
Terlihat ada tiga orang yang sedang duduk di sebuah ruang tamu, salah satunya merupakan Revi dan dua orang lain nya merupakan orang tua dari Lisa.
" Bagaimana keadaan Karin? " Tanya sang paman, papa dari Lisa.
Sruup...
Revi meminum teh yang telah di sajikan oleh orang rumah untuk nya, setelah beberapa teguk kan Revi pun berkata " Ibu baik-baik saja paman, tapi dia masih harus di rumah sakit untuk jaga-jaga jika saja penyakit nya kambuh lagi. "
" Apa karena itu kamu dengan ibu mu langsung kembali ke kota ini, karena penyakit nya yang kambuh lagi? " Tanya sang bibi, yang hanya di balas sebuah anggukan oleh Revi.
" Jika kamu memerlukan uang untuk pengobatan Karin, beritau saja kepada paman... nanti akan ku berikan uang nya " Ujar sang paman.
Terdengar dengusan dari Revi, dengan senyuman mengejek setelah mendengar ucapan paman nya itu.
" Bagaimana dengan waktu itu.... padahal ibu sudah pernah meminjam uang kepada anda dan pama Ken untuk pengobatan ayah ku... tapi, tidak ada dari kedua kakak laki-laki nya mau menolong nya di saat itu... " Ucap Revi, yang menatap dingin ke arah paman nya tersebut.
" Dan sekarang..... paman baru mau meminjamkan uang di saat adik mu itu sedang sekarat di rumah sakit... " Lanjut nya, terlihat jika paman nya membalas tatapan dingin dari keponakan nya itu.
" Nak.. kamu salah paham, paman mu tidak membantu ayah mu saat itu karena... " Belum selesai mama nya Lisa berbicara, Revi langsung memotong ucapan nya.
" Bibi, jangan tutupi kesalahan dari suami mu itu.... dan saya datang ke sini hanya karena undangan dari anda... tidak lebih dari itu " Jelas Revi, yang mulai meminum teh nya kembali.
" Apa begini kamu berbicara dengan orang yang lebih tua, di tambah lagi... seharus nya kamu berterima kasih kepada orang tua ku karena, sudah mau membantu pengobatan bibi Karin " Ucap Lisa, yang seperti nya telah mendengar perbincangan dari ketiga orang dewasa tersebut.
Tap.... tap... tap....
Terdengar suara langkah kaki Lisa yang mendekat ke arah ruang tamu, dengan Lisa yang menatap tajam ke arah kakak sepupu nya tersebut.
" Bocah, lebih baik kau enggak usah ikut campur urusan orang dewasa, jika kamu tidak tau permasalahan apa yang sedang di bahas oleh orang yang lebih dewasa dari mu. " Ucap Revi, yang enggan melihat ke arah adik sepupunya itu.
" Lo itu yang seharusnya tau tata krama sebagai seorang tamu di sini, jangan berani-berani nya berbicara buruk dengan orang tua gue! " Terlihat Lisa yang tidak bisa lagi menahan perkataan kasar nya, kepada kakak sepupu nya tersebut.
" Lisa! jangan berbicara kasar seperti itu kepada Revi, dia itu kakak sepupu kamu... hargai dia. " Tegur sang mama, dan Lisa hanya diam saja serta berpaling untuk tidak melihat wajah Revi.
Revi langsung berdiri dari tempat duduk nya setelah menghabiskan teh nya, dan mengambil handphone nya yang di letakkan nya di atas meja.
" Kamu memiliki wajah secantik mama mu.... tapi sayang nya sifat mu malah seperti papa mu... karena itu kita tidak bisa memiliki hubungan seperti seorang adik kakak, bahkan sepupu sekali pun " Ujar Revi, yang berjalan ke arah sang bibi.
" Saya pergi dulu bi, seperti nya percuma juga saya di sini lama-lama.... lebih baik saya ke tempat ibu saya sekarang. " Ucap Revi, yang memeluk sang bibi.
" Yaudah, besok bibi dengan paman dan Lisa akan menjenguk Karin ke rumah sakit " Ucap sang bibi, setelah itu Revi langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada paman dan adik sepupunya tersebut.
Ceklek....
" Tidak ada yang berubah dari anak itu, seperti kata pepatah buah tidak jauh jatuh dari pohonnya, ayah dan anak sama saja sifat keras nya.... " Ucap papa nya Lisa, yang meminum teh nya.
" Karena itu aku dan Ken tidak pernah merestui adik ku itu menikahi pria tersebut, dan inilah karma yang di dapatkan nya karena tidak mendengar kan kedua kakak nya " Lanjut papa nya Lisa, dan pergi menuju ke kamar nya dengan istrinya, yang hanya menghela nafas dengan sikap suami nya kepada adik perempuan nya itu.
Sedangkan Lisa, dia menatap kedua orangtua nya yang pergi ke kamar mereka, setelah tidak terlihat lagi Lisa langsung membereskan gelas yang ada di atas meja, serta mencuci ke tiga gelas tersebut.
...LISA POV...
Aku selalu bertanya pada diri ku sendiri, bagaimana rasa nya memiliki seorang saudara entah itu seorang kakak atu adik, pasti aku tidak akan merasa kesepian seperti saat ini karena aku merupakan anak tunggal dari kedua orangtua ku.
Dan mama bilang, walau aku tidak memiliki seorang saudara dari orangtua ku.... tapi aku memiliki kakak sepupu yang lebih tua 9 tahun dari ku.
Tentu saja saat itu aku senang memiliki sosok seorang kakak, walau bukan saudara kandung tapi dia merupakan sepupu ku dengan sama-sama dari keluarga Arsyan, sehingga aku memiliki sosok seorang kakak dalam hidup ku.
...----------------...
...FLASHBACK...
...----------------...
" Lisa " Panggil mama, dan segera aku pergi menuju ke ruang tamu.
Di sana bukan hanya ada orang tua ku saja, tapi juga ada sepasang suami istri beserta dengan seorang anak laki-laki, yang terlihat lebih tua dari ku beberapa tahun.
" Ada apa ma? " Tanya ku, yang berjalan ke arah mama ku berada.
" Perkenalkan ini bibi Karin dengan suami nya Farlan, dan putra mereka Revi " Ucap mama, dan aku melihat ke arah mereka.
Lalu, terlihat bibi Karin yang berjalan ke arah ku dan setelah itu dia membungkuk kan tubuh nya sejajar dengan tinggi ku.
" Pasti kamu merasa asing dengan bibi, paman Farlan dan Revi.....mungkin itu karena sudah 4 tahun udah enggak ketemu... kalau enggak salah, saat itu umur kamu sekitar 4 tahun.....ya, kan Rin? " Ujar bibi Karin, yang di balas anggukan oleh mama yang mengelus rambut ku.
" Kamu pernah tanya ke mama bagaimana rasanya punya saudara kan? " Tanya mama, dan aku balas dengan anggukan kepala.
" Di sini kamu punya bang Revi sebagai saudara mu, benarkan Revi? " Ucap mama, terlihat bang Revi menganggukkan kepala dengan tersenyum tipis kepada mama.
Setelah itu, aku pun mulai menjadi lebih dekat dengan bang Revi dan mengubah penilaian ku sebelum nya saat pertama kali bertemu dengan nya.
Aku pikir abang Revi orang yang susah di dekati, dan orang nya menyeramkan karena wajah nya selalu tertekuk , atau selalu memasang ekspresi datar dan bosan di wajah nya itu.
Tapi, ternyata dia juga memiliki sifat yang santai, lebih dewasa dan juga dia clean freak setelah aku lebih dekat dengan nya, bahkan seperti yang mama katakan bang Revi menjadi sosok kakak bagi ku.
Di tambah lagi bang Revi sendiri yang mulai mengajari ku dasar-dasar dalam hal bela diri, dan aku mulai melakukan hal tersebut saat usia ku 9 tahun.
Kata bang Revi, " Lebih baik belajar sejak dini, karena ingatan anak-anak lebih baik dari pada ingatan ketika mulai dewasa nanti " dan aku hanya menyetujui perkataan nya tersebut.
Tapi......
*
*
*
*
*
*
" Bang Revi.... ada apa... " Saat itu, merupakan terakhir kali aku menganggap nya sebagai saudara ku sendiri.
" Pergi kau dari sini bocah!.... aku tidak ingin melihat mu dan juga ayah brengse* mu itu!.... pergi sana! " Teriak nya, dan mendorong ku keluar dari kamar nya.
Braakk...... ( Bunyi pintu yang di banting Revi dengan keras )
*
*
*
*
*
*
" ......... "
" Maaf Lisa.... aku tidak bisa menahan amarah ku dari paman Liam.... jadi.... aku malah melampiaskan nya pada mu saat itu... " Ucap Revi, tapi aku tidak mempedulikan lagi perkataan nya itu.
" Sekali lagi aku.... minta maaf.... " Dan dia pun pergi keluar dari kamar ku, meninggal kan aku dengan rasa benci ku kepada nya.
" Dari awal.... aku tidak pernah ingin memiliki seorang saudara.... jadi lebih baik kamu... tidak perlu terlalu memikirkan apa yang di katakan oleh ibu ku dan bibi Rina.... " Perkataan nya tersebut.... benar-benar membuat ku sangat membenci nya.
Dan hari itu juga, terakhir kali nya kami berbicara dengan Revi serta bibi Karin dan paman Farlan yang telah pergi keluar kota....
...----------------...
...FLASHBACK END...
...----------------...
Bahkan sampai sekarang pun, seperti nya dia tidak berubah sama sekali... tetap menjadi orang rendahan dan sifat buruk nya yang masih di miliki nya sampai sekarang, seperti yang di katakan oleh papa.....anak dan ayah sama saja.
...LISA POV END...
📱Maaf, enggak bisa pergi kencan sama kamu sekarang Daren.
^^^Enggak apa-apa sayang, lebih baik kamu pergi jenguk bibi mu itu... besok-besok kita bisa pergi kencan nya.^^^
Okey, makasih ya sayang....aku mencintai mu...bye...
^^^Iya, aku juga...bye...📱^^^
" Ayo Lisa! nanti kita malah ke siangan nanti datang nya....papa kamu udah nunggu di mobil tuh... " Panggil Rina dari ruang depan kepada putri nya.
" Iya ma! " Segera Lisa memasukkan handphone nya ke dalam tas, setelah menelpon pacar nya Daren.
Tap...tap... tap...
Lisa langsung menyusul mama dan papa nya masuk ke dalam mobil, dan mereka bertiga pun pergi menuju ke rumah sakit.... untuk menjenguk Karin, ibu nya Revi yang sedang di rawat di sana.
' Walau pun aku membenci nya, bukan berarti aku juga harus membenci bibi Karin... karena yang bersalah itu putra nya, untuk apa aku harus marah kepada ibu nya '
...💟 BERSAMBUNG 🖤...
Jangan lupa dengan :
Vote ❤
Like 👍
Komentar 💬