Become A Villain Aristocrat'S Son

Become A Villain Aristocrat'S Son
Bab 06: Agreement



"Ramalan? Untuk apa kau membutuhkan ramalanku?" Tanya Little Mouse.


"Apa kau pernah dengar Night River Flower," Noah pun menatap dingin kearah kepala rusa itu.


"..."


Noah pun tersenyum dengan reaksi Little Mouse. Seorang peramal, tak menggunakan penglihatan mereka dengan bebas. Setiap kekuatan besar pasti ada konsekuensinya. Contohnya kekuatan Dark Ice miliknya. Namun dalam penggunaan skala kecil seperti yang dia lakukan tadi hanya memberikan efek kecil pada sifatnya.


Dan menurut buku ingatan miliknya, Little Mouse memiliki efek samping yang cukup merepotkan setiap berhasil meramal. Jantungnya akan menjadi snagat lemah dan rawan dengan kematian. Hal ini alasan kenapa Little Mouse pun akan ditidurkan selama mungkin dengan sihir setelah meramal. Dan yang mengetahui tentang kondisinya hanya beberapa orang yang dia percaya. Salah satunya Old Garry.


Dan akar dari Night River Flower lah yang dapat menghapus kekuatan ramalan miliknya. Hal ini karena dia mendapat penglihatan miliknya dari percabangan Kegelapan. Bukan dari Cahaya yang pada umumnya para peramal dapatkan.


"Apa tujuanmu?" Tanya Little Mouse.


Noah pun hanya tersenyum mendengarnya. "Kau tau, kita bisa membentuk hubungan rekan untuk sementara hingga kita mendapatkan bunga itu, bagaimana?"


"Huh, kau sangat konyol–"


"Aether...Itu namamu, kan?"


"..."


Keheningan melahap ruangan itu, dan Noah sedikit gugup karena. Namun dia tetap memasang Poker face nya dibalik jubahnya dan tidak mengalihkan matanya dari kepala rusa itu.


"Kau...Apakah kau mau memerasku? Bagaimana jika aku membunuhmu disini?"


"Aku itu kuat, lagipula jika aku tak kembali, pelayanku akan tau identitasmu juga."


Mendengar kepercayaan dirinya, Little Mouse, atau yang dikenal dengan Aether, mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Aku sudah meletakkan surat berisi nama aslimu, tempat persembunyianmu dan segala kejahatan yang kau buat. Aku juga menulis tempat-tempat yang sempat kau singgahi. Aku mengirim surat itu sendiri ke pelayanku untuk berjaga-jaga. Juga, aku sudah menyalin surat itu sebanyak mungkin, jadi jika kau menghentikan pengirimannya sekalipun akan ada 99 surat lainnya yang belum dikirim."


"Huh, bagaimana jika aku menghancurkan perusahaan pengirim itu? Dasar bodoh."


"Aku yakin kau takkan berani, aku menggunakan pengiriman Viscount Harmel. Kau tau sendiri bukan, seperti apa dia."


Aether terdiam untuk sementara. Dia bingung kenapa anak didepannya begitu keras kepala untuk mengajaknya menjadi rekan. Dia tau, banyak sekali pihak yang mengincar Night River Flower. Tapi, dari pembicaraan tadi, dia mengetahui bahwa anak didepannya adalah bangsawan. Setidaknya anak seorang Earl atau mungkin Duke. Namun kenapa dia tidak bekerja sama dengan para bangsawan? Bukankah banyak bangsawan yang saling bekerja sama untuk mencari bunga itu?


"...Bangsawan itu bermuka dua, kau tau..."


Aether terkejut, "Bagaimana kau tau pikiranku? Huh, menarik. Tapi aku meminta tiga syarat sebelum kita menjadi rekan."


Noah pun mengangguk, "Itu tak masalah, selama itu tidak merugikanku."


"Pertama, tidak boleh adanya rahasia diantara kita. Termasuk identitasmu."


Noah pun mengangguk, dengan helaan nafas, dia menyingkapkan jubah hitamnya dan menampakkan wajahnya yang seperti manusia biasa. Yah, dia sudah membeli cincin penyamaran beberapa saat yang lalu. Dia hanya ingin berjaga-jaga jika ada seseorang yang akan mengetahui identitas aslinya.


"Oh, Eltrez, sungguh mengejutkan," Gumamnya. "Kedua, jika aku membutuhkan bantuan, kau harus selalu membantuku tanpa syarat apapun."


"Keberatan." Noah bersandar di sofa nya dan memandangi Aether yang berada di kepala rusa.


"Keberatan?"


"Ya, bagaimana jika kau hanya bisa meminta bantuanku sebanyak dua kali saja?"


"Lima kali."


"Dua," Jawab Noah.


"Kubilang lima," Mendengar ketangguhannya, Noah hanya menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana dengan tiga?"


Mereka pun saling mengangguk.


"Ketiga, jangan pernah bocorkan identitasku."


Noah pun mengangguk. "Bagaimana jika aku melanggarnya?"


"Aku tau kau takkan melakukan itu, auramu mengatakan bahwa kau itu setia terhadap janji dan sumpah. Walaupun kau akan mendukung pihak yang paling menguntungkanmu. Pengusahawan tercela." Mendengar Aether, Noah hanya mengedutkan bibirnya.


"Yah, kalau begitu, bisakah kau lakukan ramalanmu itu?"


"Aku tak bisa."


Noah terdiam untuk sementara, "Huh? Apa maksudmu?"


"Aku harus menunggu bulan purnama untuk mendapatkan hasil yang sempurna."


Mendengar ini, Noah pun tersenyum menghina didalam hatinya. Kau pikir aku bodoh? Dia tau bahwa Aether dapat melakukan ramalan kapanpun dia mau. Dia hanya ingin beralasan karena untuk menyebar nama Noah Eltrez ke semua jaringan bawahnya. Hal ini dia buat untuk berjaga-jaga agar dia tidak berkhianat.


Lebih tepatnya, dia akan mendiskusikan hal ini dengan beberapa orang lainnya.


Yah, walaupun saat bulan purnama semua kekuatan kegelapan akan meningkat. Tapi kekuatan Aether sendiri adalah pengecualian. Lagipula dia dari bangsa Elf, yang memiliki kelemahan kecil terhadap bulan.


"Baiklah kalau begitu, lalu bagaimana caranya aku memanggilmu?" Tanya Noah.


"Ambillah ini," Sebuah benda pun tercipta dari ruang kosong diatas mejanya. Sebuah batu hitam dengan rune kuno besar didepannya memancarkan cahaya biru. Batu itu sebesar genggaman tangannya.


"Batu panggilan?"


"Ya, tapi kau hanya bisa memanggilku sebanyak tujuh kali. Aku akan memberimu ramalanku jika aku sudah siap."


Noah pun mengambilnya dan melihatnya sebentar. "Kalau begitu, tampaknya bisnis kita selesai, selamat tinggal Nyonya Aether." Noah pun beranjak dari kursinya dan memakaikan kembali jubah hitamnya.


Noah pun secara mengejutkan menghilang ditempat tanpa meninggalkan bayangan. Hal ini cukup membuat Aether terkejut.


"Oh, rune teleportasi? Jadi ini alasanmu kenapa kau begitu percaya diri?" Ucap Aether dengan senyuman.


"Yah, aku harus pergi." Lalu aura sihir yang ada di kepala rusa itu menghilang tanpa jejak sedikitpun.


...----------------...


Disebuah penginapan mewah, Noah duduk di kursinya sambil membaca buku ingatannya. Dia terus membacanya dengan fokus, dan mengabaikan Alfred yang berdiri dengan hormat didepannya.


"Jadi..Bagaimana senjatanya?" Tanya Noah dengan dingin.


"Uh...Untuk pembuatan senjata memang tidak ada masalah, hanya ada sedikit kesalahpahaman yang membuat Tuan Dreg tidak ingin membuat pedang Tuan....Maafkan saya, Tuan," Alfred membungkuk.


"Tidak apa-apa, yang penting dia tetap membuatkan pedang untuk Tuan Putri bukan?"


Alfred pun mengangguk, menjawab pertanyaan Noah. "Kalau begitu pergilah," Dengan lambaian tangannya, Alfred pun keluar dari kamarnya.


"Yah, hal ini sudah kuduga," Dia memegangi keningnya. Dreg, merupakan seorang Dwarf yang memiliki harga diri tinggi. Dengan reputasi sepertinya, Derg tidak akan mau membuatkan senjata untuknya.


Dia pun kembali melihat kearah bukunya. Melihat sesuatu dengan wajah terkejut. "Hei, aku tak tau bahwa Putri Reflia hanya tertarik dengan anak kecil. Seleranya sungguh aneh," Gumamnya.


Baru-baru ini, ingatannya memudar lagi. Beruntungnya dia sudah menyalin semua ingatan tentang plot cerita kedalam bukunya ini. Bahkan dia juga menuliskan tentang karakter dan detail tentang mereka didalam buku ini.


"Sekarang, aku hanya butuh satu urusan lagi untuk kuselesaikan," Gumamnya sambil bersandar di kursinya.


"Ya ampun, menjadi bangsawan memang melelahkan...."