Become A Villain Aristocrat'S Son

Become A Villain Aristocrat'S Son
Bab 02: Vampire!?



"Tutup matamu, dan rasakan aliran yang ada ditubuhmu.....Jangan menahannya, lepaskan saja," Dengan arahan dari Paladin tingkat 6 disampinya. Noah berdiri ditengah Diagram Sihir dengan tenang.


Dia perlahan mengikuti apa yang diucapkan oleh Paladin tersebut.


Melihatnya sudah siap, Paladin tersebutpun mulai mengangkat lilin yang ada ditangannya tinggi-tinggi.


"Animam absconditam erige!"


*Swoosh!!


Badai kecil tercipta di ruang tersebut. Noah merasa seakan angin-angin tersebut menciba untuk memasuki tubuhnya. Hal ini membuatnya merasa sangat tak nyaman.


"Biarkan angin itu masuk kedalam tubuhmu!"


Noah pun mengangguk dan menciba menahan ketidak kenyamanannya dan membiarkan angin-angin itu masuk.


*Bang!


Salah satu angin tiba-tiba keluar darinya dan menabrak dinding dengan keras.


Noah mengerutkan keningnya.


Dia merasa, tubuhnya begitu ringan. Dan juga, terasa seakan ada sesuatu yang mengaduk-aduk jiwanya.


Tubuhnya semakin dingin, dan kulitnya semakin pucat.


Paladin yang melihat ini pun tetap melanjutkannya. Seberapa resiko Ritual Kebangkitan, tetap saja tidak akan ada korban jiwa....Yah, itu sejauh ini.


"Arrgghhh!!" Noah berteriak kesakitan. Ketika kulitnya perlahan terbungkus oleh lapisan es yang sangat gelap.


"I-ini, Es kegelapan!?" Gumamnya dengan pelan.


Teriakan dari Noah pun terus berlanjut, hingga tepat di dadanya. Sinar berwarna emas bersinar dan angin-angin itu pun keluar, menghancurkan area sekitar dengan liar.


*Bang!


Keheningan menerpa ruangan itu. Dan keringat dingin membanjiri pakaian mereka.


"Tak kusangka....Ini...Sangat kuat!" Salah satu Paladin bergumam dengan keras. Dan dibalas dengan anggukan rekan-rekannya.


"Ya, yang pasti, dia dapat menjadi bantuan yang kuat untuk kerajaan kelak...." Ucap Paladin tingkat 6.


Dia pun mendekati Noah yang berbaring disana. Pakaiannya sudah hancur, dan hanya menyisakan celananya saja. Dia pun mengecek denyut nadinya. Dan bernafas dengan lega.


"Setidaknya dia tidak meninggal."


...----------------...


'Ugh, dimana aku?'


Noah membuka matanya, dan mendapati dirinya berada diruang yang sangat gelap. Dia tak mampu melihat tubuhnya, dan dia merasa seakan melayang diruang yang amat dingin.


'Sial, apa aku mati lagi!?' Dia panik dan mencoba untuk bergerak, sayangnya dia tak dapat merasakan tubuhnya.


Dia mencoba sekeras mungkin untuk bergerak, namun tetap saja tak bisa. Perlahan, udara dingin semakin meningkat dan membuat nya berteriak dalam pikirannya.


Setelah beberapa jam mencoba, dia tetap tak bisa bergerak. Hal ini membuatnya putus asa dan pasrah.


'Sial, kenapa?....Padahal baru saja aku hidup lagi!'


Namun secara tiba-tiba, secercah cahaya memasuki tubuhnya. Dia perlahan menjadi hangat, dan pandangannya mulai menjadi kabur.


'Kumohon.....Aku....Ingin hidup sekali lagi!!!'


...----------------...


Aisha, berdiri didepan kamar Tuannya dengan pandangan kosong. Dia sama sekali tak merasakan apapun pada tuannya selain kebencian dan rasa jijiknya.


Tuannya selalu melakukan hal 'itu' dengan banyak wanita. Dan hal ini membuatnya sangat membencinya pada pandangan pertama.


Namun, baru-baru ini, dia merasakan sesuatu berbeda dari dalam Tuannya. Entah kenapa, dia seperti agak menjadi pendiam.


Dia mulai jarang menyentuh perempuan, bahkan memfokuskan dirinya berlatih pedang dengan keras.


Perubahan ini membuatnya sangat terkejut. Tapi tetap saja, itu tidak mengubah pandangannya terhadap Tuannya.


Tapi, saat Ritual Kebangkitan kemaren...


Dia benar-benar merasa dominasi dari Tuannya. Dia tak pernah melihat seseorang yang Ritual Kebangkitannya benar-benar dahsyat seperti itu.


Saat memikirkan itu, dia tiba-tiba mengingat seseorang yang dia kenal. Wajahnya yang sedingin es tiba-tiba saja tersenyum tipis.


"Kira-kira, sedang apa Dia disana....." Ucapnya dengan penuh rindu dan kasih sayang.


Entahlah, tapi dia merasa hangat dihatinya saat itu. Setelah itu, dia selalu bertukar surat dengannya. Namun saat dia ingin menanyakan namanya. Dia justru mengatakan bahwa dirinya tak perlu dikenal olehnya. Hal ini membuatnya sedikit cemberut.


"Apakah dia malu denganku-"


*Bang!


Dia terkejut, mendengar suatu barang terbanting keras didalam kamar Tuannya.


"Tuan, apa anda sudah bangun?" Dia benci menanyainya seakan dia peduli. Namun karena pekerjaan, dia tetap harus melakukannya. Yah, dia justru senang jika Tuan Mudanya mati saat Ritual Kebangkitan.


Sayang sekali....


"Aku....Baik-baik saja!"


Mendengar suara sayunya, dia semakin tak peduli dan hanya berdiri diluar kamarnya.


Tugasnya hanyalah untuk melayaninya ketika dia memerintahkannya. Namun jika dia tidak memberi perintah padanya, dia tak akan peduli. Bahkan jika ketika Tuan Mudanya sekarat.


Dia dengan samar mendengar beberapa gemerisik didalam, namun dia memalingkan wajahnya dan tenggelam dalam pikirannya tentang bocah berambut pirang itu.


...----------------...


"S-sial, bagaimana ini terjadi!?" Dengan lirih, dia berusaha agar ucapannya tidak terdengar oleh Aisha yang ada diluar.


Bagaimana tidak, dia memandangi kearah cermin besar di kamarnya dengan terperangah. Kulitnya pucat, dengan taring tajam yang tumbuh dan telinga runcing.


Bagaimana dia tidak tau dengan ciri tersebut.


Vampir!!!


B-bagaimana bisa aku menjadi Vampir!?


Dia panik, dan mencoba mencari tau untuk menyembunyikannya.


"Sial, aku harus bagaimana?"


Setelah dari ruang gelap itu. Dia tiba-tuba terbangun dan menyadari bahwa ada yang berubah dari tubuhnya.


Dia melihat kearah jendela yang ditutupi oleh tirai. Dia penasaran, dan mengarahkan tangannya kearah sinar matahari yang mengintip.


Setelah menunggu, dia tidak merasakan apapun. "Apakah Aku kebal matahari!?" Hal ini membuatnya sedikit lega.


Telinganya sendiri bisa dia sembunyikan dengan rambut panjangnya. Sedangkan taringnya, dia bisa menyembunyikannya dengan hanya diam sepanjang waktu.


Namun satu-satunya hal yang mengganggunya adalah ketakutannya terhadap matahari. Namun setelah mencobanya, dia senang bahwa dia sendiri kebal dengan matahari.


"Setidaknya, mari kita lihat kekuatan fisik ku," Dia pun mencoba mengangkat lemari pakaian miliknya.


"Woah, ini sangat ringan," Gumamnya dengan senang. Dia melambai-lambaikan lemari di genggamannya dengan agak mudah. Yah, walau ada sedikit beban yang terasa, namun hal ini tetap membuatnua senang.


"Tunggu, aku secara teknis adalah Vampir sekarang, itu berarti.....Bukankah aku harus selalu meminum darah?" Dia terperangah dengan pikirannya sendiri.


"Tidak, walau begitu, ada beberapa Vampir berhasil bertahan tanpa darah meski rata-rata dari mereka justru menjadi lemah," Dia pun berpikir, dan memutuskan untuk tidak meminum darah dalam beberapa hari. Dan mencoba untuk melihat hasilnya.


Jika dia menjadi lemah, maka sudah dipastikan dia butuh asupan darah. Tapi jika dia masih tetap seperti biasa, maka dia senang bahwa dia tidak akan meminum darah.


Apapun alasannya....Dia sedikit memiliki ketakutan terhadap darah.


Lebih tepatnya itu adalah Noah Eltrez, dia sendiri juga tak tau kenapa dia takut dengan darah. Entahlah, perlahan ingatannya menjadi terkuras.


Namun saat melamun, dia merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Dia mengerutkan keningnya dan memandangi kearah sampingnya.


"Apa....Itu?" Dia melihat kearah benang-benang yang terbang diudara dan menjadi satu.


Saat dia mendekatinya, tiba-tiba sesosok kepala keluar dari benang tersebut. Wajah nya terlihat pucat dengan rambut panjangnya yang terlihat.


"!!!"


*Bam!


Lemari ditangannya terkejut. Dia terperangah sambil melihat tato yang dia kenal di dada Wanita pucat itu.


Tato Archdemon!!!


"Romanos, Vanilla, Gefrion..." Setelah mengucapkan hal itu, wanita itu menghilang tanpa jejak.


"Tuan, apa anda sudah bangun?" Mendengar suara dari depan kamarnya. Membuatnya sadar akan kehadiran Aisha.


"Aku....Baik-baik saja," Ucapnya sambil mencoba agar nada suaranya setenang mungkin. Namun nyatanya, suaranya terdengar sayu, hal ini karena ketakutannya akan Wanita Archdemon tadi.


Sial, apa yang terjadi disini!? Kenapa Archdemon tiba-tiba muncul didepanku!?