
Sasana hening dan dingin membuatnya tak nyaman, dia hanya mengikuti arahan dari pria remaja di depannya dengan ragu di hatinya.
"Apa kau yakin ini jalannya?" Rosean dengan nada ragu bertanya.
"Diamlah, akulah yang memimpin sampai George bangun," Dengan kasar, dia pun menjawab pertanyaannya. Sudut mulut Rosean berkedut dengan nada percaya dirinya.
Di lorong gua yang gelap, mereka berjalan dengan tenang tanpa terburu-buru. Dinding-dinding gua semakin luas saat mereka berjalan. Di atap gua, banyak jarum tanah yang tajam dan meneteskan air darinya.
"Tunggu…"
Mereka pun berhenti disaat Ryan, pria yang selalu membuatnya jijik mengangkat tangannya. Rosean pun mengangkat alisnya dengan penasaran apa yang akan dilakukannya. "Ada apa?" Rosean bertanya.
"Di sekitar sini…ada hal yang aneh," Gumam Ryan.
Mereka yang mendengarnya pun segera menajamkan pendengaran dan insting mereka dengan cepat. Dibanding kelompok Tuan Putri, sebenarnya di kelompok ini banyak para pendekar pedang yang cukup handal. Hanya saja mereka tak dapat menonjolkan diri mereka saat melawan Fear Eater. Karena itulah mereka hanya dapat melancarkan beberapa sihir tingkat dasar untuk membantu melawan sekumpulan monster seperti mereka.
Namun, kini mereka segera tidak menahan diri mereka dan dengan percaya diri berdiri di depan teman-teman mereka. Rosean pun melihat sekelilingnya, di mana lorong gua itu dipenuhi oleh lendir transparan yang mencurigakan.
Sebuah pikiran melintas. Slime? itulah hal yang pertama dipikirannya. Dia kembali melirik Ryan yang diam di sana, mungkin tengah memikirkan rencana atau hal lain? Rosean tak tau pasti apa yang dipikirannya.
Slime adalah monster parasit berlendir yang mudah terbakar. Kadang, mereka para Slime akan memarasit hewan maupun tumbuhan. Sebenarnya, Slime monster yang mudah diatasi. Namun, mereka dapat dengan mudah memasuki tubuh manusia dan menghancurkannya dari dalam.
"Kalian, buatlah dinding tanah dengan sihir kalian!" Teriak Ryan. Mereka, yang ditunjuk oleh Ryan pun mengangguk dengan cepat dan menyentuh tanah dengan telapak tangan mereka.
[Earth Wall]
*Brak!
Dinding tanah pun tercipta di depan mereka semua, walau tak begitu tinggi, setidaknya cukup untuk berlindung dari serangan dengan kekuatan rendah.
"Lalu, semuanya, menunduklah dan berlindung di balik dinding tanah ini!!"
"U-um, Tuan, apa yang kau renca-"
"Diam!"
Pria yang dibentak oleh Ryan pun mengecil dan segera mematuhi perintahnya. Mereka memutuskan untuk berjongkok dan berlindung di balik dinding tanah itu. Rosean menyipitkan matanya dan tak tau apa yang sedang dia pikirkan.
"Rosen, tembakkan sihir apimu ke salah satu lendir disana!"
Mendengar ucapannya, Rosean pun terkejut. "Apa yang kau rencanakan? Jika apiku mengenai itu bukankah akan terjadi-"
"Diamlah, turuti saja perintahku," Ryan dengan dingin menatap Rosean dengan matanya. Tubuh Rosean pun menegang dan merasakan hawa dingin di punggungnya.
A-apa ini? Perasaan ini…..Seperti bukan Ryan, ini sangat aneh.
Rosean pun menggertakkan giginya dan menuruti perintahnya saat mata dinginnya sama sekali tak berkedip dan terus-terusan memancarkan hawa dingin yang aneh.
Masalahnya, didepan mereka terlalu banyak Slime yang dapat membuat ledakan hebat. Dan juga, mereka sedang ada di sebuah gua.
Dia pun menghela nafas dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Ryan, dia pun segera mengarahkan tangannya ke arah lendir yang ditunjuk oleh Ryan dan menggumamkan 2 kata.
[Fire Bullet]
*Swoosh!
Mana miliknya berkumpul di telapak tangannya dan mulai memanas secara tidak wajar. Alhasil, api terbuat dari udara kosong dan dengan perlahan mulai terbentuk api kecil yang berbentuk seperti sebuah peluru kecil. Setelah membidiknya sebentar, dia pun menarik nafasnya.
"Release!"
*Swoosh!
Peluru api melesat dengan cepat.
*Duar!
*Drrtt!
Lalu ledakan pun menjadi mengecil secara mengejutkan yang hanya menyisakan uap panas dan lubang yang berserakan di dinding ataupun lantai gua. Entahlah, tapi seperti ada sesuatu yang menyerap dampak ledakan itu. Sayang sekali dia memejamkan matanya, jadi dia tak dapat melihat apa itu.
"Lihatlah dindingnya!" Seorang Pria berseru dengan terkejut.
Rosean pun juga mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh pria itu dan terkejut.
Sebuah cahaya kecil, keluar dari tempat yang dia tembakkan tadi, yaitu di dinding kiri bawah mereka. Cahaya itu redup namun memancarkan energi sihir yang cukup kental. Rosean segera menatap Ryan dengan tatapan terkejut.
"Apa itu yang kau rencanakan?" Tanya Rosean.
"Kalau iya, apa masalahmu?" Jawabnya.
Rosean terdiam. Sejak kapan dia berubah menjadi pria yang rasionalitas seperti ini?
Apakah ada suatu alasan? Tidak mungkin karena terjebak di gua ini menyebabkan orang berubah kepribadiannya secara drastis.
Ryan pun segera menghampiri retakan cahaya itu dan meletakkan tangannya diatas cahaya itu. Mana terkondensasi di telapak tangannya, walau kapasitas mananya kecil, setidaknya dia bisa melakukan beberapa trik alkemi kecil.
"Release!"
*Brak!
Tanah yang dia sentuh pun menjadi pecahan kecil dan hilang dilahap cahaya itu. Akhirnya, sebuah lubang pun tercipta dari cahaya itu dan membuat sebuah lubang tikus besar yang mengarahkan mereka ke bawah sana.
"Apa itu?"
"Itu…Pasti adalah sarang monster berada!"
Gumaman mereka masuk ke telinga Rosean, namun dia tak mempedulikannya dan menatap Ryan dengan serius. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rosean dengan penasaran.
Ryan, tanpa berbalik menjawab. "Tentu saja, keluar dari sini…."
Rosean terdiam dengan jawabannya dan menghela nafas. Dia pun memandang George yang tengah di gendong oleh salah satu dari pendekar pedang yang ada di kelompok ini dengan Ryan yang sedang memegang dagunya dengan matanya yang menjadi kosong sesaat
Rosean mau tak mau berkeringat. Apakah akan semudah ini? Lalu, bagaimana dengan rombongan Tuan Putri?
"Kalian, apa kalian ingin keluar?" Tiba-tiba Ryan berbalik dan menatap segerombolan pria dan wanita dengan matanya.
"Tentu saja!" Salah satu bangsawan menjawab untuk mewakili teman-temannya yang diiringi dengan anggukan putus asa mereka.
"Kalau begitu, ikuti aku…"
*Swoosh!
Ryan melompat kedalam lubang itu dan membuat mereka terkejut.
"A-apa yang kau lakukan!!" Salah seorang pria panik saat melihat Ryan melompat.
"Nyonya Rosean, apa yang harus kita lakukan?" Seorang perempuan yang baju mahalnya kini sudah lusuh bertanya dengan ragu. Dibanding Ryan, mereka lebih mempercayai Rosean dan George karena kebaikan dan kekuatan mereka.
Rosean berhenti sejenak, dan melihat George yang masih dalam keadaan pingsan disana.
Entah kenapa, tapi….Sepertinya ini keputusan yang buruk.
"Kita melompat"
"Eh?" Pria di dekatnya membeku dengan keputusannya.
"T-tapi-"
"Cepat, kita tidak seharusnya membuatnya menunggu."
Rosean hanya menghela nafas dan menatap lubang dimana Ryan tadi melompat.
"Firasatku merasakan hal yang buruk…"