Between Insecurity and Obsession

Between Insecurity and Obsession
Hilang



Mona duduk santai ditaman bersama kedua anak singa,dia memandang langit cerah dengan senyuman manisnya.Mona teringat dengan kejadian kebelakang hidupnya begitu banyak luka likunya.Saat sedang santai tiba tiba handphone mona bergetar..


"Drrrtdrrttdrttdrtt.. "


Mona segera mengangkat telpon itu ternyata dari pihak rumah sakit mengabarkan bahwa banu dalam posisi kritis dan hanya bisa bertahan untuk waktu tiga menit saja.


Mona yang mengetahui hal itu langsung berlari dan membanting setir dengan cepat melaju dengan kecepatan tinggi sedangkan anak singa masuk kedalam rumah dan tertidur.Mona dengan cucuran airmata menancap pedal gas dan melaju dengan cepat namun semua itu terasa slowmotion begitu lambat.


Dengan nafas tersenggal mata yang tertutupi oleh butiran air bening mona akhirnya sampai dirumah sakit dan segera berlari menuju lift dan sialnya lift macet dan sedang perbaikan lalu hanya harus berjalan melewati tangga darurat dari lantai satu sampai lantai empat dengan nafas yang tak teratur mona terus memaksakan diri berlari disetiap anak tangga.


Satu langkah lagi menuju kamar perawatan mona sudah lelah dan hampir kehabisan kesadaranya tapi dengan tekad keras mona memaksakan berjalan dengan badan yang terhuyung huyung layaknya orang akan pingsan mona membuka pintu dan terlihat banu tersenyum lalu menutup matanya nafas terakhirnya dihembuskan dengan perlahan seperti sudah terlepas dari penderitaan.


Dengan lemah mona ingin berteriak menjerit sekuat tenaga namun percuma nafasnya tersenggal suaranya tercekat dada yang sesak dan sakit mata yang sembab hanya bisa menangis dengan pilu penuh kepedihan.Rintihan tangis mona tak satupun orang yang mendengar para dokter dab suster pergi meninggalkan mona bersama jenazah banu yang baru meninggal itu didalam ruangan itu hanya terlihat seorang gadis malang yang tak berdaya hanya menangis dan mengutuk diri sendiri.


"Aku terlahir tak beruntung semua yang aku miliki perlahan hilang hingga orang istimewa yang aku cintai pun hilang ini tidak adil sungguh jika aku akan begini aku akan mengakhirinya dengan semua kekejaman" jerit mona sambil tertawa serak mona tertawa begitu mengerikan beruntungnya ruangan itu kedap suara.


Dengan isak tangis yang belum terhenti mona mencoba bangun dan berjalan terhuyung kearah jenazah banu dia mencium bibir banu dengan penuh derita tangis tak rela dan benci akan takdir yang menimpanya.Mona memeluk erat tubuh banu yang sudah sedingin es dan terus menitikkan airmatanya.


Dengan perasaan kacau balau sedih bingung dan terpuruk tak memiliki harapan apapun mona menyelesaikan semuanya untuk segera memakamkan banu lalu membayarnya,mona pergi menuju mobilnya dan segera menancap pedal gas begitu cepat linglung rasanya hampa dan kacau mona menyusuri jalan sepi dan melewati hutan hutan sepi yang hanya ada suara hewan kecil saja mona berniat pergi menuju danau tempat orang bunuh diri yang sudah menjadi legenda bahwa tempat itu selalu memakan korban.


Tanpa ragu mona turun dari mobil dan berjalan gontai kearah pohon ditepi danau dengan sabuk dipinggangnya mona segera mengikat sabunnya kedahan pohon dan segera mengikat kencang kelehernya dahan pohon itu sedikit menurun dan kaki mona menyentuh air danau yang begitu jernih terlihat wajah mona yang penuh keputusasaan saat sedang dalam kondisi hampir sekarat tiba tiba dahan pohon yang dikira kuat tiba tiba patah dan menjatuhkan tubuh mona yang lemah tak berdaya hanya tersisa 1% dari kesadarannya itu jatuh dan tercebur kedalam air beruntungnya hanya dipinggir nya saja jadi kepala mona tetap berada diposisi aman dan masih bisa bernafas.


Sunyi hening dan sepi hanya tubuh seorang gadis yaitu mona terbaring diair tak ada yang mengetahui bahwa ada seseorang disana.Gelap menyergap hari semakin larut mona belum tersadar dalam kondisinya saat ini..