Be Light

Be Light
Episode 12



Guru Meldy menggantikan Guru Wulan karena dia bertugas di kelas Black.


Sama seperti saat Guru Wulan mengajar, Guru Meldy mengajak kami ke kelas Psychic. Aku dan Apreel memasuki ruangan tersebut dipimpin oleh Guru Meldy yang berjalan di depan.


Saat kami memasuki ruangan tersebut seketika pintu tertutup dengan sendirinya, aku yang waktu pertama kali masuk tidak terlalu penasaran karena dunia ini penuh dengan sihir, tapi ... aku malah jadi penasaran setelah melihat untuk yang kedua kalinya.


"Guru, apa pintu itu ditutup dengan sihir?" ucapku yang penasaran.


Guru tersebut berhenti melangkah dan menatap ke arahku, "Nanti aku beri tau."


'Jawabannya sangat tidak memuaskan, tapi aku bisa menunggu,' ucapku dalam hati. Aku berjalan dengan terdiam dan mulai mendekati bangku terdepan untuk menempati tempat yang sama seperti kemarin dan Apreel duduk di sampingku.


Di meja masih tergeletak buku yang kemarin aku baca, masih tidak berubah dari posisinya. 'Aku kira bukunya akan disimpan, ternyata dibiarkan tergeletak.'


Guru Meldy berdiri di depan kami berdua, "Ella."


"Iya guru?"


"Tadi kamu ingin menanyakan sesuatu?"


"Iya guru, tapi ... sebenarnya ini tidak terlalu penting."


Seketika guru tersebut mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Tanyakan saja, tidak apa kok." Meldy tersenyum.


"Masalah pintu guru, apa itu ditutup dengan sihir?" tanyaku.


Guru Meldy berdiri tegak dan menyentuh dagunya, "Hmm ...." Tak lama kemudian, dia menunjuk ke arahku, "Apa kamu tau Mall ?"


"Iya guru, aku tau," jawabku.


"Nah itu, sebenarnya bukan masalah menggunakan sihir, tapi karena memang telah diatur secara otomatis, dan ... tidak akan terbuka kecuali pada jamnya, kecuali jika ada seseorang yang mendekati pintu dari luar maka pintu akan terbuka."


Aku benar-benar terkejut dan sungguh tidak menyangka, aku kira semuanya didominasi oleh sihir, ternyata ... ah! Aku benar-benar merasa tertipu.


"Aku kira ... itu sihir."


"Hah? Hahaha ...."


Tawa Guru Meldy begitu nyaring memenuhi ruangan, bahkan semakin terdengar sangat keras saat Apreel seketika ikut tertawa. Aku hanya senyum dengan sedikit menahan malu.


"Hufft ...." Meldy berhenti tertawa, "Dengar ya, kita ini memang hidup di dunia yang penuh sihir, tapi tidak semuanya harus serba sihir, ada kelas yang namanya Technomancer, itu kelas sihir berbasis mesin, ya ... membuat berbagai peralatan mesin, hanya saja ... sumber tenaganya tetap sihir sih. Tapi itu berbasis teknologi jadi bukan sekedar sihir."


'Technomancy?' Aku bingung, "Technomancy itu ... tergolong apa?"


"Mereka termasuk golongan Wizard," jawabnya.


"Tentang pintu tadi, katanya tidak akan terbuka, lalu ... bagaimana Guru Wulan bisa keluar?"


"Huh ... dia itu punya sihir teleportasi, tidak perlu heran."


Aku menoleh ke arah Apreel, ternyata dia tengah memperhatikanku dan terus tersenyum, "Kamu tidak ingin bertanya padanya Apreel?"


"Tidak, aku lebih suka memperhatikan kamu," jawab Apreel.


"Terserah deh!" Aku kembali menatap Guru Meldy. "Guru, sebenarnya kemarin itu aku mau menanyakan sesuatu pada Guru Wulan, tapi tidak sempat."


Meldy tersenyum, "Yah ... tanyakan saja padaku apa yang ingin kamu tau."


"Tentang golongan dan profesi, Guru Wulan itu tergolong Sorcerer dan profesinya sebagai Shadow Magic, itu apa?"


"Aduh~ kau ini, kamu belum baca buku yang diberikan Guru Wulan?"


'Eh~ Guru Meldy kok terlihat kesal?' Batinku. "Sudah guru, tapi ... baru sampai dibuatnya sekolah sihir," jawabku.


"Baca lagi!"


"Ayolah guru~ kasih penjelasan dikit."


"Huh ... baiklah! Sorcerer itu adalah seseorang yang memiliki bakat sihir sejak lahir, dan profesi dia yang sebagai Shadow Magic itu dia adalah pengendali bayangan, paham?"


"Iya guru, mmm ... kalau guru sendiri bagaimana?"


Guru Meldy berjalan mendekati meja sebelah kemudian mengambil salah satu bangku yang ada dan menyeretnya ke depanku.


Guru Meldy duduk di bangku tersebut berhadapan denganku, "Aku Barb, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Sorcerer karena memiliki bakat sejak lahir, hanya saja, para Barb menggunakan suara untuk menghasilkan sihir."


Aku bingung, "Suara?"


"Iya. Their magic is their word and their music, jadi senjata mereka adalah suara," ujarnya. "Dan tentang profesiku yang sebagai College of Whispers aku hanya perlu mengatakan sesuatu pada target, maka itu akan menghasilkan suatu sihir."


Keren! Benar-benar keren menurutku, hanya dengan mengatakan sesuatu maka akan menghasilkan sihir?


Aku sangat kagum mendengar hal itu, "Waah~ luar biasa, hanya dengan berkata?"


"Iya." Seketika Guru Meldy menatapku dengan sangat serius, "Apa kamu mau mencobanya?"


"Tidak akan menyakitkan kok."


Aku takut, tapi penasaran, "Iya deh, asalkan tidak menyakitkan," jawabku.


Guru Meldy tersenyum padaku, senyumnya mengerikan, 'Apa aku akan baik-baik saja?' batinku.


"Aku sebagai saksi hidupku, aku akan mengatakan, kamu mudah lelah."


'Apaan, cuma bilang gitu?'


Tidak lama setelah Guru Meldy mengatakan itu, kepalaku terasa sangat berat dan mataku seperti tertarik untuk menutup, 'Kepalaku kenapa?' aku menundukkan kepalaku.


Aku yang sudah tak sanggup menahan beratnya kepala akhirnya 'ku letakkan kepalaku di meja dengan buku sebagai bantalnya.


Aku ingin mengatakan, 'Sudah guru ....' Tapi sama sekali tak terucap, hanya jeritan dalam hati tanpa dapat mengatakan dengan lisan.


"Guru, apa Ella akan baik-baik saja?" Tanya Apreel.


Aku mendengar suara Apreel, tapi sama sekali aku tak dapat bergerak, 'Ya ampuun~'


"Tidak apa-apa, dia hanya mengantuk," jawab Meldy.


----------


"Aku sebagai saksi hidupku, aku akan mengatakan, kamu kembali seperti semula, bahkan lebih baik dari sebelumnya."


Aku merasa seseorang menepuk-nepuk bahuku.


"Ella, bangun!"


'Bangun? Jam berapa memangnya?' Batinku. Aku tidak menghiraukan suara Apreel yang berusaha membangunkanku.


"Ella bangun! Kamu masih di kelas loh!" ucap Apreel yang berusaha membangunkanku sambil terus menepuk bahuku.


'Aah masih ngantuk banget padahal,' batinku.


Kepalaku masih terasa agak berat namun aku paksakan untuk bangun.


Aku mulai mengangkat kepalaku, dipipiku terasa ada sesuatu yang terasa hangat, tapi aku tidak peduli apa itu, aku dalam keadaan duduk namun mata masih terasa berat untuk dibuka.


"Hiii~ Ella ngiler!" Ucap Apreel dengan suara keras.


Aku sangat kaget, mataku langsung terbuka lebar dan dengan cepat aku mengusap bagian hangat yang menempel di pipi dengan lengan bajuku yang panjang.


Setelah aku rasa bersih, aku menatap ke depan, ternyata Guru Meldy masih berada tepat di depanku. Aku benar-benar merasa sangat malu, aku menundukkan pandanganku.


"Bagaimana tadi, apa kamu mendapat mimpi indah?" tanya Meldy.


"Aku tidak bermimpi guru," jawabku dengan kepala tertunduk.


"Tatap aku Ella."


Aku mulai mengangkat pandanganku perlahan hingga nampak wajah Guru Meldy yang tengah tersenyum padaku.


"Kenapa kamu malu?"


"Aku ... tadi ngiler, hehehe," jawabku. 'Ya ampuun ini memalukan.'


"Kamu malu karena kamu tau, dan hanya itu yang kamu katakan, kamu enggak tau ya, kamu juga mengorok keras sekali loh."


'Hah?!' Aku menundukkan pandanganku karena merasa sangat malu.


"Hahaha ya sudah, agar bisa lupa, lebih baik kamu lanjutkan membaca bukunya, aku keluar ya."


Guru Meldy berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu masuk, "Oh iya, nanti siang saat istirahat kalian jangan pulang dulu ya, tunggu aku di sini." Seketika Meldy menghilang seperti debu yang terhempas angin.


"Eh Apreel, guru di sini apa memang punya kebiasaan hilang tiba-tiba ya?" Tanyaku.


"Entahlah," jawab Apreel


"Apreel ...."


Apreel menoleh padaku, "Ada apa?"


"Mmm ... apa benar tadi aku ngorok?" tanyaku dengan menundukkan kepala.


"Iya benar, tapi enggak keras ko, hanya saja ... karena ini ruangan kosong jadinya menggema deh."


Aku menundukkan pandanganku, 'Ternyata benar aku mengorok, memalukan!'


"Sudahlah Ella, tidak perlu dipikirkan, buka saja bukumu."


Ucapan Apreel selalu bisa membuatku tenang, aku senang bersamanya meskipun dia sangat menyebalkan.