Be Light

Be Light
Episode 14



Sihir Abjuration yang baru saja aku baca sepertinya sangat berguna, mungkin aku akan memperdalam ini serta memperkuat kemampuan Dispell. Jika orang-orang ditindas hanya karena tidak dapat menggunakan sihir maka aku akan membuat mereka kehilangan sihir.


"Kamu melamun apa,Ella?"


"Aku hanya memikirkan tentang Dispell, sepertinya itu sangat berguna," jawabku.


"Sepertinya sebentar lagi istirahat."


"Bagaimana kamu tau?"


"Itu!" Apeel menunjuk ke atas papan tulis yang ada di depan kami, nampak sebuah jam dinding berbentuk bulat, berwarna merah dan ukurannya tidak terlalu besar.


Aku melihat arah yang ditunjuk oleh Apreel dengan menengadahkan kepalaku ke atas, "Aku kok baru lihat ya?"


"Kamu emang tidak pernah memperhatikan sekitar. Kamu seharusnya lebih sering memperhatikan sekitar agar bisa membuat narasi lebih panjang, tau!" ucap Apreel.


"What?"


"Sudahlah, sebaiknya kamu teruskan membaca, sebentar lagi istirahat." Apreel kembali menatap bukunya.


"Kamu membaca banyak, tapi apa tidak ada pertanyaan sama sekali?"


"Sebenarnya memang tidak ada yang perlu dipertanyakan, karena ini buku praktik, kalau teori tentunya akan banyak tanya," jawab Apreel sambil terus menatap ke arah bukunya.


Aku kembali menatap ke arah bukuku.


-Selanjutnya adalah Wizard Conjuration, mereka adalah kelompok penyihir tulen, dalam arti, mereka tidak menggunakan pengetahuan ilmiah untuk meningkatkan kemampuan mereka, namun berdasarkan pengalaman yang mereka jalani.


-Wizard Conjuration adalah penyihir yang memang berfokus pada sihir, mereka mampu membuat sebuah ketiadaan menjadi ada, seperti halnya para Summoner, mereka termasuk pada golongan ini, dan juga sihir teleportasi, dan masih banyak lagi.


-Karena sihir dalam kelompok ini sangat efektif dalam pertarungan jarak jauh, jadi banyak dianyara para penyihir yang memperlajari sihir ini.


Ting ... ting ... ting ....


Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah tiba.


Krieet ....


Pintu kelas seketika terbuka dengan sendirinya, tak lama kemudian Guru Meldy memasuki kelas kami dan berjalan menghampiri kami kemudian duduk di depan kami menggunakan bangku yang ada di depan yang sebelumnya diambil dari meja sebelah.


Guru Meldy menatapku dengan senyum di wajahnya, "Bagaimana Ella, apa sudah membaca lanjutannya?"


"Sudah guru, tapi belum semuanya, pembagian kelompok Wizard baru sampai pada Conjuration," jawabku.


"Jadi ... apa ada pertanyaan?"


Aku membalik lembaran buku ke halaman sebelumnya, "Tentang Abjuration, apakah sihir ini sangat berguna?"


"Mmm ... tentu saja, tapi tidak semuanya dapat menggunakan itu," jawabnya.


"Aku mau mencoba Dispell guru, sebelumnya aku pernah bermimpi aneh setelah membaca buku tentang Dispell."


"Oh iya, Guru Wulan sudah cerita tentang itu, kamu mau mencobanya?"


"Iya guru," jawabku bersemangat.


"Baiklah, aku akan membuat Apreel tertidur dan kamu coba lakukan Dispell."


"Baik guru!"


Guru Meldy menatap Apreel dengan sangat serius, "Aku sebagai saksi hidupku, aku akan mengatakan, tidurlah!"


Apreel mengerutkan alisnya, seketika kepalanya dijatuhkan dibuku yang ada di meja, "Apa dia pingsan guru?"


"Iya, dia tertidur, sekarang kamu coba Dispell!"


"Iya." Aku menyentuh bahu Apreel kemudian berucap, "Dispell !"


Seketika Apreel membuka matanya lebar, seakan ada sesuatu yang sangat mengejutkan, dengan cepat dia kembali duduk.


"Aku tertidur?" Apreel bingung.


Aku menatap ke arah Guru Meldy tanpa menjawab pertanyaan Apreel, "Apa aku berhasil guru?"


"Tidak aku sangka kamu berhasil Ella, apakah itu mudah menurutmu?"


"Iya, aku rasa ini sangat mudah, hanya perlu mangatakannya," jawabku.


"Kalau begitu, nanti akan aku bawakan buku sihir untuk kamu pelajari, tapi pertama kamu harus makan bersamaku, aku membawa bekal lebih ni!" Guru Meldy mengeluarkan sebuah wadah berbentuk kotak berbahan kayu, lalu dia membukanya.


"Lihat ini, ini kue khas Hollow Land, kalian berdua harus mencobanya." Guru Meldy meletakkan kotak tersebut di depan kami bedua, "Makanlah, coba cicipi."


"Iya, hanya saja ... coklat hanya untuk pewarna, bukan untuk bahan utama."


Kuenya saat ditekan terasa keras, apa akan keras? Aku mencoba menggigitnya perlahan, benar-benar sangat mengejutkan, untuk pertama kali menggigitnya ini terasa seperti kue yang hanya dibuat dengan krimer, begitu lembut dan ... meleleh.


"Ini lembut sekali guru!" ucapku kagum.


"Aku tau kamu akan suka," jawabnya.


Aku menoleh ke Apreel, dan yang aku lihat dia sangat menikmati kue ini, dia tersenyum sambil memakan kue dari Guru Meldy, lalu aku kembali melihat ke arah Guru Meldy, "Guru, kue ini tidak akan membuat seseorang gila 'kan?"


"Bisa saja, dia bisa tenggelam dalam rasa kue ini."


"Kamu pikir aku gila?" ucap Apreel.


Aku kembali memakan bagian yang aku pegang, aku memakannya perlahan untuk menikmati, namun ternyata tidak bisa, mulut ini tak sabar untuk segera menelannya. Rasa manis yang begitu kental, seperti sebuah ... apa ya, madu? Tidak-tidak ini jauh lebih manis tapi tidak membuat mual.


Aku menghabiskan bagian yang tadi aku pegang, dengan cepat tanganku mengambil bagian potongan yang ada di kotak tersebut.


Guru Meldy tertawa melihatku, aku menundukkAn kepalaku sambil terus memakannya.


"Bawa pulang ini Ella, aku rasa temanmu yang lain ingin mencobanya."


Aku melihat ke kotak tersebut, sisanya masih lebih dari setengah, "Ini masih banyak guru."


"Tidak apa-apa, bawa saja." Guru Meldy menutup kotak tersebut dan memberikannya padaku.


Aku sangat senang, sampai senyum ini terlempar begitu saja, "Terimakasih banyak guru!" Aku mengambil kotak tersebut.


"Iya sama-sama, oh ini sudah waktunya istirahat, kembalilah ke tempat kalian, mungkin teman kalian ingin mencobanya."


"Iya guru," jawabku.


Guru Meldy berdiri, aku dan Apreel ikut berdiri, kemudian dia berjalan ke arah pintu dan kami mengikutinya di belakangnya.


Setelah keluar kelas, terlihat tiga sosok yang menunggu kami berdua di depan kelas.


"Kalian teman Ella?" ucap Guru Meldy pada mereka.


"Iya guru," jawab Jagat.


"Ya sudah, aku pergi dulu." Guru Meldy pergi menuju arah kanan kami, aku terus memperhatikannya, namun ternyata dia sama sekali tak melihat kebelakang.


"Itu apa?"


Aku langsung menoleh kesuara yang aku yakini itu adalah suara Agatte, "Ini kue, dari Guru Meldy."


Apreel seketika mengetuk dua kali kotak kayu yang aku bawa.


Tok tok


"Apa sih!"


"Buka dong ... aku mau lagi," jawab Apreel.


"Sebaiknya kita kembali dulu, ayo kembali!" Aku mulai berjalan untuk kembali ke penginapan, dan mereka berempat mengikutiku.


-----


Kami sampai di penginapan dan langsung menuju kamarku, "Kalian ikut aku ke kamar, ini perlu dinikmati bersama."


Apreel membukakan pintu kamar, dan aku segera masuk ke kamar agar bisa langsung membuka kotak tersebut, uh aku sudah tidak sabar.


Kami berlima duduk mengitari kotak tersebut, dan Jagat menutup pintu kamar sebelum kotak tersebut aku buka.


"Aku buka ya, ini sangat enak," ucapku.


Aku langsung membuka kotak tersebut, dan terlihat kue berbentuk kotak yang sudah tidak utuh karena sudah dimakan oleh aku dan Apreel tentunya.


"Ini tidak utuh," ujar Jagat.


"Iya aku tau, ini sudah dimakan saat di kelas, ambillah, aku yakin kalian akan suka."


Mereka bertiga mengambil secara bersamaan, dan mulai mencicipinya, "Ini enak!" ucap Jagat, Rivia, dan Agatte secara bersamaan.


"Aku yakin kalian akan suka." Aku menoleh ke arah Apreel yang nampak terdiam, "Ayo Apreel, kita lanjutkan yang tadi."


"Iya!"


Kami berlima mulai menikmati kue dari Guru Meldy yang sangat enak ini, aku penasaran apa bahannya, kenapa terasa keras saat ditekan dan begitu lembut ketika dinikmati, apa menggunakan magic? Ah entahlah, aku bisa menanyakannya nanti, atau mungkin besok.