Breathless

Breathless
Chapter 10: Explosive



"Date sudah mengenal Emu sejak dibangku kuliah!" Sanggah Shinosuke membuat semua orang diruangan itu melotot tidak percaya. Sejak di bangku kuliah? Bagaimana bisa?


"Bagaimana bisa?" ucap Haima terkejut dengan perkataan Shinosuke.


"Lebih baik kita berbicara ditempat lain Direktur. Mungkin tempat yang lebih Private." tawar Shinosuke sambil menunjukkan file yang dia bawa dalam tasnya.


"Baiklah jika seperti itu! Mari kita menuju ruanganku saja." Haima mengajak Shinosuke untuk keruangannya diikuti oleh para anggota CR yang lain.


"Ah, Poppy, Nico! Sebaiknya kalian disini menjaga Emu!" ucap Haima menghentikan langkah mereka berdua.


"Tenang saja tidak akan ada apa-apa. Lagipula ada dua anggota kepolisian yang berjaga di depan ruangan ini." tambah Shinosuke tersenyum kepada Poppy dan Nico yang terlihat kecewa karena mereka tidak diijinkan untuk mendengar investigasi yang telah dilakukan oleh Shinosuke.


Mereka berenam mengikuti Haima menuju ruangannya yang berada satu lantai diatas ruangan tempat Emu dirawat. Begitu mereka masuk kedalm ruangan Shinosuke membagikan file kepada mereka mengenai hasil investigasi.


"Asal kalian tahu, file penyidikan ini sebenarnya rahasia tapi aku melakukan pengecualian kepada kalian karena aku tau kalian ingin mengetahui manusia seperti apa Date itu sebenarnya." Ucap Shinosuke dengan nada serius.


"Date dan Emu lulus dari universitas yang sama hanya saja tahun lulus mereka yang berbeda." Ucap Shinosuke memulai penjelasan mengenai hubungan Date dan Emu.


"Date lulus terlebih dahulu. Mereka terpaut jarak dua tahun kelulusan. Setidaknya itu informasi yang kami dapatkan." Ucap Shinosuke seraya memperlihatkan file yang memuat informarsi tentang pendidikan Date. 


"Hal yang membuat kami menyimpulkan jika Date yang mengenal Emu terlebih dahulu adalah karena kami menemukan sebuah ruangan rahasia di apartemen Date yang isinya adalah koleksi foto yang dia cetak." Shinosuke memperlihatkan sebuah foto ruangan rahasia Date yang hampir semua adalah foto Emu. 


"Sialan! Tenyata **** itu telah mengincar Emu sejak lama!" Umpat Hiiro setelah melihat foto ruangan itu. 


Shinosuke membuka laptopnya dan memperlihatkan jika Date telah mengawasi Emu selama bertahun-tahun. Foto-foto Emu yang ditemukan berjumlah puluhan ribu dan telah disita oleh kepolisian sebagai barang bukti. Mereka menatap tidak percaya, semua kegiatan Emu diabadikan oleh Date dengan detail. Bahkan semua diletakkan secara terorganisir berdasarkan tanggal, bulan dan tahun. Sepertinya obsesi Date terhadap Emu sudah melewati batas wajar.


"Date telah mempelajari segala hal tentang Emu dengan detail. Mengenai kehidupannya, hal favoritenya dan segala kegiatannya. Setelah dia mempelajarinya dengan baik dia memutuskan untuk mendekati Emu secara langsung, oleh karena itu dia segera melamar pekerjaan di Rumah Sakit Seito ketika ada lowongan tersedia." jelas Shinosuke.


"Astaga! **** ini benar-benar gila!" Ucap Kuroto ketika melihat dengan detail foto yang diambil kepolisan tentang barang bukti yang mereka sita.


"Satu hal lagi ternyata Date bukanlah Dokter spesialis anak. Dia merupakan dokter bedah sama seperti Hiiro. Namun dia memalsukan datanya dibantu oleh salah satu humas yang ada dirumah sakit ini. Kebetulan hari ini petugas kepolisian lain telah menjemput orang itu untuk dimintai keterangan." Penyataan Shinosuke itu membuat Haima terbelalak dan terkejut bukan main.


"MEMALSUKAN DATA KATAMU?!" Suara Haima meninggi dan terlihat sangat marah.


"Oh, Ini tidak bisa dibiarkan! Berani-beraninya mereka menipuku! Pantas saja hanya data Date saja yang diserahkan kepadaku! Mereka bilang jika tidak ada dokter yang melamar pekerjaan sebagai Pediatric selain Date!" ucap Haima gusar dan tidak percaya yang dilakukan staff humas rumah sakit kepadanya.


"Apakah ayah tidak mengkroscheck dua kali ketika menerima datanya?" Ucap Hiiro yang terlihat sangat syok mendengar staff humas terlibat pemalsuan data dari Date.


"Tidak! Bodohnya aku percaya begitu saja kepada mereka!" ucap Haima menyesal dengan keputusan yang telah dia ambil.


"Sudahlah Direktur, kita tidak bisa merubah yang telah terjadi. Tapi untuk kedepannya kita harus lebih selektif dalam menerima calon Dokter, Perawat dan staff di rumah sakit ini." Saran Kiriya sekaligus mencoba menenangkan Haima yang terlihat begitu menyesal.


"Kalian juga akan kuberi peringatan! Date memang orang yang sangat berbahaya. Dia tidak hanya ahli dalam bela diri. Dia juga ahli dalam menggunakan senjata api dan memilki ijin untuk menggunakannya. Jadi kalian harus waspada!" Shinosuke memberikan peringatan kepada anggota CR lainnya.


"Selain informasi itu, apa polisi sudah menemukan lokasi Date sekarang?" Hiiro bertanya dengan wajah serius kepada Shinosuke.


"Informasi terakhir Date terlihat disekitar Dermaga Seito tapi untuk lokasi yang pasti masih belum tahu. Karena para informan yang mencari tahu selalu kehilangan jejak." Ucap Shinosuke.


"Jadi kita harus memulai menyisir daerah dermaga untuk mencari si brengsek itu!" Ucap Kiriya seraya melempar file yang diberikan oleh Shinosuke pada meja di depannya. Wajahnya terlihat sangat malas untuk melihat file mengenai Date.


"Agar lebih cepat mungkin kita harus berpencar dan membentuk tim." Ucap Shinosuke yang membuat para anggota CR saling melirik khawatir. Tidak mungkin mereka melibatkan Shinosuke dalam misi balas dendam yang mereka rencanakan. Shinosuke adalah seorang detektif kepolisian. Dia tidak mungkin menyetujui cara mereka dalam meringkus Date. 


"Bagaimana ini Pallad?" bisik Kuroto pelan kepada Pallad yang mengerti maksud dari Kuroto tentang Shinosuke.


"Aku tidak tahu! Jika dia ikut dalam pencarian Date, rencana kita akan berantakkan!" Bisik Pallad pelan dan melirik ke arah Shinosuke yang masih berbicara dengan Haima mengenai tuntutan yang akan dijatuhkan kepada staff yang telah membantu Date.


DUARR!!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan kencang dari arah luar rumah sakit. Haima dan keenam orang lainnya merasakan guncangan yang cukup kuat membuat mereka goyah. Tanpa sadar mereka telah dalam posisi tengkurang  dengan memegangi kepala mereka.  


"A-ada a-apa ini?!" Haima bertanya dengan gelagapan, jantungnya berpacu dengan kencang setelah mendengar suara ledakan yang kencang.


Shinosuke, Hiiro dan Taiga segera menghampiri Haima yang terlihat syok dan membantunya berdiri. Kiriya, Pallad dan Kuroto segera berlari menuju arah tangga hendak melihat keadaan yang sebenarnya. Terlihat kepanikkan masal terjadi di rumah sakit. Orang-orang berlari berusaha mencari perlindungan. Pihak rumah sakit berusaha semaksimal mungkin menenangkan para pasien dan keluarga dan membantu mereka untuk mencari tempat aman.


Shinosuke lalu menghubungi kepolisian dan menginformasikan mengenai ledakan yang terjadi di Rumah Sakit Seito setelah mereka melihat ternyata terdapat salah satu mobil ambulance yang terparkir di sebelah timur rumah sakit meledak dengan tiba-tiba. Taiga, Hiiro dan Kiriya segera ikut mengevakuasi beberapa korban yang terkena imbas dari ledakan tersebut. Sedang Pallad dan Kuroto mengikuti Shinosuke yang mengamankan lokasi agar tidak ada orang yang mendekat ke lokasi terjadinya ledakan hingga pihak kepolisian datang. 


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


Poppy dan Nico terlihat menunduk dekat ranjang Emu yang tertidur. Ledakan tadi membuat mereka terkejut setengah mati. 


"Ne, kami tidak apa-apa!" Jawab Nico tegas namun tidak menutupi wajahnya yang terlihat ketakutan.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Poppy kepada kedua anggota kepolisian yang tengah sibuk berbicara dengan alat komunikasi yang mereka gunakan.


"Bom meledakan salah satu ambulance yang ada di rumah sakit. Pihak kepolisan dalam perjalannan kemari." Jawab salah satu Anggota kepolisian yang sedang mengetik sesuatu pada handphonenya.


Poppy dan Nico mendekati ranjang Emu dan mengechek keadaan Emu yang terlihat masih tertidur walaupun telah terjadi ledakan yang cukup keras di luar rumah sakit.


BRAK!


Mendadak pintu ruangan itu dibanting dengan keras oleh seorang pria besar yang memakai jas dokter.


"Maafkan kami, tapi atas perintah Direktur kami harus memindahkan Houjou-sensei segera!" Pria itu dan kedua pria lain membawa kursi roda dan mendekati Emu yang masih belum sadar.


"Kalian siapa? Aku belum pernah melihat kalian di rumah sakit ini?!" tanya Poppy penuh curiga dan memblok jalan mereka menuju Emu.


Ketiga pria itu hanya terdiam saling melirik satu sama lain. Mereka tidak menjawab pertanyaan Poppy dan terus melangkah maju  menuju Emu. Kedua polisi yang melihat tingkah mencurigakan ketiga pria itu lalu menghampiri mereka dan meraih pundak salah satu pria yang memakai jubah dokter.


"Kalian tidak menjawab per-" Belum selesai salah satu anggota polisi itu berbicara pria yang dipegang pundaknya oleh polisi itu lalu menendang perut anggota polisi itu dengan kencang. 


Polisi itu terjatuh dengan keras ke lantai membuat rekannya menarik senjatanya ke arah ketiga pria itu namun gerakan polisi itu terlalu lambat, salah satu pria yang paling pendek menendang tangan polisi itu dan menjatuhkan pistol yang dipegang oleh polisi itu. Kedua pria berjas dokter dengan cepat menyuntikkan sesuatu pada leher kedua anggota polisi itu dan membuat mereka tidak sadarkan diri dilantai.


Poppy mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Hiiro namun tangannya ditarik dengan kasar oleh salah satu pria itu. Pria itu kemudian mengikat Poppy dan Nico dan membekap mulut mereka berdua. Ketiga pria itu kemudian mendorong mereka berdua ke sofa dan membiarkan mereka memberontak tidak berdaya disana.


"Target ditemukan. Menuju lokasi selanjutnya." Pria besar yang terlihat seperti leader bagi mereka berdua berbicara dengan alat komunikasinya.


Sedetik kemudian mereka melepaskan infus yang ada ditangan Emu kemudian memindahkan Emu dengan hati-hati ke kursi roda yang mereka bawa. Poppy dan Nico yang tidak berdaya hanya bisa memberontak dan menangis melihat ketiga pria itu membawa Emu pergi. 


Ketiga pria itu dengan gerakan cepat keluar menuju arah parkir gedung Rumah Sakit Seito. Mereka meletakkan Emu yang masih tidak sadarkan diri di bagian belakang van. Mereka kemudian melepaskan jas dokter yang mereka pakai dan membuangnya di tong sampah terdekat. 


"Tunggu aba-aba!" Pria besar itu segera masuk kedalam mobil van bersama kedua anak buahnya begitu melihat polisi mulai berdatangan ke Rumah Sakit Seito. 


Mereka memasang wajah waspada. Pria besar itu membawa sebuah remote kecil di tangannya dan menggenggamnya perlahan agar tidak memencet tobol apapun sebelum waktunya. Salah satu pria menjalankan mobil dengan perlahan menuju palang pintu keluar parkiran rumah sakit Seito yang telah dijaga oleh polisi. Begitu petugas ingin memeriksa van yang mereka kendarai, Pria besar itu memencet tombol remote yang dia pegang diam-diam lalu terjadi lagi sebuah ledakan yang menghancurkan salah satu mobil yang ada pada parkiran. Ketika semua orang teralihkan oleh ledakan itu, pria yang mengemudikan van itu menacap gas dan menerobos palang rintangan yang ada dihadapan mereka dan menghancurkannya.


Para polisi panik dan segera melaporkan kejadian yang terjadi lalu meminta bantuan untuk pengejaran mobil van yang mereka curigai sebagai penyebab terjadinya ledakan diRumah Sakit Seito. Yang tidak diketahui oleh Polisi, ternyata van itu juga sebagai pengalih perhatian bagi polisi. Satu blok dari rumah sakit, van itu masuk kedalam sebuah garasi gedung. Di dalam garasi itu telah menunggu seseorang yang sedari tadi berbicara dengan mereka melalui alat komunikasi.


Ketiga pria itu keluar dari van terburu-buru dan segera mengeluarkan Emu dari van. Mereka segera mengganti mobil mereka dengan dua buah sedan hitam legam. Pria itu mendekati mereka dan tersenyum puas. Kemudian dia  segera membawa Emu bersamanya menuju salah satu mobil sedan yang telah dia sediakan. Kedua pria lainnya mengendarai salah satu sedan pergi terlebih dahulu disusul oleh pria yang paling besar yang menjadi pengendara untuk pria yang menggendong Emu masuk kedalam mobil. Mereka pun segera pergi sebelum polisi menemukan mereka bersama van yang mereka gunakan tadi.


Perjalanan mereka cukup lancar. Kepolisian hanya mencegat Van yang dicurigai sebagai kendaraan yang dipakai untuk meledakkan rumah sakit. Mereka berkendara dengan tenang dan kemudian sampai di sebuah gudang tidak dipakai di daerah dermaga yang tersembunyi. Ketiga pria yang tadi segera menyisir area gudang untuk memeriksa jika ada penyusup atau hal mencurigakan lainnya. Sedang pria yang memimpin misi ini membawa Emu menuju ke dalam gudang dan membawanya menuju ruangan yang telah disiapkan. Perlahan pria itu meletakan Emu yang masih dalam keadaan belum sadar dan lemah di atas ranjang yang telah disediakan olehnya. Dia menatap Emu dalam lalu mengecup bibir Emu yang pucat seraya membelai pelan surai hitam Emu.


"Sudah kubilang! Kamu tidak akan lolos dariku sayang! Kamu hanya milik Date seorang untuk selamanya!" ucap Date dengan nada kemenangan dan sekali lagi mencium bibir Emu lebih dalam lagi lalu memeluknya dengan erat.


❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️❆️


***Sparks against the the railing,


Distant phantoms wailing.


Through the windshield sailing,


With these airbags failing.


Now you surrender your heart,


I surrender every dream,


Every weapon you've got,


Every secret that I keep,


You can fight this all you want,


But tonight belongs to me


- My Chemical Romance - Surrender The Night***-