Be Light

Be Light
Episode 15



Waktu terasa berjalan sangat cepat, baru saja tadi siang menikmati kue khas dari Hollow Land dari Guru Meldy, sekarang malah matahari sudah tenggelam, besok aku mau tanya tentang kue itu.


Sudah berapa lama aku di tempat ini semenjak kepergianku dari rumah, rasanya terlalu lama dan masih belum menguasai sihir satupun, mmm ..., kecuali Dispell.


"Ella?"


Apreel memanggilku, aku segera melihat ke arahnya yang tengah berbaring di kasur, "Ada apa, Apreel?"


"Kamu sedang apa?"


"Aku menulis sesuatu tentang perjalanan kita, bida untuk kenang-kenangan," jawabku.


"Ayo tidur Ella."


"Aku nanti."


"Ya sudah, aku duluan ya Ella."


Tanpa menjawabnya, aku kembali berpikir tentang perjalanku, hmmm kapan aku akan dapat menggunakan sihir?


Aku mengantuk, dan mulai membaringkan tubuhku di samping Apreel, aku menatap wajahnya dan mengusap pipinya, lalu berbisik, "Kamu anak muda yanh berbakat, Apreel."


Tak lagi menyentuh pipi Apreel, aku menatap langit kamar penginapan ini, plafon berwarna punih yang nampak mulai menghitam membuatku teringat dengan rumah, 'Ayah ... Ibu ....' Tanpa sadar air mata ini mengalir, padahal seharusnya aku fokus pada pembelajaran ini, besok harus belajar sihir, sudah waktunya tidur.


-------


Udara terasa lebih dingin dari biasanya, tanpa membuka mata, aku menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhku yang kedinginan.


Seluruh bagian tubuhku telah tertutup selimut, namun udara dingin ini masih dapat menembus selimut yang tebal ini hingga masih terasa begitu dingin.


"Apa ini!" Itu suara dari luar kamar, suaranya asing, siapa dia?


Aku membuka mataku, 'ku lihat ke sekitar yang nampak biru, dan ada tetesan air dari langit-langit kamar, 'Es?' pikirku.


Seluruh bagian kamar nampak membeku, membuatku teringat mimpi yang telah lalu, 'Apa ini mimpi yang sama?'


Aku bangun dari pembaringan dan duduk di kasur, aku menoleh ke samping, nampak Apreel yang duduk dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut, "Kamu baik-baik saja Apreel?" ucapku khawatir.


"Ella ..., kenapa semuanya membeku?" jawab Apreel suaranya bergetar.


"Ini ... seperti mimpiku saat aku masih di rumah dan mau berangkat, ayo kita keluar." Aku berdiri di lantai yang membeku, aku bisa menahan dinginnya, aku melihat ke bawah untuk mencari sandal jepit yang biasa aku pakai, namun sayangnya ... huh! Sudah membeku, sungguh sial.


Aku mencari milik Apreel, dan ternyata milik dia tidak membeku, aku mengambilnya dan meletakkannya di dekat Apreel, "Ayo keluar."


"Punyamu mana,Ella?"


"Sudah membeku," jawabku.


Apreel menurunkan kakinya dan mengenakan sandal jepit miliknya lalu berdiri di depanku dengan membelakangiku, "Ayo aku gendong, agar tidak dingin kakimu," ucapnya.


Aku yang tidak suka dingin, tanpa berpikir panjang langsung menerima tawarannya, dia berjongkok di depanku, aku pun mendekat dan memeluknya dari belakang.


Apreel melingkarkan tangannya kebelakang, lalu berdiri dan berjalan mendekati pintu, dia terdiam sejenak, aku tidak berkomentar.


"Buka pintunya bagaimana?"Apreel bingung.


"Aah iya." Aku mengulurkan tangan untuk menggapai gagang pintu dan menggerakkannya. Pintu terbuka, Apreel mulai berjalan keluar kamar lalu aku menarik pintunya dan menguncinya.


"Di sini juga membeku, Ella. Sepertinya aku harus membawamu sampai keluar penginapan," ucapnya.


Tanpa menjawab, aku memeluknya lebih erat, aku sayang dia, dia sangat peduli padaku.


"Ella, tubuh kamu kecil, tapi dada kamu lumayan besar," ujarnya.


"Apa si!" teriakku.


"Hahahaha."


Kami berdua mulai keluar dari penginapan, jalan beraspal di depan penginapan tidak membeku. Aku melihat ke sekeliling ternyata hanya bangunan saja, ya seluruh bangunan yang ada di sekitar sini, semuanya telah membeku, aku teringat mimpiku saat itu, semuanya membeku kecuali rerumputan di depan rumah.


"Di sini tidak membeku, apa kamu mau turun?"


"Ah, iya Apreel, turunkan aku."


Apreel berjongkok dan melepaskan tangannya. Menyentuh bagian yang tidak dingin, kaki ini terasa sangat lega, rasanya ... menyenangkan, hahaha.


Di luar penginapan ini, nampak seorang wanita muda yang dikelilingi oleh banyak orang, aku memperhatikannya, hmm ... aku tidak mengenalnya.


aku mendekat kekerumunan dan bertanya pada seseorang di sana, "Ini ada apa?"


"Dia mengakui dirinya sebagai Tinka, banyak yang tidak percaya tentunya, karena sudah lebih dari dua puluh tahun kabarnya tidak terdengar, dan dia juga sudah mulai dilupakan," jawab seseorang yang tidak kukenal.


'Tinka? Jika itu benar dia ... apa berarti buku yang kemarin aku baca akan ditulis kembali?' pikirku.


"Masih tidak ada yang menjawab! Katakan padaku! Dimana kalian menyembunyikan seseorang yang berbakat itu!" teriak seorang wanita yang dikerumuni itu, yang mengaku sebagai Tinka.


'Orang berbakat? Siapa?' pikirku. Aku hanya terus memperhatikannya tanpa mendengarkan apa yang ia teriaki.


Seseorang menepuk bahuku membuatku sangat terkejut, dengan cepat aku menoleh ke bahu kananku yang ditepuk oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Guru Wulan.


"Guru, kamu membuatu terkejut," ucapku.


Guru wulan mengankat satu jarinya dan menempelkannya ke bibir, "Ssst!"


'Eh, apa Guru Wulan yang dicari-cari oleh orang yang mengaku sebagai Tinka?' pikirku.


Guru Wulan mendekarkan wajahnya padaku, kemudian berbisik, "Kamu yang dicari olehnya, kamu sebaiknya bersembunyi."


Aku sangat terkejut mendengar hal tersebut, "Kemana aku harus bersembunyi?"


"Mmm, sebaiknya kamu pergi saja dari sini." Guru Wulan memasukkan tangannya ke saku celananya, kemudian nampak segulungan uang di tangannya, "Bawa ini untuk perjalanan, ini uang biaya private kamu dan Apreel aku kembalikan, sebaiknya kamu segera pergi sebelum semuanya terlambat," ucap Guru Wulan dengan tergesa.


"Tapi guru."


"Tidak ada waktu, bawa buku ini bersamamu."


Guru Wulan memberikan buku bersampul kuning yang biasa aku baca. Aku segera memasukkan uang yang diberikan Guru Wulan kepadaku ke saku celana.


"Cepat pergi!"


"Baik guru!"


Aku memegang tangan Apreel dan menariknya agar segera ikut pergi bersamaku, Apreel mengikutiku tanpa berkata-kata, namun sesuatu yang mengejutkan membuatku terhenti.


"Berhenti kalian yang berbalik arah!"


Aku berhenti lalu berbalik badan dan melihat ke arah wanita tersebut, "Anda memanggil saya?"


"Kamu! Orang berbakat yang aku cari, sebaiknya kamu mati sebelum semuanya terlambat!" teriak wanita gila itu.


"Hah? Kenapa aku harus mati, aku salah apa?"


Tinka terlihat sangat marah setelah aku mengatakan itu, "Matilah!" Tinka mengangkat tangannya, "Feuerball !" Teriaknya. Seketika muncul sebuah bola besar berbalut api, "Hah!" Dia melemparkan bola besar tersebut ke arahku.


"Apreel, kita lari!"


"Tidak akan sempat Ella." Apreel memelukku dengan erat, "Aku menyayangimu Ella." Aku melihat wajah sedihnya yang meneteskan air mata.


Bola besar itu sudah mulai dekat, tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali hanya meminta maaf pada ayah dan ibuku dari kejauhan, 'Ayah, ibu, mohon maafkan putrimu ini, sepertinya dia tidak akan pernah bisa pulang untuk menemani kalian lagi, maafkan aku.' Aku memejamkan mataku, aku terlalu takut untuk melihat bola besar tersebut.


Hmm ... benar-benar seperti mimpiku waktu itu, apakah aku bisa terbangun lagi setelah ini? Atau ... tidak akan pernah?