Be Light

Be Light
Episode 9



Setelah membaca buku yang seperti sejarah itu menemukan dua magic profesi yang telah dihilangkan.


"Apreel, menurutmu Spellcaster dan Alchemist itu seperti apa?" Aku menoleh ke samping, tapi ternyata dia sudah tak ada di sampingku.


Aku terkejut dan langsung berdiri, "Apreel!?"


Aku mencoba mencari di bangku lain, tapi tidak ada, saat aku lihat ke bawah meja ternyata dia sedang terlelap di bawah, 'Ya ampun Apreel....'


Aku mendekati Apreel dan menyentuh bahunya, "Hey... Apreel... bangun...!" Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, namun tetap tidak ada respon, aku memperhatikan perutnya yang ternyata masih bergerak, berarti dia masih hidup.


"Ada apa ini?"


Aku sangat terkejut mendengar suara tersebut sontak langsung berdiri tegak, "Eh... guru...?"


"Sedang apa kamu di bawah situ?" ucap Wulan.


"Mmm... Apreel...."


Wulan membungkuk mencoba melihat ke bawah meja, aku hanya bisa diam tak berkutik.


Tak lama kemudian guru tersebut kembali berdiri tegak, "Sudah biarkan saja, kalau kamu mau tidur juga tak apa..."


'Hmmm dia sangat baik,' seperti itulah pikirku. "Tidak guru, aku... masih ingin membaca."


"Duduklah dulu."


Aku kembali ke tempat duduk ku dan guru itu berdiri di depanku, "Jadi... apakah ada pertanyaan Ella?"


"Mmm... sepertinya tadi ada...." Aku mencoba mengingatnya, dan tak butuh waktu lama. "Oh tentang Spellcasted sama Alchemis, itu sihir seperti apa dan... kenapa dihapus?"


"Hmm... Spellcaster itu bukan sihir sayang..., Spellcaster itu ya penyihir itu sendiri...," ucapnya dengan lembut.


'Aku bingung,' ... "Maksudnya bagaimana guru?"


"Spellcaster itu kata lain dari penyihir, bukan sebuah sihir, jadi... karena aku adalah seorang penyihir aku adalah Spellcaster."


"Lalu... kenapa dihapus?"


"Hmm... jika tidak dihapus... semuanya akan berkumpul di sana dan akan sulit untuk menyeleksi."


"Owh... lalu bagaimana dengan Alchemist?"


"Alchemist itu bukan sihir melainkan karya ilmiah," jawab Wulan. "Apa kamu pernah dengar yang namanya Elixir?"


"Mmm iya, yang katanya untuk menyembuhkan segala luka dan mengembalikan stamina?"


"Iya tepat, dan Alchemist itulah yang membuat barang-barang seperti itu, jadi... karena tidak berbasis magic ya... dihapus."


"Lalu... red, with, dan black itu?" aku masih bingung.


"Owh... itu untuk menyeleksi, mana yang wizard, mana yang Sorcerer, mana yang Barb, mana yang Cleric, dan yang Warlock. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu Druid, tapi semua calon Druid masuk ke dalam kelas world".


"Lalu... bagaimana dengan... Necromancer dan Summoner?"


"Mereka termasuk golongan Wizard," jawab Wulan dengan tenang.


"Bagaimana dengan Ibu guru sendiri, guru termasuk apa?"


"Hmm...." Wulan tersenyum, "Aku termasuk Spellcaster dari golongan Sorcerer dan profesiku sebagai Shadow magic."


"Lalu... bagaimana dengan psychic?"


"Psychic tidak digolongkan ke magic manapun sebenarnya, karena itu sebenarnya tidak dianggap sebagai sihir, tapi hanya sebagai kekuatan pikiran."


"Kenapa guru tidak membawa kami ke kelas magic?"


Guru tersebut seketika menjadi serius dan menatapku dengan tatapan seakan marah padaku, "Katakan padaku, sihir apa yang ingin kau pelajari?"


Tatapannya yang mengerikan itu membuatku ragu untuk mengatakan apa yang aku inginkan, "Aku mau...?" Otakku benar-benar kosong....


"Tak perlu khawatir...," ucap Wulan dengan senyum diwajahnya, itu membuatku menjadi semakin berani meskipun agak takut untuk mengungkapkan isi pikiranku.


"Mmm... aku ingin belajar sihir yang dapat menetralkan semua sihir," ucapku dengan semangat.


Guru itu tersenyum hingga membuatku gugup, karena... setiap dia tersenyum aku melihat taringnya yang panjang.


"Mmm... itu agak sulit meskipun ada, nanti akan aku usahakan untuk mencarinya."


"Uuh... terimakasih banyak guru...," ucapku sangat senang.


Dia menatapku dengan senyum yang mengerikan seperti biasanya, seketika dia mencubit kedua pipiku, "Iiih... kamu usianya berapa sih gemesin banget!"


Aku hanya menahan rasa sakit cubitannya tanpa melawan, "Aduh... guru... sakit...!"


Seketika guru itu melepaskan pipiku, "Aww... maaf... sakit ya..."


"Kamu usianya berapa?"


"Dua puluh empat tahun guru...," jawabku.


Tatapan guru itu terlihat sangat terkejut, "Astaga... kamu seperti usia empat belas tahun...."


Aku hanya tersenyum padanya tak mengatakan apapun.


Guru itu memperhatikan jam tangan miliknya, "Sudah siang, sudah waktunya istirahat, kalian boleh keluar, bangunkan temanmu, aku keluar duluan ya." Guru itu mengusap kepalaku kemudian beranjak pergi menuju pintu dan seketika menghilang.


'Lah aku keluarnya bagaimana?' dalam benakku. "Apreel... eh Apreel." Aku menyentuh bahunya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Krieet....


Aku menoleh kesumber suara, dan ternyata itu adalah pintu ruangan ini yang terbuka dengan sendirinya, 'Terbuka dengan sendirinya?'


"Apreel... bangun dong...!" aku terus menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Engh... apasih...?" Apreel mulai sadar.


"Waktunya istirahat, ayo keluar!" Aku menarik tangannya keluar dari bawah meja.


"Iih apaan sih Ella...!?" teriak Apreel.


"Dih... ya sudah!" Aku segera berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu!" teriak Apreel yang berusaha untuk bangun.


Aku menghampirinya dan membantunya berdiri, "Kamu kenapa?"


"Bukunya masuk ke kepala , kepalaku sakit sekali...," keluh Apreel.


"Mana ada, itu bukunya masih di atas meja," sahutku.


"Dah ah, cepetan jalan!" Apreel memegangi kedua bahuku dari belakang.


'Kaya main kereta-keretaan,' dalam benakku.


Kami keluar dari ruang kelas, di ruang tengah itu aku melihat Jagat yang sedang berdiri bersama seorang wanita, mereka berdua menoleh kanan kiri seperti mencari sesuatu.


"Jagat!" Teriakku sambil melambaikan tangan.


Jagat dan wanita tersebut menghampiri kami, "Apreel kenapa, El?" ucap Jagat.


"Sakit kepala katanya," jawabku. "Kata dia bukunya masuk ke kepala, padahal masih tergeletak di atas meja tuh."


"Biar aku saja." Jagat menggantikan posisiku kemudian menggendong Apreel di punggungnya.


Aku memandangi Jagat, 'Selalu sigap yah seperti biasa,' dalam benakku. Lalu aku menatap ke arah wanita yang tadi bersama Jagat, 'Siapa dia?'


"Ayo!" Jagat berjalan di depan dan segera pergi keluar sekolahan.


Di luar sekolahan aku kembali melihat ke tempat tersebut, "Bentuknya seperti itu, aku kira sebuah toko buku, ternyata sekolahan dan di dalam sangat luas."


"Aku sudah pernah bilang itu sihir ruang," sahut Jagat.


Aku melihat wanita yang tadi mengikuti, tapi tertinggal di belakang, 'Siapa sih?' Aku menoleh ke arah Jagat, "Siapa sih wanita itu? Dia ngikutin kita."


Jagat menoleh ke belakang untuk memastikan, "Oh... dia namanya Rivia, dia dari kelas 'world' juga sama seperti ku."


"Dia cantik yah!" sahutku.


"Kamu cemburu ya...,"


"Hmm... entahlah!"


Akhirnya kami sampai di penginapan begitu juga wanita yang bernama Rivia itu. Jagat membawa Apreel ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.


"Aku tinggal ya." Jagat beranjak pergi, saat mencapai pintu ternyata Rivia membuka pintu kamar. "Eh Rivia... kamu di sini dulu yah, akan aku pesankan kamar untukmu."


"Iyah... terimakasih, maaf merepotkan," jawab Rivia.


"Ya sudah cepat masuk!" ucap Jagat.


Rivia masuk dan berdiri di dekatku, kemudian Jagat pergi meninggalkan kami bertiga.


'Gak kaya biasanya Jagat baik ke orang asing, apa dia menggunakan sihirnya?' ucapku dalam hati. Kemudian aku mengulurkan tanganku ke arahnya, "Perkenalkan, namaku Ella."


Rivia menjabat tanganku, "Namaku... Rivia."


Aku melepaskan tangannya, 'Mmm gak ada yang aneh, ya sudahlah.' Aku melihat ke arah Apreel, wajahnya penuh keringat dan badannya memanas.