
Noah tersenyum, dan menatap Peri yang sedang berada di tubuh Natasha dengan tenang.
"Sungguh kebetulan, aku bertemu Peri yang ada di tubuh adikku," Ucap Noah dengan senyumnya.
Peri itu mengerutkan keningnya, "Apa maumu?" Tanya Peri itu dengan tajam. Seorang Peri, memiliki kemampuan untuk merasakan perasaan dari setiap orang yang dia tatap. Dan anak didepannya ini, memiliki perasaan yang kejam dan gelap. Entahlah, sangat jarang sekali bahwa dia tak bisa melihat sifat seseorang dengan jelas.
"Yah, apa kau tau....Kultus Demon Lust?"
"Kultus Demon Lust? Heh, Kultus apa itu?" Ucapnya dengan remeh.
Noah tersenyum menghadapi keraguannya. "Entahlah, tapi mereka menyembah Iblis yang berkaitan dengan penyakit."
"Lalu, apa maumu dariku?" Peri itu pun menyilangkan tangannya dan bertanya dengan sombong.
"Bagaimana jika...Kau membantuku menghadapi Kultus itu?" Tanya Noah.
"Aku tak–"
"Aku bisa membebaskanmu," Noah pun tersenyum ketika Peri itu tergoda dengan ucapannya. "Aku bisa membebaskanmu....Asal kau bisa membantuku melawan mereka, bagaimana?"
Peri itu pun ragu sebelum membuka mulutnya, "Apa alasanku untuk percaya pada makhluk hina sepertimu, hah!"
Noah sudah menduga pertanyaannya dan menunjukkan sebuah batu kristal berwarna biru yang membuat Peri itu terkejut.
"B-bagaimana bisa kau mendapatkan batu itu?" Tanya nya dengan terkejut.
"C-cepat! Serahkan padaku sekarang!" Peri itu pun berusaha untuk melesat agar bisa meraih batu itu, namun Noah dengan cekat menahannya dengan membuat es disekitar kakinya.
*Crack!
"Guh! Kekuatan Es?" Pandangannya terhadap Niah pun secara drastis berubah. Jarang sekali ada seorang pengguna elemen Es selain dari Kekaisaran Shardice.
"Hmph! Jangan kira bahwa aku akan memujimu! Aku itu sudah hidup selama rubuan tahun kau tau!?"
Melihat temperamennya Noah hanya tersenyum tipis.
"Omong-omong, bagaimana kau mendapatkan batu itu? Apa kau benar-benar manusia? Bahkan aku tidak terkejut jika kau adalah reinkarnasi dari Raja Elf!" Peri itu pun mengamati Noah dengan dermat dan penasaran.
"Yah, aju mendapatkannya dari temanku," Jawab Noah. Sebenarnya, tadi pagi dia sempat berhubungan dengan Aether sebentar. Dia pun tau beberapa hari yang lalu bahwa Peri itu ada di tubuh Adiknya. Jangan lupa, bahwa dia dapat melihat aliran sihir dalam tubuh seseorang. Karena itulah, dia ingin memanfaatkan Peri itu untuk menjadi bantuannya dalam menghadang kultus iblis itu. Jadi, dia meminta batu ini kepada Aether dengan imbalan untuk mencarikannya Bunga Daphodill.
Sebenarnya, dia harus berdiskusi alot dengan Aether hanya untuk batu ini. Bagaimana tidak, batu ini merupakan batu yang penting dalam Alkimia. Jika saja manusia lain mendapat batu ini, mereka bisa saja menyalah gunakan batu ini untuk diteliti. Bisa dibilang, batu ini merupakan batu yang sangat langka diseluruh Alam. Nama batu ini sendiri adalah Elixir. Tentu saja, harga yang harus dia bayar sangatlah mahal kepada Aether. Yaitu menjadi mata-mata nya di bangsawan.
"Jadi, bagaimana? Apa kau mau?" Noah pun bertanya sambil memainkan Elixir di tangannya. Peri itu pun bergetar saat melihstnya bermain dengan salah satu benda langka di seluruh Alam.
"K-kau....K-kalau begitu, beruntunglah kau karena aku ada di pihakmu!" Peri itu pun mau tak mau menerima tawarannya. Untuk terlepas dari Badan Natasha dan kembali ke wujud aslinya. Dia harus mengumpulkan beberapa bahan dan melakukan ritual. Dan salah satu bahan terlangka yaitu Batu Elixir yang susah didapatkan.
"Dan satu hal lagi, bisakah kau mengurus semua itu?" Noah pun menunjuk medan perang serta Alfred dan Kusir itu yang terluka. Peri itu mengerucutkan bibirnya dengan lancangnya dia menyuruh Peri yang mulia sepertinya.
"Hmph! Bagaimana bisa kau begitu kejam! Apa kau tak memiliki rasa kasihan pada mereka!" Peri itu pun mencibir saat melihat mata Noah bahwa seolah dia tidak peduli dengan itu.
"Yah, tidak ada manfaat untukku jika aku membantu, bukan?" Noah pun hanya mangangkat kedua bahunya dengan senyum.
"Cih! Semua pemegang elemen Es memang selalu menyebalkan," Gumam Peri itu dengan marah.
"Yah, apa boleh buat, Peri cantik dan imut ini akan membantumu..." Dia pun melambaikan tangannya dan menggunakan mana terakhirnya untuk menyembuhkan mereka dan membuatnya lupa akan kejadian ini.
Noah pun melihat luka Alfred yang sembuh dan tiba-tiba melayang ke kereta dan kusir yang sudah berada di kereta itu. Bekas pertempuran dan segalanya pun menghilang dengan cepat.
Mantra Pembalik, adalah salah satu keahlian seorang Peri, karena inilah dia mengincarnya sejak Peri itu secara misterius bergabung kedalam tubuh Natasha.
"Apakah itu cukup?" Tanya Peri itu.
"Yah, terima kasih," Ucap Noah.
"Tsundere, yah?" Gumam Noah. Baru kali ini dia benar-benar melihat tokoh Tsundere selama hidupnya. Menurutnya, tak ada yang spesial dari itu.
Noah pun tersenyum, dan kembali ke keretanya. Alfred dan Para Kusir pun tiba-tiba seperti bangun dari tidurnya dan melanjutkan perjalanan seolah tak pernah mengalami kejadian tadi. Pada akhirnya, suasana kembali menjadi tenang.
"Hei, menurutmu...Apa ada yang aneh?" Natasha bergumam sambil menyentuh kepalanya. Entah kenapa, dia seperti bermimpi bahwa ada Bandit yang menghadangnya.
"Cih, apa yang aneh? Kau hanya tertidur selama beberapa jam tadi, tidurmu benar-benar seperti kerbau!!"
Natasha tersipu dan marah kepada nya, namun dia tetap diam dan melihat pemandangan diluar.
"Entahlah, hanya saja....Mimpi tadi terasa seakan begitu nyata."
...----------------...
Kota Eregon, Alphella Empire.
Kota yang begitu megah dan elegan, pusat dari fashion dan seni, itulah Kota Eregon. Ibaratnya, Kota Eregon sama saja dengan Kota Paris.
Noah, berdiri didepan Penginapan yang begitu mewah dengan anggukan. Harus dia akui, Kota Eregon memang kotanya para orang kaya.
Dia baru saja turun dari kereta kuda tepat setelah masuk kedalam halaman deoan penginapan. Bahkan penginapan ini hampir seperti Manor Eltrez yang dia tempati.
"Tuan, Nyonya, silahkan lewat sini," Noah dan Natasha pun disambut dan diarahkan oleh pelayan pria yang memakai pakaian formal berwarna cokelat. Mereka membimbing Niah dan Natasha kedalam penginapan sambil membawa barang dan perlengkapan mereka.
Noah pun melihat ruang utama penginapan, dimana banyak para bangsawan sedang duduk dan membicarakan sesuatu. Pakaian mereka sangat mewah dan elegan. Bahkan terlihat seperti tidak ada satu pun lipatan yang tampak.
Sama dengan bangsawan pria, bangsawan wanita juga terlihat menarik. Mereka dengan sengaja mempamerkan keher jenjang mereka dengan gaya rambut yang menampah pesona mereka. Mereka selalu tertawa anggun dengan mengayunkan kipasnya dengan pelan.
Setelah mereka memesan kamar, Noah dan Natasha segera pergi ke kamar mereka masing-masing yang berada di lantai tiga. Lantai di penginapan ini sendiri memiliki lima lantai. Ditambah dengan taman besar dan ruang latihan yang cukup mumpuni yang membuatnya penginapan terbaik di kota Eregon. Nama penginapan itu sendiri yaitu Penginapan Dreamwalker.
Noah pun berhenti di depan kamarnya yang berhadapan dengan kamar adiknya. Dia membuka kuncinya dan memasuki kamar tersebut.
Seperti yang diharapkan, Noah melihat-lihat kamar penginapan yang begitu luas dengan ranjang double bed yang cukup halus dan empuk. Lalu ada meja dan kursi untuk bersantai dan sofa empuk di samping ranjang nya.
Dia pun mempersilahkan para pelayannya untuk menata pakaiannya. Sedangkan dia duduk di kursi dekat jendela dan menyicipi teh yang ada diatas meja.
"Hm, ini teh yang cukup bagus," Gumam Noah. Walau sekarang dia adalah Vampir, namun dia tetap dapat merasakan makanan manusia pada umumnya. Hanya saja, mau dia makan sebanyak apapun makanan manusia tidak akan membuatnya puas selain dengan darah.
Dan juga makanan dan minuman manusia tidak akan membuat staminanya membaik. Justru jika dia tidak meminum darah dalam jangka yang lama, maka dia akan mati karena kelaparan.
Setelah menata barang Noah, pelayan itu pun memberi hormat kepadanya dan keluar dari kamarnya. Noah menikmati teh itu sambil memandangi kearah jendela luar, dimana langit sudah menjadi gelap.
"Yah, aku harus menikmati hari ini selagi aku bisa," Noah pun merentangkan tangannya dan memutuskan untuk mandi.
Setelah beberapa menit, Noah yang sudah puas mandi pun keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama berwarna biru gelap dan duduk disofa membaringkan tubuhnya.
Dia mengambil buku ingatannya dan membacanya sekali lagi untuk dia hafal. Ini sangat aneh, setiap kali dia menghafal satu kalimat, maka beberapa menit kemudian kalimat itu hilang. Seolah-olah hal itu memang sudah sepantasnya dia tidak mengingatnya.
"Hah, aku jadi rindu dengan dunia lamaku," Ucapnya degan penuh nostalgia.
Kau tau, hidup sederhana lebih memuaskan dibanding hidupnya sekarang. Dia harus berhati-hati akan segala bahaya dari Kultus Iblis dan lainnya. Apalagi dia adalah seorang bangsawan, yang kelak akan terpapar masalah politik perebutan tahta. Mau tak mau Noah merasa agak menyesal menjadi bangsawan.
"Huh, setidaknya ada hal baiknya, aku dapat merasakan sihir dan menggunakannya," Tidak seperti para bangsawan, para rakyat jelata kebanyakan tidak bisa melakukan sihir dan hanha bisa mengeluarkan aliran mana untuk memperkuat teknik bertarung mereka.
Mungkin karena darah dalam bangsawan memiliki keturunan dari leluhur penyihir yang begitu kuat dan akan tetap ada selama mereka menjadi keturunan bangsawan. Bahkan jika rakyat jelata bisa menggunakan sihir, mereka memiliki mana yang cukup rendah. Setidaknya hanya bisa memakai sihir tingkat D saja.
Namun dalam sihir, Noah memiliki beberapa masalah. Dia sangat susah dalam mengendalikan sihir elemen lain dibandingkan Es nya sendiri. Entah kenapa, seolah kekuatan Es nya membatasi dan mengikatnya sehingga tidak bisa menggunakan sihir elemen lain. Mentok-mentok, dia hanya bisa menggunakan sihir umum, seperti sihir pendengaran, peringanan, penguatan dan lain-lain.
Noah pun akhirnya menutup buku itu dan menaiki ranjangnha untuk beristirahat. Walau dia kini merupakan Vampir, namun pada dasarnya dia hanyalah Vampir tingkat rendah yang stamina nya tidak sebagus para Arc Vampir yang bisa tidak tertidur selama ratusan tahun jika bisa.
Dia pun menutup matanya dan bergumam, "Semoga rencanaku berjalan lancar besok."