Black and White Love

Black and White Love
BAWL 13




...DAREN POV...


Aku tidak tau apa yang di sampaikan oleh Lisa kepada Revi, dan untung nya bukan mengenai melarang pak Revi untuk tidak mengajari ku lagi.


Karena Lisa langsung pamit pulang, dan membiarkan ku untuk tetap belajar tambahan dengan pak Revi.


Walau begitu terlihat Lisa tidak merasa tenang setelah berbicara dengan pak Revi sebelum nya, bisa dilihat bagaimana dia yang pergi pamit tanpa menatap ku dan malah langsung ke luar.


Setelah kepergian Lisa, baru pak Revi terlihat dengan dua cangkir di bawa nya berisi coklat panas, satu untuk ku dan satu nya lagi untuk diri nya.


Karena merasa penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan, aku pun bertanya ke pada Revi....


Dan dia hanya mengatakan....


" Ini hanya masalah antara kami berdua dan jika kamu begitu penasaran bocah, kenapa tidak tanyakan saja kepada pacar mu itu "


" Lebih baik kita mulai pembelajaran nya sekarang, bukan kah karena hal tersebut kamu menemui bapak "


Dan aku pun tidak bertanya lagi mengenai perihal apa yang di bicarakan oleh kedua sepupu tersebut, mungkin alangkah baik nya aku menanyakan hal tersebut kepada Lisa nanti....


Aku yakin, Lisa pasti akan memberitau kan nya kepada ku...walau bukan sekarang......


...DAREN POV END...


" Sekarang adalah terakhir kita akan belajar tambahan nya, karena besok ujian nya akan di mulai.... karena itu bapak harap nilai kamu akan bagus nanti nya... jangan sampai mengecewakan bapak karena telah memberikan pembelajaran tambahan pada mu, mengerti bocah!? " Jelas Revi panjang lebar.


" Iya Revi, tapi bisa enggak kalau kamu tidak usah berbicara dengan kata bapak, saya , melainkan nama panggilan satu sama lain saat kita berbicara, padahal kita hanya berdua di sini....jadi jangan terlalu formal begitu " Pinta Daren, dan terlihat Revi menghela nafas mendengar permintaan dari murid nya itu.


" Saya itu lebih tua dari kamu bocah nakal, dan juga kita tidak sedekat itu untuk bisa berbicara sesantai itu, apa lagi kamu yang pertama menjadi teman saya yang memiliki usia di bawah saya, kebanyakan teman bapak lebih tua dan seusia bapak... karena itu saya perlu menyesuaikan diri dengan cara pergaulan mu itu bocah nakal. " Jelas Revi panjang lebar.


" Kalau begitu bagaimana kalau kita buat sebuah taruhan? " Ucap Daren, yang ingin melakukan sebuah taruhan dengan Revi.


Merasa Revi ingin mendengar taruhan nya, Daren pun melanjutkan nya.


" Jika, pada ujian kali ini saya dapat nilai lebih tinggi dari nilai ujian matematika saya yang sebelumnya... maka Revi, kamu harus mulai melepaskan cara bicara formal mu itu saat kita berdua saja atau di luar pekarangan sekolah... bagaimana? "Tanya Daren, yang menunggu persetujuan dari Revi.


" 100..." Terlihat Daren bingung, dengan apa yang ingin di sampaikan oleh Revi.


" Jika kamu mendapatkan nilai 100 pada ujian mu, maka saya akan melakukan apa yang kamu inginkan " Jelas Revi.


" Tapi... "


" Jika tidak bisa kamu melakukan nya, maka saya anggap taruhan nya batal " Ucap Revi, yang memotong perkataan Daren.


Revi langsung membawa gelas dan piring kotor ke wastafel, karena tidak ingin mendengar keluhan dari murid nya itu.


' Aku harus berusaha keras untuk mendapatkan nilai 100 pada ujian matematika ku, jika ingin membuat pak Revi membiarkan ku untuk masuk ke dalam zona nyaman nya, maka aku harus memenangkan taruhan ini ' Pikir Daren, yang telah membulat kan tekad nya untuk memenangkan taruhan tersebut.


*


*


*


*


*


*


*


10 hari pun telah berlalu, dan ujian tengah semester telah usai...


Dan sekarang merupakan di mana para siswa SMA Attarik akan menerima hasil dari ujian yang telah mereka lakukan, tapi kali ini untuk anak kelas XI dan XII menerima sendiri lapor nya tanpa orang tua mereka, hanya kelas X yang di dampingi oleh orang tua untuk menjemput lapor mereka.


Terlihat Daren dan teman-teman nya telah memegang selembar kertas yang merupakan lapor mereka, yang di mana terlihat 13 mata pelajaran di sana dengan nilai ujian mereka tertera di sana.


" Untung enggak ada tertera rangking di lapor, kalau enggak udah di sita konsol game gue " Ucap Kio.


" Walau begitu, emang nya nilai lo bagus? pasti nya malah nilai lo yang di perhatiiin oleh orang tua lo " Ujar Jay, yang melihat berapa kah nilai ujian Kio.


" Itu bukan masalah teman, karena orang tua gue hanya lihat rata-rata nilai rapor gue....nanti di bandingkan dengan nilai rata-rata lapor sebelum nya, apa kah naik atau malah turun... dan untungnya rata-rata gue naik, hahahaha " Bangga Kio yang menunjukkan nilai rata-rata nya kepada ketiga teman nya itu.


Tapi, Daren tidak mempedulikan apa yang di bicarakan oleh teman-teman nya itu, yang dia pikirkan sekarang adalah tentang taruhan nya dengan Revi pada minggu yang lalu....


Dan ternyata dia kalah taruhan, sebab nilai matematika nya 85...sedangkan perjanjian nya dengan Revi adalah 100, yang bisa dikatakan bila Daren gagal.


" Cih, sial.. " Umpat Daren, yang mata nya terpaku pada nilai matematika nya tersebut.


" Kenapa lo kesal begitu Daren? emang nya ada nilai lo yang rendah sampai kesal begitu? " Tanya Arya, yang mengintip nilai ujian yang di dapat kan oleh teman nya itu.


" Ha? Daren kesal karena nilai ujian nya rendah? yang ada tuh si Daren malah biasa aja, apa lagi saat ujian sebelum nya saat nilai bahasa Inggris dan matematika serta Fisika nya rendah, Daren biasa aja tuh....ya kan? " Ujar Jay, yang merangkul Daren sambil mengintip nilai teman nya itu, dan Kio juga ikut melihat nilai Daren.


...----------------...


...NAMA : Darendra Roger...


...KELAS : XI MIPA 9...


...1.Bahasa Indonesia : 100...


...2.Bahasa Inggris : 78...


...4.Pkn : 88...


...5.Fisika : 73...


...6.Kimia : 90...


...7.Biologi : 83...


...8.Sejarah : 75...


...9.Ekonomi : 80...


...10.Seni budaya : 85...


...11.Prakarya : 82...


...12.Pjok : 90...


...13.Lintas minat : 80...


...Rata-rata : 83.76...


...----------------...


" Sepertinya, pelajaran tambahan lo dengan pak Revi ada hasil nya... lihat aja nilai matematika lo yang sekarang lebih tinggi dari nilai yang biasa lo dapat. " Arya lah yang mulai pembicaraan, setelah melihat nilai ujian Daren.


" Sialan lo Daren, dapat nilai 100....boro-boro gue dapat nilai 100, 90 aja udah syukur gue " Umpat Jay, yang menampar pelan punggung Daren.


Terlihat Daren seperti memikirkan sesuatu, sebab dia yang tidak membalas menampar punggung Jay seperti biasa jika Jay berbuat ulah kepada nya, tapi sepertinya Daren sibuk dengan dunia nya sendiri sehingga tidak ada niat untuk membalas Jay sekarang.


" Pss... ada apa dengan si Daren, tumben enggak membalas Jay kayak biasanya? " Tanya Kio, sambil berbisik dengan Arya dan Jay karena saat ini Daren masih terpaku pada kertas lapor yang ada di tangan nya.


" Entah, udah kayak gitu si Daren sejak menerima lapor nya dari Pak Revi " Balas Arya, yang saat ini melihat ke arah Daren, begitu juga dengan Jay dan Kio.


" Woi Daren! lo kenapa gitu amat lihat lapor lo, emang ada yang salah dengan nilai lo? " Tanya Jay, tapi malah di hiraukan oleh Deren yang pergi ke luar kelas, dan entah mau kemana teman nya itu.


" Lah ni anak, malah main pergi begitu aja " Ucap Jay, yang merasa kesal karena di kacangi oleh teman nya tersebut.


" Biarin aja Daren pergi, nanti akan kita tuntut sebuah penjelasan dari Daren saat pulang sekolah nanti " Ucap Arya.


*


*


*


*


*


*


*


" Haah... " Helaan nafas terus terdengar dari mulut Daren, yang saat ini sang empu duduk di bangku koridor sekolah, tentunya hanya ada sedikit siswa di sana karena mengurus penerimaan lapor mereka.


" Kenapa wajah mu masam begitu bocah? " Tanya Revi, yang berdiri di belakang nya dan membuat murid nya itu kaget, karena tiba-tiba saja guru nya tersebut berdiri di belakang nya.


" Huuf.. pak, untung saya enggak ada riwayat penyakit jantung " Ucap Daren, yang mengusap dada nya karena berdetak kencang karena kaget... bukan karena jatuh cinta.


Terlihat Revi tersenyum geli mendengar ucapan Daren, dan langsung saja Revi merebut kertas yang ada di tangan Daren sambil duduk di sebelah murid nya itu.


" Eh.... " Tentu saja Daren bingung, kenapa wali kelas nya itu tiba-tiba saja mengambil kertas lapor yang ada di tangan nya.


" Kenapa kamu berwajah masam begitu, padahal kamu memenangkan taruhan... baru begini aku melihat orang yang menenangkan taruhan malah seperti orang yang kalah taruhan " Ucap Revi, tentu aja membuat Daren terlihat bingung dan di tambah lagi, Revi berbicara dengan santai seperti yang diinginkan oleh Daren.


" Lihat.. " Daren melihat ke arah yang di tunjuk oleh Revi, yang di mana itu pada pembelajaran bahasa Indonesia.


" Kamu sudah mendapatkan nilai 100, jadi mulai sekarang aku akan memenuhi taruhan yang telah kita berdua sepakati, mengerti bocah nakal? " Ujar Revi.


" Tapi... bukan nya nilai matematika saya bukan 100, kenapa kamu malah merujuk pada nilai bahasa indonesia ku Revi? " Tanya Daren bingung, karena seingat nya perjanjian mereka berdua adalah, jika Daren mendapatkan nilai 100 pada ujian matematika nya.


" Coba kamu ingat lagi, apa yang saya katakan pada taruhan kita berdua " Dan Daren pun mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Revi saat itu.


" Jika kamu mendapatkan nilai 100 pada ujian mu, maka saya akan melakukan apa yang kamu inginkan " Jelas Revi.


" Aku enggak pernah mengatakan nilai 100 hanya pada matematika saja, karena itu jika seseorang mengadakan sebuah taruhan kamu harus tangkap dengan apa syarat dari taruhan tersebut, agar kamu tidak mudah di akali oleh orang-orang di masa yang akan datang bocah...untung saja aku sedang berbaik hati hari ini mengingatkan apa taruhan kita berdua " Jelas Revi panjang lebar.


" Lebih baik kita ke kelas sekarang, sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi " Ucap Revi, yang sudah duluan pergi ke kelas.


' Sial, Revi.....kau membuat ku semakin tertarik kepada mu ' Pikir Daren, yang mulai menyusul Revi ke kelas.


Perlahan-lahan, tanpa di sadari Revi... Daren mulai masuk ke dalam zona nyaman nya, hanya menunggu waktu untuk membuat mereka lebih dekat.


...💟 BERSAMBUNG 🖤...


Jangan lupa dengan :


Vote ❤


Like 👍


Komentar 💬