
Agatha berjalan menuju taman istana, dimana tempat itu, menjadi tempat terfavorit sewaktu Agatha diistana. "Masih larut.. gue jadi kesulitan tidur gara-gara Alvaro" ucap Agatha sambil memandangi bintang-bintang yang ada di langit malam.
"Bintang-bintang di langit? akankah kalian merasakan apa yang gue rasakan sekarang?? gue nggak tau harus nunjukin ekspresi yang gimana.. intinya, gue seneng.. gue bahagiaa banget di kehidupan ini.. masih diberi kesempatan untuk bertemu Alvaro" ucap Agatha lagi, dia tersenyum menatap langit.
"Indah ya? tapi tidak selamanya.." ucap Rafael yang sudah duduk disamping Agatha. Entah sudah berapa lama dia berada disitu. "Maksudnya?" tanya Agatha tidak mengerti akan ucapan Rafael. "Langitnya indah.. namun tak selamanya langit akan indah.. namun dibalik keindahannya, mendung membuat langit terlihat sangat menyeramkan" jelas Rafael yang masih setia menatap langit.
"Terkadang, mendung juga indah Rafael..". "Meskipun kilat menyambar dan merenggut nyawa banyak orang? gue pikir dulu lu orang yang peduli terhadap makhluk lain.." ejek Rafael. "Emang gue berubah ya? menurut lu.. selama 19.000 tahun ini.. gue gimana?" tanya Agatha, yang akhirnya mengalihkan pandanganya kearah Rafael. "lu? menurut gue.. lu orangnya tu polos,sabaran, suka perhatian banget sama orang lain.. meski bukan sebangsa lu.." "lu ingat nggak? nyawa lu hampir melayang, gara-gara lu masuk ke kawasan vampir?? haha itu sih pengalaman menegangkan sekaligus menyebalkan sih bagi guee" cerita Rafael panjang dan lebar, disela-sela omongannya juga tak lupa diselipkan tawa oleh Rafael.
"Ahh iyaa iya.. gue inget bangett.. waktu itu lu dimarahin habis-habisan oleh ayah kan? hahahaha" Agatha tertawa lepas didepan Rafael. "Kalo bukan karena gue sayang sama lu.. ogahh bangett gue melibatkan nyawa gue yang berharga iniii" kesal Alvaro. "Iyaa iyaaa.. maaff lagian namanya juga masih kecil.. gue kan gak ngerti apa-apa waktu itu" bantah Agatha tak mau kalah.
Oh iya.. jadi Rafael itu seumuran sama Amel ya.. dia udah ada jauhh sebelum Agatha dilahirkan. Posisinya juga tidak rendah, dia merupakan angan kanan raja serigala, sekaligus penjaga Agatha.
"Alesan mulu!! orang lu juga udah ngomong sama gue! ya kali lu gak tau apa-apa Thaa!!". "Iyaaa iyaa.. astagaa, gitu aja ngamok" ejek Agatha lagi. Tak terasa mereka bercanda gurau sampai hari menjelang pagi.
"Rafael.. lu pernah nggak sih ngerasain apa yang gue rasain?" tanya Agatha, dan ini tidak hanya sekali. Sejak malam tadi, Agatha terus menanyakan sesuatu yang tidak ia tahu kepada Rafael. Ia pikir Rafael tahu segalanya, ternyata hanya 70% saja yang ia tahu. Sedikit kesal sihh..
"Ngerasain yang kayak gimana? kehilangan kekasih selama ribuan tahun? atau kehilangan sosok ayah dan ibu? atauu? yang lain?". Bukannya langsung menjawab, Rafael malah bertanya balik ke Agatha. "Semuanya.. jujur aja, gue ngerasa capek hidup didunia ini.. tapi disisi lain, gue harus bertahan.. karena Alvaro ada didunia ini". "Itu tandanya,lu hidup didunia ini karena orang lain Thaa! Live for yourself! (hiduplah karena diri lu sendiri) bukan karena orang lain!! seandainya aja, orang yang ngebuat lu hidup didunia ini ninggalin lu! terus? lu juga mau pergi?" Ucap Rafael.
"I can't live alone Raf! (gue gak bisa hidup sendiri) gue butuh dia.. kalo gue bisa pergi, Why not? (kenapa tidak?)" ucap Agatha tak kalah cerdik. "Okeyy fine! lu bakal pergi kan? terus, sekarang gue nanya!! gimana nasib orang-orang yang menyayangi lu? Thaa! selama ini, lu sebenarnya nggak pernah hidup sendiri! lu masih punya gue, Amel.. setidaknya kalo Alvaro pergi.. lu masih punya kita! bangsa serigala!" jelas Rafael sembari menatap lekat mata Agatha.
Agatha terdiam, baru kali ini dia kalah debat dengan Rafael.. "Raff.. gue ingin sendiri dulu" kalimat terakhir yang Agatha ucapkan,sebelum dia pergi meninggalkan Rafael. Kemana dia akan pergi? tidak ada yang tau, kecuali dirinya sendiri.
Dia melesat (berlari cepat dengan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya) menuju hutan. Pagi-pagi begini, apa yang akan dia perbuat?
Kebetulan sekali, Agatha menemukan sebuah pedesaan yang sudah tak berpenghuni lagi. Dia berinisiatif untuk tinggal disana sementara, sebelum ia menemui Alvaro nanti. Agatha kemudian masuk ke desa tersebut. Dan benar saja, tidak ada penghuni sama sekali.. bahkan Agatha tidak mencium kehadiran vampir, serigala ataupun manusia disekitar.
Agatha masuk ke salah satu rumah kosong itu, lalu duduk dan melakukan semedi. Ia berusaha konsentrasi, supaya kekuatan yang masuk pada tubuhnya lebih sempurna.
Sementara itu, di istana serigala.. semua orang sedang mencari keberadaan Agatha, ratu kesayangan mereka. Tidak dengan Rafael, yang hanya duduk santai didepan istana. Amel yang mengetahui ketidak khawatiran Rafael kepada Agatha pun menghampirinya dan bertanya "Raff! lu kok tumben, nggak khawatir sama Agatha sih? dari semalam dia pergi loh!!". "Nggak.. dia gak perlu dicari Mel.." jawab Rafael singkat, padat dan jelas.
"Lu apa-apaan sih!! masa depan bangsa serigala sekarang nggak tau kemana! lu malah santai-santai disini! lu lupa pesan raja dan ratu!" tanda-tanda kekesalan diwajah Amel sudah sangat terlihat jelas. "Nggak gitu.. terkadang seseorang butuh waktu untuk sendiri Mel.. Agatha harus tahu, apa itu kesendirian.. dia harus paham Mel! nggak selamanya kita bisa jagain dia! nggak selamanya gue bisa terus nasehatin dia! dia butuh waktu.. gue rasa,dia sedang berada ditempat yang tidak bisa kita jangkau" jelas Rafael dengan santai, namun raut wajahnya yang amat khawatir membuatnya tak bisa berbohong lagi.
Sungguh! saat ini dia khawatir kepada Agatha! Dia takut terjadi sesuatu kepadanya. Tapi siapa sangka, keinginan hatinya bertolak belakang dengan pikirannya. Hatinya berkata, bahwa dia ingin melepas Agatha.. membiarkan Agatha melawan rasa takutnya, agar waktu dia naik tahta menaksir ratu serigala nanti, dia tidak akan menggantungkaj hidupnya kepada orang lain lagi.
Rafael sangat ingin, Agatha bisa menjaga dirinya sendiri, dapat menasehati dirinya. Sejak kecil, Agatha sudah sangat ceroboh.. berkali-kali dia hampir tewas ditangan vampir yang bahkan derajatnya masih jauh dibawah Amel.
"Wajah lu udah buktiin semuanya Raf.. baiklah, jika itu keinginan lu gue turutin.. kita disini cuman menunggu Agatha balik! lagian gue yakin, dia pasti nggak lama, karena dia harus menemui pangeran vampir Minggu depan". akhirnya terbitlah senyuman indah dimulut Amel yang sedari tadi tenggelam didalam gelapnya amarah.
"hmm.. tetap waspadai Argan juga! dia akan sangat berbahaya saat ini! bahkan tanpa aba-aba dari raja vampir, dia berani menyerang raja kita" aura dingin mulai bermunculan, aura dingin yang berasal dari tubuh Rafael. Saat melihat Argan, rasanya dia ingin mencabik-cabik badannya dan merobek mulutnya! siapa yang mengizinkan orang sepertinya melukai, dan bahkan membunuh raja?
Kalau bukan karena kekuatan raja menipis, pasti Argan sudah tewas terlebih dahulu ditangan sang raja. asshh! yang berlalu biarlah berlalu! kau ingin merubahnya menjadi apapun! tidak akan pernah bisa Rafael!!
---------
like 👍🏽, coment 💬,vote ☑️ and tekan favorit 🖤