
Hari demi hari sudah berlalu, kini waktunya Agatha dan Alvaro menepati janji mereka berdua untuk bertemu diperbatasan.
Tidak butuh waktu lama.. pasangan tersebut sekarang sudah berada disana dengan keputusan masing-masing.
"Agatha.. saya akan menerima permintaan mu.. kita akan kembali bersama, melewati kesedihan, kebahagiaan bersama.. dan tidak akan pernah berpisah!" ucap Alvaro dengan sangat yakin. Agatha tersenyum senang, dia senang karena selama ini tetap hanya dia yang dapat membobol hati Alvaro.
"Saya tau kamu akan mengatakan ini Alvaro.. terimakasih untuk keputusannya". "Terimakasih telah mencintai saya.. saya sangat bangga memiliki kekasih seperti kamu, cantik, berhati lembut.. dan perhatian terhadap saya" puji Alvaro yang membuat Agatha ingin meleleh rasanya.
"Sudah lama saya tidak mendengar pujian yang begitu tulus.. sangatt lama.. mereka yang memuji saya, semuanya pasti ada kemauan" ucap Agatha sembari tersenyum menatap kekasihnya itu.
Posisi mereka sekarang saling membelakangi. Agatha menghadap ke Utara, sedangkan Alvaro menghadap selatan. Mereka duduk disebuah kayu yang dijadikan perbatasan oleh tetua dahulu.
"Salah satunya?". "Rahasiaa" goda Agatha sambil tertawa kecil. "Alvaro.. saya ingin bertanya, bagaimana keadaan paman Argan?" tanya Agatha, raut wajahnya seketika berubah 180°. "Yang saya tau.. sekarang dia baik-baik saja, dan tidak pernah di sakiti ayah.. kenapa kamu menanyakan Argan?" tanya Alvaro penasaran. "Bukan apa-apa.. saya hanya ingin bertemu dengan paman.. saya merindukannya" menyeramkan, ucapan Agatha semuanya bohong! dia tidak menceritakan kenyataan kepada Alvaro. Bagaimana pun juga, ia bukan bangsanya. Agatha takut dia melakukan kesalahan besar, jadi dia penuh hati-hati.
Soal kepercayaan, 100% Agatha pasti mempercayai Alvaro. Namun cinta dengan kehidupan itu jauh berbeda. Di kehidupan, Alvaro tetaplah sebagai pangeran vampir, yang bisa diperintahkan kapan saja untuk melukai bangsa serigala. Namun dalam pandangan hari Agatha (cinta) Alvaro merupakan sesosok manusia biasa, Alvaro tidak mungkin melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak hatinya.
Masing-masing dadi mereka,juga tau batasan.. Mana yang harus diceritakan, dan mana yang harus tetap dirahasiakan. Karena seerat apapun hubungannya, pasti terdapat rahasia yang tersimpan didalamnya. Bukan hasrat untuk saling membunuh.
"Agatha..saya ingin bertanya satu hal". "Apa?" tanya Agatha cepat. "Jika saya tidak bereinkarnasi, apa yang kamu lakukan?" Tanya Alvaro, mungkin ia sangat penasaran.. apa yang diperbuat Agatha jika dirinya tidak ada didunia ini. Akankah tetap mencintainya? atau mencari kebahagiaan dengan orang baru?
"Alvaro.. saya tidak akan memulai cerita baru.. sebelum cerita lama saya selesai! jadi, jika seandainya kamu tidak bereinkarnasi.. mungkin saya sekarang sedang menangisi kenangan kita, saya tidak bisa dengan mudah melupakan kamu..Almost perfect human! (manusia yang sempurna/mendekati kata sempurna) Itulah sebutan untuk kamu dimata semua wanita Var.." jelas Agatha dengan suara lembutnya.
Aarghh.. suara dan kata-kata yang diucapkan oleh Agatha, berhasil membuat Alvaro salting tidak karuan, rasanya ia ingin berteriak sekarang. Meski begitu, wajah Alvaro tetap cool.. saat ini ia sedang berusaha menutupi rona merah pada pipinya><
Dengan susahnya ia menahan senyum supaya tidak terurai di wajahnya.. namun Agatha kembali mengatakan hal yang membuatnya gagal melakukan pertahanan diri. "Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu.. stay here! (tetap disini) sampai kapanpun,saya akan menunggu seseorang yang sangat saya cintai ini untuk kembali memeluk saya".
'Kamu mau saya peluk? Agatha!! huh! kenapa kamu membuat saya menjadi begini? jantung saya berdetak kencang! ehh lupa saya tidak punya jantung!!' ucap Alvaro dibenaknya.
"Alvaro.. kalau kamu sendiri bagaimana? seandainya waktu reinkarnasi tiba.. dan pada saat itu, saya sudah menikah dengan orang lain". "Saya akan membunuh orang tersebut.. orang yang berani merebut kekasih saya!" jawab Alvaro penuh kepercayaan diri. "Kamu sangat egois". Selama perbincangan mereka, Agatha selalu mengukir senyum manisnya saat mendengar semua ucapan Alvaro.
"Saya tidak peduli! Namun, jika itu pilihan kamu.. saya tidak akan menyakiti dia ataupun kamu.. saya hanya akan menyakiti diri saya sendiri". "Tidak! kalau begitu caranya, saya tidak akan menikah selain dengan kamu.. saya berjanji". "Sejahat apapun kamu nanti di masa depan, saya tidak akan pernah membiarkan kamu terluka" Agatha berusaha meyakinkan ucapannya.
"Jangan berkata seperti itu.. saya takut di masa depan nanti, peperangan akan terjadi, dan saya takut jika saya melukai orang-orang terdekat kamu, ataupun bisa saja saya melukai mu" ucap Alvaro dengan lirih.. itu ketakutan terbesarnya dalam hidup. Dia tidak mau menyakiti orang yang disayanginya,ataupun orang terdekat kekasihnya! hanya itu saja!
"Kamu tidak akan pernah melukai saya, atau Rafael dan Amel.. karena kamu baik, hati kamu bersih! kamu tidak akan pernah melakukan sesuatu diluar kehendak hati. saya tau itu.. jika bukan karena paksaan, maka itu tidak akan pernah terjadi". "Pesan saya.. jika memang kamu diperintah dan dipaksa membunuh saya, lakukan saja.. saya tidak ingin! hanya karena saya kamu berubah menjadi pangeran yang egois! ingat! kamu harus memikirkan bangsa kamu". Jujur saat mengatakan ini, hati Agatha terasa sesak! seperti disayat-sayat dengan pisau, dan ditusuk menggunakan duri. Sangat sakit!!
"Pada kenyataannya lu harus lakuin itu!" tanpa disuruh, tidak ada undangan, dan tidak ada panggilan. Lagi-lagi Nathan datang dan merusak momen berdua mereka. Kalau begini caranya, bagaimana Alvaro bisa menjaga emosinya?
Alvaro berdiri dan diam dengan aura dinginnya. Begitu pula dengan Agatha, dia masih belum kenal dengan orang yang ada didepannya ini. "Takdir tidak akan sesuai apa yang lu mau Var! lu nggak bisa seenaknya merubah takdir!!" omel Nathan.
Orang satu ini memang tidak pernah akur dengan Alvaro. Ada saja perkara yang membuat mereka harus berdebat, atau bahkan bertarung seperti kemarin.
"Sesuai perkataan lu tadi, mungkin suatu hari nanti lu akan benar-benar jadi pengkhianat.. haha pangeran vampir yang mengkhianati bangsanya sendiri" Tanpa merasa bersalah, Nathan teruss saja memanas-manasi Alvaro. Sangat bohong apabila Alvaro berhasil menyembunyikan amarahnya. Taringnya sekarang saja sudah muncul, menunjukkan kebencian terhadap saudaranya sendiri.
Saat Alvaro ingin menyerang Nathan, Tangannya ditahan oleh Agatha. "Alvaro!" ucap Agatha. Tidak bisa melakukan banyak, karena dia juga tidak bisa masuk kedalam wilayah vampi lagi. "Akan sangat buruk, bila kamu menyerang bangsa kamu sendiri demi hubungan kita!" ucap Agatha, dengan sedikit berbisik namun masih terdengar jelas di telinga Nathan.
Mendengar ucapan Agatha, Alvaro mulai tenang. Benar juga, jika ia menyerang apalagi menyakiti kakaknya sendiri. Bukankah perjuangan Alvaro mencari muka didepan Ayahnya akan sia-sia? Nathan masih termasuk anak kesayangan Bara juga! Bisa tidak bisa, dia harus menahan emosinya!
"Wow.. hebat sekali" ejeknya sembari bertepuk tangan didepan Agatha dan Alvaro. "Dalam beberapa hari saja, lu udah bisa ngerubah sikap Alvaro? bagaimana jika setahun kedepan? ahh tidak seratus tahun kedepan? mungkin Alvaro sudah menjadi bagian bangsamu" Lanjut Nathan, dia meluncurkan tatapan sinisnya pada Agatha.
"Saya tidak pernah berfikiran merubah dia menjadi bagian dari saya! saya tidak keberatan bila dia pangeran vampir.. dan saya tau batasan" ucap Agatha yang tak mau tenggelam dalam emosinya jika hanya diam. Alvaro terkejut mendengar pengakuan Agatha. Benarkah dia tidak pernah berfikiran merubah kedudukan Alvaro? Sungguh! padahal kemarin saja Alvaro mendapatkan ide dari Arlene.. untuk merubah Agatha menjadi vampir. Terbukti, dirinya benar-benar sangat egois.
"Langsung ke intinya, gue kesini diperintahkan ayah untuk manggil lu..ada tugas yang harus lu jalanin, mending lu langsung kesana daripada duduk-duduk nggak jelas disini dan mengusir penjaga perbatasan!" ucap Nathan dingin,. sebelum ia pergi meninggalkan Alvaro dan Agatha.
"Agatha saya-" Agatha memotong pembicaraan. "Pergilah Var.. patuhi perintah ayah kamu" ucap Agatha singkat, tentu saja masih dengan senyum manisnya. "Kita masih bisa bertemu.. masih ada waktu" lanjutnya lagi.
Mendengar ucapan Nathan tadi, Agatha langsung tau.. bahwa dia saudara Alvaro. Tidak tau pasti dia kakak atau adiknya.
"Baiklah.. saya pergi dulu, jaga diri baik-baik.. saya tidak mau kamu bertemu dengan dia lagi, tanpa saya.. saya ingin, jika kamu bertemu dengannya di kemudian hari, pergilah dari tempat kamu berdiri selagi dia masih diam" Pesan Alvaro kepada kekasihnya.
Alvaro kemudian pergi dari perbatasan menuju istananya. Begitu pula dengan Agatha, dia melesat pulang sambil memikirkan apa arti dari ucapan Alvaro tadi.
_____________
Selamat sore.. masih semangat kann puasanyaa!! harus semangatt yaaa!! fighting! you are strong guys!
Jangan lupa like 👍🏽, coment 💬, vote ☑️, dan tekan favorit 🖤