Be Light

Be Light
Episode 7



Saat di dalam ruangan itu aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak aku tanyakan tapi aku malah menanyakannya sehingga orang-orang di ruangan itu menatapku dengan sinis dan membuat ku ketakutan.


Guru sihir yang mau mengajar menghampiri ku, 'Apa yang akan dia lakukan padaku?'


Saat guru itu ada di hadapan ku seketika dia tersenyum dan berbicara lirih pada ku, "Kau bisa melihat wujud asli ku, sungguh mengagumkan, bolehkah aku memiliki mata mu?"


"Eh!" Perkataannya membuat ku sangat terkejut bahkan aku sama sekali tak dapat berkata-kata.


Guru itu masih tersenyum, "Kenapa hanya diam, apa artinya boleh?"


Aku kesulitan untuk berkata seakan mulut ini dihentikan oleh sesuatu, namun aku tetap berusaha untuk mengatakan sesuatu, dengan sepenuh tenaga akhirnya aku bisa mengucapkan sesuatu, "TIDAK!!" kata yang aku ucapkan sangat keras hingga membuat sebagian dari mereka yang sudah tak menatap ku kembali menatap ku.


Wulan tersenyum dengan mengerikan, “Aku kira kau tak akan mengatakan sesuatu."


Guru itu berjalan meninggalkan ku dan kembali ke depan, "Dalam private ini akan dibagi sesuai bakat kalian, jadi kalian akan terpisah, karena kalian sudah dapat melakukan sihir maka aku akan memberitahu ruangan mana yang akan kalian datangi untuk melatih diri, apakah ada yang belum bisa sihir?"


Mendengar itu dengan sendirinya tangan ku terangkat, dan aku menundukkan kepala ku karena malu, hanya aku yang mengangkat tangan, namun tak lama kemudian Apreel ikut mengangkat tangan.


Guru tersebut menatapku dengan aneh, “Wah wah... kau kembali membuat ku terkejut, aku kira kau sudah menguasai sihir tidak ku sangka mata ku menipu ku hahaha.”


Orang-orang itu kembali menatap ku, "Sudah... sudah, yang lain harap memasuki ruangan yang sudah tertulis di atas pintunya, masuki pintu sesuai dengan profesi kalian, di sebelah kanan kalian terdapat tiga pintu yaitu black, white, dan red sedangkan di sebelah kiri kalian ada necromancer, world, dan summoner, jadi masuklah sesuai profesi yang kalian miliki dan jangan berdesak-desakkan!"


Orang-orang di ruangan mulai berpencar ke pintu yang telah ditentukan begitu juga dengan Jagat.


Jagat melambaikan tangan, “Aku pergi dulu ya!"


Aku dan Apreel hanya mengangguk kan kepala dan dia pergi ke pintu yang ada di sebelah kiri 'world', sihir yang kemampuannya mengendalikan alam.


Tinggal aku dan Apreel yang ada di ruangan tersebut, guru itu menghampiri kami, "Biar aku tanya pada mu dulu. ”Dia menatap Apreel.


“Jadi apa kau pernah mempelajari sihir?" tanya Wulan


“Belum!" jawab Apreel


“Kemampuan apa yang kau miliki?" tanya Wulan.


“Aku hanya bisa melakukan telekinesis,” jawab Apreel.


Guru itu menatapku, " bagaimana denganmu, apa kau punya kemampuan?"


“Belum ada,” jawabku.


Wulan menyentuh dagunya, “Bagaimana jika kalian ikut ke kelas psychic, tidak banyak orang yang mempelajari ini karena dianggap tidak menarik, kebanyakan orang lebih suka sihir yang tampak jelas, tapi kekuatan pikiran itu tidak terlihat padahal sangat berbahaya, jadi bagaimana?"


Apreel nampak sangat tertarik, “Iya aku mau, aku tak suka menunjukkan kekuatan ku, jadi jika memang ada kemampuan yang tak terlihat aku sangat ingin mempelajarinya."


“Bagus.” Guru tersebut kemudian menatapku. “Bagaimana denganmu mmm siapa namamu?"


“Nama saya Ella, saya siap belajar apapun, aku... belum bisa semuanya."


Guru tersebut tampak bingung, "Ini aneh, kau memiliki tingkat 'mana'(chi/qi) yang besar tapi belum bisa melakukan apapun, ya sudah kau ikut saja dengan temanmu ini, ayo!"


Kami berdua mengikuti guru tersebut mendekati rak buku yang ada di ruangan ini, saat sudah mulai dekat seketika lemari tersebut bergeser dan ada sebuah pintu yang bertuliskan 'psychic'.


“Kenapa di sembunyikan?" tanyaku.


Dia membuka pintunya, saat pintu terbuka seketika hembusan angin yang cukup kencang keluar dari ruangan itu.


Wuss....


Aku mencoba menghalangi angin yang mengenai wajahku dengan satu tangan. “Apakah ruangannya terbuka? Sampai angin yang datang sekencang ini?"


"Tentu saja tidak, ruangan ini seperti bernapas, dan sudah sebelas tahun ruangan ini menahan anginnya, jadi saat mulai terbuka tentu saja dia menghembuskan angin yang sudah lama di tahannya," jawab Wulan. "Sudah ayo masuk!"


Kami memasuki ruangan bersama guru itu, ruangannya sangat gelap dan dingin, seketika pintu tertutup dengan sendirinya 'grep', aku sangat terkejut tapi Apreel terlihat biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.


Lilin yang ada di samping-samping ruangan menyala dengan sendirinya, aku berusaha bertindak biasa seakan semua itu wajar saja. “Ruangannya seperti kelas di sekolah.”


Saat sampai di bagian depan, "Duduklah!"


Aku duduk di bangku yang paling depan bersama Apreel.


Wulan menghadap kami berdua, "Untuk pertama, kalian baca buku."


Seketika di tangannya ada dua buah buku dari tangan kanan dan kirinya seperti sebuah sulap, guru itu meletakkan dua buku yang berbeda di depan aku dan Apreel, "Mana yang ingin kalian baca, pilih dan jangan bergantian!"


Dua buku yang satu berwarna merah dan satunya berwarna kuning, "Ella ambillah kau dulu.”


“Tidak kau dulu saja.” jawab ku


“Yang lebih tua dahulu."


Wulan nampak terkejut, “Hee... jadi Ella lebih tua? astaga... aku kira kau adiknya, hahaha aku benar-benar tertipu sejak tadi hingga ini, aku harap kejutannya tak berhenti di sini.”


Aku mengambil buku berwarna kuning, seketika aku mengingat kejadian saat itu, "Guru aku mau menanyakan sesuatu."


“Silahkan!"


Aku mulai bercerita. “Waktu aku pertama kesini aku membaca sebuah buku di lantai satu, aku membaca tentang dispel, saat penjelasannya hampir selesai aku melihat ada tulisan 'apakah kamu ingin mempelajari dispel? iya atau tidak', apakah itu normal ?"


Guru tersebut tersenyum, "Tidak ada buku yang seperti itu, tapi jika memang seperti itu sebenarnya pernah terjadi dulu, sudah sangat lama, setiap membaca buku magic dia selalu menemukan tulisan itu, tapi sudah tak ada kabar tentang dia, aku tidak tahu lagi."


Aku mulai melanjutkan ceritaku. “Saat itu aku penasaran, saat aku menyentuh tulisan 'iya' seketika semuanya gelap, dan ada sosok putih yang menghampiri, saat aku menjabat tangannya seketika aku sudah di penginapan, sebenarnya siapa sosok putih itu ?"


Guru itu memegang dagunya seperti sedang berpikir keras, "Aah sama sekali tak ada informasi, aku kurang tahu tentang itu, tapi menurut asumsi ku dia adalah sosok yang menciptakan sihir tersebut, aku akan cari tahu lebih banyak lagi.”


Guru itu mengusap kepala ku, "Maaf ya belum bisa menjawab.”


Aku merasa… guru ini baik meskipun tampak menyeramkan. “Tidak apa-apa guru."


Guru itu menyingkirkan tangannya, "Bacalah buku kalian setelah aku keluar."


Setelah keluar katanya, aku mencoba membuka buku tersebut, tapi ternyata tak bisa di buka, sangat keras seperti ada yang menahan, sama sekali tak dapat terbuka.


“Ya sudah, saya keluar ya….” ucap Wulan dengan lembut


Dia berjalan mendekati pintu tempat kita masuk tadi, seketika dia sudah tak ada bahkan pintunya sama sekali tak terbuka.


Aku melihat sekeliling, dan memang tak ada siapa-siapa lagi. “Apreel... kita hanya berdua..."