
Pagi yang cerah.. Agatha terbangun dari tidurnya dan mendapati Aurel yang masih tertidur. Agatha tersenyum, kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Sebelum Aurel terbangun, Agatha menyiapkan segala keperluan Aurel. Seperti makanan, air hangat untuk mandi dan bahkan baju Aurel.
Agatha merasa kini dia seperti seorang janda anak satu. Huh! melelahkan, tapii ini merupakan saat-saat Aurel berada di sisinya. Sangat disayangkan bukan? bila Aurel pergi tanpa kenangan?
Agatha merasakan sesuatu hal yang aneh diluar rumahnya. Dan benar saja, Alvaro berada diluar rumah.. sedang berusaha membuka perisai buatan Agatha.
'sial! kenapa Alvaro harus kesini sih! bukankah gue udah bilang kalo gue sibuk? huh!!' gumam Agatha. "Siapa kak?" tanya seorang anak kecil dari belakang Agatha. "Oh?" "Aurel.. kapan bangun?" tanya Agatha menutupi kepanikannya.
"Baru saja.. kakak, Aurel mau mandi dulu yaa" ucap Aurel. Agatha mengangguk, lalu berkata "Aurel.. dengarkan kakak-" Agatha sengaja memotong pembicaraan nya. Dia berjongkok didepan Aurel, lalu melanjutkan perkataannya. "Kala Aurel udah selesai mandi.. Aurel makan yaa di dapur..? ahhh dan pakaian Aurel juga udah kakak siapkan di kamar mandi" ucap Agatha, sesekali ia melirik ke jendela dibelakangnya. Ia takut, Alvaro berhasil masuk!
Tidak! apa yang dia takutkan?? bukankah Aurel dan dia tidak pernah bertemu sebelumnya? Jadi bukan masalah besar bukan jika Alvaro bertemu Aurel? mungkin pertanyaan nya hanya ada satu! "anak siapa ini?" pasti itu!! namun apa salahnya? Agatha hanya menyediakan payung sebelum hujan. Setidaknya ia tidak kelabakan nanti.
Setelah mendengarkan ucapan kakaknya, Aurel segera mengangguk mengerti. "Satu lagi.. Aurel jangan keluar rumah ya? diluar banyak orang jahat.. kakak mau pergi dulu, mencari sekolahan buat kamu hm?" tawar Agatha berharap adiknya segera mematuhi perintahnya dan pergi.
"Baik.. Aurel mengerti, Aurel janji nggak akan keluar rumah!" ucap Aurel dan berlalu pergi. Agatha menghela nafas nya pelan, perlahan ia membuka pintu dan pandangan pertama nya jatuh pada sosok pria gagah didepannya. Pria dengan celana jeans dan sebuah jaket kulit yang berwarna hitam.
Dengan terburu-buru, Agatha menarik tangan Alvaro untuk menjauh dari rumahnya. Alvaro yang tidak mengerti apa-apa, berusaha menolak! namun kali ini, genggaman Agatha sangat kuat. Sebenarnya dia bisa melepas genggaman itu, namun dia takut Agatha akan terluka dibuatnya.
Setelah sampai disebuah taman, Agatha berhenti dan duduk dibangku taman tersebut. "Lihatlah.. taman ini indah bukan? saya bosan dirumah teruss.. dan- pemandangan dirumah juga sangat membosankan!" omel Agatha.
"Iyaa iyaa.. saya mengerti" sahut Alvaro. "Agatha.. kenapa kamu merubah perisai? ada apa??" tanya Alvaro mulai penasaran dengan tingkah laku kekasihnya ini. "A-ahh.. ituu- bisakah tidak bertanya? saya butuh privasi Var.. maaf" ucap Agatha lirih.
"Saya akan mengatakan hal ini lain kali okeyy?" lanjut Agatha. Alvaro menghela nafasnya. "Apa yang perlu kamu sembunyikan? saya kan-". Lagi dan lagi, ucapan Alvaro dipotong oleh Agatha. "Tidakkah kamu memiliki rahasia yang disimpan?" tanya Agatha cepat, dia bersikap seperti biasanya. Tak menunjukkan kegugupan ataupun kekhawatiran. Jelas-jelas dia khawatir! dia meninggalkan bencana didalam rumah? huh! bukan bencana! itu Aurel, adiknya.
"Saya-". "Tidak perlu dijelaskan, hal ini pun sudah jelas Var.. bagaimana pun, di masing-masing dari kita pasti menyimpan sebuah rahasia yang tidak diungkapkan.. saya tau dan saya paham" jelas Agatha. "Thaa.. kamu kenapa sih? kamu nggak papa kan?". "Saya baik-baik saja.. Ahh iya, ada apa kamu menemui saya? kangen?" goda Agatha sekaligus menjadi pengalihan topik nya.
"Siapa juga yang kangen kamu! ihh kepedean yaa!" kesal Alvaro, namun senyumannya jelas terukir di bibirnya. "Jadi? ada apa pangeran vampir mencari saya hm?" tanya Agatha penuh dengan kelembutan. Berharap Alvaro lengah dan melupakan persoalan tadi.
"Maaf,saya datang tiba-tiba ya? padahal kemarin kamu sudah bilang bahwa kamu sibuk". "Saya kesini nggak ada apa-apa sih.. jujur, cuman ingin melihat kekasih saya yang cantik ini" lanjut Alvaro sembari mencubit pipi Agatha pelan. "Auw!" rintih Agatha.
"Sakit?" tanya Alvaro khawatir. "Enggak! hehe><". "Var.. seandainya peperangan terjadi, dan salah satu dari kita atau bangsa kita kalah, kamu akan bagaimana?" tanya Agatha. "saya? saat ini, saya sedang meyakinkan diri saya sendiri, bahwa dimasa depan.. peperangan tidak akan terjadi" ucap Alvaro percaya diri.
"Tetap saja saya khawatir! pesan saya, jika nanti saya tewas dimedan perang, tolong jangan pernah tangisi kepergian saya.. sungguh! saya hanya ingin melihat orang yang paling saya cintai bahagia.. bukan menangis!" ucap Agatha, matanya berkaca-kaca.. rasanya perih!! beribu duri sedang menusuk-nusuk hatinya sekarang!
"Heyy! pernahkah kamu mendengar langit meninggalkan bintang? Thaa.. sampai kapanpun! Langit tidak akan meninggalkan bintang! dia akan selalu berada disisinya.. meski pada suatu ketika, bintang menghilang dari pelukannya! bahkan pada saat itupun langit tetap tegar! adakalanya dia menangis disepanjang malam, namun bintang malah tak kunjung kembali.. saat dia berhenti menangis, perlahan bintang akan muncul" ucap Alvaro, sembari mengusap air mata yang jatuh dari mata Agatha.
"Kalau kamu pergi, bohong! sangat bohong bila saya bilang kalau saya tetap tegar! karena saya bukan langit! saya pasti akan menangisi kepergian kamu!! meski saya tahu! menangis tak akan mengembalikan Agatha.. Kalaupun saya bisa! saya akan pergi bersama kamu Tha! agar kamu tidak kesepian lagi.. di kehidupan ini, saya sudah membuat kamu kesepian selama ribuan tahun.. namun saya berjanji, jika ada kehidupan selanjutnya.. saya akan berusaha sebaik mungkin! untuk tetap ada disisi kamu selamanya!" ucap Alvaro dengan senyumnya.
"Al-alvaro hikss.. saya-" belum selesai berbicara, Alvaro menarik Agatha kedalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat! membuat Agatha semakin larut dalam kesedihan. Dia sangat takut, akan berpisah dari Alvaro, Entah terpisah dengan kematian, ataupun hanya sementara.. tapi dia benar-benar tidak rela!
"Saya tau perasaan kamu.. saya mengerti dengan jelas, saya juga sama Tha! saya takut kehilangan kamu, tapi saya bisa apa? kematian tidak ada satupun orang yang tau! dan peperangan? tidak ada dari kita yang mampu menghentikannya jika sudah terjadi" ucap Alvaro.
Agatha mempererat pelukannya,dia memejamkan mata, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Alvaro. Dengan lembut, Alvaro mengelus pucuk kepala Agatha.
"Meski saya baru terlahir belakangan ini, tapi saya ingat dengan jelas kenangan-kenangan kita di masa lalu.. saya mengingat semuanya, dimana peperangan menghancurkan dunia.. dan saya juga masih ingat di nafas terakhir saya.. saya mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan barusan.. sekarang barulah saya mengerti, menangis bukan berarti menyerah dalam suatu hal. terkadang menangis dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat Thaa.. ingat kata-kata saya, menangislah jika kamu ingin menangis.. tapi jangan menyerah pada hidup!" ucap Alvaro penuh kelembutan.
Agatha hanya diam, tidak ada tanggapan darinya sama sekali. Dia masih larut dalam kenangan-kenangan di kehidupan sebelumnya bersama Alvaro yang statusnya masih manusia biasa.
Kenapa harus ada peperangan yang memisahkan banyak orang? keluarga, saudara, bahkan sepasang kekasih ataupun suami istri? Kenapa membiarkan orang-orang menderita kesedihan yang luar biasa atas kepergian orang tersayang mereka??
Agatha sedikit sulit menerima takdir, dia ingin menjadi orang normal.. tidak ada kata peperangan, perebutan tahta atau apapun lah sejenisnya.
"Thaaa.. meski begitu, jangan terlalu sering menangis didepan saya hm? saya tidak mau kamu sedih seperti ini lagi kedepannya.. saya hanya ingin tangisan bahagia diantara kita" ucap Alvaro.
"Varr.. se-sebenarnya--"
**Eittss!!! si Agatha mau ngomong apaan ya! wowww kepo nihh authorr!><
simak cerita selanjutnya readersss okayyyyy!!
jangan lupa like 👍🏽, coment 💬, vote ☑️, dan tekan favorit 🖤**