
*Swoosh!
*Bang!
*Bang!
Mengayunkan pedangnya. Noah, yang kini berusia 12 tahun terlihat lihai dengan pedangnya. Dia mengayunkannya dengan ringan secara cepat namun akurat mengenai sasaran kayu didepannya.
Dia terus menerus menyerangnya, hingga dia merasa hal itu cukup dan dia pun berhenti. Keringatnya membasahi tubuhnya yang sedang bertelanjang dada itu. Menampilkan bentuk otot yang sempurna. Tidak berlebihan, namun tidak kurang.
"Tuan Muda, Ayah Anda memanggil anda untuk kekantornya," Noah memandang pelayannya ini dan mengangguk sebagai jawaban.
Awalnya dia tidak mempedulikannya. Namun entah kenapa, setiap tahun Aisha tumbuh menjadi wanita cantik.
Tidak, dia sangat penting untuk tujuanku kedepan.
Ketika Aisha dan MC menikah. Dia ingat bahwa anak mereka akan menjadi Juru selamat Dunia. Dan itu sudah ditakdirkan oleh garis takdir.
Noah pun memakai bajunya, mengabaikan Aisha dan berjalan ke kantor Ayahnya. Melewati setiap lorong, para pelayan menundukkan kepala mereka dengan takut.
Yah, mereka semua takut dengan reputasiku yang katanya suka memperkosa seseorang.
Tentu saja, itu adalah palsu!
Anehnya, kali ini Aisha tidak mengikutinya seperti biasa. Dari pagi saja dia selalu menghindarinya dan sibuk dengan urusannya sendiri.
Yah, semua orang memiliki urusannya sendiri.
*Click
Noah membuka pintu kantor Ayahnya, dan mengerutkan keningnya pada seorang Pria yang duduk membelakanginya dan terlihat sedang bercanda dengan Ayahnya.
"Ayah, kenapa kau kau memanggilku?" Ucapnya dengan dingin.
"Oh, ini dia anak ku! Perkenalkan, Dia Fred Colum, mulai saat ini, dia akan menjadi guru sihir mu!" Melihat senyum Ayahnya. Noah hanya terdiam, Dia pasti memiliki tujuan terselubung.
"Perkenalkan, namaku Noah Eltrez," Noah memulai etiket bangsawan dengan hormat. Setelah pendidikan tata krama yang selalu dia datangi. Dia mempelajari berbagai tata perilaku bangsawan.
"Anak yang sopan, sama seperti Ayahnya," Dengan mulut manisnya, dia mencoba menjilat kaki Ayahnya. Dia adalah seorang Pria muda dengan kacamata diwajahnya. Rambutnya berwarna hitam dengan matanya yang berwarna abu-abu.
Tentu saja, dia tau siapa dia.
"Kuhahahaha! Sperti biasa, mulutmu memang sangat manis! Tak heran banyak Wanita yang mengantri untuk mu!" Mendengar tawanya, wajah Noah menjadi gelap.
Sekte Elhepto, adalah Sekte sesat yang beribadahnya dengan cara berhubungan intim dengan Istri anggota yang lain. Dan Ayahnya, kemungkinan bergabung dengan sekte ini. Termasuk juga orang didepannya.
Ini karena dia sudah menyelidiki Ayahnya secara rahasia dengan bantuan Aisha. Tentu saja, dia sadar bahwa itu akan membuat kebencian Aisha semakin besar. Namun tak apa, semakin kebenciannya besar, maka semakin besar kekuatannya. Dan dia akan menjadi bantuan yang bisa Noah pakai kapanpun untuk menjalankan rencananya.
Namun dia sendiri tidak takut terbunuh olehnya. Karena dia yakin, seburuk apapun diriku dulu, kini aku hanya terlihat seperti Anak Bangsawan pada umumnya.
Tiba-tiba saja, seekor burung merpati hitam turun ke jendela kantor dan mengetuk kaca dengan paruhnya.
*Tok!
*Tok!
*Tok!
Semua yang ada diruangan itu mengalihkan pandangan mereka kearah burung tersebut. Si guru dair akademi mengerutkan keningnya dan saling memandang dengan Ayahnya.
"Ahem, Noah, mungkin kau harus beristirahat dulu hari ini," Ucap Ayahnya.
"Maaf, ada urusan mendadak antara Aku dengan Ayahmu," Guru tersebut meminta maaf dengan lembut.
Noah pun hanya mengangguk dan segera keluar dari sana. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi pakaiannya.
Bagaimana tidak, hal ini karena suatu hal yang tidak ingin dia lihat.
Semenjak menjadi Vampir, dia dapat melihat aura darah mereka. Itu lebih seperti aroma akan darah. Hal itu tentu sudah bisa dia kendalikan, agar kelak dia tidak akan kehilangan kendali ketika bertemu seseorang dengan darah yang harum.
Namun darah pada burung itu.....Sangat tidak normal!?
Aromanya seperti aroma dari sosok Wanita bertato di kamarnya beberapa tahun yang lalu!?
Hal ini semakin membuatnya panik. Fakta bahwa dia dekat dengan sekte jahat yang merupakan musuh bayangan dalam cerita aslinya. Membuatnya takut.
Tau-tau saja, sang Pangeran ke enam sudah membantai mereka pada insiden.....Tunggu, aku tak bisa mengingatnya!?
Dia memegangi kepalanya ditengah lorong.
"I-ini, kenapa ingatanku semakin memudar!?" Dia mencoba menenangkan dirinya.
Perlahan, dia mencoba kembali untuk mengingat hal-hal penting dalam cerita. Namun hasilnya nihil, seakan ada suatu tembok yang membuatnya tak bisa mengingat kejadian tersebut.
"Sial, apakah ini efek dari kehidupan kembali?" Ucapnya sambil mengerutkan keningnya.
Dia pun memutuskan untuk memikirkannya nanti dan segera pergi ke kamarnya. Sesampainya didepan kamar, dia langsung membukanya dengan cepat dan membantingnya.
*Bang!
Dia duduk di kursi samping ranjangnya dan bersandar. Dia menghembuskan nafasnya, berusaha agar dia tetap tenang.
Di kehidupan sebelumnya, sebenarnya dia adalah orang yang temperamen. Namun seiring waktu dia berhasil mengendalikannya dan meminimalisir sifatnya.
Tapi entah kenapa, sifatnya mulai muncul kembali. Karena itulah, dia memakai suatu item sihir untuk menenangkan hatinya.
"Berpikir....Berpikirlah Noah."
Namun tiba-tiba, sebuah ide melintas dikepalanya.
"Buku catatan! Aku harus menyalin poin penting kejadian di masa depan disebuah buku!!"
Dia segera berdiri, dan mencari sebuah buku kosong. Dia berdiri didepan rak buku dan menelusuri setiap sisi buku dengan jarinya yang pucat.
"Buku ini terlihat bagus..." Dia mengambilnya dan membuka isinya. Beruntungnya, buku tersenut kosong.
"Yah, saatnya menulis semuanya," Dia duduk di meja belajarnya dan mengambil pena bulunya.
Berjam-jam dia habiskan untuk menulis kejadian penting dimasa depan. Bahkan, dia sampai menulis segala rencananya beserta pemikirannya saat ini untuk berjaga-jaga.
"Kuh! Otakku hampir meledak.."
...----------------...
"Oh Aisha, kami akan merindukanmu," Seorang pelayan wanita tua, memeluk Aisha dengan kasih sayang.
"Maaf Nyonya Rods, aku harus menepati janjiku kepada seseorang," Aisha tersenyum sambil meminta maaf.
"Heh, siapa itu? Apakah itu pacarmu?" Seorang pria muda dengan pakaian putih menggodanya.
"P-pacar!? A-apa yang kau pikirkan!! Itu hanyalah teman...Ya, kita seorang teman!!" Aisha tergagap sambil menutupi mukanya yang memerah.
"Yah, jangan goda dia, Tony. Dia pasti malu karena mu," Nyonya Rods memukul bahu Tony, sang asisten koki di rumah ini dengan keras.
"Omong-omong, kau akan kembali kapan?" Tanya Tony.
"Entahlah, mungkin....Dua tahun?"
""D-dua tahun!!?""
Mereka tercengang dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"A-apa kau akan menikah?" Tanya Tony.
"Tentu saja tidak!!"
"Tu-tunggu, apa jangan-jangan.....Kau sudah mempunyai anak!!?" Nyonya Rods terkejut.
"Apa-apaan itu!!" Aisha pun kesal dengan mereka berdua.
Namun Aisha tersenyum dengan kelakuan mereka, karena hanya merekalah yang sangat ramah di rumah Earl ini. Karena Maid yang lain sangat arogan dan sombong. 'Seperti Tuan mereka....'
'Setidaknya, mereka adalah satu-satunya yang menganggapku keluarga.'
Pada akhirnya, mereka menghabiskan waktu terakhir mereka sebelum berpisah dengan Aisha.
Aisha tertawa, kali ini, dia merasakan sesuatu yang hangat dalam hatinya.
"Semoga, mereka baik-baik saja selama aku tak ada disini."