
Di dalam Manor Eltrez, suasana bahagia memenuhi seluruh Manor. Berita bahagia bahwa sang Nyonya Eltrez yang sudah bangun dari sakit misteriusnya itu telah menyebar ke daerah sekitar dengan cepat.
Di sebuah kamar, Nyonya Eltrez, yang memiliki perawakan cantik dan anggun memandangi matahari terbenam melalui jendela sambil berbaring diranjang besarnya.
"Sayangku, akhirnya kau bangun! Sudah lama aku menantikan dirimu!!" Earl Eltrez, menyentuh tangan Nyonya Eltrez dengan penuh kasih sayang dan air mata yang keluar dari wajahnya.
Mungkin itu terlihat normal dipikiran Claire dan anaknya, Natasha. Namun dihadapan Alfred, yang mengetahui segala sisi jahat keluarga Eltrez, dan Noah, yang memiliki ingatan dikehidupan sebelumnya. Penampilan Duke Eltrez begitu ganjil.
"Sejak kapan dia menyayangi istrinya seperti itu?" Itulah yang ada dibenak Alfred. Namun dia tetap menutup matanya dan menganggap bahwa pemikirannya seolah-olah hanyalah angin lewat yang tidak penting.
Namun berbeda dengan Noah, dia senang bahwa Ibunya sudah sadar kembali. Namun apa artinya ini? Bagaimana bisa Ibunya sadar? Lalu kenapa tingkah Ayahnya seperti itu?
Dan juga.....Aura gelap apa itu yang melingkari Ibunya?
Noah memutuskan menyimpan pertanyaan itu kedalam pikirannya. Dia tak mau mengganggu momen haru ini. Lalu tiba-tiba, matanya bertabrakan dengan mata ibunya yang tiba-tiba berbalik kearah mereka.
"Noah....Natasha.....Kalian...Kalian sudah besar, ya?" Mendengar suara halus Ibu mereka. Hati mereka langsung bergetar dan terharu, sosok Ibu yang sudah lama hilang, kini mulai muncul kembali.
Natasha pun terisak, pipinya yang halus terasa hangat oleh air matanya. "I-Ibu!!" Natasha pun langsung memeluk ibunya dengan haru.
Melihat keduanya, Noah hanya tersenyum tipis.
Inikah kasih sayang Ibu?
Dia tak pernah berpikir bahwa dia akan memiliki kehidupan keduanya. Di kehidupannya dulu, dia tak mengenal orang tuanya. Dia hanya tinggal dengan Neneknya, hingga diusia dua belas tahun dia ditinggalkan sendiri oleh Neneknya yang sudah rentan. Dan dia hidup sendiri sejak saat itu.
Dia tetap berdiri disana dan hanya menatap anak dan ibu yang saling menukar rindu dengan pelukan mereka.
Noah pun hanya memaksakan senyumnya mengingat aura didalam Ibunya itu.
"Oke, aku tau aku mengganggu reuni kalian, tapi...Ibumu perlu istirahat untuk memulihkan keadaannya," Dengan ucapan Earl Eltrez, mereka pun segera meninggalkan mereka berdua sendirian dikamar yang luas itu.
Natasha dan Ibunya sedikit enggan untuk berpisah. Namun, dengan tatapan lembut Ibunya, dia pun keluar dari sana. Noah, yang keluar terakhir dari kamar itu merasakan tatapan dingin dari belakangnya. Dia hanya menoleh, dan hanya melihat tatapan Ibunya kosong dan hampa tertuju kepadanya.
*Brak!
Pintu pun tertutup, meninggalkan Noah yang satu-satunya ada disana. Dia berdiam diri disana, dan menghela nafas. Dia senang bahwa Ibunya telah sadar, namun jika hal ini karena ritual jahat, maka Noah mau tak mau merasa kasihan.
Dengan wajah serius, dia pun segera kembali ke kamarnya dan mengeluarkan sebuah batu dengan rune kuno yang dia simpan di dalam lemari pakaian miliknya.
Memegang batu itu, dia pun segera menyalurkan mana nya dan membuat rune yang ada di batu itu bersinar.
"Vocans, videns, auditus.."
Setelah mengucapkan ketiga kata itu, rune itu segera menyebar keudara dan membentuk sebuah badan hologram dari rune tersebut.
Sesosok wanita bertelinga elf ditampilkan diudara, namun wajahnya tertutupi dengan sebuah topeng berwarna merah.
"Kenapa kau memanggilku?" Aether, yang memakai topeng diwajahnya bertanya dengan penasaran.
"Aku ingin meminta bantuan, bisakah kau membantuku mengawasi seseorang?"
Mendengar permintaannya, Aether pun terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya lagi. "Apa manfaatku jika aku membantumu?"
Noah sudah mengharapkan pertanyaan itu keluar dari Aether, lalu menjelaskannya dengan jelas dan sejujur-jujurnya. "Ada kemungkinan bahwa Pria ini memasuki kultus dewa iblis jahat." Ucapnya dengan singkat.
Setelah menjelaskan maksudnya, Aether mau tak mau membeku dan terkejut. "Dewa Iblis!? Bagaimana bisa kau–"
"Itu rahasia, jadi kau mau membantuku mengawasinya atau tidak?" Tanya Noah.
Aether pun menjadi serius dan memikirkan resiko yang akan dia tanggung. Namun, memikirkan masalah ini, mau tak mau dia menjadi ragu.
"Aku ingin tau, apa alasanmu mengira dia masuk kedalam Kultus jahat itu?"
Noah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Aether. Lalu dia pun menjelaskannya, seolah seorang detektif yang sedang menganalisis penjahat yang akan mereka tangkap.
Setelah menyampaikan kecurigaannya beserta buktinya, Aether mau tak mau hanya menghela nafas."Yah, aku akan mengusahakannya. Omong-omong, Ritual peramalannya sudah siap besok, apa kau mau–"
"Tidak."
Aether mengerjap. "Apa maksudmu? Bukankah kau ingin hasil dari ramalanku?" Ucap Aether dengan heran.
"Ini masih terlalu berbahaya bagimu," Mendengar ucapannya, Aether mau tak mau mengerutkan dahinya.
Noah pun hanya menghela nafas melihatnya. "Bagaimana jika Kultus jahat akan memanfaatkan energi bulan besok? Kau justru akan diketahui oleh keberadaan misterius yang akan mereka panggil."
Mendengar ucapannya, Aether pun mengangguk dengan pengertian. Lagipula, ketika para Kultus itu memanggil Iblis sesembahan mereka, semua kekuatan kegelapan yang ada dibawah Iblis itu akan terlihat dan diketahui keberadaannya oleh Iblis itu.
Dan dari semua kekuatan kegelapan, kekuatan Aether adalah yang paling umum untuk dilihat oleh keberadaan Iblis itu. Berbeda dengan dirinya, Vampir, mereka hanya bisa terlihat dan diketahui jika keberadaan yang mereka panggil sendiri adalah leluhur dari Vampir. Tapi tentu saja itu tak mungkin, lagipula Sang Leluhur Vampir telah tersegel disebuah tempat dengan segel yang sangat kuat.
"Kalau begitu baiklah, aku akan mengawasi orang yang kau curigai itu, apa ada hal lain lagi yang ingin kau tambahkan?"
"Keluarganya....Awasi juga keluarganya," Aether mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan Noah.
"Keluarganya? terserahlah jika itu mau mu, aku akan berusaha sebaik mungkin." Ucap Aether. "Omong-omong, karena kau meminta bantuanku, aku juga ingin meminta bantuan mu sebentar."
Mendengar ucapannya, Noah mengangguk. "Apa itu?" Tanya Noah.
"Kebetulan, salah satu dari buronan kita bersembunyi di Kota Barrel, tapi dia bersembunyi dilingkungan bangsawan yang membuat kita tidak bisa melacaknya. Mungkin ini akan berat bagimu, tapi bisakah kau menemukannya dan membunuhnya jika bisa?"
Mendengar permintaannya, Noah memikirkannya sebentar hingga dia membuat keputusan. "Ya, aku akan mengusahakannya," Ucap Noah.
Aether pun mengangguk mendengarnya. "Kalau begitu aku akan pergi, ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan," Setelah mengucapkan hal ini, Aether pun menghilang dari udara, dan rune kuni yang menyebar diudara perlahan kembali lagi ke batu yang ada ditangan Noah.
Noah pun menghela nafas dan duduk di kursi santai miliknya sambil melihat pemandangan ke luar dari jendela kamarnya.
Dia memandangi matahari terbenam yang indah, dengan selimut jingga yang menebar indahnya dilangit. Noah pun bersandar di kursinya dan menutup matanya.
"Huh, aku ingin bersantai sejenak..."
...----------------...
Pada malam hari, suasana Manor Eltrez begitu sunyi dan tenang.
Di taman bunga keluarga Eltrez, seorang gadis berambut hitam dengan mata hijau duduk di kursi taman dengan buku ditangannya. Dia memakai gaun tidur berwarna merah muda dengan ikat kepala berwarna ungu yang mengubah rambutnya menjadi gaya Ponytail.
"Apa kau yakin? Maksudku, Ibumu baru saja terbangun bukan?" Claire, yang sedang duduk didepannya menatap gadis muda didepannya yang sedang membaca buku dengan tenang. Claire menyilangkan tangannya dan menatap keputusan yang akan dia buat.
Natasha, yang mendapat keraguan dari Claire pun hanya tersenyum. "Tapi, menjadi bagian dari kalian juga adalah mimpiku, lagipula, Ibuku pasti akan mendukungku jika tau tujuanku."
Mendengar ucapan Nyonya muda keluarga Eltrez ini, Claire hanya tersenyum. "Tapi ingat, mungkin kau tak akan pulang dalam jangka waktu yang sangat lama, apa kau siap?" Tanya Claire dengan serius.
"Um, aku siap." Natasha menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu, mari kita berangkat besok. Aku yakin, kau pasti dengan mudah dapat menjadi anggota tingkat 5," Ucap Claire dengan tersenyum.
Anggota dalam Red Chariot terbagi menjadi tujuh tingkat. Tingkat 7 adalah yang terendah, dan tingkat 1 adalah yang tertinggi. Sedangkan untuk Claire, dia berada di tingkat 3.
Setelah itu, mereka berdua pun pergi ke masing-masing kamar mereka. Natasha, yang berbaring diranjangnya mau tak mau menghela nafas.
Agar dia bisa berada di pasukan impiannya, Red Chariot, dia harus meninggalkan keluarganya selama beberapa tahun. Bahkan dia harus meninggalkan Ibunya yang baru saja terbangun hari ini.
Namun, tekadnya sudah kuat. Demi Pria itu, pria yang telah menyelamatkannya dulu disaat dia diculik oleh bandit, dia sudah berjanji untuk masuk kedalam Red Chariot bersamanya nanti.
Menatap langit-langit kamarnya, mata ungu miliknya bergetar dan memiliki pancaran rasa rindu yang kuat kepada seseorang.
"Aku penasaran, sedang apa dia disana....."