
Karena rasa penasaran yang besar akhirnya aku menyentuh tulisan 'iya', seketika semuanya menjadi gelap, dalam keadaan terduduk aku menoleh ke kanan dan ke kiri tapi sama sekali tak terlihat apapun, "Ada apa ini ?" Tak ada suara sedikitpun.
Aku melihat ke arah buku, "Lah! Tulisannya kemana?!" buku yang kupegang hanya menjadi lembaran-lembaran putih.
"JADI KAU INGIN MEMPELAJARINYA?"
Aku terkejut mendengar suara tanpa rupa itu, "Eh, siapa itu?!!"
Seketika cahaya putih muncul di hadapan ku bentuknya menyerupai orang namun tak nampak wajahnya, dia duduk di depan ku dan mengulurkan tangannya.
"JABAT TANGAN KU JIKA KAU INGIN MEMPELAJARI ITU!"
Aku takut menyentuhnya tapi rasa penasaran ku jauh lebih besar hingga tanpa berpikir aku menjabat tangannya.
"Ella, kau sudah bangun!?"
'Seperti suara Jagat,’ pikirku. "Jagat ?"
“Iya ini aku,” jawab Jagat. “Apreel juga bersama ku.”
Apreel tampak sangat khawatir, “Apa kau baik-baik saja Ella?"
“Iya aku baik kok,” jawabku. “Ini dimana?"
“Di penginapan,” jawab Jagat. “Aku yang menyewanya.”
Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Apa yang terjadi?"
“Kau pingsan Ella.” jawab Apreel
“Berapa lama?"
“Lima…,” jawab Apreel
“Lima jam?”
Apreel tersenyum, “Lima hari.”
Mendengar jawaban Apreel benar-benar membuatku terkejut, “HAH?!!"
Lima hari aku tertidur tanpa tahu apa yang terjadi di luar, "Bagaimana pendaftaran privatenya?"
“Sudah terdaftar, besok akan dimulai.”
Mendengar hal tersebut membuatku lega, “Syukurlah aku gak terlambat."
Siang hari saat aku mulai membuka mata ku, Jagat menyewa dua kamar dan Apreel satu kamar dengan ku, Apreel menyuruh ku untuk beristirahat agar besok bisa langsung ikut private.
“Istirahatlah Ella," ucap Apreel
“Tidak bisa... aku lapar.” jawab ku
“Ah iya sebentar."
Apreel beranjak dari sampingku dan mendekati meja yang ternyata ada banyak buah disitu, dia mengambilkan satu keranjang penuh buah pada ku.
Aku mengambil satu buah apel dan mulai menggigitnya dan seketika Apreel memeluk ku membuat ku terkejut.
“Ada apa Apreel ?"
“Tidak apa Ella, aku hanya ingin memelukmu,” jawab Apreel
“Aku jauh lebih tua dari mu berbeda empat tahun tapi kau memperlakukan aku seperti anak kecil?"
Apreel tertawa lirih, “Habisnya kau lucu, wajahmu kecil tubuhmu bulat, hahaha"
Aku kesal mendengar jawaban Apreel, “Gak sopan!"
“Biarin!" jawab Apreel membuatku tambah kesal.
“Apa yang terjadi selama aku pingsan?"
“Tidak ada,aku hanya mengurus mu dan mengganti pakaianmu,” jawab Apreel.
"Pakaian?" aku melihat ke bagian tubuh ku yang ternyata memang telah di ganti, "Kok aku baru sadar ya?"
Apreel tersenyum puas seperti telah melakukan hal yang tak ku inginkan, "Kau tak melakukan apapun pada ku kan?!"
“Tentu saja tidak,” jawab Apreel. “memangnya apa yang aku lakukan?"
Aku terkejut dengan pertanyaan Apreel, mungkin hanya pikiranku saja, “Ah tidak"
“Apa yang terjadi sampai kau pingsan?"
Aku menceritakan apa yang kemarin terjadi padaku, “Di buku itu tertulis jika ingin mempelajari maka sentuh 'iya', aku penasaran jadi menyentuhnya, lalu seketika semuanya menjadi gelap, aku melihat sosok putih menghampiri dan kami berjabat tangan tiba-tiba aku terbangun sudah disini."
“Apa kau sudah menceritakan ini pada Jagat?"
“Belum,” jawabku
“Kau istirahatlah ya, aku mau cari tahu tentang ini dengan Jagat.”
“Iya"
Apreel beranjak dan mulai menjauh, saat Apreel membuka pintu ternyata sudah ada Jagat yang mau mengetuk pintu.
Jagat terkejut, “Apreel...."
Apreel menarik tangan Jagat dan keluar dari kamar, "Banyak-banyak istirahat ya Ella sayang.” lalu Apreel menutup pintunya.
Di kamar sendirian itu membosankan, apalagi gak punya smartphone padahal semua orang pasti memilikinya, "Menyebalkan!"
Aku merebahkan diri ku, memejamkan mata mencoba untuk tidur, tapi bayangan putih itu selalu muncul di benak ku, aku membuka mata ku dan memandangi telapak tangan ku, "Apa aku sudah bisa sihir dispel?"
"Ella, Ella bangun...!"
"Eh... apa…?” aku membuka mataku, "Aku tertidur?"
“Iya, kau tidur nyenyak sekali,” jawab Apreel. “Cepat bangun dan mandi, ini hari pertama kita berangkat jadi cepatlah.”
"Iya... iya..." aku bangun dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah selesai aku melihat pakaian tergeletak di ranjang dan sebuah secarik kertas, 'pakai ini, aku baru membelikan mu, dari Apreel'
"Mmm baiklah!" aku memakai baju yang diberi oleh Apreel.
Setelah memakai baju tersebut tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu.
tok tok tok...
"Ella...?"
“Ah iya Apreel aku sudah siap, masuklah!" jawabku
Saat Apreel melihat ku matanya berbinar-binar, "Wah... manis sekali."
Pakaiannya terasa gak nyaman “Lengannya terlalu panjang, tanganku ga keluar."
"Tidak apa..." Apreel memelukku dengan erat.
Aku kesal diperlakukan seperti anak kecil, tapi aku tak bisa melawan karena kebaikan dia, "Aku ini bukan anak kecil Apreel...!"
“Kau lucu sekali,” ucap Apreel. “Kalo ada orang yang suka kamu mungkin akan disebut pedopil, hahaha."
Apreel melepaskan pelukannya, "Ayo berangkat setengah jam lagi mulai"
“Iya"
“Mau gendong?"
“Gak!!"
Aku dan Apreel keluar dari penginapan di susul oleh Jagat, kami pergi menuju ke tempat kemarin yang seperti perpustakaan itu dan berkumpul di lantai satu bersama orang-orang yang juga ikut private.
“Aku tak mendengar apapun,” ucap ku
“Tidak perlu di dengar, kita ikut saja!" sahut Jagat.
Orang-orang berjalan menuju ruangan yang ada di balik rak buku dan kami ikut kesana, "Apa kita akan baik-baik saja?"
Jagat menatapku yang tengah khawatir, “Iya, tenang saja!"
Aku berada di tengah antara Jagat dan Apreel, aku menggenggam tangan mereka berdua.
Kami memasuki sebuah ruangan yang sangat luas "Dari luar sepertinya tidak terlalu besar, tapi dalamnya luas sekali."
“Karena semuanya dipengaruhi sihir,” jawab Jagat.
“Kalau di dispel bagaimana?" tanya ku.
“Sihir ruang sangat sulit di dispel walaupun bisa,” jawab Jagat. “Kau harus memiliki kekuatan besar untuk merusak sihir ruang."
"Perkenalkan nama ku Wulan, aku seorang mage yang ditugaskan di sini, aku yang akan mengajari kalian, jadi mohon kerjasamanya."
“Dia tampak mengerikan,” ucap ku
“Kau berpikir seperti itu, menurut ku dia sangat cantik,” sahut jagat.
Aku bingung, “Apa mata ku salah lihat?"
Jagat heran, “Memangnya apa yang kau lihat?"
“Dia... memiliki telinga lancip dan berekor,” jawabku. “Bagaimana menurutmu Apreel?"
“Dia tampak cantik, aku tidak melihat ada ekor,” jawab Apreel
Jagat seketika menyahuti, “Aku juga tidak melihat."
Hanya aku yang melihat penampakan itu, apa ada yang salah dengan ku atau dia memang mengerikan, ingin sekali rasanya aku bertanya tapi aku takut, rasa takut ku jauh lebih besar tak seperti biasanya.
Wulan di depan para murid, “Jadi apakah ada yang ingin bertanya tentang penjelasan tadi?"
Seketika Jagat mengangkat tangan ku membuat guru sihir itu menatapku dengan tajam, "Silahkan apa yang ingin ditanyakan?"
Aku sangat terkejut, “Ah... aku…,” aku menatap Jagat dengan serius karena marah, tapi dia hanya tertawa lirih merasa tak bersalah sedikitpun bahkan sepertinya dia tak peduli sedikitpun.
Wulan masih menatap ke arahku, “Silahkan tanya apapun yang ingin kamu ketahui."
Aku sangat grogi, “Ah... aku, apa aku salah lihat, aku melihat anda memiliki telinga lancip dan memiliki sebuah ekor panjang."
Matanya menatapku seakan mengancam, tubuhku gemetar karena takut, semua orang yang ada di ruangan juga ikut menatapku dengan sinis dan itu membuat ku sangat tertekan.