gou ketempat yang lebih aman. Dalam keadaan terluka parah tidak mungkin Gou akan ikut berpatisipasi dalam pertarungan ini. Shinosukdan Chase segera membopong Gou yang meringis menahan sakit keluar dari area pertarungan. Hiiro menatap Date dengan tajam, kali ini dia tidak akan mundur. Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan Date menyakiti Emu lagi.
"Aku akan meladenimu!" Ucap Date dengan mata berkilat penuh amarah.
"Jangan menyesal jika nanti nyawamu melayang sia-sia ditanganku Brengsek!" Seru Date dengan mimik wajah yang sangat serius.
Sudah tidak ada kata mundur sekarang bagi Hiiro maupun Date. Mereka akan mempertahankan seseorang yang berarti untuk mereka. Kini mereka hanya bisa bertaruh pada nasib saja. Siapa yang akan bertahan selanjutnya. Hiiro atau Date.
*********************
On the horizon
Stars are dark, worse than ever before
The sun isn't rising
So, I can't see a shore
But one thing that I remember
It's always darkest before the dawn
* One Ok Rock- Eye Of The Strom *
*********************
Note:
Gun Safes merupakan brankas atau kabinet penyimpanan khusus untuk menyimpan senjata api.
Smith & Wesson 500 Magnum merupakan pistol yang berjenis revolver yang mempunyai daya hancur cukup mematikan. Jika pistol biasa hanya memeiliki kemampuan menusuk saja, pistol ini mampu membuat objeknya tertusuk dan meledak. Didukung dengan kecepatan peluru yang bisa menembus angka 2.075 kaki per detik dan mocong yang lebih panjang dari revolver yang biasa membuat akurasinya sangat hebat.
Tas Magazen merupakan sebuah tas khusus yang biasanya digunakan oleh personel keamanan dan biasanya digantungakan di kopel/ikat pinggang dan dililitkan di paha dan digunakan untuk menyimpan senjata dan peluru cadangannya.