
Jagat gagal mendekapnya dia pun terdiam seketika, aku tak tahu dia sebal atau apa tapi yang aku tahu dia bukan termasuk orang yang mudah kesal.
"Ella apa aku bisa ikut dengan mu dalam perjalanan, setidaknya aku bisa menjagamu dengan sihir ku."
Semakin banyak yang ikut akan semakin banyak bantuan dan sepertinya akan sedikit mempermudah perjalanan ku nanti.
“Tentu saja!" jawabku dengan semangat.
Jagat tersenyum pada ku dia terlihat sangat lega karena jawaban ku sesuai dengan harapannya.
“Boleh aku mengajak lainnya? Penyihir lain atau apapun?"
Tawarannya memang bagus tentu sangat membantu nantinya
“Aku tidak mau merepotkan banyak orang ….”
“Jika itu keinginan mereka untuk ikut apa kau akan mengizinkan mereka ikut?"
“Iya, tentu saja!”
“Bagus, kalau begitu aku harus kembali dulu"
Jagat mulai berdiri dan melangkah, "Sampai jumpa besok Ella." Jagat melambaikan tangannya kemudian berlari menuju rumahnya.
Aku sendirian lagi memandangi rerumputan luas ini, terasa berat saat teringat bahwa besok akan meninggalkan tempat tinggal dan orang tua, tapi jika itu yang terbaik aku akan pergi.
Sore tiba, aku mulai membereskan pakaian dan ibuku memasakkan makanan kering untuk bekal besok
“Ibu masakkan yang kering agar bisa bertahan lama ya, sama beberapa roti," ucapnya sambil memotong beberapa rempah
“Iya bu!"
Selesai mengemas pakaian aku mulai menuju dapur untuk membantu ibu dan ternyata disana sudah ada ayah yang membantunya.
Ayah menoleh ke arahku, "Hey Ella, sebaiknya kau beristirahat, karena besok pagi kau akan segera berangkat"
"Iya ayah" aku kembali masuk ke kamar ku dan merebahkan tubuh ku di ranjang yang nyaman, "Apa besok aku berada di tempat nyaman seperti ini, sepertinya tak mungkin."
Pikiran buruk selalu saja datang menghantui setiap mengingat perjalanan panjang yang nanti akan ku tempuh. Bahaya alam liar, cuaca liar, binatang liar, dan orang-orang yang belum dikenal.
Udara terasa begitu dingin, aku menggigil hingga terbangun dan tak dapat melanjutkan tidur ku, ku lihat jam dinding yang berada di dekat pintu, jam menunjukan pukul 06.00am.
"Tepat sekali" aku segera bangun dari ranjang dan keluar kamar, saat aku membuka pintu dan melihat sekeliling keanehan terjadi, aku lihat semua ruangan berubah menjadi beku, benda-benda yang ada semuanya berubah menjadi es.
Aku panik bahkan sangat kebingungan, aku masuk ke kamar dan segera menutup pintu, ku lihat sekeliling kamar, tak ada satu benda pun yang membeku, di dekat lemari aku melihat ada satu tas lagi di dekat tas baju ku, aku menghampiri tas tersebut dan membukanya, ternyata isinya adalah roti-roti yang telah terbungkus dengan rapi dan juga makan kering.
"Ibu..." aku kembali panik dan berlari ke arah pintu dan segera membukanya, namun aku tak langsung melangkah, aku melihat ke lantai yang ternyata sudah menjadi es, aku mengambil sebuah pensil di meja kamarku kemudian menyentuhkannya ke es di lantai, saat mulai tersentuh secara perlahan pensil itu mulai membeku secara perlahan dan pembekuannya terus bergerak hingga menyelimuti seluruh bagian pensil.
Aku takut dan benar-benar bingung, namun rasa penasaran ku jauh lebih besar, aku mencoba menyentuh es itu dengan jari ku, aku mendekatkan jari telunjukku ke lantai yang membeku, saat jari ku mulai menyentuhnya ternyata jari ku tak membeku, disitu aku mulai berpikir "mungkin hanya benda mati yang membeku, aku harap ibu dan ayah tak membeku".
Aku mulai melangkahkan kaki ku keluar kamar tanpa menggunakan alas kaki, ku injak lantai yang membeku, begitu dingin dan menyakitkan namun aku tetap memaksakannya.
Selangkah demi selangkah, ku gerakkan kaki ku secara perlahan dengan menahan dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh, pintu kamar ibu dan ayah ku sudah mulai dekat, aku terus melangkah mendekat hingga tanganku dapat menggapai gagang pintu.
Gagang pintunya membeku aku menggenggamnya dan mencoba menggerakkan gagang pintu tersebut, sangat keras dan dingin bahkan sepertinya tak bergerak sama sekali.
Saat itu aku mengingat kejadian kemarin saat jagat mengajari ku, aku mencoba mengucapkan mantra yang ia ajarkan eldur namun sama sekali tak ada yang terjadi, namun aku tetap mengucapkannya dan terus berusaha menggerakkan gagang pintu tersebut.
Berkali-kali aku mengucapkan eldur sambil berusaha menggerakkan gagang pintu tersebut namun tak ada yang terjadi, aku sudah merasa lelah dan berpikir bahwa semua ini sia-sia, aku melepaskan genggaman ku dari gagang pintu dan saat ku lihat, ternyata es yang menyelimuti gagang pintu telah mencair, itu pun membuat semangatku kembali lagi, kemudian aku menyentuh bagian lubang kunci dan terus-menerus mengucapkan eldur.
Seluruh bagian gagang pintu aku sentuh sambil mengucapkan eldur hingga bagian itu pun mulai mencair, saat tak lagi terselimuti es akupun menggerakkan gagang pintu dan dengan mudah gagang pintu itu bergerak, kemudian aku membuka pintunya.
Aku membuka pintu kamar ibu dan ayah, namun yang terlihat, mereka berdua sedang tertidur pulas, aku mendekatinya untuk membangunkan mereka, namun... saat aku menyentuh lengan ibu... tangannya sudah mengeras dan sangat dingin begitu juga dengan ayah mereka berdua membeku.
Hal itu tidak hanya membuat ku panik tapi juga sedih, aku menahan tangis ku karena takut, aku melihat sekeliling kamar orang tua ku, tapi tak ada satu benda pun yang membeku bahkan kamarnya terasa hangat "bagaimana ini bisa terjadi"
Aku kembali keluar dari kamar orang tua ku menuju kamarku, aku berpikir mungkin ini waktunya aku pergi, mungkin ini alasan kenapa aku tak membeku mungkin agar aku segera pergi dari tempat ini.
Aku segera masuk ke kamar ku dan mengambil 2 tas gendong berisi pakaian dan makanan, ingin aku segera keluar dari kamar melalui jendela namun ternyata bagian luar jendela telah membeku hingga aku terpaksa melewati pintu depan dan menginjak lantai belu yang menyakitkan itu.
Aku memaksakan diri melangkah dan menahan rasa sakit itu, tak berani melangkah dengan cepat karena lantai yang licin, beruntungnya kamarku tidak jauh dari pintu keluar, aku pun segera menggapai gagang pintu dan dengan mudah aku membukanya aku pun keluar.
Diluar rumah aku menatap ke sekeliling ku lihat rerumputan yang masih segar dan tak membeku, namun pepohonan yang tinggi semuanya membeku kecuali bagian batang yang dekat dengan tanah, ku lihat rumah-rumah lain yang ternyata semuanya juga membeku.
Aku bingung tak tahu arah mana yang harus aku tuju terlebih dahulu, aku hanya berjalan perlahan menginjak rerumputan hijau yang terlihat masih segar, hingga seketika sebuah bola api mendekatiku dengan sangat cepat.