
Guru tersebut menghilang begitu saja dan meninggalkan kami berdua di kelas.
"Apreel... dia meninggalkan kita berdua," ucap ku dan terus menghadap ke arah pintu.
"Jadi...." Apreel menoleh ke arah ku perlahan.
Tatapannya dan senyuman dia yang aneh membuat ku takut, aku berdiri dan segera menjauh darinya.
"Aahahahaha! Kau harus liat ekspresi itu, benar-benar lucu hahaha!"
Tawa Apreel yang sangat keras itu memenuhi ruang yang kosong ini, dan itu membuat ku sangat marah, aku mengangkat buku besar berwarna kuning yang aku pilih dan ingin aku memukulkan buku tersebut pada Apreel, tapi... aku malah memeluk buku tersebut.
"Kecilkan suara mu, guru bisa marah nanti!"
"Ayolah Ella... tak mungkin aku bisa menahan tawa ku." Apreel masih berusaha berhenti dari tawanya.
"Aku benar-benar kesal pada mu, kau mempermainkan aku kaya anak kecil, aku ini lebih tua tau! Lebih tua empat tahun dari mu!"
"Ahahahahaha."
Bukan membuat Apreel sadar tapi malah membuatnya semakin tertawa.
Aku yang merasa benar-benar terhina tanpa sadar air mataku menetes, Apreel yang melihat ku menangis seketika berhenti tertawa.
"Cup cuup... ayo dong... jangan nangis...." Apreel mencoba menenangkan aku tapi aku tidak peduli.
"Katanya kamu mau menjaga ku, tapi malah selalu mengejek ku, kamu pikir aku ga marah!? Aku kesal tapi gak bisa apa-apa!" tangis ku tak kunjung berhenti.
Seketika Apreel memeluk ku. "Maafkan aku Ella... maafkan aku...!" Sangat erat dia memeluk ku, suaranya yang bergetar tak henti-hentinya meminta maaf, "Maafkan aku...!"
Aku hanya diam, lalu Apreel melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pipiku dengan kedua tangannya.
Aku melihat wajah Apreel yang basah karena air matanya.
"Pfft...." Aku langsung menutupi mulut ku dan menahan perut ku.
Apreel tampak bingung dan terus menatap ku, aku yang sudah tak tahan mulai tertawa keras.
"Ahahahaha" suara tawa ku memenuhi ruangan. "Hahaha, kau harus melihat wajah mu sendiri saat menangis, hahahaha!"
Tapi... tawa ku seketika terhenti saat melihat Apreel yang tersenyum seperti orang yang sedang marah.
Aku sangat khawatir dan tak ingin dia marah, "Apreel...." Aku memanggilnya namun sama sekali dia tak menjawab ku.
"Ha...!" Apreel teriak sangat keras hingga membuat ku sangat terkejut.
"Hii... kau ini membuat ku takut saja," ucap ku sambil memukul bahunya.
"Hahaha, pukulan mu itu membuat ku geli, lihat tuh tangan mu kecil, hahaha."
Hmm... Apreel mengejek ku lagi.
"Dah ah," Aku membuka buku kuning yang aku pilih yang ternyata sangat mudah untuk di buka tak seperti sebelumnya. "Kau bisa membukanya Apreel?"
Apreel membuka buku tersebut. "Iya sangat mudah kok."
Lalu kami mulai membaca buku masing-masing.
Aku membaca buku dengan sampul berwarna kuning.
-Pada jaman dahulu magic selalu di jadikan sebagai pertunjukan sulap, namun seiring berjalannya waktu muncullah orang-orang yang ingin menggunakan magic untuk hal lain, mereka yang serakah mulai menyengsarakan orang-orang dengan menggunakan magic, bahkan mereka sampai membunuh orang-orang yang tak bersalah.
"Ini tentang magic, punya mu isinya apa Apreel?"
"Punya ku isinya tentang psychic, dan ternyata sangat menarik," ucap Apreel yang terlihat senang.
"Sayangnya tak boleh di tukar ya, hmm...." Lalu aku melanjutkan membaca.
-Manusia memiliki hasrat tanpa akhir, memiliki keinginan tanpa kepuasan, sehingga di antara mereka yang ahli sihir juga saling menjatuhkan untuk memutuskan siapa yang akan menjadi pemimpin para penyihir itu.
-Laki-laki maupun wanita, Anak-anak maupun orang tua, mereka yang miskin maupun yang kaya. Selama mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan magic, mereka juga ikut bertarung untuk mengambil posisi tertinggi.
-Suatu sari ada seorang wanita bernama Tinka, dia seorang wanita muda yang sangat lihai dalam menggunakan sihir, tapi wanita tersebut sama sekali tak tertarik dengan yang namanya perebutan posisi itu dan dia memutuskan untuk tidak ikut campur.
"Apreel buku mu isinya seperti apa?"
"Teori dan tatacara praktiknya."
"Hmmm aku benci sejarah, tapi di bandingkan sejatah buku ini lebih mirip jurnal, semuanya benar-benar tulisan tangan."
Aku melanjutkan membaca.
-Suatu ketika posisi teratas berhasil di ambil oleh seseorang. Lalu suatu hari saat Tinka berkebun dia melihat segerombolan wanita-wanita penyihir yang berbondong-bondong menghampiri rumahnya, Tinka melihat salah satu orang yang terlihat tak asing.
-Wanita yang dilihat Tinka adalah orang yang sangat membencinya, dan dia mengatakan bahwa dialah yang mendapat posisi tertinggi, Tinka sempat mengkhawatirkan sesuatu hingga kekhawatirannya benar-benar terjadi.
-Para penyihir itu merusak kebun Tinka, tumbuhan yang ada semuanya di rusak dan di injak-injak hingga tak lagi berbentuk, setelah melakukan itu semua, mereka pergi begitu saja meninggalkan Tingka sendirian.
-Tinka sangat marah, dia memutuskan untuk membalas mereka, dia kembali ke rumahnya untuk mengambil tongkat sihir miliknya, lalu menyusul mereka.
-Hari-hari berlalu, Tinka berhasil menyusul mereka dan membunuh orang yang membencinya beserta para pengikutnya, secara langsung tentunya dia menjadi penguasa tapi dia sama sekali tak tertarik, saat dia beranjak pergi orang-orang di sana bersujud padanya meminta agar dia mau mengambil posisi tersebut agar tidak ada lagi pertumpahan darah, akhirnya dia menyetujui hal tersebut.
-Tinka yang semula tak tertarik berubah menjadi orang yang serakah, dia selalu menginginkan harta lebih dan lebih, dia yang sederhana berubah menjadi tak biasa, namun kini kabarnya tak lagi terdengar.
"Buku ini seperti buku dongeng...."
Aku melihat kearah Apreel namun ternyata kepalanya telah tergeletak di atas meja, aku menyentuh bahu Apreel dan menggoyang-goyangkan untuk membuatnya terbangun.
"Engh... apa...?" Apreel mengangkat kepalanya dari meja.
"Kamu gak apa-apa?" tanya ku sambil terus menyentuh bahunya.
"Aaah... ngantuk berat, aku ngantuk banget." Apreel meletakkan kepalanya kembali ke atas meja.
"Hmm... ya sudah, tidur aja, nanti kalau gurunya dateng aku bangunin deh."
Aku kembali melihat ke arah buku, dan mengganti halamannya.
-Waktu terus berlalu, para penyihir baru mulai bermunculan, mereka memiliki kemampuan itu berkat orang tuanya, banyaknya orang yang dapat menggunakan sihir namun tak dapat menanganinya dengan baik akhirnya di adakan musyawarah, hingga keputusan akhir di bangunlah sekolah sihir.
-Saat pertama sekolah di bangun ada bermacam-macam sihir yang bisa di pelajari, namun karena kondisi yang sulit ada dua kelas yang di hilangkan, yaitu Spellcaster dan Alchemis.
'Mmm... benar juga, tak ada pintunya kedua kelas itu' ucap ku dalam hati. "Apreel menurut mu Spellcaster sama Alchemis itu seperti apa?" aku menoleh ke samping tapi ternyata Apreel sudah tak ada lagi di samping ku.
Aku panik dan langsung berdiri. "Apreel?!"