
Dengan tenang, Noah mengesap minumannya. Disaat para pelayan dibelakangnya sedang mengepak segala keperluannya.
"Tuan, semuanya sudah siap," Dengan hormat, Alfred membungkuk dengan hormat. Meski usianya sudah tua, namun dia tetap mengabdikan hidupnya kepada Keluarga Eltrez. Karena itulah Noah cukup kagum dengan kesetiaan Alfred.
"Bawa semua itu ke kereta," Noah mengangguk dan melambaikan tangannya.
Lalu para pelayannya pun dengan sigap membawa semua barangnya ke sebuah kereta dan meninggalkan Noah sendiri didalam kamar.
Mata birunya memandangi matahari yang baru saja terbangun dengan tenang, menghirup aroma darah digelasnya, Noah pun kembali menyesapnya hanya untuk menemukan rasa manis dimulutnya.
"Tak kusangka, kebetulan bisa terjadi kapanpun," Dengan tenang, Noah tersenyum tipis.
Pagi hari ini, saat dia bangun, dia mendapat panggilan dari Aether bahwa buronan itu sudah lari ke Kota Eregon, Ibu kota kerajaan Alphella. Dan suatu kebetulan, bahwa dia akan mendatangi pesta ulang tahun dari Putri Reflia yang akan diadakan besok.
"Jika dua kebetulan bertemu, itu akan menjadi sebuah kemungkinan," Noah pun beranjak dari tempatnya, dan melangkah keluar untuk mencapai gerbang luar.
Disepanjang jalan, dia melihat para pelayan membungkuk kepadanya. Dia terus mengabaikannya hingga dia mencapai gerbang keluar manor Eltrez.
"Tuan, kereta sudah siap," Ucap Alfred dengan hormat.
Noah mengangguk dam memasuki salah satu dari dua kereta dengan tenang, dia pun bersandar dan menghela nafas.
"Enaknya hidup menjadi bangsawan," Dia bersandar di kursi yang empuk dan hangat dengan sangat puas.
Apalagi, dia sendirilah yang ada disini. Entah alasan apa, Adiknya menghindarinya dan memesan satu kereta lagi untuk dirinya sendiri. Tentu saja, Alfred berada di samping Kusir untuk mengantisipasi adanya penyerangan. Karena setiap kepala pelayan, pasti sudah dilatih sedemikian rupa untuk mengatasi berbagai hal yang akan terjadi.
"Aku penasaran, apa 'dia' akan ada disana?"
...----------------...
Di dalam kereta yang lain, seorang gadis berkaca dengan tangannya dan mau tak mau menjadi gugup.
Dia segera mengecek Lipstiknya dan berbagai riasan lainnya agar tidak memudar.
[Kenapa kau gugup bertemu dengannya?]
Sebuah suara bergema dikepalanya dengan nada tak puas. Natasha masih terkejut dengan suara itu, walau sudah beberapa hari dia mendengarnya.
"Itu karena orang yang kucari akan ada di kota itu," Natasha bergumam dengan pelan, takut bahwa sang Kusir dan Alfred akan tau rahasia tentang dirinya.
[Cih, manusia memang bodoh!]
Bibir Natasha mau tak mau berkedut, namun dia tetap menyimpannya dalam hati. Meski dia tau bahwa sosok yang ada didalam dirinya adalah seorang Peri, namun dia baru tau bahwa seorang Peri memiliki lidah yang tajam.
Mungkinkah dia itu Peri berwajah buruk?
[Hei! Apa kau berbicara hal yang buruk tentangku!?]
Natasha hanya mengabaikannya dan memperbaiki Make Up nya untuk berjaga-jaga.
[Hey! Jangan acuhkan aku!!]
*Brak!!
*Kieek!
Kereta berhenti secara tiba-tiba, dan kuda-kuda melengking dengan ketakutan. Natasha berpegangan ke kursinya dan terkejut.
"Alfred, apa yang terjadi?" Tanha Natasha.
"Maaf Nyonya, ada gangguan sedikit di perjalanan, tetaplah didalam, aku akan mengatasinya."
"Hei, apa ini? ternyata benar perkataannya!! Kita mendapatkan seorang bangsawan!" Natasha mendengar seorang pria berteriak dari luar kereta.
Dia mengintipnya dari jendela dan melihat selusin orang dengan memakai jubah dan pedang ditangan mereka. Natasha terkejut dan ketakutan.
Mereka--Bandit!!
[Cih!! Beraninya mereka merampokmu didepanku!! Apa mereka tak tau siapa aku!!?]
Natasha mengabaikan Peri didalam pikirannya dan bergumam. "Apa yang harus kita lakukan? Jumlah mereka terlalu banyak!"
"Oy! Cepat berikan kami seluruh barangmu!! Maka kami akan mengampuni kalian!" Seorang Pemimpin Bandit berteriak dengan keras.
"Mana mungkin! Daging mereka pasti sangat enak!" Salah satu anak buahnya pun bercanda yang menyulut tawa kejam para Bandit lainnya.
""Hahahahaha""
"Maaf tuan, kami akan membayar berapapun asal membiarkan kita lewat," Alfred, tanpa takut mencoba berdiskusi kepada para Bandit.
"Pfft! Hahahaha!! Bagaimana bisa kami membiarkan kalian lewat! Oy, cepat ambil barang mereka!!"
"Oh!!!"
Bandit pun menyerbu kereta dengan cepat, Alfred pun segera melambaikan tangannya disaat aliran mana keluar dari tubuhnya.
"[Wind Slash]!"
*Swoosh!!
"Arrgghh!! Sialan, dasar penyihir biadab!!"
Sebuah tebasan angin keluar dari tangan Alfred, tebasan itu mengenai beberaoa Bandit dan menyebabkan mereka terluka parah.
Pemimpin mereka pun tak mau kalah dan segera mengeluarkan mana dari dalam tubuhnya untuk membalas serangannya.
"[Fireball]!!!"
Percikan api besar keluar dari tangannya dan menuju Alfred.
Dia dengan cepat menghindar kesamping saat melihat serangan itu.
*Boom!
Tanah disampingnya meledak terkena serangan api dari Pemimpin Bandit. Alfred tak hanya diam, dia segera mempersiapkan serangan lainnya untuk membalasnya.
"[Chaos Wind]!!"
*Swoosh!
Bilah angin yang mengamuk segera kearah pemimpin bandit itu dengan liar. Matanya pun menyusut dan meletakkan tangannya kebawah.
"[Earth Wall]!!"
*Boom!
Ledakan terjadi karena dampak dari serangan Alfred. Debu menjulang tinggi dan suara ledakan sangat begitu keras. Dinding yang Pemimoin Bandit buat telah hancur setengah karena serangan Alfred.
"Sialan, dasar pelayan merepotkan!" Pemimpin bandit itu menyeka darah dimulutnya dengan marah.
Dia segera melihat kearah bandit yang tersisa dan berteriak, "Apa yang kalian lakukan!!? Cepat serang dia bersama!"
""[Fireball]""
""[Wind Slash]""
""[Earth Needle]""
*Swoosh!!
Berbagai serangan pun mengarah ke Alfred, namun dia tetap tenang dan mengarahkan tangannya ketanah. "[Stone gate]!"
*Boomm!!!
Debu kembali menyelimuti hutan itu dengan jangkauan yang besar. Dari balik debu itu, sebuah gerbang batu dengan rune misterius terlihat oleh para Bandit.
"I-itu, Sihir tingkat C!!!" Seorang Bandit berkata dengan ngeri.
"Cih! Lihatlah dia!! Mana nya hampir habis karena sihir itu!!" Pemimpin bandit pun tersenyum kejam saat melihat Alfred menyeka keringat didahinya dengan wajah pucat.
"Cepat serang dia bersama-sama!!!" Teriaknya.
Lalu para bandit itu pun kembai melancarkan sihir mereka bertubi-tubi kearah Alfred. Dan Alfred hanya membungkuk ditanah karena kehabisan mana sihir miliknya.
"Alfred!!!" Natasha berteriak panik.
"Nyonya, tetap lah disini," Kusir itu segera menahan Natasha dengan tangannya.
"Tidak! Alfred!!"
"Serang!!!"
Segera, serangan mereka pun meluncur cepat kearah Alfred.
*Boom!
Ledakan hebat terjadi ditempat Alfred berada. "T-tidak!!" Natasha pun hanya bisa berpegangan pada kereta karena dampak ledakan yang besar.
"Nyonya, apa kau baik-baik saja!" Sang kusir segera membantu Natasha bangun.
"Alfred, dimana dia?" Natasha dengan khawatir segera menuju ke arah lubang besar itu dengan buru-buru. Namun Pemimpin itu melihatnya dan tersenyum kejam.
"[Earth Needle]"
"Nyonya, awas–"
*Slash!
Noda darah terciprat didepan Natasha. Dia membelakkan matanya dan membeku.
"Tidak!!!!"
*Brak!!
Kusir itu pun tergeletak ditanah dengan wajah pucat. Cairan merah keluar dari tangan kirinya yang terpisah dari badannya.
"I-ini..." Natasha terduduk ditanah dengan ketakutan. Wajahnya pucat kala melihat cairan merah itu mengenai tubuhnya.
[Oy!! Apa yang kau lakukan!! Cepat gunakan kekuatanku untuk kali ini saja!!]
Sebuah suara terdengar dikepalanya, namun itu tidak menyadarkan Natasha dari keadaan Syoknya. Dia menatap cairan merah didepannya dengan tatapan kosong dan membangkitkan beberapa trauma didalam hatinya.
[Cih! Dasar manusia tak berguna!!]
Melihat Natasha terdiam disana, Pemimpin bandit itu pun tersenyum dan dan berjalan pelan kearahnya.
"Hahahaha!!! Kita akan kaya!! Cepat ambil semua barang berharga dikereta itu, sisakan gadis itu untukku!"
Dengan perintahnya, para Bandit itu pun segera berlari ke kereta dengan gesit. Namun tanpa mereka sadari, angin disekitar mereka tiba-tiba menjadi lebih kencang.
"Hm? Apa ini?" Pemimpin bandit merasakan hal janggal, dan melihat aliran mana keluar dari tubuh gadis itu.
"Berhenti–" Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, dia melihat Natasha melampaikan tangannya dengan ringan.
*Swoosh!!!
""Aarrgghh!!""
Badah angin tercipta di sekitar tubuh gadis itu dan segera menyerang para bandit yang hampir mendekati kereta itu. Natasha yang awalnya menunduk pun mendongakkan kepalanya dan menampilkan tato aneh disebelah mata kananya hinga ke pipinya.
"Beraninya kau!!"
Salah satu bandit dibutakan marah dan segera melesat cepat kearah Natasha dengan aliran sihir ditangannya.
"Menyingkirlah makhluk hina!"
*Bang!!
"Kuh!!"
Bandit itu terpental jauh hingga memuntahkan darah dari mulutnya.
Pemimpin bandit pun membelakkan matanya dan melihat tato diwajah Natasha dengan ngeri. Tato itu seperti berbentuk seperti sebuah akar bunga, persis dengan yang dia lihat tahun lalu. Saat dia mengalami mimpi buruk abadi miliknya.
"I-itu, b-bagaimana kau bisa–"
Sebelum menyelesaikannya, Natasha menunjuk kepalanya dan tersenyum.
"Bang!"
*Brakk!
Kepala Pemimpin bandit hancur dan tubuhnya terjatuh begitu saja. Melihat pemimpin mereka mati, mereka pun mundur dengan ketakutan.
"Pemimpin!!!"
"Sial, semuanya mundur!!!"
Para bandit itu pun segers berlarian dengan panik untuk lari dari Natasha, yang kini telah dirasuki oleh peri yang ada di tubuhnya.
"Heh, begitu saja kalian kabur, dasar lemah!!"
Natasha, dengan senyum sinis berkata dengan kejam dan menyibakkan rambutnya. Kini, matanya berubah dari ungu menjadi warna putih dan rambutnya berubah warna menjadi hijau dengan tato seperti akar di mata kanannya hinga pipi kanannya.
"Cih, tubuh ini sangat lemah...Omong-omong, apa kau sudah selesai melihatnya?"
Peri yang sedang mengendalikan Natasha itu pun berbalik, dan berbicara kepada sebuah pohon disampingnya itu. Dia terus menatapnya, hingga sebuah suara keluar dari pohon itu.
"Yah, aku ketahuan," Dengan senyum tipis, bocah itu pun mulai terlihat didepan Peri Natasha itu.