Become A Villain Aristocrat'S Son

Become A Villain Aristocrat'S Son
Bab 13: Fear Eater



Di lorong gua yang gelap dan mencekam, sekumpulan orang saling berjalan berdampingan dengan langkah tergopoh-gopoh dan keringat di wajah mereka.


Mereka adalah rombongan bangsawan yang terjatuh ke gua bawah tanah ini. Namun, dengan arahan George, mereka berencana untuk berpisah dari rombongan lain dan mencari jalan keluar sendiri karena Garry Trevon, tidak setuju jika mereka pergi dari sana dengan gegabah.


"Hei, kapan kita akan sampai?" George, yang kini rambut birunya berantakan bertanya dengan lelah. Baju mewahnya pun kini sudah menjadi lusuh dan tidak serapi beberapa jam yang lalu.


"...Bersabarlah," Jawab Ryan dengan tenang. Bukan tanpa alasan dia tenang, dia sendiri dilahirkan sama seperti anak Duke lainnya. Unique Skill, adalah sebuah skill yang pasti didapatkan oleh beberapa anak di keluarga Duke. Termasuk kakaknya, George dan dia sendiri.


Namun berbeda dengan George, Unique Skill miliknya adalah Non Fighting dan berguna untuk berpetualang.


[Invisible Compas], skillnya dapat membuatnya mengerti arah mata angin dan mendeteksi aliran udara dari hembusan anginnya saja.


Dan arah yang kini mereka tuju, adalah arah yang dia yakini sebagai jalan keluar karena aliran udaranya yang lebih tenang dan menenangkan dibanding aliran udara di gua itu sendiri.


*Brak!


"Berhenti..." George mengangkat tangannya dan menghentikan laju mereka.


"Ada apa?" Tanya Ryan dengan marah.


"Aura ini....Ada yang aneh dengan tempat ini!"


Ryan pun melihat sekitarnya dan tidak menyadari ada suatu hal yang aneh. "Apa maksudmu?"


"Lorong gua ini....Bukankah semakin melebar?"


Ryan pun mengerjap dan baru menyadari bahwa lorong gua itu semakin membesar, dan pada dinding-dinding gua terdapat goresan-goresan cakar yang sangat sulit dilihat jika saja mereka tak melapisi mana pada mata mereka untuk meluaskan jarak pandangan mereka dalam tempat yang gelap. Ini adalah penerapan mana pada tingkat menengah.


"Semuanya, mendekatlah padaku, segera!"


Dengan teriakan George, mereka segera mendekat kearah George dan sebuah perisai mana terbuat mengelilingi mereka dan mengeluarkan cahaya terang yang menyinari lorong gelap itu.


"Sial, berapa lama kau bisa bertahan?" Tanya Ryan.


"Mungkin 3 menit, atau kurang..." Jawab George.


[Mana Shield], dapat di manipulasi pada tingkat selanjutnya jika pengguna memiliki mana yang cukup. Mereka dapat membuat perisai itu berlapis, ataupun menjadi lebih bercahaya. Namun tentu saja, hal itu lebih banyak menyerap mana dibanding perisai biasa.


"Siapkan diri kalian, dan jangan pernah keluar dari lingaran perisai ini, apapun yang terjadi!!" Teriak Ryan.


Mereka pun segera menganggukan kepalanya dengan patuh. Ryan sedikit melirik kebelakang, pada seorang gadis berambut merah yang menyilangkan tangannya dengan angkuh. Bahkan dalam kondisi seperti ini, dia tetap terlihat arogan seperti biasanya.


"Rosean, berhati-hatilah–"


"Diam, aku tau itu," Jawabnya dengan dingin.


"Kau–"


"Berhentilah bertarung, lihatlah sekitar kita ini, jangan kalian anggap ini Istana Kerajaan!" Teriak George dengan marah.


Mereka pun diam dan kembali ke pikiran mereka masing-masing.


Dasar gadis itu!!


Ryan menguatkan genggamannya dan perlahan wajahnya memerah karena marah. Jika bukan karena ada Kakaknya disini, dia akan segera menampar gadis ****** itu sekarang karena kemarahannya.


*Aaauuuuuu!


""!!!""


"Bersiaplah!" Teriak George. Perisainya pun terlihat mengalami perubahan dan menjadi berwarna emas kehitaman yang tadinya awalnya berwarna biri muda.


"[Shield of Tortoise]"


*Bam!


*Bam!


*Bam!


Lantai gua bergetar, saat segerombolan makhluk buas mulai mendekat. Tanduk panjang yang didahi mereka, dan berpenampilan layaknya serigala. Namun mata mereka ada empat dan mulut mereka mencapai belakang mata mereka sendiri, dengan air liur yang selalumenetes dari mulutnya.


"I-itu...Fenrir!!!"


Seorang bangsawan menjadi gentar dan akan terjatuh ke tanah, ketika suara George membuatnya untuk menahan dirinya jatuh.


"Diamlah, tunjukkan padaku kenapa kau menjadi seorang bangsawan! Jangan terjatuh dan tetap berdiri!!"


"Y-ya!"


*Grrr!


Sekawanan Fenrir berhenti dan mengelilingi mereka dengan jumlahnya yang besar. Mereka pun berukuran dengan tubuh orang dewasa dan dikenal dengan racun di air liurnya yang berbahaya.


"Semuanya, jangan alihkan pandanganmu dari mereka, dan terus tatap mereka hingga mereka pergi!!"


Sesuai arahan George, mereka pun menatap para Fenrir dengan mata mereka. Bahkan, mereka hampir merasakan perih dimata mereka karena tak berkedip beberapa detik.


*Roar!!


*Bang!!


Seekor Fenrir menyerbu perisai itu dengan cakarnya dan membuat sebuah suara benturan yang sangat keras.


"Sial, mereka begitu liar!" Gumam George.


"Hei, berdirilah kau!" Teriak Ryan.


Pria itu pun segera berdiri dengan paksaan Ryan dan menatap para Fenrir itu kembali dengan matanya. Celananya sudah basah karena cairan, dan rambutnya begiti berantakan bak seorang gelandangan.


"Cepat tatap mereka lagi, jangan sampai mereka membuat kita takut!" Teriak Ryan dengan keras.


Mereka pun kembali menyiapkan aba-aba mereka dan bersiap mengucapkan sebuah sihir untuk berjaga-jaga.


Fenrir, adalah Magic Beast yang cukup unik. Mereka tidak akan langsung menyerang target mereka. Namun perlahan-lahan dengan cara mendominasi mereka dan menakuti mereka. Hingga saat dia berhasil membuat mereka semua takut, para Fenrir akan memakan mereka.


Pemakan ketakutan, itulah julukan Fenrir yang telah disematkan oleh banyak orang. Selain itu, bulu mereka memiliki peredaman sihir yang membuat mereka yang ada di formaso perisai itu tak dapat sembarangan menyerangnya dengan sihir.


Karena itulah, George, menciptakan perisai agar Ryan melakukan suatu Sihir Ritual.


"Cepat!!"


*Brak!!


*Aauuuu!!!


*Grrr–Grrr–Grrr–Grrr!!


*Brak!


"Kiiikk!"


"A-aku sudah tak kuat!!"


"M-mereka begitu menakutkan!!"


"T-tolong aku!!"


Para Fenrir mulai menyerbu perisai secara bersamaan, George bergetar dan keringat deras mengalir dari kepalanya. Dia menggigit keras lidahnya agar dia tetap mengalirkan mananya pada perisainya.


"Ryan....Cepatlah!"


"Sial! Bisakah kau bersabar.....Tunggu....Sudah siap!!"


Ryan pun mengangkat sebuah batu yang sudah dialiri Rune aneh, dan George segera mengambilnya saat perisai akan hancur.


*Crack!


"[Fire of Judgement]!"


*Bang!!


Api besar mengalir dengan deras dan bergerak seperti ular yang menuju Fenrir saat mereka hampir saja menyentuh salah seorang dari mereka. George melihat dimana seorang gadis berambut merah yang membuat sihir itu menjadi pucat.


"Cepat!!"


Namun Fenrir lebih lincah dari jilatan api panas itu dan segera menuju mereka dengan cepat.


*Roar!!!


"[Art of The Seal: Limbo]!!" Teriak George.


*Swooosh!!!


*Roar!!


Cahaya pekat menyelimuti mereka dan auman para Fenrir terdengar ditelinga mereka. Bertahap, pandangan mereka memudar kembali dan kegelapan kembali ada dihadapan mereka. Namun keberadaan para serigala itu sudah hilang tanpa jejak.


*Brak!


George pingsan dan berbaring ditanah. "Sial, kau terlalu memaksakan dirimu," Gumam Ryan sambil mengecek keadaannya. Beruntungnya, keadaannya baik-baik saja, mungkin butuh waktu satu jam untuknya agar bisa bangun.


"Ck, hei kau! Bawa dia bangun!!" Ryan menyuruh dua orang pria bangsawan untuk menggendong George yang bertubuh cukup kekar.


"T-tapi–"


"Cepatlah!!"


"I-iya!"


Mereka hanya menuruti perintah Ryan dan mengangkat George dengan merangkul tubuhnya.


"Cepat, kita harus segera keluar dari sini!"


Ryan pun berjalan dengan cepat, mengabaikan mereka yang sudah lelah dan tak dapat lagi berjalan.


"Apa yang kalian tunggu? Cepatlah!!" Teriak Ryan saat melihat mereka terdiam.


Rombongan mereka pun segera kembali berjalan. Mengabaikan rasa lelah dan takut yang baru saja mereka alami. Namun rasa bertahan hidup mereka membara dan mengabaikan lelah dan lapar yang mereka rasakan.