
Dalam halaman kerajaan yang sangat besar, dipenuhi dengan bunga mawar merah yang sangat banyak dan air mancur yang ada di tengah acara membuat nya terlihat begitu mewah.
Selain itu, di ruangan dansa, dihias oleh pita emas dan lampu-lampu yang begitu mahal dengan penerangan redup yang memberikan kesan tenang dan senyap.
Kedua anak dan Ibu itu pun membeku dan kagum dengan suasana Kerajaan.
"Bu, lihat itu!! Ada piring dan gelas emas!!" Ucap Sarah dengan antusias kala pergi ke halaman kerajaan.
"Sarah, jaga kelakuanmu!" Ibunya menatap tajam Sarah yang berkelakuan seperti anak kecil. Sarah pun terdiam dan segera berdiri tegak disampingnya.
"Baik, ibunda," Jawab Sarah dengan serius dan anggun. Ibunya pun mengangguk puas dan mereka berdua berjalan ke seorang pria yang sedang mengatur hiasan pesta.
"Permisi tuan, kami ingin mengantarkan pesanan Tuan Putri Reflia," Ucap Ibunya dengan hormat.
Pria muda itu pun melihat mereka berdua dengan dingin dan mengangguk. "Letakkan saja smeua roti itu diatas meja, kita akan mengurusnya nanti," Ucap pelayan itu.
"Ya," Mereka berdua pun mengangguk dan meletakkan roti itu diatas meja.
"Ayo, kita harus segera pulang," Ibunya pun menggandeng tangan anaknya yang kini setinggi bahunya. Walau dia kini baru berusia 11 tahun, namun sungguh keajaiban bahwa dia memiliki tinggi dan proporsi tubuh yang sangat dewasa.
"Bu...Um...Bagaimana jika kita pulang nanti? A-aku hanya ingin melihat pestanya," Sarah pun menghentikan langkah ibunya dan memohon dengan mata imutnya.
Namun sayangnya, Ibunya menggelengkan kepalanya dengan keras dan menatapnya dengan tajam. "Sayangku, tempat ini bukanlah tempat untuk kita, kita tidak seharusnya ada disini sejak awal."
Mendengarnya Sarah pun menjadi murung dan sedih, namun dia pun hanya mengangguk dan berjalan berdampingan dengan ibunya untuk keluar dari Istana yang besar itu.
"Tunggu, Nyonya!"
"Hm?" Ibu Sarah pun berbalik ketika seorang ksatria berbaju perak menghentikannya dari belakang.
"Atas Tuan Putri Reflia, dia memintamu untuk datang ke ruangannya," Ucapnya dengan tegas.
"Putri Reflia!? Untuk apa–"
"Kau tidak berhak mengetahuinya!" Ucapan Ibu Sarah pun dipotong dengan keras, Sarah ketakutan saat mendengarnya dan memegangi tangan ibunya dengan keras.
"Tenanglah sayang, Ibu tak akan pergi terlalu lama. Ingat, jangan sentuh apapun selagi Ibu pergi, mengerti?"
Sarah pun mengangguk mendengarnya.
"Bagus, anak pintar!"
*Pat...Pat...Pat
Ibu Sarah menepuk kepalanya dengan lembut.
"Cepatlah, kau akan menyesal membuat Tuan Putri menunggu!" Dengan desakan ksatria itu, Ibu Sarah pun mengikutinya menuju sebuah lorong dan menghilang disebuab tikungan.
Sarah hanya cemberut dan menatap halaman mewah itu. Dia pun memutuskan untuk berdiri disana dengan diam agar tidak membuat masalah.
"Lepaskan aku!!! Atau akan kupanggil penjaga!!"
Sarah terkejut dan mengikuti asal suara itu dengan penasaran. Dia pun mengendap-endap hingga akhirnya melihat gadis berambut merah sedang bertengkar dengan pria berambut biru dengan kulitnya yang cokelat.
"Dengarkan aku dulu!! Kau pikir itu salahku hah!?" Ucap Pria itu dengan tegas.
"Tentu saja!! Kau pikir aku mudah dibohongi seperti simpananmu hah!" Gadis itu pun menjawabnya dengan marah.
"Cih, merepotkan."
"Hah, apa kau bi–Hmph!!"
Gadis itu pun terkejut, ketika pria itu membungkam mulutnya dengan bibirnya.
"Hmph!!" Gadis itu menciba melawannya, namun tenaga pria itu terlalu besar sehingga dia tidak bisa melawan.
Ciumannya pun secara tiba-tiba semakin dalam dan kasar. Membuat gadis itu tak berdaya dan menjadi lemas dalam sekejap.
*Brak!!
Pria itu memojokkan gadis itu di tembok lorong dan terus menerus menciumnya dengan ganas. Sarah pun terkejut dan segera pergi dengan wajah merah.
"A-apa yang telah kulihat!?" Gumamnya sambil menutup mukanya dan berlari menjauh.
Namun gadis itu segera menyadari Sarah dari sudut matanya dan akhirnya kembali ke akal sehatnya, lalu mendorong pria itu dengan kasar.
"S-sial! Apa yang kau lakukan!!?"
Gadis itu pun menampar pipinya dan segera pergi dari sana dengan angkuh. Wajah pria itu pun menggelap dan kemarahannya pun sudah diujung tanduknya.
"Rosean Avlean!!! Kau akan merasakan akibatnya atas menamparku!!" Pria itu berteriak dengan wajah merah dan nafas yang terengah-engah. Namun gadis bernama Rosean itu tak bergeming dan terus melangkah menjauh dari pandangan pria itu.
*Bang!
Tangannya meninju dinding dengan keras dan perasaan marah yang terus mengalir dihatinya. "Aku, Ryan Alleyson! Pasti akan membuatmu menjadi milikku!!" Lalu pria itu pun pergi dari situ dengan perasaan marah. Dan menapakkan kakinya dengan langkah yang berat.
...----------------...
Sementara itu, duduk berhadapan dengan wanita yang sangat tak ingin dia temui, Noah memakan sarapannya dengan tenang walau hatinya gelisah saat ditatap oleh tunangannya.
"Hei, apa kau mengabaikanku?" Gadis itu memiliki suara anggun dan mata yang lembut.
"Diamlah, aku sedang makan," Jawab Noah dengan acuh.
Bibirnya berkedut saat mendengar jawabannya, namun dia mengalah dan hanya meminum seteguk wine kelas atas yang disediakan penginapan dengan puas.
"Omong-omong, dimana Natasha? Kupikir dulu dia selalu mengikutimu kemanapun," Tanya gadis itu. Dia menyibakkan rambut putihnya kebelakang, dan mata biru langitnya menatap Noah dengan tenang.
"Aku tak tau dan tak peduli," Jawab Noah. Lalu dia pun menyantap daging terakhirnya dan meletakkan alat makannya disana.
"Maaf jika aku tidak sopan, aku harus pergi dulu," Noah pun beranjak dari sana dan segera menuju pintu keluar penginapan dan menaiki kereta yang sudah dia siapkan sejak tadi.
"Hmph! Dasar sombong, jika saja kau bukan anak Earl sudah ku cambuk pantatmu!" Gadis itu pun mengeratkan pegangannya digelas nya dengan erat dan mencela Noah karena sifatnya.
"Heh, lihat saja nanti, akan kutunjukan seperti apa gadis El Thena dalam menghukum budaknya!" Ucapnya dengan senyum kejam terpampang diwajah cantiknya. Lalu dia pun meneguk wine nya sampai habis dan meletakannya dimeja dengan keras.
*Crang!
"Nyonya."
"Huah!" Dia terkejut dan melihat pelayan setianya, Redgard memnungkuk disampingnya dengan hormat.
"Redgard! Kau membuatku terkejut!" Mau tak mau dia menegurnya karena membuatnya terkejut.
"Maaf Nyonya, Tuan Besar mengingatianku untuk mambuatmu datang dipesta dengan selamat. Sekarang hampir waktunya untuk pesta dimulai," Ucap Redgard dengan dingin. Dia merupakan seorang pemuda berambut cokelat dengan kacamata diwajahnya.
"Cih, dasar pria tua itu!" Ejek nya saat mendengar ucapan Redgard.
"Kalau begitu, apa kau sudah siapkan kereta untukku?"
"Sudah Nyonya, kereta akan datang sekitar dua menit lagi," Jawab Redgard.
"Baguslah begitu, sekarang...pergilah dari sini, kau mengganggu pemandanganku," Dia pun melambaikan tangannya untuk membuatnya pergi, seperti perintahnya, Redgard pin pergi dari sana.
"Heh, kenapa juga aku harus mendatangi pesta Putri Manja ini? Dasar merepotkan," Gumamnya dengan senyum mengejek terpasang diwajahnya.
...----------------...
"Elly, bagaimana penampilanku?"
Seorang gadis cantik, melihat sosok nya di kaca yang besar dan memutar-mutar tubuhnya untuk memastikan penampilannya sempurna.
"Sangat cantik Tuan Putri!!! Anda benar-benar seperti matahari kecil kerajaan kita!!" Elly pun menyanjungnya dengan mata berbinar.
"Fufufufu, kau selalu berlebihan, Ally~" Tuan Putri tertawa lembut sambil menutupi mulutnya dengan tangannya. Ally pun tersipu dan menggelengkan kepalanya untuk tersadar.
Putri Reflia menganggap bahwa pujian Ally terlalu berlebihan, namun pada nyatanya, penampilannya benar-benar memanjakan mata.
Rambut emas mengkilap, dan mata emas yang bersinar dengan keanggunan misterius membuat nya begitu terpesona. Wajahnya halus, dan rambutnya yang dibentuk bergelombang serta balutan gaun mewah membuatnya seperti seorang Dewi.
*Knock!...Knock!
"Tuan Putri, acara telah siap dimulai," Seorang pelayan berbicara dari balik pintu kamarnya.
"Elly, apa kau sudah melaksanakan perintahku?" Tanya Putri Reflia.
"Ya, Tuan Putri!" Elly pun mengangguk dengan bersungguh-sungguh.
Melihat tampang polosnya, membuat Putri Reflia tertawa kecil dengan tingkahnya selama menjadi pelayannya, karena itulah dia lebih memilih Elly sebagai pelayan pribadinya dibandingkan yang lain.
"Kalau begitu, kita harus pergi sekarang, sangat tak sopan jika membiarkan tamu undangan menunggu lama," Ucap Putri Reflia sambil melangkah kearah pintu keluar. Pintu pun segera dibukakan oleh Elly dan membiakrkan Putri Reflia keluar dari sana dengan gaun yang anggun.
"Mari kita lihat, apa dia....Akan datang?" Senyum pun terpampang diwajahnya, saat dia berjalan menuju panggung acara miliknya.