
Mentari telah beristirahat diufuk barat, mulai kehilangan cahayanya hingga malam pun tiba.
Aku memiliki dua kenalan baru, seorang wanita pemalu yang bernama Rivia dan seorang pria menyebalkan bernama Agatte. Dan sepertinya mereka berdua saling menyukai, tapi aku tidak terlalu peduli.
Dikamar ini aku masih terduduk menghadap Apreel yang tengah berbaring lemah, demamnya sama sekali tidak membaik, suhu tubuhnya tidak berubah sedikitpun, aku hanya berharap dia baik-baik saja karena kata Guru Wulan dia hanya butuh istirahat.
Tok tok tok
"Ella?"
'Seperti suara Jagat,' batinku. "Masuklah!"
Pintu terbuka, terlihat sosok Jagat yang tengah membawa plastik berwarna hitam, "Apa yang kamu bawa?"
"Ini roti sama beberapa buah." Jagat berjalan mendekati meja dan meletakkan plastik hitam tersebut di meja.
"Roti? Di tas aku masih ada kok!"
"Ini beda tau, ini lebih enak." Jagat mengeluarkan satu buah roti dari dalam plastik dan menunjukkannya padaku, "Lihat nih...."
Aku hanya memperhatikannya tanpa menyentuh, "Ini kue dong...."
"Kue?" Jagat bingung, "Apa bedanya sama roti?"
"Hmmm, Kue tak berkulit, kalau roti berkulit, jadi itu kue, oke!"
"Terserah deh, nanti kamu cobain aja" Jagat meletakkan kue tersebut di meja kemudian berjalan ke arah pintu, "Kabari aku kalau Apreel bangun." Tanpa menunggu jawaban dariku, dia pergi keluar kamar begitu saja dan menutup pintunya.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Jagat dia seperti orang yang sedang kesal.
"Engh..."
Aku melihat ke arah Apreel, dia sudah mulai membuka matanya, "Apreel ... kamu sudah sadar?" aku menyentuh tangan Apreel, namun yang ku rasa dari tangannya suhunya masih tetap tinggi.
"Ella..."
Suara Apreel terdengar sangat lemah, "Ada apa Apreel?"
Apreel bergeser dari tempatnya memberikan ruang untukku berada di sampingnya, "Berbaringlah di sampingku Ella...."
Tanpa berpikir panjang, aku menurutinya dan berbaring di samping Apreel, seketika dia memelukku dengan erat, "Biarkan aku memelukmu sampai besok ya...."
Aku hanya diam. Situasi ini sangat tidak menyenangkan untukku, tapi ... aku tak dapat menolaknya, "Cepat sembuh Apreel...."
"Ibu ...."
Dia mengigau, setelah mengatakan itu dia mendekapku dengan sangat kuat, aku kesulitan bernapas, 'Astaga~'
"Ella~ bangun Ella!" Apreel menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih berbaring di kasur, "Kalau enggak langsung bangun, nanti aku melakukan sesuatu loh."
'Ah sesuatu apaan deh,' aku membuka mataku yang masih terasa berat dan melihat ke arah Apreel, dia kepalanya Apreel berbalut handuk, dan dia tampak sangat sehat, "Kamu sudah sembuh?"
"Iya, aku sudah sembuh, terimakasih ya untuk semalam," ucap Apreel sangat senang.
"Semalam? Aku ngapain?" aku bingung, perasaan tadi malam aku hanya dipeluk olehnya.
"Cepat bangun terus mandi, Jagat, Agatte sama Rivia sudah menunggu tuh, cepat bangun!"
Apreel menarik tanganku hingga membuatku terduduk. Mataku masih terasa sangat berat untuk dibuka, "Aku ngantuk banget ...."
"Apa kamu mau aku yang memandikanmu?"
Dengan segera aku bangkit dan berdiri, langsung menuju kamar mandi.
Setelah semuanya beres, aku segera keluar kamar, ternyata empat orang sudah menungguku di depan kamar, "Maaf kalau lama."
Jagat tersenyum padaku, "Ayo langsung berangkat." Jagat mulai berjalan memimpin kami berempat.
Apreel mendekatkan wajahnya padaku, kemudian berbisik, "Jagat makin keren ya."
Aku terkejut, aku kira dia tidak akan menilai tentang Jagat, 'Iya keren,' batin ku. "Mmm menurutku masih seperti biasa."
"Huu enggak asik." Apreel kesal.
Keluar dari penginapan, jalanan tampak lebih ramai dari biasanya, "Jagat, ini ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, kita hanya agak kesiangan," jawab Jagat dengan santainya.
Aku memperhatikan Rivia dan Agatte yang berjalan bersama, terlihat sangat sepi dari dua sudut itu, mereka saling diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
'Aku coba pancing apa ya?' aku melihat ke arah Apreel, kemudian dia menatapku, aku menunjuk ke arah Rivia dan Agatte kemudian Apreel menganggukkan kepala seakan mengerti.
Yang ia katakan sungguh menggelikan menurutku, tapi aku tidak bisa diam saja, "Jagat ..., hari ini indah loh, apa kamu hanya akan diam saja, katakan sesuatu padaku."
Ya ampun, ini sungguh memalukan, entah apa yang Jagat pikirkan setelah ini.
Jagat menghentikan langkahnya, kemudian menatap ke arahku, yang lain juga ikut berhenti melangkah.
Jagat tersenyum padaku, "Hari ini tidak akan tampak indah tanpa hadirnya dirimu di sisiku."
Setelah Jagat mengatakan hal itu aku melihat ke arah Rivia dan Agatte, bukannya terpancing tapi mereka berdua malah menahan tawanya, ini ... sungguh memalukan.
Aku tidak bisa berkata-kata, aku tidak menjawab ucapan Jagat.
Jagat mulai melangkah, "Ayo lanjut."
Kami semua telah sampai di ruangan bulat, ya sebut saja seperti itu, tempat kami berkumpul dengan yang lainnya waktu pertama kali.
Setelah lama kemudian, datang seorang wanita, dia berjalan dan mulai berdiri di depan menghadap kami semua.
"Hai hai~ selamat pagi semuanya," ucapnya dengan suara keras.
"Dia cantik ya," ucap Jagat.
"Bukan cantik lagi, dia indah," sahutku.
"Hari ini aku yang memimpin. Oh iya, buat kalian yang kemarin di ajari oleh Guru Wulan jika kalian ingin mencarinya dia ada di ruang Black, saat ini aku yang akan menggantikan Guru Wulan."
Guru ini terlihat sangat ceria, tampak sangat menyenangkan, bentuknya juga indah.
"Eh, Ella, apa yang kamu lihat darinya?" tanya Apreel.
"Aku rasa ... dia seorang peri, dia bersayap dan sayapnya seperti kupu-kupu, warnanya biru," jawabku.
"Matamu benar-benar tidak bisa ditipu oleh sihir transform ya," ucap Apreel.
"Oh iya aku hampir lupa. Perkenalkan namaku adalah Meldy Wita, panggil saja Meldy, aku seorang spellcaster dari golongan Barb dan profesiku sebagai College of whisphers** ."
Suasana begitu hening selama guru tersebut memperkenalkan dirinya, hanya suara guru tersebut yang begitu nyaring terdengar memenuhi ruangan yang besar ini.
"Hmm ... tapi agak kesel kalau ingat, Barb selalu dianggap sebagai support, padahal kami juga tidak lemah kok. Oh iya, asalku dari Hollow Land dan aku seorang putri di sana, ya hanya di sana, jadi di sini panggil saja langsung nama."
"Cerewet sekali dia," Agatte kesal.
"Heh! Apa kamu mau menggantikan dia di depan sana?" ucapku yang mulai kesal.
Agatte hanya menatapku tanpa mengatakan sepatah katapun, tatapannya marah tapi wajahnya datar, kemudian dia kembali menatap ke depan.
"Ah maaf sepertinya aku terlalu banyak bicara. Baiklah, sama seperti kemarin, kalian memasuki ruangan sesuai keahlian kalian, dan yang kemarin dilatih oleh Guru Wulan di ruangan lain harap menghampiriku. Baiklah cukup sekian dari saya, silahkan semuanya masuki kelas masing-masing."
Orang-orang di ruangan mulai berpencar untuk memasuki ruangan sesuai profesi mereka.
"Ayo Rivia, kita masuk," Jagat mengajak Rivia, karena mereka sesama pengguna magic world tentunya, dan Agatte sebagai seorang Necromancy berjalan terpisah sendirian.
Saat Agatte mulai berjalan menjauh, Rivia seketika berteriak membuat kami terkejut, maksudku kelompokku terkejut.
Rivia berteriak pada Agatte, "Semangat ya!"
"Ciee~" ucapku dengan keras bersamaan dengan Apreel.
Seketika Rivia menatapku karena terkejut dan pipinya tampak merah, dia tersenyum kemudian berlari ke kelasnya, bahkan meninggalkan Jagat di belakang, padahal dia yang mengajaknya.
Semuanya telah pergi, dan hanya aku dan Apreel yang tersisa, "Seperti kemarin ya," ucapku.
"Tidak perlu dipikirkan, itu karena memang kita berbeda dengan yang lain, sejak dulu memang seperti itu kan?"
"Iya." Aku mulai berjalan bersama Apreel menghampiri guru tersebut.
Tidak seperti Guru Wulan yang tampak mengerikan, guru yang ini terlihat menyenangkan.
"Nama kamu Ella?" ucap Meldy
"Iya guru, aku yang namanya Ella."
"Kemarin Wulan bilang mata kamu tidak bisa ditipu, jadi ... apa kamu tau apa aku sebenarnya?"
Guru Meldy tampak sangat penasaran, "Kalau aku lihat, guru itu sesosok peri dengan sayap berwarna biru," jawabku dengan yakin.
"Benar, tidak aku sangka, ternyata memang tidak bisa ditipu ya. Ya sudah ayo masuk ke kelas psychic lagi."
Guru Meldy membukakan pintu untuk kami, dipimpin olehnya yang berjalan di depan, aku dan Apreel mulai memasuki kelas psychic dan sama seperti kemarin, pintunya tertutup dengan sendirinya.