
Aku melihat sebuah bola api yang cukup besar sedang mendekat dengan cepat, aku bergegas untuk menghindarinya namun kaki terasa begitu berat seperti ada yang menahan gerakan ku, aku pun pasrah dan membiarkan bola api tersebut mengenai ku.
Aku terkejut dan mata ku terbuka lebar, ku lihat sekeliling yang ternyata aku masih berada di kamar. Jantungku masih berdetak hebat karena mimpi itu, seketika sesuatu mengganggu pikiran ku karena udara pagi yang terasa begitu dingin "Ada apa ini?"
Aku teringat kejadian buruk dalam mimpi ku, aku segera bangun dan melihat ke bagian samping ranjang, disitu tergeletak satu tas milik ku yang berisi pakaian, melihat keluar jendela dan semuanya terlihat normal, ku coba membuka pintu kamar ku.
Gagang pintu berbahan besi itu terasa begitu dingin namun cukup mudah untuk digerakkan, saat ku buka pintu kamar, kulihat dari jauh ayah dan ibu ku yang sedang sibuk di dapur, aku menghampiri mereka dengan rasa cemas.
Ibu melihat ke arah ku "Kau sudah bangun Ella,pagi sekali?!"
“Mau langsung sarapan Ella?" sahut ayah.
“Iya sebentar, aku harus cuci tangan," jawabku.
Aku pergi menuju kamar orang tua ku, saat ku buka di sana terlihat sangat normal, aku masuk kedalam kamar dan menyentuh ranjang tempat tidur orang tua ku dan semuanya memang normal, dan yang tadi memang hanya sebuah mimpi.
Aku keluar dari kamar orang tua ku dan menuju kamar mandi, setelah membasuh tangan dan wajah aku langsung menuju dapur dan duduk di salah satu bangku di situ.
“Bekalnya sudah ibu siapkan itu sudah di ruang depan, nanti kalau mau keluar tinggal di bawa.” ucap Ibu ku.
Aku hanya menganggukkan kepala kemudian ayah menyajikan makanan untuk kami.
Setelah selesai makan aku melihat jam yang menunjukkan pukul 06.30
“Sudah waktunya aku berangkat ya"
Aku beranjak dari tempat duduk ku dan menuju kamar, mengambil tas berisikan pakaianku kemudian segera keluar.
Ibu ku sudah menunggu ku di depan pintu dengan memegangi tas berisi bekal, aku menghampirinya keluar rumah, ibuku meletakkan tasnya dan memelukku dengan erat. “Jaga dirimu baik-baik sayang..."
Saat ia melepaskan pelukannya aku melihat air matanya berlinang kemudian ibuku segera membersihkannya, dan ayah ku sama sekali tidak mengucapkan apapun, dia hanya mencium keningku dan memberikan tas berisi bekal tersebut.
Aku tak bisa lagi membendung sedih ku, aku menangis dan segera memeluk mereka berdua. Aku yang selalu bersama mereka, selalu disayang, diperhatikan, dan dimanja kini aku akan pergi meninggalkan mereka, meninggalkan kehangatan itu.
Terasa berat bagiku melepaskan pelukan ini, mungkin mereka juga merasakan hal yang sama beratnya atau mungkin lebih, aku anak mereka satu-satunya yang dibesarkan dengan penuh cinta sejak kecil dan saat mulai tumbuh ternyata pergi meninggalkan mereka.
Aku hanya bisa menangis dalam pelukan mereka, terbesit banyak sekali pertanyaan yang sulit terjawab, apakah aku bisa kembali lagi? Kapan aku bisa kembali? Apakah aku bisa menemui dan menjaga mereka di hari tuanya ? Dan apakah mereka masih ada saat aku kembali?
Ayah mengusap-usap kepala ku mencoba untuk menenangkan aku "Ella sayang, jika kau tak sanggup untuk pergi maka menetaplah, tapi perubahan selalu ada pada mereka yang mau mencoba dan merelakan banyak hal."
Ucapan ayah sama sekali tak menenangkan aku, mungkin maksud ayah agar aku tak menyerah sebelum mencoba, aku mungkin bisa jika hanya berjuang tapi meninggalkan segala hal yang telah mendarah daging tetap akan sangat berbeda tentunya.
“Sayang... ini juga berat untuk ibu, tapi ibu tak mungkin menahan mu, kau anak ku satu-satunya dan tak terganti, ibu dan ayah akan selalu merindukanmu,” ucap Ibu ku dengan suara yang bergetar
Entah kenapa ucapan ibu membuat ku lega, perlahan aku melepaskan rangkulan tangan ku, ku lihat wajah ibu dan ayah yang matanya berkaca-kaca dengan pipi yang basah, aku mengusap pipi mereka dengan tangan ku.
Dengan sangat berat hati aku pun mengucapkan kata yang membuat mereka sangat bersedih "Aku berangkat ayah... ibu..." Aku mengecup pipi mereka dan mulai berjalan menjauh.
Aku berjalan dengan menundukkan pandangan ku, kaki ku yang melemah karena merasakan kesedihan tetap ku paksakan untuk berjalan.
Jagat berbisik, “jangan melihat kebelakang Ella, itu hanya akan menyakitimu!"
Aku tak tahu apa yang dia maksud, tapi aku tetap menghadap kebelakang karena ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya sebelum pergi jauh.
Aku menghadap ke belakang menatap ke arah rumah, kulihat ayah dan ibu ku yang masih berdiri di depan pintu, aku melambaikan tangan ku pada mereka dengan senyum ku untuk menyembunyikan luka.
Aku melihat ayah ku melambaikan tangannya dengan senyum tapi ibu ku terduduk lemas menundukkan kepalanya dan kedua tangannya menutupi wajahnya, itu membuat ku semakin berat untuk meninggalkan mereka, namun aku tetap akan pergi, aku membalikkan badan ku dan mulai melangkah bersama Jagat dan Apreel.
Aku berjalan bersama mereka dengan penuh tangisan, rasanya kaki ini ingin berlari kembali dan mengurungkan niat untuk pergi.
Jagat kembali berbisik, “Hanya kau yang tak memiliki saudara jadi terasa sangat berat, jika kau ingin kembali dan membatalkan perjalanan kami tidak keberatan Ella.”
Mereka teman yang baik yang selalu ada saat aku butuh, tak enak bagi ku jika harus membatalkan ini "Tidak, kita akan melanjutkan perjalanan.”
“Jangan sok kuat Ella,” Sahut Apreel.
“Aku tidak sok kuat, saat ini aku sedang melatih diri ku untuk menjadi lebih kuat,” ucapku dengan mengepalkan kedua tangan.
Meskipun si perjalanan nanti aku tak bersama orang tua, setidaknya aku masih memiliki teman yang sayang pada ku.
Berjalan, berjalan, dan berjalan melewati hamparan rumput yang luas hingga terik matahari tak terasa panas, melewati banyak perkebunan dan terkadang mengambil beberapa buah, melewati pinggiran hutan dan menyusuri sungai.
Tak terasa matahari mulai terbenam dan hari mulai terasa gelap.
Jagat bertanya, “Apa kita akan berkemah di sini?"
“Dengan apa, kita tak membawa perlengkapan berkemah,” jawabku.
“Tenang saja…,” ucap jagat sambil mengeluarkan tongkat sihirnya dan menunjuk ke sebuah pohon besar "rót trésins" seketika akar-akar itu bergerak, akar dari pohon tersebut juga banyak yang muncul dari dalam tanah, akar-akar tersebut saling melilit satu sama lain dan tak disangka-sangka lilitan akar-akar tersebut membentuk menjadi dua buah tenda yang bersebelahan.
Aku terkejut dan kagum, itu semakin membuat ku termotivasi untuk mempelajari sihir. Akar-akar itu tak berhenti disitu, ada banyak akar yang berkumpul membentuk sebuah gumpalan di depan tenda entah itu untuk apa.
Jagat mengarahkan tongkatnya ke gumpalan akar tersebut "eldur"
wush... api menyala di gumpalan akar tersebut
Aku takut jika apinya menjalar kemana-mana, “Apa ini tidak apa-apa ?"
“Tidak apa-apa, sebenarnya dalam sihir api ada 2 fungsi, 1.membakar 2.menerangi, dan aku menggunakan fungsi nomor 2.jadi akarnya tak akan hangus karena akar ini juga terpengaruh pada sihir, tapi jika aku menggunakan fungsi nomor 1 akar ini akan terbakar,” jawab Jagat dengan tenang.
“Apa tetap bisa digunakan untuk membakar?" tanyaku bingung.
“Tentu, apapun yang belum dipengaruhi sihir tetap akan terbakar, seperti daun kering yang berserakan ini, jika terkena api itu tentu akan terbakar,” jawab Jagat.
Jagat menggunakan sihirnya untuk membuat dua tenda dari akar agar dapat beristirahat dengan nyaman meskipun berada di alam terbuka di tengah malam.