
"Cepat!! Buatlah perisai dan serang mereka dengan jarum tanah!!"
Dengan arahan Garry, para bangsawan remaja yang ada di depan dengan handal menciptakan dinding tanah dan melancarkan jarum tanah yang diciptakan dari dinding tersebut.
*Swoosh!_Bang!
*Kraah!!!
Segerombolan Goblin yang ganas mulai terjatuh satu persatu dengan datangnya jarum tanah tersebut. Namun, segerombolan goblin tersebut tidak berhenti.
"Sial…Gunakan serangan destruktif!!"
"Ya!!"
[Gelombang api!]
Sepercik api dilempar keluar dari dinding pelindung dan meledak.
*Boom!!!!
Ledakan itu cukup kuat di area yang sempit itu dan membawa gelombang kejut yang hebat.
Garry berdiri disana dengan getir, memandangi asap ledakan di hadapannya dengan waspada. Mengantisipasi adanya goblin yang masih bertahan. Setelah beberapa detik, tidak ada sesuatu yang keluar dari asap itu. Hingga akhirnya asap itu pun menghilang, menyisakan pemandangan para mayat goblin terbaring di tanah.
"Huft, sudah berakhir…" Ucapnya dengan lega. Para remaja di sekitarnya pun juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Kelompok yang berjumlah 7 orang itu mau tak mau sedikit mengistirahatkan tubuh dan mental mereka untuk sejenak.
"Semuanya, mari kita terus berjalan…" Garry pun menghela nafas dan segera memimpin mereka kembali untuk segera berjalan. Karena, ledakan itu pasti akan memancing para monster untuk menjadi lebih dekat lagi. Dan, mereka semua mengikuti perintahnya tanpa protes. Lagipula, dengan arahan Ian, mereka dapat bertahan sejauh ini, jadi mereka tak pernah melawan apa yang dia perintahkan sejauh ini.
"Ah, dan juga..Kerja bagus untukmu," Garry berbalik dan menepuk bahu seorang remaja berambut cokelat dengan bekas luka vertikal di pipinya.
Jika tak salah, dia sepertinya berasal dari keluarga Count Veron. Yah, dia agak lupa tentang itu, dia selalu tak bisa mengingat nama orang dengan jelas. Kecuali, dia memiliki suatu hal yang berkesan di ingatannya.
"Ya, terima kasih atas pujiannya!" Dia mengangguk dan menjawabnya dengan penuh syukur. Remaja lainnya pun juga tak lupa mengapresiasi keahliannya dengan sihir apinya.
Lalu mereka pun berjalan kembali di lorong gua yang semakin sempit itu dengan tekad membara di hati mereka. Karena, atas perintah putri, mereka diperintah untuk membawa kembali rombongan George ke titik temu, dimana mereka telah menemukan sebuah portal rusak.
'Untung saja ada remaja dari keluarga Count Eltrez itu…JIka tidak…'
Garry tak bisa membayangkannya. Argon, adalah sosok yang kuat, tapi dia bukanlah alkemis. Terlebih lagi Putri Reflia, karena dia pun menyangkalnya sendiri bahwa dia tak terlalu hebat dalam bidang alkemi.
Namun, remaja dari keluarga Count itu ternyata adalah seorang alkemis yang handal. Bahkan dialah yang menyadarkan mereka semua dari pesona sihir hitam sebelumnya dengan teknik dasar alkemis.
Karena, alkimia bukanlah teknik yang mudah untuk dipelajari. Teknik ini adalah teknik dari ras Vampir dan Elf pada zaman dahulu. Namun dengan berkembangnya zaman, pada akhirnya teknik alkimia pun berhasil masuk di peradaban manusia. Walaupun rata-rata alkemis yang ada kadang memiliki kecacatan mental dan fisik karena harus menanggung energi mana yang begitu buruk saat mereka melakukan teknik alkimia.
Dia pun segera menarik pikirannya dari hal tersebut, dan mempercayakan perbaikan portal yang rusak itu kepada Noah. Sementara itu, dia merasa bahwa dia harus memikirkan langkah lebih lanjut untuk mengantisipasi segala monster disini. Sebelumnya, dia bertemu dengan Goblin, Ogre dan Evil Plants. Memikirkan bagaimana dia bertemu mereka, dia bisa menyimpulkan bahwa semua monster yang ada disini mungkin adalah predator di hutan sihir.
Karena, setiap monster memiliki habitat nya sendiri. Contohnya di daerah gurun, monster yang muncul kebanyakan adalah Mummy, Jorogumo, Griffin, dan San Worm. Lalu di laut, didominasi oleh Siren, Hunger Fish, Great Whale dan suku Emposa yang sangat berbahaya. Dan karena itu, sihir yang digunakan pada setiap monster juga memiliki beberapa hal yang harus diingat.
Disini, jika kebanyakan adalah monster predator di Hutan Sihir maka sihir yang harus dikuasai adalah sihir halangan dan sihir yang bisa menimbulkan dampak yang keras karena pada dasarnya kebanyakan monster di Hutan Sihir adalah tanaman. Beruntungnya, beberapa orang yang dipilih putri adalah penguasa sihir tanah dan salah satunya menguasai sihir api. Dengan begitu, seharusnya mereka akan memiliki perjalanan yang lebih mudah jika mereka tidak bergerak sembarangan.
Saat berjalan, tiba-tiba mereka merasa energi mana yang pekat di hadapan mereka.
"Semuanya, cepat buat perisai mana bersama-sama!"
Mereka semua pun dengan sigap membuat perisai dengan menggabungkan mana mereka diudara dan membuat sebuah perisai yang menghalau aliran mana gelap itu dari tubuh mereka. Dalam perisai itu, merasa sedikit kewalahan dengan tekanan mana hitam itu yang terjadi tiba-tiba. Namun setelah beberapa saat, mana itu pun menghilang menjadi kabut.
"Ini..Pasti ada sesuatu disana," Ucapnya dengan yakin.
"Apa yang harus kita lakukan?" Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya. Rambut pendeknya dengan hidung yang bengkok menatap Garry dengan penasaran.
"Kita jelajahi tempat itu….Entah itu perasaanku saja, tapi…Kurasa mereka ada di sana."
Setelah mendengar keputusannya, mereka pun saling memandang dan mengangguk. Sambil mempertahankan perisai mana itu, mereka pun melangkah ke dalam lorong yang gelap itu dan bersiap, untuk mengatasi segala hal kemungkinan terburuk yang akan datang.
Mereka terus melangkah kedepan, saat perisai mana mereka menjadi penerang jalan yang gelap itu. Suasana hening menyelimuti sekitar mereka, hal ini semakin membuat mereka waspada.
"Semuanya, ambil sikap waspada..." Dengan ucapan Garry, mereka pun menyiapkan mana mereka dan menyelimuti tubuh mereka dengan mana saat perisai mana itu hancur.
Di ujung jalan, mereka menemui jalan buntu, dan hanya ada sebuah jurang ke bawah yang sepertinya berupa asal dari mana jahat itu datang.
"Ini....Jalan buntu, apa kita harus memeriksa di daerah bawah sana?" Pria berambut pendek dengan hidung bengkoknya bertanya kepada mereka.
"Apa kau gila? Takutnya dibawah akan ada monster yang menunggu kita..." Jawab seorang remaja yang sama dengan pria berhidung bengkok itu, namun bedanya dia memiliki penutup mata di sebelah kiri.
"Bagaimana dengan pendapat mu, Tuan Garry?" Seorang pria berkulit cokelat dan tubuh kekar bertanya kepadanya.
"Mari kita periksa dulu di dalam sana dengan sihir pelacak, apa disini ada yang menguasainya?"
"Aku! Aku!"
Pria muda dengan tubuh kurus dan senyym cerah mengangkat tangannya dengan ceria.
"Kalau begitu, cepat lakukan itu," Pria berhidung bengkok mengangguk padanya.
"Un!"
Pria itu mengangguk dan segera mengatur mana miliknya. Dia menunduk di dekat jurang dan melebarkan jarak mananya dari tangabnya ke tanah-tanah di sekitar jurang. Lalu dia memasukkan mananya ke dalam dinding-dinding jurang.
Mereka menunggu beberapa saat di belakangnya.
"Ini...."
Mendengar dia bergumam, membuat mereka melihatnya dengan penasaran.
"Apa yang ada disana?" Tanya Garry.
Dia berbalik dengan kaku dan menatap mereka dengan mata terbelalak.
"Aku....Menemukan mereka!!"