Be Light

Be Light
Episode 4



Pertama kalinya aku berada di alam bebas seperti ini sejak dulu tak pernah melakukan perjalanan jauh karena memang takut, tapi ini terasa berbeda seperti ada sebuah takdir yang berbenturan.


Aku mengelilingi api bersama Jagat dan Apreel, 2 teman ku ini adalah teman masa kecil ku dan tak ada yang lain karena kebanyakan orang yang tinggal di desa ku memiliki sihir, mereka yang bisa sihir kebanyakan tak ingin bermain dengan yang tak dapat sihir kecuali Jagat.


“Apa kalian lapar?" tanya ku.


Aku mengambil tasku yang berisi makanan dan membukanya "Lihatlah, aku bawa banyak nih.”


Apreel membuka tasnya,aku “Aku juga banyak, coba kau lihat Jagat itu sepertinya hanya sedikit yang dia bawa." melirik Jagat.


Aku melihat tatapan Apreel yang menggelikan. “Iya sepertinya tidak perlu banyak, dia kan bisa merubah jamur menjadi roti bakar, hahaha."


“Ya gak gitu juga!" jawab Jagat kesal.


Apreel mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah buku “Ini buku yang aku bicarakan kemarin.”



Aku mengambil buku tersebut darinya dan membolak-balik bukunya "Apa ini butuh kunci untuk membukanya?"


“Tidak perlu, kau hanya perlu menarik penguncinya itu!" jawab Apreel.


Aku menarik penguncinya dan membuka buku tersebut, aku membuka langsung di tengah buku dan aku mengamati buku tersebut "Wah... ini... ini... aku sama sekali tak mengerti!"


Tulisannya sangat tidak jelas, seperti tulisan anak kecil dan sangat berantakan, dan ada gambar juga di situ yang sama tidak jelasnya. “Apakah yang membuat buku ini adalah anak-anak?"


“Biar kulihat.” Jagat merebut buku yang aku pegang dan memperhatikan isi buku tersebut. "Ini... sihir, kau tak akan bisa membacanya sebelum memiliki sihir yang sesuai dengan buku ini.” Jagat mengembalikan buku tersebut pada ku, "simpan saja dulu, mungkin di perjalanan nanti kita akan menemukannya.”


Aku memasukkan buku tersebut pada tasku yang berisi pakaian, “Ajari aku sihir, Jagat!"


“Ada banyak sihir, dan semua itu berdasarkan bakat tidak bisa hanya sekedar keinginan, aku dulu ingin menjadi seorang necromancer, tapi ternyata aku hanya seorang magic summon elemen, kurang menyenangkan,” jawab Jagat lesu.


Aku berusaha menyanjungnya. “Bukankah itu keren, kau bisa mengendalikan alam sekitar sesukamu kan?”


Jagat tak puas dengan pernyataan ku,aku “Iya sih, tapi ini tidak sesuai keinginan ku"


Jagat terlihat murung dan itu membuat ku kesal "Lihat aku Jagat! aku tak banyak memiliki teman karena tak dapat menggunakan magic, bahkan dulu di sekolah aku sering di kerjain !!"


Jagat tertunduk. “Maafkan aku, iya seharusnya aku bersyukur, bagaimana dengan Apreel, dia juga tak memiliki magic"


Aku melihat ke arah Apreel. “Hahaha dia itu seorang pendekar, tak ada yang berani macam-macam meskipun tak memiliki magic, tapi dia juga tak memiliki banyak teman sama seperti ku.”


“Baiklah, aku akan aku memberitahu macam-macam magic, tapi mungkin hanya secara global karena sangat banyak sekali macam-macam sihir,” Jagat menjelaskan. “Kau ingin bisa seperti apa?"


Sesuatu tersirat di benakku. “Aku ingin magic yang bisa berguna untuk banyak oran.”


“Sebenarnya... magic itu berguna untuk orang lain, tergantung pengguna tentunya,” jawab Jagat.


Apreel menatapku. “Kau tahu Ella, sebenarnya ada sebuah sihir yang tidak bisa disebut sihir, yaitu telekinesis, karena itu adalah kekuatan pikiran, biar aku tunjukkan"


Apreel menatap tas ku dengan sangat fokus seketika tas ku melayang dengan sendirinya dan itu membuat ku sangat terkejut.


Melihat hal itu aku sedikit kesal. “Kau tak pernah memberitahuku!"


“Tidak perlu, lagipula ini bukan magic,” jawab Apreel dengan tenang.


Aku kira teman sejak kecil ku tak memiliki rahasia lagi ini membuat ku kesal, "Ajari aku kalau begitu."


Apreel menatapku dengan serius. “Iya akan aku ajari, tapi ini akan sulit, sebaiknya kamu fokus untuk mempelajari magic dahulu"


Aku melihat Jagat yang sedang memilih-milih makanan yang ada di tasku "Hey Jagat!"


Jagat seketika menoleh ke arah ku. “Eh apa, kau membuat ku terkejut."


Ekspresi terkejutnya sangat lucu. “Kau itu mencari apa sampai sangat fokus seperti itu? Hahaha!"


“Aku mencari yang isinya coklat,” ucapnya sambil terus mengacak-acak isi tasku.


Melihat tingkahnya, aku mulai merasa kesal. “Tidak ada isinya semua, ambil aja apa yang kau lihat.”


Jagat menutup tas ku dan tak lagi mencari makanan "Aku kira ada, ternyata aku bukan termasuk pria yang beruntung ya"


“Bersyukurlah Jagat, setidaknya kita punya yang kita butuhkan,” jawabku dengan sedikit kesal.


Hari semakin malam dan kami mulai mengantuk lalu kami masuk ke tenda masing-masing, aku beristirahat satu tenda dengan Apreel dan Jagat sendirian tentunya karena dia pria sendirian.


Kami mulai tertidur lelap diselimuti dinginnya udara luar bercampur hangat api yang menyala dari luar, udaranya begitu nyaman untuk beristirahat hingga tak terasa aku mulai tenggelam dalam tidur ku.


Zsss....


Udara terasa sangat dingin, aku masih memejamkan mata ku tapi aku merasakan udara yang semakin lama semakin dingin, aku yang sudah tak tahan akhirnya membuka mata ku "Hujan?", aku duduk dan melihat keluar yang ternyata hujan turun cukup deras dan membasahi semuanya, beruntung tenda yang terbuat dari akar ini sangat rapat dan aga tinggi sehingga tak ada air yang masuk.


Aku melihat Apreel yang masih tertidur lelap, aku mencoba membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya dan memanggil namanya namun dia sama sekali tak merespon, aku mencoba memeriksa napasnya dan ternyata masih bernapas.


Aku merebahkan tubuhku kembali mencoba untuk memejamkan mata ku tapi tak dapat kembali tertidur, udaranya sangat dingin dan aku tidak suka itu, aku membuka tasku tapi sama sekali tak ada selimut di tas ku.


Aku hanya merebahkan tubuh ku mencoba untuk tenang, seketika sesuatu yang menyakitkan kembali teringat, aku meninggalkan kedua orang tua ku, rasanya aku ingin segera pulang.


Apreel seketika berbicara. “Ella... kau menangis, kau teringat mereka ya? Mmm ini masih belum jauh Ella, kita bisa kembali jika ingin."


Aku terkejut ternyata Apreel sudah terbangun, "Tidak, kita akan melanjutkannya."


Apreel terus menatapku. “Aku tidak bisa melihatmu terus menangis seperti itu."


Berat bagiku, tapi aku tidak ingin mengecewakan mereka. “Iya maafkan aku Apreel, aku akan coba menjadi lebih kuat."


Apreel tersenyum kemudian kembali memejamkan matanya "Tidurlah kembali Ella, dan tenangkan dirimu!"


Aku memejamkan mata ku lalu aku mendengar suara hujan yang mulai meredah namun udara masih terasa sangat dingin, tiba-tiba Jagat mendatangi tenda kami dan langsung masuk kemudian merebahkan dirinya di tengah antara aku dan Apreel.


Aku kesal. “Apa-apaan sih kamu, kamu kan ada tenda sendiri!"


Jagat tidak mendengarkan ku. “Dingin, aku kedinginan, aku butuh kehangatan."


Tentu saja aku semakin kesal. “Kenapa tidak gunakan saja api mu itu hah!?"


Jagat melihat ke arah Apreel yang matanya terpejam, "Apa dia masih tertidur?"


“Iya dia masih pulas,” jawabku.


Jagat langsung menghadapkan tubuhnya ke Apreel dan memeluknya, "Sedikit kehangatan lumayan kan?!"


Apreel:" sangat mudah membunuhmu dalam jarak sedekat ini"


Jagat terkejut dan dengan cepat menyingkirkan tangannya "Maafkan aku Apreel, aku tidak sengaja!" Jagat bangun segara menjauh darinya dan mendekatiku bersembunyi di belakangku.