
Suasana yang ramai di bawah sinar sunset membuat hiasan pesta itu terlihat indah. Air mancur dan hiasan-hiasan mahal membuat semuanya tampak sempurna.
Disudut pesta, Noah berdiri dan memegang segelas wine dengan bosan. Dia hanya mengamati para bangsawan lain untuk mengurangi kebosanannya.
"Ya ampun, kenapa lama sekali.." Gumamnya dengan kesal.
Dia pun mengarahkan pandangannya ke salah satu gadis yang membuatnya tertarik. Rosean Avlean, dia merupakan salah satu karakter penting. Dia tak tau alasannya karena dia lupa, namun suatu karakter tidak akan menjadi penting jika tidak ada suatu hal yang penting.
"Auranya memang kuat," Ucapnya sambil mengamati gadis itu.
Gadis itu memiliki rambut model ponytail dengan rambut merahnya. Mata abu-abunya terus menatap orang lain dengan pandangan menghina. Sama sepertinya, Rosean tampaknya tak suka dengan keramaian dan menganggap rendah mereka.
"Yah, tak salah jika dia memiliki temperamen seperti itu," Gumamnya. Karena seorang gadis yang tumbuh dilingkungan yang keras dan dikerumuni para orang berbakat membuatnya menjadi arogan dan sombong saat berada disekitar orang yang lebih lemah darinya.
Selain itu, dia juga tertarik pada satu orang. Namun dia bukan gadis yang diundang ataupun diajak dalam pesta. Halaman kerajaan sangat luas dan dikelilingi tembok karena terhubung dengan istana. Di tembok sana, dari balik bayangan, terlihat seorang gadis terduduk sambil memeluk kakinya, dan memandangi pesta dengan pandangan iri.
"Aroma gadis itu sangat menarik," Ucapnya sambil menjilat bibirnya dengan lidahnya.
Sejak memasuki halaman, dia heran kenapa ada sebuah aroma yang sangat menyengat dan membuatnya merasa lapar. Namun ternyata, gadis itulah penyebabnya.
"Tidak..Tidak...Kau harus tahan dirimu, Noah," Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Akan sangat merepotkan jika naluri Vampirnya akan membuatnya langsung melompat kearah gadis itu didalam keramaian seperti ini.
Dan di satu sisi, disalah satu meja, berkumpul tiga orang pemuda tampan yang menjadi pusat perhatian para bangsawan.
Mereka adalah anak dari para Duke yang juga hadir dalam pesta ini. Juga, menurut rumor, dikatakan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan kuat. Karena itulah mereka digadang-gadang akan menjadi Ksatria Sihir yang hebat dam diberikan fasilitas untuk berkembang oleh kerajaan. Bahkan, ada sebuah rumor bahwa salah satu dari mereka akan ditunangkan dengan Putri Reflia.
*Ting!...Ting!...
Perhatian para bangsawan pun teralihkan pada seorang Butler yang memukul ringan gelasnya dengan sebuah sendok.
"Perhatian! Tuan Putri akan memasuki jamuan!"
Setelah berteriak, lampu pun dipadamkan dan membuat cahaya begitu minim karena matahari yang mulai tenggelam.
*Kriet!
Pintu besar terbuka dengan sendirinya, dan seorang gadis yang cantik dalam balutan gaunnya yang menarik seketika menjadi pusat perhatian.
Secara mengejutkan, cahaya dari matahari terbenam pun menyinari sebuah kristal diatas Istana dan membengkok cahayanya kearah halaman dimana Tuan Putri berdiri. Karena cahaya itu, lantai tiba-tiba mengeluarkan rune aneh dan menjalar ke setiap air mancur yang ada dan membuat mereka menyala. Lalu rune itu menjadi butiran cahaya dan mengelilingi para bangsawan yang terkagum-kagum.
Hal ini memicu kekaguman dan pujian dari para bangsawan, bahkan termasuk Noah yang mau tak mau juga kagum. Walaupun, dia agak tidak nyaman dengan sihir itu.
Karena secara logis, dia itu sudah menjadi Vampire.
"Maaf jika aku membuat kalian menunggu," Ucap Putri Reflia sambil mengangkat roknya sedikit dan menunduk.
"T-tidak apa Tuan Putri! Bahkan jika harus menunggu berjam-jam pun akan kami lakukan," Seorang pria dari anak Duke menjawab dengan cepat. Dia pun menata rambut birunya kembali kebelakang dan membuat para pria hanya menatapnya sinis.
"Selamat ulang tahun, Tuan Putri, maaf jika hadiahku tidak seperti yang anda harapkan. Hanya inilah yang dapat Keluarga Trevon berikan," Seorang anak Duke Trevon yang memiliki rambut hitam panjang sebahu pun menunduk dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Oh, aku sungguh terima kasih untuk hadiahmu ini," Pelayan disamping Putri Reflia pun menerima barang itu untuk Putri Reflia.
"Oy, Garry! kau mencuri kesempatanku!" Pria berambut biru berteriak kepada pria dari keluarga Trevon itu. Garry Alleyson, anak pertama dari Duke Alleyson, itulah namanya.
Melihat tingkah lakunya, Putri Reflia pun tersenyum tipis. Pada akhirnya, suasana pun menjadi hening dan halus. Para bangsawan saling bercanda dan memberikan selamat kepada sang Tuan Putri.
Putri Reflia juga berkumpul dengan gadis yang lainnya sementara para pria kadang memberikan ucapan selamat sambil memberikan hadiah.
Acara ini kerap kali dilaksanakan tanpa adanya orang dewasa, dengan tujuan untuk menjalin ikatan mereka agar dapat mudah bekerja sama keesokannya.
"Tuan Putri, selamat ulang tahun," Noah menundukkan tubuhnya kalan melihatnya berjalan pelan kearahnya.
"Noah, sudah lama tidak bertemu, apa Ibumu kini sudah baik-baik saja?" Putri Reflia pun bertanya dengan nada lembut.
"Ya, Tuan Putri. Hanya saja masih perlu waktu untuk 100% sembuh."
"Yah, aku turut bersuka cita atasmu, Noah."
"Maaf atas kelancangannya, Tuan Putri. Kami dari keluarga Eltrez mengalami masalah saat mau membawa hadiah ulang tahunmu. Aku sungguh minta maaf, dan juga Natasha meminta maaf karena tak dapat hadir," Noah pun menundukkan badannya didepan Putri Reflia dan meminta maaf dengan tenang.
"Itu tak masalah, selama kau datang aku akan merasa terhormat. Kalau begitu, aku harus pergi dulu," Putri Reflia pun mengangkat roknya sedikit dan menunduk.
Setelah Putri Reflia pergi, aroma melati membuatnya mengerutkan keningnya. Namun bukan karena terpesona dengan wewangiannya, tapi karena suatu hal yang tiba-tiba terbesit dikepalanya.
Namun dia memutuskan untuk mengusirnya dari kepalanya dan melanjutkan menikmati hidangan yang ada. Meski begitu, dia merasa ada sesuatu yang aneh dan mulai berjaga-jaga.
Seperti yang diketahui, Vampir dapat melihat aura sihir seperti benang tipis yang berputar disekitar orang. Namun jika digunakan dengan baik, mereka juga dapat melihat jejak sihir dari benang-benang diudara dengan hanya melihatnya saja.
Disekitarnya, benang sihir yang tadinya tenanh entah kenapa mulai bergerak dengan kecepatan yang konstan dan mulai mengalir dari sudut kesudut yang membuatnya curiga.
Untuk melakukan sihir cahaya tingkat rendah seperti ini, benang-benang itu bergerak cukup mencurigakan.
Dia ingin sekali pergi dari sana, namun dia yakin bahwa keamanan disini akan begitu ketat.
Lagipula, ada beberapa Ksatria handal yang akan menjaga, bukan?
Noah pun kembali tenang dan hanya mengamati mereka dalam diam. Namun di luar halaman, dia tiba-tiba mendengar sebuah keributan.
"Hei, dia sendiri yang mengundangku! Lihatlah ini!!" Seorang pria dengan baju lusuh mempamerkan undangan pesta yang ada ditangannya.
"Beraninya kau memalsukan undangan pesta!!" Salah seorang penjaga pun menjadi marah dan hendak memukulnya namun ditahan oleh rekannya.
"Huh, apa!? Kau mau memukulku? Pukul saja jika kau bisa!"
Mendengar ucapan pria didepannya, membuat wajahnya berubah dari merah menjadi lebih hitam.
"Hei, tahan amarah–"
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya untuk menekan kemarahan rekannya, seorang gadis memotong ucapannya dengan teriakan.
"Lepaskan dia!"
Mereka pun tertegun dan berbalik, "T-tuan putri, tapi dia–"
Penjaga itu pun saling memandang dengan ragu seolah memastikan sesuatu. Melihat mereka, Putri Reflia pun nenegaskan kalimatnya lagi. "Akulah yang memanggilnya–"
*Swoosh!
Angin berhembus kencang secara tiba-tiba dan membuat semua yang ada disana terkejut.
*Brak!!
Tanah pun terbelah oleh cahaya yang menyembul keluar hingga ke langit-langit yang mulai gelap. Putri Reflia terkejut, dan salah satu tanahnya menjadi rapuh.
"Reflia!" Pria itu pun segera menghampirinya yang hampir terjatuh saat tanah yang dipijaknya menghilang perlahan menjadi cahaya.
""!!!""
Penjaga itu juga ingin menangkap pria itu, namun itu semua gagal dan para bangsawan juga terjatuh kedalam lubang yang tercipta dihalaman itu.
*Brak!!
"Kyaaaa!!!"
"Sial!!! Apa yang terjadi!!?"
"Ya Tuhan!!!"
Seruan bergema satu demi satu kala mereka terjatuh kesebuah lubang. Noah pun terkejut dan menggertakkan giginya.
Sial! Aku tak bisa menggunakan sihirku!? Disaat yang seperti ini!!??
Beberapa orang lainnya pun juga merasakan hal yang sama dengan Noah. Sihir mereka berhenti bekerja sesaat.
Ini pun semakin membuat mereka putus asa. Dan Putri Reflia, yang ada dipelukan pria itu mau tak mau menjadi takut dan meneteskan air matanya.
"Maaf....Argon....Maafkan aku.."
Mendengar isakannya, Argon, sang pria bermata oranye dengan pupil seperti naga itu pun bingung dan memilih mengabaikannya. Dan memilih bagaimana cara mereka bisa selamat.
"Tenang semuanya!! Dibawah sana ada sebuah danau!!! Jika kau bisa berenang, peluklah dan bantu yang tidak bisa!!" Ucapan dari Garry Trevon pun membuat mereka mengangguk dan segera mendekat kearah para wanita yang rata-rata tak bisa berenang.
Noah pun setuju dengan usulnya dan mengambil seorang gadis secara acak disekitarnya dan mendekapnya kedalam pelukannya.
10 meter....
8 meter....
5 meter....
2 meter....
*Byuurr!!
Para anak bangsawan itu pun mengambil sikap berenang untuk meminimalisir kerusakan dari terjatuh di tempat yang tinggi.
Namun mereka tak khawatir, karena para anak bangsawan jelas sudah dipersiapkan untuk berbagai hal yang akan terjadi. Apalagi, hubungan antar kerajaan sedang bersitegang yang membuat para kepala keluarga menyiapkan keturunan mereka dengan keras.
Noah pun segera berenang ke tepi danau dengan seorang gadis didalam pelukannya dan meletakannya ditanah.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi.." Gumamnya dengan tenang.
Dia pun melihat kearah langit-langit dan yang dia lihat hanyalah langit-langit gua yang gelap. Hal ini membuatnya mengerutkan keningnya.
"Ini adalah sihir dimensi...." Ucapnya dengan keterkejutan didalam hatinya.
Para bangsawan lainnya pun juga melihat keatas dan menjadi lebih putus asa.
"Apa yang terjadi?"
"A-apa kita akan mati disini?"
"Uwooo!!! Ibu!!!!"
Rengekan demi rengekan terdengar ditelinganya. Hal ini membuat sudut matanya berkedut dan keinginan untuk melakban mulut mereka meningkat dengan pesat.
"Reflia!! Apa kau baik-baik saja!?"
Mereka pun teralihkan dengan ucapan Argon dan melihat bahwa Tuan Putri mereka berbaring ditanah dengan wajah yang pucat.
Namun Garry segera menghampirinya dan menekan lehernya untuk mengecek nadinya. Dia pun menghela nafas lega. "Dia hanya pingsan," Ucapnya.
Saat ini, mereka semua menjadi semakin takut dan putus asa dengan keaadaan yang mereka alami. Gelapnya gua dan heningnya keadaan membuat mereka semakin histeris.
"Ya, ini pasti salahmu....Semua ini salahmu!!!"
Seorang gadis pun menjadi gila dan menyalahkan Argon dengan gila.
"Hah? Kenapa ini menjadi salahku!?"
Gadis itu pun terdiam, dan akhirnya menangis dalam diam sambil memeluk kakinya.
"Oke, tenanglah!"
Garry Trevon pun mencoba menenangkan mereka dengan suaranya. Namun nampaknya ucapannya berhasil membuat mereka menjadi lebih tenang.
"Para penjaga disana pasti akan mengeluarkan kita dari sini, kita hanya harus bertahan disini selama mungkin!" Teriak Garry Trevon dengan wajah serius.
Perkataan Garry pun berhasil menenangkan mereka dan membuat secercah harapan untuk mereka sendiri.
Disisi lain, Noah mengerutkan keningnya dan memandangi langit-langit gua dengan tenang.
"Cih, rencana mereka sangat mudah ditebak."