
"Perasaan apa ini?" Gumam Garry.
Memimpin sekelompok bangsawan, dia merasa terhormat bahwa Putri Reflia membiarkannya memimpin kelompok itu. Namun, dia merasa aneh dengan kejadian yang dia alami. Seolah-olah, semua ini sudah direncanakan.
Lagipula, di kerajaan yang begitu besar ini takkan ada orang yang dapat masuk begitu mudah.
Pertama, keamanan di gerbang dan di lorong istana terlalu longgar. Tak mungkin pihak kerajaan akan mengabaikan begitu saja keamanan saat pesta ulang tahun putri.
Kedua, bahkan setelah mereka terjatuh, seharusnya ada pasukan siap tanggap dari para Magus level tinggi. Tapi sayang sekali, sekian lama menunggu tak ada tanggapan sama sekali.
Ketiga, semua barang sihir diambil saat sebelum mereka masuk kedalam istana. Itu mungkin terdengar masuk akal, namun dia curiga dengan hal itu. Bahkan dia, seorang anak Duke yang dekat dengan anggota kerajaan pun juga dimintai untuk memberikan semua barang sihir yang dibawanya.
Keempat, sifat Putri Reflia yang terlalu tenang dan mencurigakan. Mungkin itu memang etiket dasar keluarga kerajaan untuk tenang diberbagai situasi. Namun, ketenangannya sangat tak wajar. Dan juga, dia ingat bahwa Tuan Putri memiliki energi sihir tinggi dan seharusnya dapat memimpin mereka dengan kekuatannya. Namun, dia hanya diam dan bersama pria desa itu dari awal.
Kelima, kenapa dia mencoba memisah kita? Maksudku, itu ide bagus bahwa kita berpisah agar dapat menemukan jalan keluar lainnya dengan lebuh cepat. Namun, situasi ini berbeda.
Mungkin jika itu di medan yang dikenal dan tidak berbahaya maka itu bisa dilakukan. Namun tempat ini berbahaya, dan kemungkinan untuk bertemu monster sihir tingkat tinggi juga menjadi lebih besar.
Dari semua itu, entah kenapa dia menduga bahwa dalang dari ini semua adalah rencana Tuan Putri. Terdengar sangat tidak masuk akal, namun mengingat Tuan Putri yang kemungkinan besar akan dijadikan penerus kerajaan. Entah kenapa membuat pernyataannya semakin kuat.
"Sudahlah, aku terlalu banyak berpikir..." Garry menyentuh dahinya yang berkerut karena lelah.
Lagipula, siapa Argon itu? Kenapa dia begitu dekat dengan Tuan Putri?
"Berhenti," Sebuah suara lantang menghentikan langkah mereka. Garry pun terkejut dan melihat arah suara.
Argon, yang kini memasang wajah serius mengangkat tangannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ian, seorang remaja berambut ungu pendek.
"Perasaan ini....Kita ada di dalam zona Black Mana!" Mendengar pernyataannya, para bangsawan di sekitarnya pun mengerutkan kening mereka.
"Apa maksudmu? Black Mana? Apa-apan itu?"
Seorang bangsawan maju dan berkata dengan sinis.
"Apa kau berhalusinasi?"
"Ya ampun, otaknya pasti sedang rusak," Berbagai bangsawan bercanda dengan memprovokasinya.
*Jleb!
Panah tak terlihat menusuk dadanya, "Dasar bangsawan ini–" Argon hendak mengangkat tangannya, sebelum Tuan Putri menahan tangannya.
"Sudahlah, kita tidak seharusnya bertengkar disini," Ucapnya.
"Dan juga, apa yang dikatakan Argon benar, kita sekarang sedang ada di zona Black Mana," Ucap Putri.
Mendengar pernyataannya, banyak dari mereka pun terperangah tak percaya. Apa itu Black Mana? Apa itu versi jahat dari Mana? Kenapa mereka tak pernah mendengarnya.
"Saat didalam zona Black Mana, seseorang tak dapat mengendalikan Mana sihirnya dengan baik dan dapat kehilangan kendali. Bahkan, dapat membuat Mana milikmu bocor dan akhirnya terkuras sampai habis." Mendengar penjelasan Argon, mereka pun semakin terkejut dengan hal itu.
"Bagaimana kau bisa tau hal it–" Ucap Ian, namun perkataanya dipotong sebelum dia berhasil mengucapkannya.
"–Yang kita harus lakukan adalah memberi batasan....Tahan Mana kalian dengan cara mengumpulkannya di salah satu pusat di tubuh kalian, dengan begitu mana kalian tidak akan terserap oleh Black Mana." Jelas Tuan Putri.
Ian hanya terkejut, dan menutup mulutnya. Garry pun juga sama dan mengira bahwa Argon pasti orang penting. Namun dengan mudah mereka menghilangkan pemikiran itu dan fokus terhadap penjelasannya.
"Sekarang, lakukanlah apa yang ku jelaskan tadi, mulai dari sini, Black Mana akan semakin pekat dan kuat serapannya," Ucap Tuan Putri dengan tegas.
Mereka semua pun saling memandang, dan segera melakukan apa yang diperintahkan Tuan Putri. Mereka membutuhkan beberapa menit untuk melakukan hal tersebut. Karena meskipun mereka dilatih sedari kecil, kemampuan mereka mengendalikan mana masih belum cukup.
Namun yang mencengangkan, Argon, pria itu dapat dengan mudah melakukan itu seperti membalikkan tangannya.
"Kalau begitu, mari kita melanjutkan perjalanan kita," Ucapan Putri Reflia menyadarkan mereka, dan mereka pun mulai berjalan menyusuri gua dengan lebih hati-hati.
*Tes!
*Tes!
Butiran air yang jatuh membuat suasana menjadi lebih mencekam. Hening dan gelap, mereka menelan ludah mereka dengan gugup.
Noah mengamati mereka semua dan berhenti di sosok remaja yang sedari tadi bersama Putri Reflia. Argon, sang karakter utama. Sifat, kekuatan, dan bakatnya....Aku tau itu, aku tak mungkin salah.
Noah mengamatinya sejenak, hingga dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah gadis disampingnya yang bergetar ketakutan.
Dia tau bahwa Argon mungkin datang karena undangan dari Putri Reflia. Namun, kenapa gadis ini bisa ada disini?
"Oy..."
"Kiek!!??" Sarah terkejut dan menatapnya dengan gemetar.
"..." Noah terdiam dan tak dapat mengeluarkan suaranya beberapa saat. "Kenapa kau datang ke pesta ini.....Maksudku, bukankah kau tak diundang?" Tanya Noah.
"U-um, sebenarnya, aku juga diundang....T-tapi, aku dan ibuku hanya dipanggil untuk mengantarkan roti ke Tuan Putri dan menjadi tamu disana," Ucapnya.
Noah pun mengerutkan keningnya.
Heh, memesan roti? Apa-apaan itu....
Dapur di kerajaan berisikan hampir semua koki terbaik di seluruh kerajaan. Dan, mereka memesan roti dari seorang rakyat jelata?
Pasti ada maksud terselubung dari undangan itu.
"Lalu, bukankah kau bersama ibumu? Sekrang, dia ada dimana?"
"E-entahlah, dia dipanggil ke ruangan Tuan Putri..T-tapi, dia tak pernah kembali sejak itu," Gumamnya dengan suara yang kecil.
Noah pun terdiam dan memegangi dagunya. Sebenarnya, siapa identitas dari ibunya? Atau mungkin, itu karena keunikan dari dia sendiri. Lagipula, di novel, dia.....Ah, sial aku lupa lagi.
Noah pun membuang pikirannya dan memutuskan untuk mengikuti Garry dan Ian dengan patuh.
Penyaluran mana di satu tempat, itu adalah keahlian dasar dari seorang alkemi. Mereka dapat dengan mudah mengendalikan mana dalam tubuh mereka bergerak dengan bebas dan cepat untuk keperluan alkemi mereka.
Kebetulan sekali, Noah yang dulu memiliki sedikit ketertarikan kepada alkemi dan mempelajarinya sedikit. Alhasil, dia dapat dengan mudah mengendalikan jalur Mana nya. Walau tak semudah Argon....
*Step
*Step
"Oh, apa itu!?" Salah seorang bangsawan berseru dan membuat mereka berhenti dan melihat kearah bangsawan itu terperangah.
Di bagian kanan mereka, terdapat sebuah lubang dengan cahaya yang cukup terang. Lubang itu menuju kebawah, dengan sebuah tulang besar di taruh diatas lubang itu.
Namun yang mengejutkan....Kapan lubang itu ada?
Mereka, bahkan tak melihat lubang itu ada disana sebelumnya.
Noah dan Garry memikirkan hal yang sama tentang ini. Berbeda dengan Ian yang memang mulai lelah dan tak mencermati jalan dengan baik. Garry memiliki tingkat ketajaman mata yang cukup tinggi, dan Noah, merasakan jejak sihir penciptaan pada lubang itu.
Aneh...
"Mungkin, lebih baik kita periksa dulu.." Seorang bangsawan wanita, mengucapkan pendapatnya dengan pelan.
"Apa kau bodoh, bagaimana jika–"
"Ayo kita masuk."
Bangsawan pria itu terdiam saat Tuan Putri memotongnya. Garry pun juga terkejut dan rasa curiganya makin meluap.
Garry pun berusaha mengungkapkan pikirannya. "Tapi, itu berbahaya" dan beberapa bangsawan pun juga setuju dengannya.
"Kalau begitu, Reflia, aku akan memeriksanya!" Argon mengusulkan dirinya dengan membusungkan dadanya.
"Tentu..." Tuan Putri mengangguk dengan senyuman. Argon pun senang dengan persetujuannya dan mengangguk kepadanya.
"Yosh, saatnya aku beraksi!" Argon pun maju dan melompat ke lubang itu dan meluncur diatas tanah yang cukup basah dan akhirnya menghilang di tikungan dalam lubang itu.
"Ini..." Garry dan lainnya hanya terdiam melihatnya.
"Ini pasti salah satu ujiannya..." Gumam Noah.
"Hm? Kau bilang apa?" Sarah terkejut dan bertanya kepadanya.
"Ah, tidak...Aku hanya berpikir bahwa tindakannya itu bodoh," Ucap Noah yang mengacu pada Argon untuk mengalihkan perhatian. Namun sayang sekali, dia terlalu keras dalam mengucapkannya.
"Oh, begitukah? Setidaknya, dia sudah berusaha menjadi berani," Ucapan Putri Reflia mengandung sedikit ketidak puasan kepada Noah.
"...." Noah pun terdiam dan bangsawan lain pun juga sama. Alasannya adalah karena mereka memandang rendah Argon sedari tadi. Sedangkan Noah, dia hanya mengatakannya dari pemikirannya.
Kenapa kau tidak melakukan sihir analisa dulu, dan mencoba melempar batu kedalamnya?
Kau tau, sebuah lubang ada pasti bukan hanya karena faktor alam. Bisa saja ada sebuah ular sihir yang kuat, ataupun hewan sihir lainnya yang hidup ditanah. Atau, bisa saja itu menjadi tempat sarangnya jamur dan organisme berbahaya.
Atau jika tidak, ambil batu dan ikatkan pada sebuah kain, lalu lemparkan kedalam dan lihat apakah ada gerakan atau sesuatu hal. Setelah itu, tarik kembali untuk mengeceknya.
Hal ini untuk mengantisipasi adanya kolam asam ataupun lahar.
Yah, kupikir aku memang berlebihan...
Noah pun akhirnya menundukkan kepalanya dengan menyesal sebagai permintaan maaf dengan tangan kanan di dada kirinya.
"M–maaf, karena aku kau harus dimarahi olehnya," Sarah menyatukan kedua tangannya dengan gemetar dan sedikit ada rasa bersalah di hatinya.
"Tidak perlu...Itu hal yang wajar," Jawab Noah.
"Tuan Putri, apa kau mendengarku!?" Sebuah suara datang dari lubang itu dan membuat mereka terkejut.
"Argon, apa didalam sana baik-baik saja?"
"...Ya, disini...Cukup aman!"
Tuan putri pun berhenti sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, mari kita telusuri jalan ini," Tuan putri pun segera maju dan bersiap melompat.
"Tunggu, Tuan Putri, apa kau yakin itu akan baik-baik saja?" Garry menghentikannya terlebih dahulu.
Tuan Putri pun hanya tersenyum. "Tenang saja, aku percaya padanya," Lalu dia pun melompat kedalam yang membuat para bangsawan terperangah.
Disusul oleh Ian, pada akhirnya para bangsawan pun juga masuk kedalam secara bergantian. Hingga, tersisa Noah dan Garry.
Mereka pun saling memandang.
"Kalau begitu, aku akan pergi dulu, apa kau keberatan?" Garry pun mengajukan dirinya.
"Tentu saja, aku tak keberatan menjadi yang terakhir," Jawab Noah.
Garry pun mengangguk dan segera memposisikan dirinya disamping atas lubang itu. Namun sebelum dirinya meluncur, sebuah pertanyaan datang dari Noah.
"Apa kau menyadarinya?" Tanya Noah.
"Hm? Apa maksudmu?" Garry pun kebingungan sejenak.
Mata mereka saling menatap, dan membuat suasana hening beberala saat hingga Garry pun tersadar dari renungannya dan menyadari apa maksud pertanyaan itu.
"Jadi begitu, jadi bukan hanya aku yang curiga..." Garry pun berkata dengan senyum tipis.
"Kalau begitu, sampai jumpa dibawah." Garry pun meluncur ke lubang itu dan menghilang dalam pandangan Noah.
"Yah, apa yang akan kutemui kali ini?"
*Swoosh!
Noah langsung melompat ke lubang itu dan meluncur diatas tanah yang licin kebawah.
*Bang!
Dia tak sengaja menabrak dinding dan kehilangan keseimbangan. Dia pun berusaha untuk bangkit hingga akhirnya cahaya semakin terang dan dia tiba diujung lubang itu.
*Byur!
Noah pun terjatuh ke genangan air yang memenuhi tempat itu. Dia berdiri dan membersihkan bajunya, dan sadar bahwa mata orang-orang menuju kearah bola kristal di tengah ruang itu dengan mata kosong.
"Garry....Sarah..." Noah mencoba membangunkan mereka dengan menggoyangkan tubub mereka. Namun, mereka tak bereaksi akan hal tersebut.
"Ini..." Dia pun mengalihkan pandangannya kearah arah kristal itu.
Dengan warna ungu yang gelap, dan ditopang dengan batu-batu keras yang menjadi tempat kristak itu berada.
Semua area dipenuhi dengan genangan air setinggi mata kaki, dan atap ruangan gua ini yang dipenuhi bebatuan tajam.
"Tak salah lagi, aura ini...."
Mata birunya bersinar menjadi merah dalam sesaat saja. Dalam mata Vampirnya, dia melihat aura sihir yang berbahaya dari kristal itu. Aura sihir itu pun juga membuat sihir penyamaran miliknya menjadi rusak sesaat saat dka mencoba memandang kedalam inti kristal itu.
Dia menghela nafas, dan menyentuh tanah dibawahnya dengan tangan kirinya. Tempat dimana dia mengumpulkan semua aliran Mana miliknya.
[Void Rune: Forced Reduction]
Rune kuno mengalir dari tangan kirinya secara perlahan. Mengalir bagaikan arus air yang tenang, bersembunyi di dalam air yang dangkal dan menyebar ke seluruh tempat.
Namun, rune itu dia kendalikan agar tidak mengenai area disekitar kristal itu untuk berjaga-jaga. Dan setelah dia menyebarkan rune itu dengan pelan dan susah payah. Dia membuat rune itu mengalir ke kaki para bangsawan dan memenuhi tubuh mereka.
[Release!]
*Swoosh!
Suasana disekitar nya berubah secara stagnan, geraman aneh muncul dari kristal itu, disertai dengan air yang menyusut, tanah bergetar seakan ada sebuah benda yang akan keluar.
Mata para bangsawan itu mulai menjadi jernih, termasuk Putri Reflia dan Argon. Mereka dengan cepat sadar dan terkejut.
Putri Reflia pun dengan cepat melihat Argon yang masih sedikit ling lung dengan terkejut dan melihat sekelilingnya.
Garry, Ian, Sarah, hingga tatapannya berhenti pada Noah. Namun, mereka juga terlihat linglung.
"A-apa ini!?"
"Kyaaah!!!!"
"S-sial, apa yang terjadi disini!?"
Tengkorak, dan berbagai tulang muncul di tanah sebagai ganti surutnya air disana. Putri Reflia secara naluriah pun melihat keatas sejenak, setelah itu dia mengamati kristal tersebut dengan matanya.
*Bam
*Bam
Kristal itu mengeluarkan suara aneh yang membuat jantung mereka bergetar ketakutan entah kenapa.
"Reflia, itu adalah...." Argon berkata dengan wajah rumit dan memandangi Putri Reflia.
"Ya, aku tau," Jawabnya.
Wajah mereka menjadi serius, dan mereka mengambil aba-aba bertahan.
"Semuanya, bersiaplah dengan gempuran!" Teriak Putri.
""!!!!""
Mereka pun segera menyiapkan sihir mereka dan kembali mengalirkan mana keseluruh tubuh mereka.
Noah pun sama dan melangkah didepan Sarah dan menyiapkan sihirnya untuk berjaga.
*Bam..Bam
*Bam..Bam
*Swooosh!!!!
*Krieehh!!!!
Teriakan mengerikan keluar dari kristal itu, perlahan aura gelap berkumpul disekitarnya dan sebuah makhluk bertaring panjang dengan tubuh kerdil yang mengerikan. Kulitnya yang seperti terbakar dengan matanya yang hampir keluar dari matanya.
"G-goblin!!?"
*Krieehh!!!
Puluhan makhluk pun tercipta, dan berteriak dengan lantang dan mengarahkan cakar tajam mereka ke langit.
*Swoosh!!
Goblin itu pun meluncur dengan cepat dengan tubuhnya yang kurus kedepan.
[Dragon Path: Fang of Justice]
*Bang!!
Argon mengeluarkan mana di tangannya dan melempar Goblin itu ke arah kristal dengan cepat dan kuat sebelum mengenai Putri Reflia.
*Krieh!
*Kraaahhhh!!!!!!
Segerombolan Goblin pun menyerang dengan liar karena serangan Argon. Mengakibatkan ombak Goblin menerjang dengan kuat.
[Night Storm]
*Swoosh!!
Badai angin gelap keluar dari sekitar Putri dan menghambat Goblin itu. Namun mereka segera melompat dan menggunakan tubuh sekutu mereka untuk mendapat pijakan dan melompat kearah Putri Reflia.
*Kraahhh!!!!
*Slash!
"Reflia!!" Teriak Argon.
Darah memercik dari bahunya dan wajahnya menjadi pucat. "Akh!!!" Dia memegangi bahunya dengan kesakitan. Goblin itu segera mengepungnya saat dia mulai kesakitan karena lukanya.
[Dragons Wave]
Gelombang panas membuat Goblin itu mundur dengan keras dan membuat dinding pelindung disekitar Putri Reflia. Argon menjadi marah dan mengepalkan tangannya.
"Kyaaahh!!
"T-Tolong aku!!!"
Para Bangsawan kewalahan dan dikepung oleh puluhan Goblin itu.
*Slash!!
*Kharh!!!!
*Rakhhh!!!
Para Bangsawan muda sedikit demi sedikit dipojokkan oleh keganasan Goblin itu. Mereka mengalami luka yang cukup parah di tubuh mereka.
[Fireball]
[Water Trumph]
[Earth Needle]
*Bang!!
*Bam!!
*Bam!!
Ledakan terjadi di gerombolan Goblin, namun seakan tak peduli, mereka terus maju dan membuat para Bangsawan yang membuat sihir pelindung kesusahan dan tak bisa menahannya.
[Barrier]
*Bang!!
Barrier tak terlihat tercipta dari sihir Argon, namun tiba-tiba kepalanya sakit dan sihirnya mulai berjalan kacau. Wajahnya menjadi pucat dan matanya menjadi kemerahan.
"Argh!! H-hentikan!!!"
"Argon!!"
Goblin itu segera melewati barrier yang melemah itu dan menunjukkan wajah mereka yang gila.
*Kraahhh!!!
*Slash!!
*Trass!!
Air membumbung tinggi mebuat perisai disekitar Argon.
*Bang!!!
Air itu pun membuat mereka semua menjauh karena ledakannya.
Para Bangsawan menjadi pucat dan sihir mereka menjadi susah untuk dikendalikan.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi..." Gumam n
Noah dengan wajah pucat dan penuh kesakitan.
Putri Reflia segera menarik Argon dan para Bangsawan lainnya, lalh segera membuat perlindungan untuk mereka yang terluka.
"Mundur!!!"
Putri Reflia pun berteriak lantang, matanya penuh dengan cahaya dan aura disekitarnya berubah dengan stagnan. Wajahnya yang pucat kembali menjadi berwarna dan lebih indah.
[Heart of Kindness]
*Bam!!
*Bam!!
*Bam!!!
Gelombang emas keluar darinya dan mementalkan semua Goblin dalam sekejap dan membuat mereka kesakitan.
*Kraaahhhh!!!!!!!
Kulit pucat mereka dilapisi oleh cahaya. Perlahan mata, hidung, gigi, kaki, dan tangan mereka mulai membengkak menjad besar. Tubuh mereka mulai mengambang seperti balon, dan tulang mereka berderak setiap detik.
*Duar!!!
Mereka meledak, dan membuat ledakan darah yang begitu banyak. Mata mereka bergelinding dilantai, tangan mereka pun bertebaran kemanapun dan membuat kolam darah yang mengerikan.
"Kumohon....Hentikan ini!"