Be Light

Be Light
Episode 10



Badan Apreel memanas sepertinya demam, tapi entah bagaimana, itu membuatku sangat panik. Disela-sela kepanikanku, aku ingat Jagat pernah memberiku buku sihir untuk menyembuhkan.


Aku segera membuka tasku yang tak jauh dari tempatku berdiri, ku ambil buku yang pernah dibelikan oleh Jagat.


Aku kembali berdiri di dekat Apreel, menghadap ke arah Apreel yang tengah berbaring menggigil.


Bukunya berwarna hitam bertuliskan 'Magic Spell', aku segera membukanya dan seketika aku melihat tulisan 'Heal' di buku tersebut, 'Beruntung sekali,' ucapku dalam hati.


Aku mengarahkan satu tangan kananku pada Apreel dan mulai membacanya.


"Wahai Dewa Dewi penuh kasih, berikan berkahmu padaku dan berikan aku kekuatan untuk membersihkan yang kotor, heal!"


Seketika tangan kananku mengeluarkan cahaya seperti sebuah senter yang diarahkan pada Apreel dan itu membuatku terkejut sekaligus heran, tapi... 'Wah...keren...'


Tak lama kemudian cahaya tersebut menghilang, namun yang ku lihat Apreel tak membaik sedikitpun, dia masih menggigil dan panasnya tidak turun.


Aku melihat ke arah Rivia yang masih ada di kamar bersama ku, dia sama sekali tak tampak panik, "Rivia, bisakah kamu membantuku?" aku memberikan buku sihir tersebut padanya.


Rivia mengambil buku tersebut dan melihat isinya, "Ini... magic spell milik cleric, aku tidak bisa menggunakan ini..."


"Apa kau bisa menggunakan magic heal?" ucapku yang masih panik.


"Maafkan aku... aku belum mempelajari itu"


"Mmm ya sudah, aku mau keluar dulu, kamu temani Apreel yah! Aku mau menemui Guru Wulan dan menanyakan hal ini."


Rivia menganggukkan kepalanya, aku segera keluar dari kamar penginapan dan langsung berlari menuju sekolahan.


Di sekolah magic banyak sekali siswa-siswi yang berlalu lalang, aku terus berlari tak memperdulikan ada apa saja di sekitarku, kepanikanku membuatku harus fokus untuk satu tujuan.


Buk!


Aku menabrak seseorang dan membuatku terjatuh terbentur lantai, "Aduh...." Aku memegangi kepala belakangku yang sakit, saat ku buka mataku, aku melihat seseorang dengan pakaian wanita yang juga terduduk.


"Maafkan aku Kak! Aku sungguh tidak sengaja!" Kemudian aku melihat wajahnya, dan itu membuatku terkejut sekaligus takut. "Guru...! Aah... maafkan aku guru, aku tidak sengaja, aku... tadi sangat panik, maafkan aku...!"


Kepalaku tertunduk, aku siap jika dia mau memarahi ku atau mungkin memukul ku.


Tak lama kemudian, aku merasa dia mengusap kepalaku, "Sudah tidak apa-apa, ayo berdiri."


Aku segera berdiri dan menatap ke arahnya, "Guru tidak marah?"


"Tentu saja aku marah, tapi tidak ada gunanya jika marah-marah," jawab Wulan dengan senyum di wajahnya.


"Guru...."


"Apa yang membuatmu berlarian?" guru itu menyela.


"Aku panik guru..., Apreel demam tinggi dan sangat menggigil, bisakah guru membantu ku?"


"Hmm... demam setelah mempelajari psychic itu hal biasa, kebanyakan orang akan demam tapi tidak semuanya."


Aku kesal mendengar jawaban guru itu yang menjawab dengan tenangnya, "Kenapa tidak beritahu sejak awal sih! Aku sangat panik tau!" Tanpa sadar aku meneriakinya, 'Apa aku akan kena hukuman?'


"Eh... kamu marah-marah, jangan suka marah-marah nanti cepat tua."


Hanya itu yang ia ucapkan? Tidak memarahi atau menghukum? Atau... mungkin nanti saat pelajaran berlangsung dia akan membalasnya?


"Untuk temanmu apreel, dia hanya butuh istirahat, jadi... kamu tidak perlu panik." Wulan melihat jam tangannya, "Oh sudah waktunya, aku mau pergi, kamu tidak perlu panik yah, dah..." Wulan pergi meninggal Ella.


Aku melambaikan tanganku ke arahnya, "Iya guru..., hati-hati...!"


Sangat beruntung, ternyata hanya karena efek mempelajari buku Psychic. Aku berbalik arah dan mulai berjalan perlahan untuk menuju penginapan.


Aku berjalan dengan pandangan tertunduk karena lelah, 'Tidak ku sangka, ternyata Guru Wulan sangat baik dan lembut, aku kira seorang penyihir akan sangat mengerikan dan pemarah, ternyata tidak semuanya yah.'


Buk!


Aku jatuh terduduk, dan sepertinya aku menabrak seseorang lagi, aku mencoba melihatnya. Ku lihat dia mengenakan celana panjang berwarna merah dan baju panjang berwarna hitam, 'Sepertinya laki-laki.'


Aku menghadap ke atas dan mencoba untuk melihatnya, ternyata benar dia seorang laki-laki dan... dia menatapku. Dari tatapannya aku tahu dia sangat marah karena menabraknya.


Dia tersenyum padaku, dia yang tadi terlihat sangat menyeramkan seketika berubah menjadi menyenangkan, dan itu sangat aneh menurutku.


Setelah tersenyum padaku, dia melanjutkan langkahnya dengan ekspresi datar seperti tak terjadi apa-apa, dan dia tidak mengatakan sepatah katapun, itu sangat menyebalkan menurutku.


Aku kembali berdiri dan terus menatap punggung pria itu, dan seseorang menyentuh bahuku, itu membuatku sangat terkejut.


Aku langsung menoleh dengan cepat, "Hii Jagat! Kau membuatku kaget!" aku berteriak padanya dan memukul dadanya.


"Hahahaha, pukulanmu tidak bertenaga." seketika berhenti tertawa, "Kamu kenapa? Sepertinya sangat kelelahan."


"Tidak apa-apa, tadi habis berlarian mencari Guru Wulan karena panik, tapi sudah tidak apa-apa," jawabku. "Oh Jagat, pria itu siapa?" aku menunjuk ke arah pria yang tadi aku tabrak.


"Oh... dia Agatte, dia dari kelas Necromancy," jawab Jagat. Seketika dia berteriak, "Oi Agatte."


Pria tersebut menoleh lalu Jagat melambaikan tangannya memberi isyarat agar pria tersebut menghampiri Jagat.


Pria tersebut mulai kembali, dia berjalan ke arah kami. Tak lama kemudian dia berdiri di depanku.


"Ada apa?" ucap Agatte


"Perkenalkan, ini Ella, dia wanita yang tadi aku ceritakan," ucap Jagat.


"Ooh... perkenalkan, namaku Agatte," ucapnya tanpa mengulurkan tangannya.


'Wajahnya datar sekali, sama sekali tak tersenyum, menyebalkan!' ucapku dalam hati.


"Oh iya Ella, dia juga bertempat di penginapan yang sama dengan kita, kamarnya berada di samping kamarku," ucap Jagat.


"Oh... kalau begitu sekalian saja ke penginapan bareng, aku mau kembali," sahutku.


"Ayo." Jagat berjalan lebih dulu, aku dan pria yang bernama Agatte ini berjalan mengikuti Jagat.


Dia tidak banyak berbicara tidak basa-basi dan... tampak menyebalkan.


Tak lama kemudian kami sampai di penginapan, Jagat mengajak Agatte untuk ikut bersamanya dan bertemu dengan temannya.


Kami masuk ke kamar tempat Apreel dan aku beristirahat.


"Itu Apreel yang sedang berbaring, dan ini Rivia," ucap Jagat memperkenalkan.


Agatte mendekati Rivia dan mengulurkan tangannya, "Aku... Agatte."


"Aku Rivia..." ucapnya tanpa menjabat tangan Agatte.


Sepertinya itu sakit, tapi Agatte malah tersenyum padanya. Pandangan Rivia tertunduk karena malu.


"Agatte, apa kamu bisa melakukan magic heal?" ucapku.


"Aku seorang Necromancer, tidak ada heal," jawabnya.


"Huu mengecewakan," sahutku.


"Memangnya kamu siapa?" ucap Agatte kesal.


Aku hanya diam, sepertinya dia tidak suka dengan orang asing.


"Aku mau kembali ke kamarku," ucap Agatte.


"Ajak Rivia sekalian, dia belum beristirahat," sahut Jagat.


Seketika Rivia berdiri dengan kepala tertunduk dan menghampiri pintu, Agatte dan Rivia keluar dari kamar kami.


"Itu tadi apa?" Jagat bingung.


"Hmm... sepertinya mereka saling suka, seorang pria yang menyebalkan dengan seorang wanita pemalu, cocok gak sih?"


"Hahahaha, sepertinya cocok," jawab Jagat.